
Setelah beberapa hari berada di rumah sakit akhirnya Dokter mengijinkan Rindi untuk pulang, dengan senyum ceria ia memasuki mobil milik Arkan, dituntun bak seorang putri oleh polisi tampannya membuatnya bahagia. pria itu tersenyum manis menatap wanitanya yang kini sudah pulih dan sudah bisa beraktivitas kembali.
Dengan kecepatan sedang mobil Arkan melesat meninggalkan rumah sakit membelah jalanan ibukota yang kian padat oleh kendaraan-kendaraan bermotor maupun bermobil.
"Makasih ya, Mas, sudah mau nemanin aku di rumah sakit."
"Hemmm ... mau langsung pulang ke restoran atau mau mampir ke tempat lain dulu nih."
Rindi terlihat berpikir sejenak, ia tiba-tiba teringat dengan Nyonya Sukma.
"Sebenarnya aku pengan langsung ke rumah Ibu, perasaan ku sedikit nggak enak saat ini."
"Ibu?" Arkan mengernyitkan dahinya namun tetap fokus pada jalanan.
"Iya, Ibunya Mas Rifan terakhir kemarin aku mengatakan akan menemuinya setelah selesai urusan, mungkin sekarang beliau sudah menungguku." sahut Rindi sembari menatap Arkan.
"Hatimu begitu baik bisa memaafkan Nyonya Sukma begitu saja, padahal wanita itu jugalah yang menghancurkan kehidupanmu." batin Arkan merasa kagum dengan Rindi.
"Baiklah sayang, aku antar kamu kesana."
Rindi tersenyum senang, ia bersyukur Arkan mau mengerti dirinya. Ia membuang pandangan keluar jendela namun tiba-tiba matanya menangkap sosok Arman yang sedang berdiri dipinggir jalan. "sedang apa dia?" lirihnya pelan.
Arman berinisiatif membelikan Susi sebuah ponsel bermerek agar memudahkan Susi untuk berkomunikasi dengannya jika ada sesuatu yang berkaitan dengan Nyonya Sukma.
Setelah itu Arman meminta orang-orangnya untuk mengamankan adiknya Susi terlebih dahulu. ditemani asistennya Arman pergi ke kediaman Nyonya Sukma, sepanjang perjalanan Arman terus mengepalkan tangannya merasa kesal dengan Meri. berani-beraninya seorang pelayan menindas majikannya sendiri yang sudah tua rentah dan ingin menguasai seluruh hartanya.
Di kediaman Nyonya Sukma nampak Miranda yang sedang memarahi seorang pelayan karena tidak mematuhi perintahnya. Ya, Miranda meminta agar pelayan mengemasi barang-barang Rifan, ia dan Meri ingin menjual barang-barang tersebut. semuanya bermerek kalau di jual lagi mereka akan mendapatkan untung banyak mulai dari pakaian, sepatu, jam tangan, dan lainnya milik Rifan yang masih tersimpan rapi pada tempatnya. bahkan aroma maskulinnya masih terlekat di dalam sana.
Ibu Sukma sengaja tak ingin memindahkan barang-barang putranya, karena ia masih merindukan sosok anaknya setidaknya dengan melihat barang-barang Rifan bisa mengurangi sedikit rasa rindunya. dan sekarang dengan lancangnya pelayan tak tahu diri itu ingin menjualnya dan berniat menempati kamar putranya tanpa seijin darinya.
"Beraninya kamu membantah perkataan ku!" teriak Miranda dengan garangnya matanya menatap nyalang ke arah pelayan.
"Maaf, tapi anda tak punya hak untuk memindahkan barang-barang Tuan dari kamarnya dan saya bukan pelayan anda! tidak sepatutnya anda menyuruh saya!" balas pelayan tak kalah sengit.
Miranda semakin garang matanya melotot tajam ke arah pelayan, saat ini ia telah kehabisan kata-kata untuk melawan. pelayan itu mampu membungkam mulut busuknya.
