
[Suamimu sedang bersamaku saat ini kami sedang bersenang-senang. Lihatlah Mas Rifan terlihat lebih nyaman dipangkuanku ketimbang dia bersamamu.]
Pesan dari Rina sahabatnya mas Rifan membuatku terhenyak tak lupa dia juga mengirim sebuah foto dengan emoticon love. Di foto yang dikirim terlihat jelas mas Rifan yang sedang tidur dipangkuannya, darahku mendidih membaca pesan darinya mereka benar-benar pengkhianat. Tak ada maaf untuk seorang pengkhianat, mas Rifan telah mengingkari sumpahnya, dia bersumpah akan setia sehidup-semati bersamaku namun nayatanya sumpah itu hanya bualan belaka.
Tak ingin membalas pesan dari Rina. Biarkan sejenak untuk menetral kembali perasaanku yang sedang bergejolak amarah. Sebab, orang seperti Rina jika di ladeni maka akan semakin menjadi. Lebih baik tenaga ini kusimpan untuk mengurus jagoan kecilku yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Tak puas karena pesannya tak kunjung dibalas. Wanita itu kembali mengirim sebuah gambar, bibirnya yang menempel pada bibir Mas Rifan. Sepertinya dia sengaja ingin memanasiku. Baiklah! Kau jual aku beli.
[Sungguh kasihan wajahmu yang cantik tak kau gunakan dengan baik. Tubuhmu yang indah seharusnya menjadi primadona para bujangan kaya. Tapi kau, malah milih memungut bekasku.] Kubalaskan pesannya dengan emoticon muntah biar dia tau bahwa aku jijik dengannya.
Setelah membalas pesannya kuletakkan kembali ponsel ke dalam tas. Kemudian mengalihkan pandangan pada sosok kecil yang tengah berbaring di kamar rumah sakit. Tangan mungilnya menggenggam erat jemari tanganku. Dia terlihat menahan sakit yang teramat sangat. Sungguh tak sanggup melihatnya, air mata yang sedari tadi tertahan kini tak bisa dibendungi lagi. Aku telah hancur Abizar kecilku sedang berjuang melawan sakit leukemia dokter memfonisnya tiga bulan yang lalu.
Selama tiga bulan kami sudah berusaha menjalani kemoterapi seperti anjuran dokter. Tak hanya itu aku dan mas Rifan juga membawanya ke pengobatan alternatif. Namun kondisinya malah semakin memburuk akhirnya kuputuskan untuk kembali membawanya ke rumah sakit, dokter menyarankan untuk rawat inap dan aku langsung setuju.
Abizarku semakin pucat kulit tubuhnya menjadi gosong. Rambutnya juga rontok evek dari kemoterapi, aku berusaha untuk Kuat meski sebenarnya rapuh agar Abizar juga kuat.
"Uhh! Emmhhh! I-ibu sakit."
Erangan keluar dari mulutnya menyadarkanku dari lamunan kesedihan. Kulihat putraku menarik nafas panjang refleks aku berteriak memanggil dokter dengan suara yang bergetar.
"Dokteeer!"
"Susteeer!"
Teriakku kencang, dua orang perawat datang dengan cepat dan langsung memeriksa Abizar. Perawat yang satunya datang kemudian menyuntik obat ke selang infus, setelahnya dia bergegas keluar terburu-buru tanpa menjelaskan sesuatu padaku.
"Apa yang terjadi pada putraku?" tanyaku tak tahan, mereka sepertinya acuh tak acuh padaku.
"Aku ini Ibunya apa kalian tidak mendengar pertanyaanku!" Kali ini nadaku meninggi biarkan saja mereka menanggapinya seperti apa. Aku hanya ingin mereka menjelaskan sesuatu kepadaku.
"Sabar Bu, anak Ibu butuh transfusi darah secepatnya dan tolong kerja samanya, biarkan kami berusaha untuk kesembuhan putra anda," imbuh seorang perawat bertubuh langsing dia menatapku sekilas, kemudian fokus kembali pada Abizar.
