Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 29


__ADS_3

Semalaman Arkan menginap di rumah sakit untuk menemani Rindi. ia takut meninggalkan Rindi sendirian. mengingat Mirna masih berkeliaran di luar sana menjadi ketakutan tersendiri bagi Arkan, bagaimanapun Arkan harus benar-benar waspada Mirna adalah ular betina yang mematikan jadi harus berhati-hati menghadapinya.


Pagi hari Arkan hendak berangkat bertugas ia tak bisa meninggalkan tugas negaranya begitu saja. Rindi yang kebetulan sudah bangun melirik ke arah Arkan. pria itu nampak sudah rapi dengan seragam coklatnya tak lupa jaket hitam yang menjadi andalannya. semalam Arkan memang sengaja meminta pelayan di rumahnya untuk mengantarkan seragamnya ke rumah sakit agar pagi ini ia tak perlu balik ke rumah lagi hanya untuk mengganti pakaian.


Rindi menarik jemari Arkan, ada rasa takut yang tak bisa ia jabarkan namun Arkan bisa membacanya. Arkan membelai pipi Rindi dengan lembut. "jangan takut kau sudah aman." ujar Arkan sembari tersenyum smirk."


"Bagaimana dengan, Nindia?"


"Dia sudah bermalam di sel, akan ku pastikan dia membusuk dipenjara."


Rindi mengangguk ia sedikit legah mendengarnya.


"Terima kasih banyak, Mas Arkan sudah menyelamatkanku, tapi... bagaimana Mas Arkan bisa tau kalau aku di culik?" tanya Rindi penasaran."


"Itu mudah sayang. sebelumnya aku sudah tau mengenai Nindia karena aku diam-diam memasang CCTV di restoranmu, waktu itu kamu lagi berduka jadi, aku mengurungkan niatku untuk memberitau mu. dan Soal penculikan mu, kenapa aku bisa tau dengan cepat? karena aku memasang alat pelacak pada mobilmu. itu semua kulakukan agar aku bisa terus memantaumu dari jauh." jelas Arkan panjang lebar agar Rindi tak lagi penasaran."


Rindi terpaku mendengarnya ada rasa sesal dalam dadanya. sesaat ia berhambur kedalam pelukan Arkan dan menangis sesuguhkan. Arkan pun tak tinggal diam ia balas memeluknya tetapi tangannya malah mengenai lebam di punggung Rindi.


"Ahhr sakit!" ringis Rindi sembari melepas pelukannya."


"Eh, maaf sayang, aku nggak sengaja menyentuhnya apa itu sangat sakit?" tanya Arkan sedikit panik."


"Perih." lirih Rindi pelan."


"Kalau begitu tunggu sebentar, biar aku panggilkan Dokter." ujar Arkan, tangannya hendak memencet tombol bel pemanggil Dokter, tapi dicegah oleh Rindi."


"Jangan! hanya perih sedikit, kok. ini udah nggak apa-apa. Mas Arkan berangkat bertugas saja, nanti terlambat, loh!"


"Tapi, kamu benaran nggak apa-apa, kan? Arkan terlihat begitu khawatir."


Rindi mulai tersentuh dengan perlakuan Arkan, perlahan tanpa ia sadari dirinya mulai menerima keberadaan Arkan di sampingnya.


"Iya, aku nggak apa-apa, terima kasih Pak Polisi tampan." ujar Rindi menggoda Arkan."


Arkan tersenyum bahagia kala Rindi memujinya tampan. "ekhem! aku rasa terima kasih saja tidak cukup."


Rindi mengernyitkan dahinya, belum mengerti maksud dari perkataan Arkan. Tetapi tiba-tiba Polisi tampan itu menyodorkan pipinya ke arah Rindi dengan mimik muka serius. Rindi mengulum senyum, ia mulai mengerti dengan malu-malu Rindi mengecup pipi Arkan sekilas, setelahnya ia menarik kembali dirinya dan menyembunyikan wajahnya menggunakan telapak tangannya.


Arkan menyentuh pipinya sendiri dengan perasaan tak menentu. dag, dig, dug, degup di jantungnya seolah sedang menari di dalam sana. Arkan menarik tangan Rindi ingin melihat wajah bersemu merah yang bersembunyi dibalik telapak tangan. Rindi menggeleng tak ingin di lihat oleh Arkan saat ini dirinya benar-benar malu. Arkan menatapnya gemas tak lama kemudian ia pamit untuk bertugas.


Di ruang interogasi Nindia duduk dengan wajah menunduk Arkan menatapnya dengan tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya. Tak lama Inspektur Jainul, rekannya Arkan masuk duduk berhadapan dengan Nindia.


"Heh! angkat wajahmu!' tutur polisi Jainul."

__ADS_1


Perlahan Nindia mendongak balas menatap Arkan dengan tajam.


"Bajingan!" geram Arkan."


"Untung saja, peluruku meleset dari kepala mu kalau tidak, mungkin kau sudah berada di alam lain." ujar polisi Jainul."


Pada saat penangkapan ia memang menembak, tapi tidak untuk mencelakai Nindia. ia hanya menggertak untuk menakuti Nindia, ia menembak keluar jendela dan pelurunya mengenai Batang pohon pisang.


"Aku tidak salah membalaskan dendam kakakku, wanita itu pantas mati kenapa kalian membiarkan dia hidup."


"Guabbraakk!!" Arkan berdiri memukul meja dengan kasar membuat Nindia terlonjak kaget begitu juga dengan Polis Jainul, pria itu mengelus dadanya sembari mendelik ke arah Arkan."


Arkan mengambil bungkus Rokok milik rekannya kemudian melempar ke wajah Nindia, jika saja Nindia bukan perempuan mungkin ia sudah menampar mulut busuk Nindia.


