
Sore hari di restoran....
Rindi duduk menunggu Arkan. Pria itu sudah berjanji untuk datang menemuinya, Rindi terus saja mondar-mandir, raut tak tenang terlihat di wajahnya. jam sudah menunjukkan pukul lima sore. tapi, belum ada tanda-tanda kemunculan Arkan. sebab, pria itu berjanji akan datang di pukul empat sore sedangkan ini sudah lewat satu jam.
"Duh... dia jadi datang menemuiku nggak, ya?" gumamnya dalam hati."
"Ada apa Bu? kok, terlihat begitu gelisah?" tanya Lisa bingung. sebab bosnya seharian ini agak aneh dari biasanya."
"Oh... nggak Apa-apa, aku hanya sedang menunggu seseorang." jawab Rindi datar.
"Pasti nungguin pak Arkan, ya?" goda Lisa dengan alis naik turunnya.
Rindi hanya tersenyum kemudian mengangguk.
Fiuuhh.... Rindi menghembuskan nafasnya kasar, surat misterius itu benar-benar mengganggu pikirannya. sudah belasan tahun kejadian itu, kenapa sekarang tiba-tiba ada orang yang menerornya, bukan kah itu aneh?"
.
.
Di tempat lain, Mirna yang baru saja keluar dari tahanan tersenyum seringai, tentu saja, dengan uang ia bisa dengan mudah lolos dari pemeriksaan, benar kata orang, jika uang sudah berbicara maka masalah selesai. begitulah yang dilakukan Mirna, ia menyegogok dengan sejumlah uang agar dibebaskan dari jerat hukuman.
Mirna mengeluarkan ponsel dari tasnya, kemudian menghubungi seseorang.
..."Halo? gimana, apa ada informasi lainnya yang kau dapatkan?"...
..."Tentu saja ada bos. tapi, aku nggak bisa memberi tau sekarang takut ada yang dengar, kita harus bertemu di tempat yang aman." ujar seseorang dibalik telepon."...
..."Baik, aku akan hubungi kau nanti jika sudah sampai, aku tutup dulu teleponya, terus awasi peregerakannya."...
..."Baik Bos, jangan khawatir aku melakukan tugasku dengan baik."...
Setelah menutup teleponnya, Mirna bergegas pulang kerumahnya terlebih dahulu. saat ini badannya sudah sangat lengket wajar saja seharian ia belum mandi, tapi tiba-tiba ponselnya kembali berdering.
"Ah, siapa sih ini yang telepon." gerutunya kesal sambil menyambar ponsel kemudian melihat sih penelepon.
"Dia? ah... aku hampir lupa dengan informenku yang satu ini," Mirna tersenyum smirk kemudian mengangkat teleponya.
..."Iya, Halo... gimana?"...
..."Apa! hahaha.... kerja bagus, terus buat dia ketakutan, tapi ingat! jangan sampai ada yang mencurigaimu, kalau ada apa-apa cepat kabari aku."...
Mirna kemudian menutup teleponnya, dan menyelipkan ponselnya ke dalam tas. dua orang yang ia kerjakam melaksanakan tugasnya dengan baik.
...***...
__ADS_1
Arkan baru saja tiba di restoran, ia terlihat tergesa-gesa menghampiri Rindi. wanita itu sedang menunggunya sedari tadi.
"Sayang, maaf, aku ada pekerjaan yang belum selesai tadi. kamu baik-baik, saja?" ujar Arkan terlihat khawatir. "
Rindi terlihat kikuk, sebab Arkan memanggilnya dengan kata sayang, ia sedikit salah tingkah, tapi tidak menutupi semburat merah yang ada di pipinya. Arkan membuang pandangan ke arah lain dengan senyuman yang tertahan.
"Iya, aku baik-baik aja, jangan khawatir," jawab Rindi sedikit menunduk. jika ia tak butuh bantuan Arkan. dia tentu tak akan memanggil pria itu ke restorannya.
"Lantas, kenapa kamu memanggilku kesini? apa kamu merindukanku?"
"Percaya diri sekali dia."
"Emmm... sebenarnya, aku ingin meminta bantuanmu, bisa kah kita bicara diruang kerja ku saja biar lebih leluasa."
"Oke!" Arkan berjalan mengikuti Rindi ke ruang kerja miliknya, sepasang mata mengawasi mereka, dan tersenyum seringai."
"Silahkan duduk!" Rindi mempersilakan Akan untuk duduk sembari mengeluarkan surat yang ia simpan di dalam laci, Arkan mengernyitkan kening tak mengerti."
"Ini? semalam, sepulang dari luar aku menemukan surat ini di pintu kamarku" ujar Rindi sembari memberikan surat untuk di lihat oleh Arkan."
Arkan membelalakkan matanya membaca isi suratnya, ia menggeleng tak percaya kemudian menatap pada Rindi, dalam hatinya ia sangat marah berani-beraninya ada orang yang meneror calon istrinya. bagaimanapun Arkan akan menyelidikinya siapa dalang dibalik surat tersebut. tiba-tiba Arkan mendengar ada peregerakan di daun pintu yang sudah ditutup rapat sepertinya seseorang berniat untuk menguping pembicaraan mereka. berbeda dengan Rindi wanita itu justru tidak merasa atau mendengar bahwa ada orang yang mencoba untuk menguping.
