Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 11


__ADS_3

Dunia seluas daun kelor, kirain dengan bebasnya dari tahanan maka akan bebas juga dari jangkauan Pak Arkan nyatanya tidak. Pria itu mengikutiku seperti bayangan meski sudah mengusirnya hingga puluhan kali Arkan tetap bersikukuh menemuiku. dan apa ini dia betul-betul menepati janjinya di tiga tahun yang lalu dan setelah ia membuat janji ia pun menghilang begitu saja hingga hari ini ketika aku dibebaskan Pak Arkan muncul kembali.


...Flashback on...


"Rindi Atika Putri seseorang berkunjung diruang besuk." penjaga memanggilku."


Aku yang baru selesai Sholat Zuhur segera melangkahkan kaki ke ruang besuk menemui dia yang berkunjung disiang bolong. Pak Arkan duduk dengan kedua sisi tangan yang menopang pada dagunya.


"Ckckc lama sekali anda." gerutunya setelah melihat kedatanganku."


"Saya sedang Sholat dan anda datang dijam yang tidak tepat."


"sudah selesai sholatnya?"


"Iya sudah."


Hening tak ada pembicaraan kulkas sepuluh pintu emang selalu begini. dan aku hanya bisa menghela nafas.


"Maaf, jika nggak ada yang ingin disampaikan sebaiknya anda pergi dari sini." jengkel akhirnya aku membuka suara memecahkan keheningan."


Dia mendelik tak suka ke arahku.


"Kau selalu mengusirku, nggak bisa kah untuk bersikap lembut menanyakan kabarku atau apa gitu?"


"Bersikap lembut? maaf tapi aku nggak bisa melakukan itu."


"Benarkah?" dia memajukan wajahnya mengikis jarak diantara kami."


"A-apa yang anda lakukan?"


Cup sebuah kecupan mendarat di bibirku pria dingin ini benar-benar tidak sopan. refleks aku mendorongnya menjauh.


"Berhentilah bersikap semaumu, aku bukan kekasihmu!"


"Kalau begitu ayo kita pacaran." ujarnya tanpa dosa."


"Anda benar-benar tidak waras, mengajak pacaran dengan perempuan yang sedang menjalani hukumannya didalam penjara."

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan menunggu hingga kau bebas.".


"Jangan membual dan sebaiknya anda pergi dari sini."


"KAU dengar aku RINDI ATIKA PUTRI, aku berjanji padamu, sampai kapanpun aku akan setia menunggumu hingga kau dibebaskan dan memenangkan hatimu disuatu hari nanti.


"Aku pamit, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. jaga dirimu baik-baik di sini."


Setelah mengatakan itu dia pun pergi namun tak pernah kembali.


...Flashback off...


Aku kembali ke dalam kamar niat hati mau nyamperin Mas Gibran malah bertemu dengan pak Arkan. andai saja aku tak keluar kamar mungkin pertemuan ini tak akan terjadi dan pelayan yang bernama Rina itu benar-benar menyebalkan. belum sehari aku di sini tapi hatiku sudah mulai dongkol.


"Rin... kau didalam?" teriak Mas Gibran dari luar sambil mengetuk pintu kamar.


"Iya Mas bentar" gegas aku membukakan pintu.


"Boleh aku masuk?"


"Ya tentu saja boleh."


"Sebaiknya kau mandi dan ganti pakaianmu."


"Hah?"


"Kau sangat bau!"


"Apa!"


Aku mengendus bau tubuhku sendiri dan ternyata memang bau. mungkin karena sedari tadi aku berkeringatan diluar sana mencari jalan menuju makam Abizar. duh jadi malu kan di depan Mas Gibran.


"Lihatlah rambutmu juga kusut dan tak terawat." lagi Mas Gibran menilai penampilanku, dia pikir di dalam penjara ada salon sehingga aku bisa melakukan perawatan, ada-ada saja.


"Apa Mas pikir didalam penjara ada salon?"


"Hmmm.... kalau begitu mandilah ada yang ingin aku tunjukan padamu."

__ADS_1


"Ckck setelah mengatakan itu dia keluar.


