Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 19


__ADS_3

Rindi duduk sembari memeluk lututnya, ia tak habis pikir. orang yang dulunya sangat ia percaya ternyata dalang dibalik kehancuran rumah tangganya. seharusnya ia menyadari sejak dulu, seperti apa peringai Mirna yang sebenarnya. sepupu sekaligus teman yang dia anggap polos ternyata adalah ular yang berbisa.


Dengan langkah terseok Rindi berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. tetapi tiba-tiba Rifan datang mencegah dirinya, pria itu terlihat sangat kacau. penampilannya juga berantakan.


"Tunggu!" Rifan mencekal tangan Rindi."


Rindi menatap Rifan sesaat, kemudian ia memicingkan matanya, bau alkohol menyeruak menusuk ke hidung Rindi, dapat di tebak oleh Rindi kalau Rifan baru saja keluar dari klub malam, tempat yang sangat ia benci seumur hidupnya.


Plak...!" sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rifan. pria itu memegang pipinya yang terasa panas kemudian tersenyum menatap Rindi, dalam hatinya ia bahagia. Rifan mengira tamparan yang dihadiahkan Rindi adalah tamparan kepedulian.


"Jangan halangi jalanku." pinta Rindi sembari membuka kembali pintu mobilnya.


"Tunggu! aku hanya ingin bicara sebentar!" tukas Rifan dengan mimik muka memohon, ia berharap kali ini Rindi mau mendengarkan penjelasannya.


"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan! kamu ingin, aku mau menjadi madu dari istrimu, begitu?" jawab Rindi kesal.


"Bu-bukan begitu maksudku, kamu salah paham.


"Salah paham gimana! kamu juga tau, kan? kalau aku nggak bisa punya keturunan lagi, jadi jangan ngacau.


Dari jauh Arkan mengepalkan tangannya kuat, matanya memerah, rahangnya mengeras. ia kemudian melangkah mendekat ke arah mereka. pandangannya tak lepas dari Rifan, di depan pria itu, Arkan menarik pinggang Rindi kemudian merapatkan ke tubuhnya, sebelah tangannya memegang tengkuk Rindi dan mencium bibir ranum merah delima milik Rindi dengan brutal. Rindi yang tak siap akan serangan dari Arkan, tentu saja terkejut matanya membulat sempurna Rindi hampir kehabisan oksigen. ia meremas pinggang Arkan dan mencubitnya agar Arkan behenti mencumbuinya.


Rifan tentu saja marah, ia menarik tangan Arkan sekuat tenaga agar bibirnya berhenti menyatu dengan bibirnya Rindi.


Bug...!


Rifan melayangkan bogem mentah ke wajah Arkan, hingga membuat pria itu sedikit terhuyung, namun dengan cepat Arkan kembali menyeimbangkan tubuhnya dan tersenyum seringai ke arah Rifan.

__ADS_1


"Brengsek!" maki Arkan sembari membalas melayangkan sebuah tinju tepat di sudut bibir Rifan, buku-buku jarinya terlihat memerah.


Rindi bergidik ngeri dan meringsut mundur ke belakang. konon katanya perkelahian lelaki lebih menakutkan dibanding perempuan.


"Siapa kamu!" tanya Rifan sembari me-lap ujung bibirnya yang sedikit berdarah.


Arkan tersenyum menatap Rifan, ia menarik Rindi dan menggenggam jemari wanita itu dengan erat. Rindi kembali tercengang dengan tingkah absurd Arkan. Rifan mengepal tangannya, raut kesal terpancar dari wajahnya, tak dipungkiri pria itu sangat cemburu melihat Arkan mencium Rindi. rasa tak rela dalam hati membuatnya ingin menghabisi Arkan malam ini juga.


"Aku, calon suaminya, dan sebentar lagi kami akan menikah. Jadi, jangan coba-coba menyentuh milikku atau kamu akan menyesal!" ancam Arkan tak acuh.


"Calon suami? nggak mungkin, kamu pikir aku percaya! Rindi baru saja keluar dari penjara mana mungkin langsung dapat pria secepat ini." jawab Rifan tak percaya dengan apa yang Arkan katakan.


Rindi menoleh, melirik Arkan seolah meminta penjelasan. ia sudah menolak Arkan dengan tegas, tapi kenapa pria ini muncul kembali di hadapannya dan mengaku sebagai calon suaminya.


"Percaya atau tidak yang jelas dia adalah milikku, pengkhianat sepertmu tidak pantas mendapatkan berlian sepertinya, kau pantas bersanding dengan ja-lang murahan!." jawab Arkan mengejek.


"Jangan coba-coba memukulku, atau aku akan menjobloskanmu ke dalam penjara." ujar Arkan geram.


