
Sudah 2 bulan lamanya Fatih dan Sisca mengarungi rumah tangga, kini keduanya tinggal di kota K. Dan fatih kini sudah bisa membeli rumah sendiri atas hasil jerih payahnya selama ini. Rumah dengan gaya klasik, tidak terlalu luas, namun membuat nyaman sang penghuni rumah, itu sudah cukup.
Rumah dengan 2 lantai, yang di dominasi warna putih dan biru. Di samping rumah mereka ada area persawahan yang tampaknya baru saja panen raya, kepemilikan sawah itu juga atas nama Fatih.
Sedangkan di belakang rumah mereka ada gazebo dan juga kolam ikan koi, yang diatas kolam ada bunga teratai dengan berbagai macam warna, ada warna putih, ungu dan merah. Siapapun yang bertamu ke rumah mereka, pasti akan betah.
Huueekk...hhueekk....,sudah 2 hari ini Sisca setiap pagi, selalu muntah muntah. Hingga sudah 2 hari pula, Sisca izin tidak masuk kerja.
"Sayang, kita nanti periksa ya, sudah 2 hari ini kamu seperti ini. Kalo hari ini, kamu harus nurut sama aku.!"ujar Fatih pada Sisca, karena mulai kemarin, Sisca selalu menolak bila mau dibawa periksa. Maklum, Sisca phobia dengan jarum suntik.
Sisca hanya mengangguk kan kepalanya, dia sudah lemas mulai kemarin muntah terus, hanya sore hari dia bisa makan, itupun hanya beberapa suap yang masuk.
Mereka sama sama jauh dari orang tua, hanya ART yang membantu keseharian mereka berdua.
Seperti sekarang ini, keperluan Sisca dibantu oleh bik Imah, asisten rumah tangga mereka yang sudah berumur 50 tahun, seorang janda tanpa anak. Jadi bik Imah sudah menganggap Sisca dan Fatih sebagai anaknya sendiri, Begitupun sebaliknya.
"Sayang, sekarang kamu sama bik Imah dulu ya, aku tinggal kerja dulu, nanti jam 2 siang, aku izin pulang dulu. Gpp kan..?"tanya Fatih dengan nada sayang pada isterinya itu.
Sisca hanya berdehem, dia benar benar lemah hari ini, sudah banyak cairan yang dia keluarkan, sedangkan asupan yang masuk hanya sedikit.
"Oke, baik baik ya di rumah...!"ujar Fatih kemudian.
Setelah berpamitan dengan isterinya, Fatih meraih tas kerjanya, serta mengambil kontak mobilnya yang ada di atas meja rias isterinya, Fatih tampak gagah dengan setelan jas hitamnya serta dasi warna biru dengan motif garis garis, rambut hitam cepak, tinggi 170 cm, Sungguh sempurna.
Fatih menuruni tangga rumahnya, dia langsung menuju dapur mencari bik Imah asisten rumah tangga mereka.
"Bik..minta tolong jagain isteri saya dulu ya, nanti jam 2 saya sudah pulang..!"ujar Fatih dengan nada khawatir.
"Iyya den, siap...apa den Sisca, masih muntah muntah terus..?"tanya bik Imah, sembari dia melap tangannya yang basah.
"Iyya bik, nanti rencana jam 2 saya bawa ke rumah sakit. Mulai kemarin, mau saya bawa periksa, dianya takut..!"lanjut Fatih sambil dia mendudukkan bokongnya di kursi. Dia sudah 2 hari ini selalu sarapan sendiri.
__ADS_1
"Apa mungkin, den Sisca lagi hamil ya den...?"tanya bik imah, dengan wajah sumringah nya. Karena biasanya tanda tanda wanita hamil seperti itu, muntah di pagi hari, lemas, bau aroma masakan ajja kadang langsung muntah. Persis dengan ciri ciri majikannya.
"Ya ampun...kenapa saya nggak berpikir kesana ya, bik..?"lanjut Fatih yang merasa senang sekali. Ini merupakan pertanda baik untuk rumah tangganya, semoga saja Sisca beneran hamil. Dia memang sangat menantikan kehadiran anak kecil, di tengah tengah keluarga kecilnya.
"Semoga saja dugaan saya benar ya, den..!" Den Fatih Monggo dilanjut sarapannya, saya permisi ke belakang dulu..!"pamit bik Imah pada Fatih, kemudian beliau langsung menuju dapur lagi untuk mencuci panci, wajan kotor yang tadi sudah dia gunakan.