Selesai mandi dan berganti pakaian aku menata diri dalam kaca benar-benar kucel seperti baju yang belum disetrika. namun tak apa setelah ini aku akan mengajak Mas Gibran untuk mengantarku ke salon melakukan perawatan.


Gegas aku keluar mencari Mas Gibran beberapa pelayan membungkuk hormat pasti Mas Gibran yang memberi perintah pada mereka untuk hormat padaku.


"Kau sudah mandi?"


"Iya sudah, gimana penampilanku? apa aku masih bau?" ujarku seraya memutar badan."


Aku dan Mas Gibran kami teman masa kecil. dia sudah ku anggap seperti kakaku begitupun juga sebaliknya Mas Gibran memperlakukanku layaknya adiknya.


"Sama saja seperti belum mandi sama-sama kucel."


"Ish nyebalin seenggaknya udah nggak bau kan?"


"Hmm...."


Mas Gibran menjelaskan tentang omset Restaurant dan juga pengeluarannya dalam setiap bulannya aku sampai melotot tak percaya melihat nominal pemasukan. ini benar-benar luar biasa tak terasa mataku berkaca-kaca cairan bening lolos begitu saja dari pelupuk mata.


Dan tanpa ku duga pria yang selama ini telah bekerja keras mengembangkan Restaurant kini pamit. dia menyerahkan restaurant untuk ku handle kembali. tentu saja kaget kenapa tiba-tiba jadi mau pergi apa karena kedatanganku?"


"Jangan salah paham aku telah merencanakan ini sebelumnya aku harus berangkat ke Jepang di sana seseorang telah menungguku. sudah lama aku mengabaikannya karena memikirkan tanggung jawabku terhadapmu. kini kau telah kembali ku rasa tugasku sudah selesai jadi aku harus pergi." ujarnya panjang lebar yang bikin aku semakin terisak.


"Tapi kenapa secepat ini? tak bisa kah kau menunggu sebulan atau dua bulan lagi. jika seperti ini aku jadi merasa bersalah."


"Tak bisa, jika terus menunda maka pernikahan kami akan dibatalkan dan aku tak ingin itu terjadi."


"Apa dia Arumi teman masa kecil kita?"


"Ya dia Arumi kau tau kan? dia itu cinta pertamaku. sekarang dia di Jepang aku harus ke sana untuk menjemputnya."


Aku mengangguk mendengar penjelasan Mas Gibran gimanapun dia harus memikirkan masa depannya. Arumi adalah gadis yang baik mereka berdua sangat cocok pasangan yang serasi. tidak masalah aku siap untuk kembali terjun ke restaurant. dan Mirna akan ku buktikan pada gadis itu bahwa aku bisa berdiri di kaki sendiri tanpa bantuan Mas Rifan. jika dulu yang dia tau aku hanya mengandalkan uang pemberian Mas Rifan maka sekarang akan ku tunjukan bahwa aku mampu meski tanpa laki-laki brengsek itu.


Seminggu kemudian kepergian Mas Gibran menciptakan kerinduan dari para pekerja mereka semua menyayangkan kepergiannya Dimata mereka Mas Gibran bos yang baik hati, tidak pemarah. meski begitu Restaurant tetap dibuka seperti biasanya tak ada peraturan yang diubah semuanya tetap sama hanya saja bosnya yang beda akulah pemiliknya yang sebenarnya.


Mobil Lamborghini berwarna emas sudah terparkir di depan restaurant aku sengaja membelinya untuk memudahkan ku sana-kemari. tapi alasan utamaku membeli mobil karena ingin memanasi dua mahkluk tak tahu diri Mas Rifan dan sepupuku tercinta Mirna sih pengkhianat. aku tersenyum miring membayangkan rencana yang sudah ku susun rapi untuk membalas mereka berdua.

__ADS_1


Dua pengkhianat bermuka polos layaknya malaikat namun berhati iblis. Mereka sama sekali belum mengetahui kebebasanku, ini menyenangkan bukan? akan ku beri mereka kejutan spesial kita lihat saja nanti siapa yang akan kalah dalam permainan ini dan siap kebakaran jenggot karena Rindi yang bodoh ini telah kembali.


__ADS_2