Belum sempat menjawab seorang perawat datang lagi dan mengatakan stok darah B di rumah sakit telah kosong. Ya, Abizarku memilikki golongan darah B sama seperti Mas Rifan sedangkan aku memilikki golongan darah A.
__ADS_1
Aku menggeleng lemah tungkai kakiku tak mampu lagi menopang tubuh. Lalu ambruk seketika. Tapi masih terdengar Mereka berteriak memanggil-manggil namaku.
Tidak! Aku tidak boleh lemah Abizar membutuhkanku untuk berada disampingnya. Indra penciumanku menghirup bau minyak angin mereka berusaha menyadarkanku. Aku tersadar setelah Dokter menepuk pelan pipiku. Entah kapan Dokter ini datangnya. Namun, aku tak peduli yang penting Abizar baik-baik saja, kuedarkan pandangan mencari sosok putraku namun tak kutemui keberadaannya. Dokter sepertinya memahami, dengan sendirinya dia berkata bahwa putraku di ruang sebelah.
Aku memaksa untuk bangun dan kembali ke ruangan Abizar. Lelaki bertubuh tinggi mengenakan kacamata itu sigap membantuku untuk berdiri. Tetapi, tiba-tiba seorang perawat datang lagi dan mengatakan stok darah B di PMI kosong. Dokter beralih menatap ke arahku, paham maksud tatapannya aku kembali menggeleng dan mengatakan golongan darahku A tidaklah sama dengan Abizar.
"Lalu kemana ayahnya? Salah satu dari kalian pasti ada yang cocok dengannya," imbuh lelaki berjas putih dia menatapku lekat.
Teringat mas Rifan golongan darahnya B cocok dengan Abizar. Aku mengangguk cepat kemudian pamit mengambil ponsel, guna menghubungi mas Rifan, ponsel kunyalakan terdapat beberapa pesan masuk dari Rina. Perempuan itu terus membuat ulah dia bahkan mengirim foto bertelanjang dada dengan tangan mas Rifan memegang pay*daranya benar-benar tidak tahu malu, setelah ini aku akan memberinya pelajaran.
Aku mulai menelepon kontak mas Rifan berdering beberapa detik. Namun tidak diangkat lalu coba menelepon kembali sampai beberapa kali sama tidak diangkat juga. Tak putus asa akhirnya aku mengirimkan beberapa pesan dan menjelaskan kondisi Abizar kemudian memintanya segera datang. Abizar membutuhkannya saat ini, lama pesanku tak kunjung dibalas.
Hatiku mulai gelisah tak tenang memikirkan kondisi Abizar yang semakin memburuk. Perawat kembali bertanya perihal pendonor darah untuk Abizar apa kah sudah ada atau belum? Aku menggigit bibir bawah dan menggeleng lemah.
Perempuan berseragam hijau itu memintaku untuk berusaha jangan diam saja. Aku sudah berusaha bahkan memposting digrup seputaran kota tempat tinggalku, berharap ada yang mau menolong mendonorkan darahnya untuk putraku. Namun belum ada yang merespon.
Tak puas aku kembali menghubungi mas Rifan pria itu benar-benar kelewatan! Setelah beberapa detik berdering telepon pun diangkat terdengar halo namun suara perempuan. Si4l! Siapa lagi kalau bukan perempuan perampas suami orang.
"Berikan teleponnya pada Mas Rifan," ucapku tanpa basa-basi.
"Berikan teleponnya kepada suamiku! Apa kau budeg!" teriakku kencang semua mata menatap heran karena suara yang nyaring, namun aku tak peduli pelakor itu harus diberi pelajaran.
"Hahahaha! Memangnya kenapa kalau aku tidak mau, dengar ya! Suamimu sedang bercocok tanam denganku," ujarnya tanpa dosa dan tak tahu malu.
"Kumohon kepadamu tolong berikan teleponnya pada Mas Rifan ini demi nyawa putraku. Setelah ini kau boleh mengambil suamiku," sahutku melunak agar dia menuruti permintaanku.