Lalu Fatih hanya menjawab do'a bik Imah, dengan menganggukkan kepalanya, saking senangnya dia hari ini.
"Aku nanti mau browsing tentang ciri ciri ibu hamil saja dulu, smoga saja Sisca beneran hamil..!"gumam Fatih pada dirinya sendiri.
Kini, setelah selesai dengan acara sarapannya. Fatih, mengeluarkan mobilnya dari garasi, dia hari ini berangkat menuju kantornya dengan suka cita.
Sampai di kantornya, fatih selalu tersenyum pada setiap orang yang ditemuinya. Sungguh perkataan bik Imah tadi membawa dampak positif pada sikap Fatih, yang biasanya Fatih selalu bersikap cool, hari ini sangat berbeda.
Sampai teman kantornya heran dengan perbedaan sikapnya kali ini.
"Kamu kenapa sih, Fatih...? Kok senyum senyum terus mulai tadi, jadi bikin aku curiga..!!"tanya Sutrisno heran. Sutrisno merupakan teman satu divisi nya.
"Aku senang sekali hari ini, dan itu nggak bisa diungkapkan dengan kata kata..haha!"ujar Fatih sambil tertawa bahagia.
"Ya sudah, aku mau ke ruang pak Andi dulu...!"lanjut Sutrisno pada Fatih. Dia nggak mau ketularan aneh seperti Fatih.
"Ehh, tunggu dulu. Kamu mau ke ruangan pak Andi..?"tanya fatih pada temannya itu.
"Iyya nih, ada yang ingin aku sampaikan sama beliau..!"ujar Sutrisno, yang sepertinya agak tergesa gesa.
"Kalau gitu, aku ikut. Aku juga ada kepentingan sama pak Andi, nanti rencana aku mau izin pulang dulu..!"terang Fatih pada Sutrisno.
Ini mereka berdua beriringan menuju ruang bos mereka.
"Tumben, kamu pulang dulu! Biasanya kamu ontime masalah jam kerja..?!" Heran Sutrisno pada Fatih, yang beda dari biasanya.
__ADS_1
"Iyya, isteriku sakit mulai kemarin. Rencananya nanti siang mau aku bawa ke dokter..!"ujar Fatih, sembari mereka berdua menuju ke ruang pak Andi, bos mereka.
"Sakit apa?atau jangan jangan isterimu sedang hami..?"selidik Sutrisno tersenyum pada teman nya itu, yakni Fatih.
"Aminnn..Ya semoga saja, aku juga belum tahu. Mulai kemarin muntah muntah terus..!"kata Fatih yang meng Aminkan omongan Sutrisno.
Setelah sampai di depan ruangan pak Andi.
"Amel, pak Andi ada di dalam?"tanya Sutrisno pada sekretaris pak Andi yang sibuk berkutat di depan komputernya.
"Ada, pak. Sebentar..!"Amel berdiri, menuju ke ruang bos nya.
Tok..tok..tok..amel mengetuk pintu ruang pak Andi.
Dari arah dalam, suara sang direktur, yakni pak Andi..
"Masuk.."kata pak Andi.
Kemudian Amel membuka pintu ruangan bos nya.
"Permisi pak, ada bapak Sutrisno dan bapak Fatih diluar...!"izin Amel sopan pada pak Andi.
"Suruh mereka masuk..!"ujar pak Andi, kemudian pak Andi berhenti sejenak dari kesibukannya, banyak tumpukan dokumen yang harus dia tanda tangani. karena ada anak buahnya yang ingin bertemu dengannya.
Kemudian Amel mempersilahkan Fatih dan Sutrisno untuk masuk ke dalam ruangan pak Andi.
"Mari pak, silahkan masuk...!"ujar Amel pada kedua tamu bosnya.
Fatih dan Sutrisno masuk ke dalam ruangan pak Andi.
"Permisi pak,,,!"ujar Sutrisno, mewakili mereka.
__ADS_1
Lalu keduanya langsung duduk di sofa yang ada di ruangan bos mereka.
Pak Andi lalu menghampiri kedua anak buahnya, dia ikut duduk di sofa yang berbentuk L itu. Pak Andi merupakan bos yang ramah, sangat peduli dengan anak buahnya.