Arkan seorang polisi ia tentu hafal dengan situasi seperti ini, telinganya seorang polisi jauh lebih tajam, mereka juga dengan mudah mengenali karakter seseorang.
"Ada apa?" tanya Rindi bingung melihat raut wajah Arkan."
Arkan mendekati pintu dengan mengendap-ngendap agar tidak menimbulkan suara kemudian membukanya dengan cepat, naas tak ada orang di luar.
"Sial! cepat sekali dia kabur." gumam Arkan, ia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari jejak sih penguping tapi tak ada jejak sama sekali.
Arkan bisa saja langsung menggeledah seluruh restoran, tapi ia khawatir pengunjung yang makan akan merasa tidak nyaman.
"Sepertinya kamu harus mendesain ulang ruangan ini menjadi ruangan kadap suara." tukas Arkan, ia mendudukkan bokongnya ke sofa.
"Hah, kenapa?" tanya Rindi tercengang."
"Seseorang mencoba menguping pembicaraan kita."
"Apa! ta-tapi siapa? dan mana orangnya?"
"Sudah kabur, dia sangat lihai dan yang pastinya dia ada di restoran ini, entah itu pengunjung atau pekerjamu sendiri. jadi, kamu harus berhati-hati, perhatikan situasi di sekitarmu jangan sampai lengah." papar Arkan dengan mimik muka serius, Rindi mengangguk tanda mengerti.
"Apa kamu punya musuh?" tanya Arkan lagi."
"Musuh?"
__ADS_1
"Iya, atau ada seseorang yang mencurigakan di restoran ini?"
Rindi tiba-tiba teringat Mirna, tapi apa mungkin Mirna yang melakukan ini. jika saja iya maka Rindi akan menyerahkannya pada Arkan.
"Mirna, dia sepupuku sendiri, tapi... saat ini dia masih di tahan karena kasus semalam." jawab Rindi yang belum mengetahui kebebasan Mirna.
"Aku mengerti, jangan khawatir aku akan menyelidikinya, kamu jaga dirimu baik-baik kalau ada sesuatu yang mencurigakan cepat kabari aku.
"Baik, apa Mas Arkan, akan pergi sekarang?"
"Iya, Mama menungguku di rumah, nanti malam aku kesini lagi." Arkan kemudian meninggalkan Rindi sebab ibunya terus saja menelepon, memintanya untuk cepat pulang.
Rindi mengotak-atik laptopnya di ruang kerja. ia teringat dengan CCTV jika memang benar ada yang menguping seharusnya terekam di CCTV, kan?
"Eh, tapi tunggu, sebaiknya aku tunggu nanti malam baru periksa CCTVnya biar di temani Lisa dan juga Mas Arkan." gumamnya sendiri.
Arkan yang baru saja tiba di rumah, dikejutkan dengan perempuan yang menyambutnya di depan pintu, perempuan yang sama di waktu itu pernah datang kerumahnya namun di cuekin oleh Arkan.
Arkan menghelakan nafasnya panjang. jadi ini, alasan ibunya memintanya cepat pulang untuk dikenalkannya pada perempuan lain. meski sudah berulang kali Arkan menolak untuk dijodohkan dengan perempuan pilihan ibunya. namun ibunya tetap saja kekeuh mengundang perempuan datang kerumahnya.
"Hay, Mas Arkan, baru pulang?" sapa wanita itu manja namun terdengar memuakkan ditelinga Arkan.
Jika dirinya pikir dengan berpakaian mini Arkan akan menyukainya dan tergoda dengannya maka dia salah besar! Arkan justru ilfeel melihat wanita yang berpakaian kurang bahan seperti itu.
"Heemm." hanya berdehem tanpa niat untuk bertanya lebih lanjut.
Wanita itu tentu saja geram namun ia tahan sekuat tenaga Arkan bahkan tak menanyai siapa namanya.
"Ahh, menyebalkan!"
" Silahkan masuk, ibu anda sudah menunggu sedari tadi."
"Ya."
Benar saja, setibanya di dalam Ibunya sudah menunggu di ruang keluarga dengan mimik muka marah bak tomat merah.
"Dari mana saja kamu?" Mama Delina langsung menodongkannya dengan pertanyaan.
"Dari bertugas lah Mam, ada kasus yang harus ku selesaikan." papar Arkan sembari mendudukkan bokongnya di kursi."
"Dari bertugas, atau dari restoran wanita itu!" sarkas Mama Delina geram.
"Serah Mama mikirnya apa? Mama maunya gimana sekarang aku capek!"
"Mama cuma mau kenalkan kamu sama Melisa, kenapa sesusah itu untuk kamu luangkan waktu sebentar aja. kamu nggak menghargai Melisa!"
__ADS_1
Melisa menggigit bibir bawahnya, mendengar Mama Delina menyebut namanya, berbeda dengan Arkan, pria itu acuh tak acuh padanya.
...Happy Reading ...