"Baiklah, karena kau memohon maka aku bersedia memberikan teleponnya. Tapi, aku tidak berjanji dia akan menemuimu. Sebab, kami harus melakukan satu ronde lagi nanggung bangat, sudah dipuncak kenikmatan soalnya."
Gigiku gemeretuk menahan amarah kali ini aku harus melunak demi Abizar. Dialah satu-satunya yang kupunya, aku disterilkan karena rahim bermasalah kandungan juga lemah jika hamil lagi maka nyawa yang menjadi taruhan, Mas Rifan sendiri yang memaksaku untuk menyetujui anjuran dari dokter.
Lama menunggu namun mas Rifan tak kunjung datang aku semakin geram lalu kuhubungi kembali nomornya kali ini diluar jangkauan. Tak puas aku kembali menghubungi pelakor durjana, tak ada jawaban hingga dokter memanggilku dan mengatakan kondisi Abizar sudah kritis.
Bagai disambar petir aku histeris sejadi-jadinya dan memukul dada secara kasar. Duniaku runtuh, pertahananku roboh aku benci mas Rifan aku bersumpah akan memb*nuh pelakor itu dengan tanganku sendiri.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba dari jauh kulihat seseorang lari tergopoh-gopoh ke arahku dengan penampilan awut-awutan. Dia mas Rifan, aku berdiri menghapus air mata menunggunya tiba dihadapanku. Tangan ini menamparnya berulang kali tidak hanya itu aku juga menendang senjata pusakanya.
Dia memekik kesakitan. "Cukup Rindi! Kamu apa-apaan!" bentaknya tanpa merasa bersalah.
Aku hendak menjawab pertanyaannya namun seorang sekuriti datang dan melerai.
"Tolong! Jangan bertengkar di sini kalian mengganggu pasien yang lain," ucapnya ketus kemudian pergi meninggalkan kami.
Sorot mataku begitu tajam. Saat ini aku ingin menelannya hidup-hidup, pria yang ada di depanku ini sudah seperti bukan mas Rifan.
"Di mana Abizar?" tanyanya gugup.
"Tidak usah banyak tanya! Sekarang temui perawat dan minta mereka untuk segera mengambil darahmu," titahku marah.
Mas Rifan pergi ke ruang perawat baru beberapa langkah dokter yang menangani Abizar keluar menghampirku. Aku dengan cepat menanyakan kondisi Abizar. Dokter terlihat gusar.
"Ada apa Dok? Apa yang terjadi dengan Abizar?" tanyaku tak sabar.
Pria yang berprofesi sebagai dokter itu menghela napas pelan. "Maaf, Bu. Anak Ibu telah pergi, harap Ibu kuat," ucapnya menunduk.
"Apa! Tidak! Ini tidak mungkin! Dokter pasti salah. Abizarku kuat." Aku menggeleng berharap pria berjas putih yang ada di depanku sedang berbohong.
"Maaf, Bu. Ikhlaskan Abizar, agar bisa pergi dengan tenang. Allah lebih sayang padanya," lanjutnya lagi.
Tanpa menjawab perkataan dokter. Aku berlari ke ruang di mana Abizar dirawat. Di sana, putraku sudah tertutup mata. Wajahnya putih bersih sudah tak ada napas. Badannya dingin terbujur kaku beberapa perawat berdiri disampingku memberi kekuatan. Mereka tau seperti apa perjuanganku selama tiga bulan.
"Abizar bangun! Ini Ibu Sayang. Ayo bangun! Kita jalan-jalan Abizar pengen ke mekkah-madinah kan? Ayo kita kesana Ibu janji bakal menuruti semua permintaan Abizar." Aku meraung sejadi-jadinya mengguncang tubuh mungilnya berharap jagoanku bangun kembali. Nafas seakan ikut berhenti badan merosot terkulai lemas ke lantai. Pengelihatanku mulai gelap aku tak sadarkan diri.
...*****...
BERSAMBUNG
Happy Reading Gaeesss!!
__ADS_1
😘😘😘