"Ibuuuu!" teriak Miranda keras, Meri yang sedang berdiri di balkon kamar langsung terkejut mendengar teriakan putrinya dari lantai bawah.
Meri dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga ia begitu khawatir dengan putrinya. setibanya di bawah ia melihat pelayan yang sedang berdiri mematung dengan raut wajah marah.
"Ada apa? kenapa kamu berteriak memanggil Ibu?" tanya Meri sembari menatap Miranda.
"Lihat Bu! pelayan ini menghinaku sedari tadi!" dusta Miranda.
__ADS_1
Pelayan itu memicingkan matanya perasaan Miranda lah yang menghina dirinya kenapa Miranda memutar balikan fakta.
"Beraninya kamu menghina putriku! rasakan ini!" tangan Meri terayun mengarah ke wajah pelayan.
Dan, plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, ia memegang pipinya yang terasa panas kemudian menatap Meri dengan tajam. Susi yang mendengar keributan kemudian berlari mendekat untuk membantu temannya.
"Ketua, kenapa kau memukulnya." sergah Susi tak terima.
"Diam kamu! ini sebabnya jika berani membantah perkataanku! Dan jangan coba-coba menghina putriku atau kalian akan berurusan denganku." geram Meri sembari menunjuk Susi dan temannya.
"Tapi, anak anda yang lebih dulu menghinaku!" sahut pelayan itu tak mau kalah.
"Aseeep!" teriak Meri memanggil kang Asep sih tukang kebun. suaranya menggema ke seluruh ruangan hingga terdengar di telinga Nyonya Sukma.
Kang Asep yang sedang menyesap kopi langsung tersembur keluar sampai terbatuk-batuk dengan tergesa-gesa ia menghampiri Meri. "Iya, Bu Meri ada apa?" tanya Kang Asep gelagapan.
"Cepat bantu saya! seret dua orang ini dan kurung mereka ke dalam gudang!" perintah Meri tegas.
"Ta-tapi, Bu ...."
"Jangan tapi, tapi!" potong Meri cepat. "atau kamu akan saya pecat!"
Kang Asep menggeleng. "Ba-baik, Bu! jangan pecat saya, ayo kalian berdua ikut saya ke gudang."
"Lepas! jangan kurung kami!" berontak keduanya secara bersamaan.
"Sini kamu! cepat sini! ikut saya!" geram Meri sembari menyeret Susi.
Pak sopir yang sudah berumur hanya bisa menyaksikan tingkah Meri, ia tak berani melawan ataupun membantu kedua pelayan itu, namun dalam hatinya terus berdoa semoga Arman cepat sampai dan menyelamatkan Nyonya Sukma.
Meri berhasil mengurung kedua pelayan itu kedalam gudang dibantu oleh Kang Asep dan juga Miranda, keduanya mengikat kaki tangan Susi dan temannya di kursi kemudian membekap mulut mereka agar tak bersuara.
Setelahnya Meri tersenyum seringai begitu juga Miranda. "Ini lah, akibatnya jika kalian berani melawanku, tikus kecil!"
Bertepatan dengan Mobil Rindi dan Arkan yang tiba di pekarangan Rumah. Meri dengan cepat mengancam Kang Asep dan juga pak sopir untuk tidak membuka mulut tentang apa yang ia lakukan barusan.
Rindi tersenyum ke arah pak sopir yang sedang berdiri di dekat pintu masuk. kemudian Meri sigap menyambut Rindi dengan kepura-puraan jantungnya berdegup kencang seakan hendak keluar dari tempatnya.
"Maaf Non, tapi Nyonya sedang tidak di rumah." tutur Meri sembari tersenyum kikuk.
"Hah, kemana Ibu pergi? dan sama siapa? bukan kah, pak sopirnya ada di sini?" tanya Rindi beruntun dan heran, sebab biasanya Ibu Sukma selalu berpergian dengan sopirnya.
