Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 12


__ADS_3

POV Author :


Di ruang kamar, tampak Rindi yang sedang rebahan dikasur empuk miliknya. setelah mengalami hari yang berat dan lelah dengan isi pikiran yang menumpuk. wanita itu memilih membaca buku sambil rebahan, buku berjudul Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan. ini akan membuat berpikir lebih sehat dan sesimple minum teh hangat yang bisa menaikan mood jadi lebih baik untuk menjalani hari yang panjang nantinya. Lumrah jika manusia memiliki masalah setiap harinya.


Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. masalah sendiri, dan mereka yang tampaknya tidak memiliki masalah adalah mereka yang berhasil berkompromi setelah banyak mencoba menutupi masalah-masalah mereka. setiap orang menjalani hidup dan selalu merasakan kesepian, kecemasan, dan penderitaan. Sedikit mencerahkan dan sedikit menyemangati jika kita sesekali berbagi sedikit kesedihan dan sakit hati yang kita alami. Itu disebut kompromi. namun berbeda dengan Rindi wanita itu tak ingin berbagi kesedihannya pada siapapun. bukan tanpa sebab tapi semua karena ada alasan yang membuatnya jadi wanita tertutup.


Rindi yang dulu kembali lagi. wanita itu ingin membalaskan dendamnya pada orang-orang yang telah mengkhianatinya, namun ini berbeda jika dulunya ia akan berbuat anarkis dan bertingkah secara kasar. maka kali ini ia akan membalas dengan cara yang halus namun mematikan.


Ditempat lain Arkan terus saja gelisah, setelah pertemuannya dengan Rindi di restoran. pria itu makin murung suasana hatinya tampak kacau. bertahun-tahun ia menunggu kebebasan Rindi dirinya pikir setelah bebas wanita itu akan menerima kehadiran dirinya. dugaannya salah Rindi masih tetap sama tidak bisa menerima siapapun dalam hidupnya.


Arkan menjadi nelangsa, terlalu banyak harapan dari orang lain yang berakibat marah dan kecewa jika harapan tersebut tidak terpenuhi, buah kehidupan tidak dapat diperoleh dalam waktu singkat. setiap orang memiliki sesuatu untuk dihargai di setiap momen kehidupannya pada dasarnya perjalanan hidup setiap orang itu berbeda. Jadi tetaplah fokus pada momen dirimu sendiri sekarang dan bersungguh-sungguh dalam menghadapinya. Menikmati hari ini dengan usaha yang maksimal tidak akan membuatmu menyesal di hari kemudian dan merasa takut untuk menghadapi hari esok. Ingatlah ketakutan itu baru ada diposisi pikiranmu, jadi tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. pria itu terus bermonolog dalam hatinya, harus kah ia terima keputusan Rindi? dan menghargai setiap perkataannya. atau kah untuk terus berjuang mendapatkan cintanya?"


Seusai bertugas Arkan memacukan kuda besi miliknya menuju restoran, tak peduli jika Rindi akan memarahinya dan mengusirnya pergi. mulutnya berkata bahwa dia harus menghargai keputusan Rindi apapun itu. tapi dalam hatinya ia membantah, ia ingin memiliki Rindi sepenuhnya.


Setibanya di restoran tanpa pikir panjang ia segera masuk, matanya memindai seluruh restoran mencari sosok Rindi.


"Di mana sih dia?" gumamnya sembari melirik ke arah dapur berharap menemukan Rindi."


"Hay! Mas tampan, selamat datang di restoran Seafood kami! silahkan mau pesan apa?" dengan tatapan menggoda, pelayan menyodorkan buku menu pada Arkan. tidak hanya itu ia bahkan berani menyentuh jemari Arkan.


"Apa kah begitu, caramu melayani pelanggan? hah!" sentak Arkan kesal."


Pelayan bernama Rina tentu saja kaget. jika biasanya para pria akan suka dengan rayuan mautnya. setelah itu mereka akan memberinya uang tip namun berbeda dengan Arkan pria itu sama sekali nggak suka ketika di rayu.


"M-maafkan saya, Mas." ujar Rina gagap.


"Panggil bosmu ke sini!" titah Arkan marah, meski hanya hal sepele pria itu menjadi cepat marah."


"B-baiklah," dengan gemetaran Rina memutar badannya, dalam hatinya merutukki kebodohannya sendiri seharusnya ia lihat mana tampang yang bisa di rayu bukan asal merayu.


Setelah kepergian Rina, pelayan yang lain datang lagi menghampiri Arkan.

__ADS_1


"Permisi pak, anda mau pesan apa?" tanya sang pelayan ramah tidak seperti Rina yang terkesan menggoda."


"Jus alpukat aja satu, tanpa gula." sahut Arkan tanpa menyentuh buku menu."


"Baik, cuma itu aja atau masih ada lagi?"


"Oh iya, apa kamu owner restoran ini?" tanya Arkan, pria itu memicingkan matanya menatap pada pelayan.


"Rasanya Nggak mungkin jika dia pemilik restoran." gumamnya."


"Maaf pak, saya bukan ownernya saya hanyalah pelayan."