Rifan tersenyum ia sama sekali tidak takut dengan ancaman Arkan. dengan uang yang dia milikki ia dengan mudah untuk menyogok polisi. jika Arkan benar ingin memperpanjang kasusnya maka Rifan dengan senang hati mempersilakannya.


"Silahkan! jika kau ingin menjobloskanku ke dalam penjara. aku ingin lihat seberapa keras kau ingin menghancurkanku!" jawab Rifan antusias.


"Cihh! kalau aku mau, malam ini juga aku bisa membawamu ke kantor polisi!" bagaimana kau setuju honey? Arkan beralih menatap Rindi meminta persetujuan wanita itu.


Rindi bungkam tak berdaya, saat ini ia ingin segera beranjak dari tempat itu. meski awalnya niat Rindi setelah keluar dari penjara adalah kembali menghancurkan Rifan dan juga Mirna, tapi sepertinya sekarang ia berubah pikiran Rindi hanya ingin hidup tenang dengan damai tak ingin mengusik siapapun.


"Jelaskan Rindi, siapa laki-laki ini apa benar dia calon suamimu?" tanya Rifan dengan serius, ia ingin mendengar langsung dari mulut Rindi.

__ADS_1


Rindi menghela nafas kemudian menghembuskannya secara pelan, ia memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut. malam kian larut namun kedua pria ini seolah tak ingin beranjak dari sana, mereka saling melemparkan pertanyaan satu sama lain yang membuatnya menjadi pusing.


"Iya perkenalkan dia adalah Arkan Jaelani merupakan calon suamiku." jawab Rindi terpaksa berbohong agar Rifan berhenti mengejarnya, soal Arkan nanti akan dia bahas bersama pria itu yang penting urusannya bersama Rifan selesai.


Rifan menggeleng tak percaya bahkan bibirnya terasa Keluh untuk menjawab. berbeda dengan Arkan, pria itu tersenyum manis seolah mendapat permata yang berharga.


"Kau dengar sendiri, kan? pengakuan dari calon istriku. jadi jangan coba-coba mendekatinya atau tanganmu akan hilang pada tempatnya." ancam Arkan nggak main-main.


Di kantor Polisi....:


Mirna terpaksa bermalam di sel yang dingin, sebab ia harus melakukan pemeriksaan karena terkena razia yang secara tiba-tiba. yang dilakukan Rindi bersama aparat polisi. dendam amarah terpancar dari wajahnya. dalam hatinya ia terus merutuki Rindi dan berjanji akan menghancurkan sepupunya itu.


"Kamu harus membayarnya untuk Ini, lihat saja aku nggak akan tinggal diam!" gumam Mirna dalam hati."


Mirna juga berjanji akan menghancurkan Rifan dengan tangannya sendiri. sebab pria itu telah menjatuhkan harga dirinya.


Ditempat lain Ibunya Rifan terus saja mondar-mandir nggak tenang, ia menunggu kepulangan anak semata wayangnya, sudah beberapa hari ini Rifan terus mendiamkannya, tanpa peduli permohonan maaf dari ibunya. Wanita tua itu semakin nelangsa, ia menyesal telah membohongi Rifan dengan penyakitnya, itu semua atas bujukan Mirna. tanpa terasa air matanya ngalir dengan deras, Kini Rindi pun telah bebas, wanita tua itu takut Rindi akan melakukan hal yang sama seperti belasan tahun yang lalu hingga membuatnya trauma. rasa bersalahnya kian menjadi kejadian belasan tahun yang lalu kembali memenuhi isi otaknya bagaiamana jika Rindi kembali balas dendam dan membunuh Rifan, bagaimanapun dia tak ingin sesuatu terjadi pada putranya.


"Tidak... tidak! itu tidak boleh terjadi, aku takkan membiarkan Rindi mendekati putraku. wanita itu adalah seorang pembunuh aku tidak ingin anakku berhubungan dengan seorang pembunuh dan juga mantan nerapidana. dia juga tidak bisa memberiku cucu untuk apa kembali dengannya hanya pria bodoh yang mau menikah dengannya." wanita tua itu terus saja bermonolog, tanpa dia ketahui, Rifan telah berdiri dengan mata yang memerah, napasnya terengah-engah, tangannya terkepal kuat menahan amarah.


"Brakk....!" Rifan menendang sebuah kursi dengan keras, matanya nyalang menatap ibunya.


Ibunya tentu saja terkejut, jantungnya dag dig dug hampir melompat keluar.


"Ri-rifan... ka-kau kenapa menendang kursi?" tanyanya gugup, bibirnya seketika langsung memucat.


...Happy Reading ya...

__ADS_1


__ADS_2