Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 7


__ADS_3

POV Author :


Plak


Plak


Dua kali tamparan dipipi kiri dan kanan. Salah satu sipir dengan geram menampar sih perempuan pembuat masalah sebab ini sudah kesekian kalinya wanita itu melukai para temannya.


"Brengsek sialan! beraninya kau menamparku akan ku bunuh kau sekarang juga!" teriak wanita psikopat itu murka.


para sipir yang sudah hafal dengan tingkah laku sih onar, kali ini tanpa menjawab omongannya mereka segera menariknya lalu mengurungnya ke dalam ruangan terpisah yang terlihat menyeramkan. di dalam jeruji besi wanita itu terus berteriak memaki para penjaga yang mengurungnya.


"Lepaskan aku badebah! wanita itu yang ingin mati jadi apa salahku membunuhnya!"


"Diam mulutmu!" bentak pria berseragam biru langit itu sambil mengacungkan tongkatnya ke arah sih onar"


"Badebah! wanita itu yang ingin mati apa kau tak mengerti perkataanku hah!" bentak sih onar tak kalah sengit."


"Bukan berarti kau membunuhnya wanita psikopat!"


"Kau sialan badebah! keluarkan aku dari sini!"


Penjaga pun jengah dan memilih diam tanpa menghiraukannya. pria itu bergegas nyamperin para rekannya yang tengah sibuk membantu menangani Rindi.


Darah segar terus mengalir dari pelipisnya membuat mereka semua panik.


"Hey kita harus mebawanya ke rumah sakit kondisinya sangat parah." ujar sipir itu pada teman-temannya."


Yang lainnya pun mengiyakannya, setelah mendapat ijin dari kepala lapas mereka akhirnya membawa Rindi kerumah sakit tentu saja dikawalin oleh petugas kepolisian.


Butuh waktu hampir dua jam untuk tiba dirumah sakit, setibanya di sana dokter langsung menanganinya dengan cepat.


Naasnya Rindi yang malang harus di operasi akibat benturan yang cukup keras pada bagian kepala, luka di pelipis Kanannya menganga dengan lebar.


Operasi berjalan dengan lancar hingga selesai namun belum ada tanda-tanda kesadaran dari wanita berusia 22 tahun itu.


Sebelum melakukan operasi mereka sempat mengabari keluarga Rindi yang tak lain adalah suaminya. Tetapi nomornya tidak tersambung. Mengingat kondisinya cukup parah dan harus cepat ditangani. Hingga mau tak mau dokter langsung bertindak cepat tanpa menunggu respon dari pihak keluarga.


.


.


.


.


Sementara di tempat lain Arkan yang belum mengetahui kejadian yang menimpa Rindi. pria itu terus saja gelisah tak tenang seperti ada kontak batin antara dirinya dengan Rindi.


"Ada apa ini kenapa firasatku gak enak ya" gumamnya dalam hati."


Tiba-tiba saja dirinya teringat dengan sosok Rindi. Arkan mulai kesal ia ingin mengunjungi lapas untuk memastiakan bahwa pujaan hatinya itu baik-baik saja, tetapi jam tugasnya belum berakhir bagaiamana pun ia harus bekerja dengan profesional, ia hanya bisa merutukki dirinya sendiri dalam hati dan berdoa semoga sang pujaan hati baik-baik saja.

__ADS_1


Ting ting...." bunyi notifikasi dari ponsel milik Arkan pria itu segera membukanya dengan cepat, terdapat pesan WhatsApp dari petugas sipir. yah, pria itu memang meminta mereka untuk mengabarinya jikalau terjadi sesuatu dengan Rindi.


Setelah membaca pesan WhatsApp tersebut mata Arkan memerah dalam seketika menahan amarah, giginya gemeretuk pria itu memukul meja secara kasar hal itu mengundang tanya rekan satu letingnya.


"What are you doing?" ujar rekan Arkan.


Pria yang akrap disapa Polis Jain itu memicingkan matanya. Meminta jawaban dari Arkan.


"Sesuatu telah terjadi di lapas."


"Apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat marah?"


Arkan pun menunjukan pesan WhatsApp dari petugas sipir pada rekannya itu. Seketika matanya membulat dengan sempurna. Entah apa yang dipikirkan pria itu.


.


.


.


.


Di ruangan bernuansa biru terlihat Rifan yang sedang duduk santai menikmati secangkir kopi sembari menonton televisi. tak lama Mirna datang menghampiri, tanpa sungkan wanita itu duduk bergelayut manja di lengan Rifan..


"Minggir!" ujar Rifan ketus."


"No honey! jangan suruh aku minggir."


"Ah sakit!" pekik Mirna tercengang dirinya tak menyangka jika Rifan bisa berbuat kasar padanya."


"Kenapa kau sekasar itu padaku!" beo Mirna dengan suara yang mininggi."


"Jangan menggangguku j*lang!"


"Hey aku bukan j*lang! dan aku lebih baik dari Rina selingkuhanmu itu!"