"Bisa, aku bertemu dengan pemilik restoran ini, apa dia ada?"


"Bisa pak, kalau begitu tunggu sebentar akan saya panggilkan."


Setelah dipanggil, Rindi dengan malasnya menghampiri orang yang ingin bertemu dengannya. wanita itu mendengus kesal apa lagi setelah melihat Arkan yang duduk di sana menunggunya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rindi, saat ini ia mencoba bersikap profesional layaknya pada pelanggan.


"Iya, saya pemilik restoran ini."


Arkan menjelaskan tentang pelayan yang mencoba menggodanya, ia sangat muak dengan perempuan seperti itu tanpa rasa malu mencoba menggoda dirinya. sebenarnya itu hanyalah alibinya semata mengkomplain tentang pelayan. pada dasar nya Arkan hanya ingin Rindi mau berbicara dengannya.


"Maafkan atas ketidak sopanan pegawai saya, sebagai bentuk permohonan maaf saya. saya akan memberikan kupon makan gratis di sini selama lima hari." ucap Rindi dengan hormat Bagaimanapun ia harus melayani pelanggannya dengan baik meski itu Arkan.


"Benar kah? kupon makan gratis selama lima hari?" tanya Arkan memicing dalam hatinya ia tertawa girang.


"Iya, dan anda bebas memilih menu apa saja yang anda mau."


"Menarik." satu kata keluar dari mulutnya, sembari tersenyum senang."

__ADS_1


"Kalau begitu silakan menikmati minuman anda." ujar Rindi ia pun pamit dari hadapan Arkan.


Arkan tak mencoba menahannya seperti biasa, kali ini ia biarkan Rindi pergi. ia mulai menikmati jus Alpukatnya, menyesapnya ke dalam mulut. pikirannya membayangkan kupon makan gratis yang ditawarkan Rindi selama lima hari.


...***...


Di salah satu bar nampak Rifan sedang duduk menikmati birnya, entah sudah ke berapa kalinya ia menenggak minuman tersebut. bartender melihatnya dengan iba, ia mendekati Rifan dan mencoba untuk berbicara.


"Bos, anda sudah banyak minum. apa kah anda baik-baik saja?"


"Kau tau? dengan meminum alkohol mampu membuat pikiranku menjadi tenang."


"Apa pun permasalahanmu namun tidak baik jika anda terlalu banyak mengonsumsi alkohol, setiap malam anda mabuk jadi..."


"Jadi apa... kau ingin menceramahiku? apa kau ibuku?"


"B-bukan begitu maksud saya, saya hanya iba melihat kondisi anda seperti ini."


"Apa aku terlihat semenyedihkan itu?"


"Anda hanya tidak baik-baik saja bos."


Rifan memilih untuk tak menanggapi bartender tersebut, ia kembali menenggak minuman dalam gelas, pikirannya membawanya pada masa lalu, teringat kembali memori beberapa tahun yang lalu. rasa bersalahnya terus menggerogoti hatinya makin hari ia makin terlihat menyedihkan, hidupnya hanya dipenuhi dengan alkohol tak jarang ia mengabaikan perintah ibunya.


Dalam diam seseorang menatapnya sendu, ia tak tega melihat Rifan seperti itu, namun ia bisa apa ia hanyalah seorang sekertaris tidak mungkin bercampur tangan dalam kehidupan pribadi bosnya. wanita itu mengambil ponselnya kemudian menghubungi asisten bosnya dan menjelaskan tentang keadaan bosnya di bar tersebut.


Tanpa menunggu lama, sang asisten pun datang menghampiri Rifan. pria itu menggeleng melihat kelakuan bosnya, dirinya seharian sudah lelah dalam bekerja menghendle seluruh pekerjaan Rifan, dan malamnya harus menjadi bodyguard bosnya. bukan hanya satu malam namun setiap malam Rifan kerap menghabiskan waktunya di bar dan pulang dalam keadaan mabuk. ia tak bisa membantah ataupun protes hanya bisa ngedumel dalam hati.


"Bos, ini sudah larut malam sudah waktunya Anda pulang." ujar Arman asisten Rifan.


Ya, beberapa tahun belakangan Rifan hanya fokus dengan usaha yang ia geluti hingga ia bisa mendirikan sebuah pabrik besar yang di beri nama Abizar Tailor. pabrik itu makin hari makin berkembang, banyak disainer mudah yang ia rekrut untuk bekerja dengannya. Rifan bahkan memiliki ratusan kariawan ia juga berhasil mendirikan butik-butik yang tersebar di seluruh kota salah satunya butik induk yang diberi nama Rumah Rindi.

__ADS_1


Meski sukses dalam dunia bisnis namun itu tak membuatnya bahagia, pria itu terus saja merasa kesepian, merasa bersalah pada Istrinya dan juga anaknya. sekian purnama bahkan tak ada kata talak dari mulut Rifan meski dalam agama sudah jatuh talak namun Rifan enggan membenarkan itu, baginya Rindi masih istrinya tak ada yang bisa digantikan bahkan Mirna sekalipun.


...Happy Reading...


__ADS_2