"Ayo keluar! ini bukan tugasnya kita untuk menginterogasinya." polis Jainul menarik lengan Arkan keluar dari ruangan."


Ya, hari ini mereka ada tugas mengusut tuntas kasus Sih bandar Nark*ba yang meresahkan.


...***...


Mirna duduk di kursinya dengan pongah, sembari mengetuk-ngetuk ujung jarinya pada meja, otaknya terus saja memikirkan cara untuk melenyapkan Rindi.


"Aku tidak boleh bertindak gegabah, lebih baik menunggu situasinya aman seperti semula. ya, aku yakin polisi itu pasti mengincarku juga! dan Sih Nindia yang bodoh! semoga saja wanita itu tidak membuka mulutnya." Mirna berbicara sendiri."


Mirna bangkit dari duduk kemudian berjalan menuju lemari. ia memasukkan beberpaa lembar pakaiannya ke dalam koper. dan menunggu hingga malam hari tiba rasanya aman jika kabur pada malam hari.


.


Rindi keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sedikit lebih cerah. ia baru selesai membersihkan dirinya dan berganti pakaian di kamar mandi. kondisinya sudah lebih baik hanya lukanya yang masih basah. perawat dengan telaten membantunya mengeringkan luka pada punggung dan pinggannya kemudian mengolesi salap pada luka-lukanya.


Arkan yang tiba-tiba masuk kemudian terkejut melihat punggung yang penuh dengan luka lebam. Rindi pun tak kalah kaget ia dengan cepat menarik bajunya ke bawah menutupi punggungnya.


"Ups Sorry, nggak sengaja." imbuh Arkan santai sembari berbalik badan. "kalian silahkan lanjutkan aku akan menunggu di luar."


"Dasar tidak sopan." dengus Rindi pelan."


Perawat yang mendengarnya tersenyum. "dia tidak tau Nona, jangan marah." imbuh sang perawat."


Setelah memastikan Arkan benar-benar keluar Perawat itu kemudian melanjutkan kembali mengoles salap yang belum tuntas.


"Kapan aku bisa keluar dari sini." tanya Rindi pada perawat ia bosan hanya di dalam kamar rumah sakit dan ingin segera menghirup udara segar di luar.


"Tunggu dokter. besok pagi jadwalnya dokter untuk periksa." jawab perawat itu sembari membereskan obat-obatan. setelah selesai ia pun keluar."

__ADS_1


Melihat perawat keluar dari kamar Rindi. Arkan menghela nafas legah akhirnya ia bisa masuk menemui wanita pujaannya di dalam. Seharian sibuk dengan tugasnya membuatnya tak sempat mengabari Rindi. rasa rindunya tak dapat di tahan lagi.


"Sayang, gimana kondisimu sekarang? maaf, aku benar-benar sibuk nggak sempat mengabarimu." ujar Arkan seraya mendudukkan bok*ngnya di dekat Rindi."


"Iya, nggak apa-apa, aku udah mendingan, kok."


Arkan menyentuh sudut bibir Rindi yang sedikit lecet. Rindi terpaku dengan tingkah Arkan, memorinya terlempar kembali pada masa ia bersama Rifan. di awal-awal pernikahannya bersama Rifan ia begitu bahagia menikmati hari-harinya bersama pria yang dicintainya. Rifan menjadikannya ratu di hatinya hingga ia mengandung benih Rifan. kemudian perlahan berubah setelah anaknya di fonis leukimia. Rifan perlahan berubah dan sering mengabaikannya demi Pelakor durjana.


"Hei, kok melamun sih, mikirin apa?" Arkan melambaikan tangannya di depan wajah Rindi."


"Eh, iya kenapa?"


"Mikirin apa? kok, mukanya kelihatan sedih, gitu?"


Rindi bungkam tak mungkin ia jujur kalau sedang memikirkan Rifan.


"Kok, diam?" Arkan menaik turunkan alis menunggu jawaban Rindi."


"A-aku hanya terpesona dengan ketampananmu." ujar Rindi berbohong ia memalingkan wajahnya menghindari tatapan Arkan."


"Hmm... begitu, ya?" Arkan mengulum senyum."


"Kenapa kamu nggak pulang kerumah mu?" Rindi mengalihkan pembicaraan agar Arkan berhenti bertanya tentang dirinya."


"Aku ingin menemani calon istriku di sini."


"Tapi, bagaimana dengan ibumu? dia pasti kesepian di rumah."


"Ada Rania di rumah, ia baru balik dari luar negri."


"Benar kah? ternyata kamu punya adik perempuan, ya?"


"Sssttt! sebaiknya kita bahas masa depan kita berdua jangan bahas mereka." jawab Arkan jengah."


Rindi memutar bola mata malas, padahal ia sungguh ingin tau mengenai keluarganya Arkan, tetapi pria itu sepertinya enggan untuk membahasnya. Arkan menarik Rindi kedalam pelukannya deru nafasnya memburu. Rindi merasakan degup jantung Arkan. tanpa di sadari tangannya menyentuh dada Arkan.


Sadar akan tingkahnya Rindi menarik kembali tangannya. tetapi malah ditahan oleh Arkan, ia menuntun tangan Rindi untuk kembali menyentuh ke dada bidangnya. Rindi seolah terhipnotis menurut begitu saja. Arkan lagi-lagi tersenyum akhirnya Rindi jatuh ke dalam pelukannya nggak sia-sia menunggu hingga bertahun-tahun kini wanita yang di cintanya berada dalam dekapannya. Arkan berjanji tidak akan pernah melepaskan Rindi, ia akan menjaga wanitanya dengan segenap jiwanya.


.


.


...Happy Reading!...

__ADS_1


__ADS_2