Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 43


__ADS_3

Dokter Yasmin tertawa sumbang mendengar perkataan Anita. "Kau sama seperti Ibumu. Tetapi kita tidak akan merenggut rahimnya. Kita cukup mengatakan kebohongan kepada mereka bahwa kandungan wanita itu lemah. Dan ia tak bisa mengandung lagi jika itu terjadi maka nyawa yang akan menjadi taruhannya dan jalan satu-satunya adalah melakukan operasi steril," jelas Dokter Yasmin.


...-----------------------...


Anita mencerna setiap perkataan dokter Yasmin. "Jadi ... rahimnya tetap utuh, Dok. Dan operasi steril itu juga bohong. Tapi ... bagaimana jika wanita itu hamil setelah melahirkan?" tanya Anita.


Dokter Yasmin nampak berpikir ia mengetuk-ngetuk ujung pelipis dengan jarinya. "Ahh! Nanti kita pikirkan lagi yang penting sekarang kamu terbebas dari para lintah darat itu. Soal perempuan bernama Mirna itu kita bisa atasi."


Anita manggut-manggut. Ia juga lelah harus berurusan dengan para rentenir. Setiap hari hidupnya seperti di neraka. Setiap pulang kerja didepan rumahnya sudah ada pria-pria kekar yang menyambut kedatangannya. Meski Anita sudah berkata jujur bahwa dirinya belum memilikki uang. Tetapi, para penagih itu tetap tak mau tau, tak jarang mereka mengobrak-abrik seluruh isih rumah.


"Baiklah, Dok. Saya mengerti, terimakasih banyak Dokter Yasmin mau membantu saya," ucap Anita.


Dokter Yasmin tersenyum. Ia tau dirinya salah tapi mau bagaimana lagi. Daripada melihat Anita ditekan oleh para rentenir itu. Bukankah itu sangat bahaya? Bagaimana jika Anita malah ... bundir. Ah! Dokter Yasmin tidak mau itu terjadi.


"Sama-sama Anita. Jika pasien itu hamil anak kedua. Sudah dipastikan wanita bernama Mirna itu akan datang menemuimu. Namun, tidak apa-apa, setidaknya hanya dengan dirinya kamu berurusan. Kamu bisa mengganti kembali uangnya dengan cara mencicil. Yang penting urusan dengan para lintah darat itu terselesaikan," tutur dokter Yasmin.


"Itu artinya kita membohongi Mirna?" tanya Anita.


"Iya anggap saja begitu," jawab Dokter Yasmin.


Setelah mengucapkan banyak terimakasih Anita pun bangkit untuk menghubungi Mirna dan memberitahu bahwa ia sepakat dengan kerja samanya. Mirna tentu saja bahagia sesuai janjinya ia membayar Anita dengan nominal tak sedikit dan itu seimbang dengan apa yang Anita lakukan untuknya.


Dan tugasnya dokter Yasmin adalah memberitahu keluarga Rindi tentang kandungan yang lemah. Dan tidak bisa mengandung lagi jika itu terjadi maka nyawa pasien yang akan menjadi taruhannya dan untuk mencegahnya jalan satu-satunya adalah dengan melakukan operasi steril.


Dan nyatanya tindakan operasi steril itu hanyalah sebuah rekayasa belaka untuk mengibul Mirna. Mereka tidak benar-benar melakukannya. Dokter Yasmin hanya melakukan operasi bersalin. Dan Tuhan seolah berpihak pada Anita. Setelah bersalin anak pertama Rindi pun tak kunjung hamil. Dan Mirna semakin yakin bahwa usahanya untuk menghancurkan Rindi telah berhasil dengan sempurna.


Flashback off.


Rindi menggeleng tak percaya. Air matanya bercucuran. "Tidak, kalian bohong! Jika rahimku tidak di steril lantas kenapa aku tak kunjung hamil anak kedua. Sedangkan aku bersama suamiku sering melakukannya." Ia menatap lekat Anita.


"Heemm!" dehem Arkan. Ia seperti tak suka mendengar apa yang disampaikan Rindi.


Arman dan Lisa saling berpandangan kemudian tersenyum jahil ke arah Arkan. Membuat Arkan semakin geram.


"Diam kalian berdua!" sentak Arkan tak terima.

__ADS_1


Lisa langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat begitu juga dengan Arman.


"Itu mungkin masalah kesuburan. Jika tidak pada Anda mungkin pada suami Anda--"


"MANTAAN SUAMI!!" tekan Arkan membungkam mulut Anita.


"Eh! Iya, ma-maf, saya ... tidak tau," jawab Anita gugup.


Arkan mengembuskan napas kasar. Kemudian mengalihkan pandangannya pada calon istrinya. Ia melihat ada kesedihan yang terpancar diwajah calon istri. Ah, tentu saja Arkan tak menyukai itu, dengan cepat ia menarik Rindi ke dalam pelukannya. Mengusap rambutnya dengan lembut.


Rindi sangat shock tentunya pikirannya berkecamuk antara sedih dan bahagia. Meski belum sepenuhnya percaya pada Anita. Tetapi, tak ada salahnya 'kan? Berharap untuk bisa memiliki anak kembali.


Mengingat Mirna adalah sepupunya membuatnya sangat sedih. Ia terisak di dalam pelukan Arkan. Demi ingin mendapatkan Rifan. Mirna rela melakukan segala cara hingga ingin merenggut rahimnya. Harusakah Rindi memaafkan Mirna?


"Apa salahku padanya. Hiks ... hiks ... hiks," raungnya sembil membenamkan wajahnya di dada bidang Arkan.