"Terserah! Rifan bangkit dari kursinya pria itu bergegas ke kamar meninggalkan Mirna tanpa peduli.


Mirna tak tinggal diam wanita itu menyelonong masuk ke kamar Rifan. kemudian mengunci pintunya. Rifan tentu saja marah dan mengusirnya keluar tapi Mirna tak menghiraukannya dan tanpa di duga oleh Rifan wanita berambut panjang itu justru membaringkan tubuhnya dikasur empuk milik Rifan dan juga Rindi. senyum menggodanya terus ia pancar kemudian dengan sengaja Mirna menaikkan roknya ke atas. yaa, wanita itu kerap kali memakai pakaian mini untuk menggoda Rifan. roknya ia sigap hingga ke atas memperlihatkan paha mulus miliknya, Rifan menelan Salivanya susah payah bagaimanapun dia pria normal jika disuguhkan pemandangan seperti ini tentu saja bisa membangkitkan aurah kejantanannya.


"Sial apa yang kau lakukan j*lang!"


"Tentu saja menggodamu." balas Mirna acuh."


"Hentikan omong kosongmu dan keluar dari kamarku!"


"Tak mau, memangnya berapa yang ingin kau bayar agar aku pergi dari sini. meski 1 miliar aku tetap tak mau pergi."


Rifan mencengkeram pipi Mirna sekuat tenaga dirinya pikir dengan berbuat kasar Mirna akan segera pergi, namun ternyata dirinya salah wanita itu justru melorotkan cel*na d*lam miliknya dan membuka kakinya lebar-lebar ke arah Rifan memperlihatkan lobang surga miliknya.


"Ahh Sialan kau!" teriak Rifan lalu berpaling mukanya ke arah lain, tentu saja pisang miliknya dibawah sana sudah berdiri dengan kokoh. Rifan menyambar kunci mobilnya dan pergi meninggalkan Mirna sendirian. ia tak ingin mengkhianati Rindi pria itu sudah berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

__ADS_1


Mirna yang kesal karena mendapat penolakan dari Rifan. akhirnya berteriak marah dia sudah menurunkan gengsinya untuk menggoda Rifan tapi malah dirinya di tinggalkan begitu saja.


.


.


.


.


Dikamar rumah sakit penjaga sipir yang berjaga diluar terus saja mondar-mandir saat ini dirinya benar-benar takut akan mendapat amukkan dari Arkan. sebelumnya Arkan terus mewanti-wanti agar penjaga bisa mengawasi pujaan hatinya dengan baik.


"Abizar ...."


"Abizar jangan usir Ibu ....!" wanita itu terus meracau meski dalam keadaan tak sadar, mulutnya tak berhenti memanggil nama putranya.


"Ibu Rindi, sadarlah dokter terus berusaha untuk menyadarkan Rindi.


"Dok, lihatlah jari telunjuknya bergerak" papar seorang suster yang melihat ada pergerakan dari tubuh Rindi.


"Ya terus ayo buka matamu!" Dokter itu terus mengsugesti Rindi.


Perlahan, Rindi mulai membuka kelopak matanya pelan, sayup-sayup ia mendengar mereka memanggilnya. Ia memutar bola matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Mata sayunya menatap dokter yang berdiri disebelahnya. Tetesan embun asin mengalir di pelupuk matanya. Ia sendiri bingung apa yang terjadi padanya. Tetapi ia bisa merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya.


"Alhamdulillah akhirnya Ibu Rindi siuman juga." imbuh seorang suster bertubuh gempal.


"Aku ada di mana?" Rindi bertanya bingung kesadarannya belum sepenuhnya pulih.


Rindi mencoba untuk mengingat kembali kejadian yang menimpa dirinya sebelumnya. tetapi tiba-tiba kepalanya berdenyut sakit.


"Ibu ada di rumah sakit, apa ibu mengingat sesuatu?" tanya dokter antusias.


"Tidak, Ahh kepalaku sangat sakit, Rindi meringis memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Tenang Bu, jangan memaksa untuk mengingat jika belum bisa, Ibu istirahat saja saya akan memeriksa kondisi Ibu." ujar Dokter yang terlihat sedikit khawatir.


Setelah memeriksa keadaan Rindi. dokter berparas cantik itu bergegas keluar dan membiarkan Rindi beristirahat. sipir yang melihatnya tentu saja langsung mencecarnya dengan pertanyaan.


"Dok gimana keadaan pasiennya?"


"Umm, sebaiknya kita bicara di ruangan saya ada yang ingin saya sampaikan" imbuh sang Dokter. dirinya bermaksud untuk meminta sipir memberi tahu keluarga Rindi. hal ini bisa membantu memulihkan ingatannya.


"Tunggu ...!" suara seseorang mengagetkan mereka.


"Pak Arkan!"


...*****...


BERSAMBUNG

__ADS_1


...HAPPY READING...


__ADS_2