__ADS_1
Seketika raut wajah Meri berubah, Arkan memicingkan matanya menatap Meri dengan tatapan curiga. kemudian ia melirik pada pak sopir, pria tua itu menggerakkan bola matanya ke lantai atas seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Eh, i-itu ... Nyonya, di-dia pergi bersama Tuan Arman. yah, Tuan Arman membawanya keluar." sahut Meri dengan suara yang terbata dan juga gugup.
"Benar kah?" tanya Rindi memastikan.
"I-iya benar Non. iya kan, Pak?" Meri beralih menatap pak sopir dengan tatapan intimidasi.
"Eh, iya benar, Non." pak sopir tersenyum kikuk.
"Kok, mereka kayak gugup gitu, ya? apa mungkin mereka menyembunyikan sesuatu ya." batin Rindi.
Rindi menatap Arkan seolah meminta pendapat pria di sebelahnya. sebab ia merasa ada sesuatu yang aneh. jika memang Nyonya Sukma keluar terus kenapa Meri terlihat gelagapan saat menjawab pertanyaannya.
"Siapa dia? kok aku baru melihatnya sekarang?" Rindi beralih menatap Miranda.
"I-itu pelayan baru, dia baru dua hari bekerja di sini." jawab Meri gugup sedangkan Miranda terlihat melotot ke arah ibunya karena tak terima disebut pelayan.
"Oh ..." Rindi hanya ber oh riah saja tanpa ingin bertanya lebih lanjut.
Arkan akhirnya mengajak Rindi pulang, tetapi tak langsung pulang sebab Rindi meminta Arkan untuk berhenti tak jauh dari kediaman Nyonya Sukma. Keduanya sama-sama membisu dalam pikiran masing-masing.
Meri kemudian masuk ke dalam kamar Nyonya Sukma mengancam wanita tua itu lagi. matanya menatap nyalang Ibu Sukma.
Nyonya Sukma yang kesal akhirnya meludahi Meri tepat di bagian wajahnya. ia tak peduli lagi jika Meri membunuhnya sekalipun. Tak terima wajahnya di ludahi Meri berteriak marah kemudian menyeret Nyonya Sukma ke dalam kamar mandi dan mengguyurnya dengan air dingin. sedangkan Miranda terkikik jahat menyaksikan ibunya menyiksa majikannya yang sudah renta.
"Rasakan ini!" Sergah Meri sembari terus Mengguyur Nyonya Sukma menggunakan air dari shower.
"Ah, le...pas!" lirih Nyonya Sukma suaranya tercekat di tenggorokan, air matanya berlinang tanpa henti.
Meri tak pedulikan itu ia terus tertawa di dalam kamar mandi layaknya seorang ibls, saking bahagianya hingga Meri tak mendengar suara deru mobil Arman memasuki pekarangan Rumah di susuli dengan Mobil Rindi.
Setelah mobil Arman terparkir, pak sopir bersama kang Asep menghampiri Arman dengan wajah panik. sedangkan Rindi wanita itu celingak-celinguk mencari sosok Nyonya Sukma di dalam mobil. Arman menyipitikan mata menatap Rindi kebingungan.
"Di mana Ibu Sukma? bukannya kamu yang membawanya keluar? lalu kenapa sekarang tidak ter ....?"
"Nyonya besar di atas Tuan! cepat tolong selamatkan Nyonya, beliau sedang di kamar bersama Meri." Pak sopir memotong ucapan Rindi yang di angguki oleh kang Asep.
"Apa!"
Secepat kilat Arman berlari ke dalam rumah menaiki anak tangga kemudian di susuli oleh Rindi dan juga Arkan. sedangkan kang Asep bersama Pak sopir membantu melepaskan pelayan yang terikat di gudang.
Asisten Arman mendobrak pintu kamar sekuat tenaga hingga terbuka lebar. membuat Miranda dan ibunya terkejut kedua wanita jahat itu saling pandang dan menelan salivanya susah payah, Arman menatap nanar pada Ibu Sukma yang tengah menggigil dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
...Happy Reading...
😇😇😇