Arkan mengepalkan tangannya jika saja Mirna ada dihadapannya mungkin Arkan sudah memuntahkan lahar amarahnya yang kian berkobar. "Semoga aku tidak pernah bertemu dengannya. Jika tidak aku akan mematahkan lehernya," batin Arkan.


"Sekali lagi maafkan saya karena sudah menutupi rahasia ini selama bertahun-tahun. Tetapi percayalah. Hidup saya tidak tenang apalagi setelah mendengar Anda dipenjara. Saya benar-benar minta maaf. Tolong maafkan saya," ujar Anita memohon.


Lega-lah sudah hati Anita. Seolah melepas beban berat dipundaknnya. Kini hanya satu nama yang ia cari. Yaitu, Mirna. Bagaimana pun Anita harus mengembalikan uang Mirna yang telah ia pakai untuk membayar hutang-hutang ayahnya.


"Lantas video apa yang tadi kalian tonton? Setelah saya datang kalian langsung mematikannya dengan cepat." Arkan beralih menatap Arman dan juga Lisa.


Rindi mengerutkan keningnya. "Video? Video apaan?" tanya Rindi tampak kepo.


"Itu hanya video, Non Mirna. Lisa meminta saya untuk menunjukkan wajah Nona Mirna untuk menyakinkan Anita kalau dia tidak salah orang," sahut Arman sembari menunjukkan layar laptopnya ke arah Rindi dan Arkan.


"Benar begitu?" Arkan menatap Anita dengan tatapan intimidasi.


Anita mengangguk. "Jika dari dulu saya tau mengenai siapa bosnya Lisa. Mungkin saya akan mengaku perbuatan jahat saya sejak dulu. Tetapi, saya baru mengetahuinya sebulan yang lalu dan baru hari ini berani menampakkan wajah dihadapan kalian karena atas saran dari Dokter Yasmin. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang sudah saya lakukan." Anita mengatupkan kedua tangannya di dada.


Rindi pun meluluh. Ia tak lagi mempermasalahkannya. Yang terpenting rahimnya tidak benar di steril.


...***...

__ADS_1


"Sayang ... jangan menangis lagi aku tidak ingin kamu bersedih." Arkan terus membujuk Rindi yang masih sesenggukkan hingga bahunya bergetar naik dan turun.


"Tidak, ini bukan air mata kesedihan tapi ini air mata kebahagiaan. Mas---kamu dengar sendiri kan? Tadi Anita mengatakan bahwa aku subur dan aku bisa memberimu keturunan."


Ya. Sebelum pamit pergi Anita sempat memeriksa kandungan Rindi. Karena ia membawa serta alatnya. Semua itu atas perintah dokter Yasmin untuk membuktikan kepada Rindi bahwa rahimnya memang tidak tertutup ataupun diangkat seperti yang ia ketahui selama ini.


Dokter Yasmin seolah tau jikalau Rindi tidak akan mempercayai begitu saja. Sebab itulah, beliau menyuruh Anita untuk membawa serta alat-alat ke mobilnya.


Kemudian Anita meminta Rindi untuk diperiksa kandungannya agar lebih yakin dan benar saja hasilnya sesuai dengan apa yang di harapkan.


"Sayang, berapa kali sih aku ngomong sama kamu. Ada anak atau tanpa anak. Aku sama sekali tidak perduli, aku mencintaimu apa adanya. Yang aku butuhkan kamu untuk menemaniku hingga tua nanti. Please! Jangan bahas soal anak lagi aku capek dengarnya," ujar Arkan sembari memegang kedua bahu calon istrinya.


"Iya, Mas. Maafkan aku." Arkan menyeka tetesan bening yang merembes dipipi Rindi dengan penuh cinta. Kemudian mencium keningnya agak lama.


"Mas!" Rindi mencubit perut Arkan karena Arkan tak kunjung melepaskan bibirnya dari keningnya. Arkan mengecup hingga dibeberapa titik. Membuatnya malu.


"Ini hukuman! Jika kamu membahas soal anak lagi maka aku akan menghukummu lebih lagi dari ini."


"Hah! Hukuman macam apa ini?" Rindi tercengang. Untung saja Lisa dan Arman sudah pamit jika tidak ia pasti sudah malu saat ini.


"Jika tidak mau dihukum jangan membahas soal anak lagi! Aku tidak suka mendengarnya. Kamu selalu membicarakan kekuranganmu. Bagaimana jika kekurangan itu terletak padaku, apa kau akan meninggalkanku?" tanya Arkan sedikit kesal.


Arkan benar, pasangan yang baik bukanlah seseorang yang mencari seseorang yang sempurna, tetapi seseorang yang mau menerima ketidaksempurnaan yang ada untuk saling melengkapi. Ingatlah untuk selalu mensyukuri segala kebaikan yang kamu miliki dan Allah SWT akan selalu menjagamu.


Bukankah Rindi sangat beruntung memiliki pria seperti Arkan. Yang mempunyai pemikiran yang luar biasa. Yang mana belum tentu laki-laki diluaran sana mampu berpikir seperti dirinya. Karena pada umumnya lelaki kaya cenderung akan penerus untuk mewarisi seluruh harta kekayaannya.


"Tentu saja tidak! Aku akan setia mendampingimu hingga kita menua bersama dan menggapai ridhonya Allah," ujar Rindi mantap.


Arkan tersenyum mendengar ungkapan Rindi. "Begitupun juga aku. Sama halnya seperti apa yang kamu pikirkan. Kita akan menutupi kekurangan kita dengan kelebihan yang kita punya. Karena pada dasarnya manusia tidak ada yang sempurna."


Ah, kedua pasangan ini benar-benar sosweet. Tidakkah mereka berpikir bahwa pembaca juga banyak yang jomblo. Mereka bertingkah seolah dunia milik mereka.


...*****...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2