Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 31


__ADS_3

Dengan emosi yang meledak-ledak Mama Delina terus saja menuding Arkan, dan mencencar dengan beberapa pertanyaan yang membuat putranya kesulitan untuk menjawab.


"Dengar ya, Arkan! Mama nggak mau tau malam ini kamu harus pulang ke rumah!" perintahnya yang tak ingin di bantah."


Setelahnya ia mematikan teleponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban putranya.


Di rumah sakit, Arkan menghembuskan nafasnya kasar. "kenapa Mama jadi galak gitu, sih!" batin Arkan kesal."


Rindi Mengernyitkan keningnya bingung melihat raut wajah Arkan yang berubah masam.


"Ada masalah?" tanya Rindi."


"Iya, malam ini Mama minta aku untuk pulang." jawab Arkan."


Mendengar jawaban Arkan. Rindi sedikit merasa bersalah gara-gara dirinya Arkan harus bermalam di rumah sakit hanya untuk menemaninya.


"Maafkan aku ya, Mas. gara-gara aku kamu jadi berseteru sama Mamamu." ujar Rindi menunduk matanya berkaca-kaca.


"Kamu ngomong apa sih, sayang! aku nggak berseteru sama Mama, kok. Mama hanya minta aku pulang, udah itu aja, nggak ada yang lain." jelas Arkan agar Rindi nggak salah paham dan menyalahkan dirinya sendiri.


Rindi mengangguk, hatinya menggelitik kala Arkan memanggilnya dengan kata sayang. benarkah Rindi sudah melabuhkan hatinya pada Arkan. seorang polisi yang mengintrogasi dirinya disaat ia menjadi seorang tersangka pembunuhan. di satu sisi ia ingin menjauhi Arkan tapi di sisi lain ada rasa tak tega mengingat Arkan sudah banyak berkorban untuknya. haruskah? ia menjadi orang yang seperti kacang lupa akan kulitnya?


Rindi menggeleng kemudian menatap Arkan dengan seksama. hatinya berkecamuk ada rasa yang sulit untuk di ungkapkan.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Arkan. pria itu mengerutkan keningnya bingung tak biasanya Rindi menatapnya lama seperti itu.


"Eh, nggak kok, cuma mencari cinta di dalam matamu saja." jawab Rindi seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.


Arkan memegang tengkuknya Rindi kemudian mencium bibir ranum milik Rindi dengan lembut, membuat wanita berambut panjang itu terkejut. hatinya ingin melepaskan diri dari cumbuan Arkan tetapi tubuhnya malah merespon dengan baik. perlahan Rindi membuka sedikit mulutnya membiarkan Arkan Mengekspos kedalam mulutnya, pagutan yang awalnya lembut menjadi semakin kasar. Tetapi Rindi malah tiba-tiba melepaskan pagutannya dari bibir Arkan dan mendorong pria itu dengan kasar, membuat Arkan sedikit kecewa dengan penolakan Rindi.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rindi dengan wajahnya yang memerah, meski awalnya Rindi juga menikmati permainan lidah Arkan tetapi ia sadar, ia masih punya harga diri, biar kata seorang janda tetapi Rindi tak'kan mau bila di cap janda murahan.


Jadilah janda yang terhormat bila ingin dipandang baik. sadarlah akan hubungan yang masih belum halal jangan gampang memberikan tubuhmu pada pria yang belum resmi menjadi milikmu seutuhnya.


"Aku minta maaf, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. seharusnya aku tidak bertindak kurang ajar padamu. tolong maafkan aku." ujar Arkan menyesali perbuatannya sembari menunduk.


Rindi menghela nafas pelan. "Jangan ulangi lagi kita belum halal, aku nggak ingin menambah dosa." Arkan sedikit terkejut mendengar penuturan Rindi, dalam hatinya ia tersenyum bahagia artinya wanita pujaannya adalah wanita yang baik-baik.


Di tempat lain Ibu Sukma tidur tak tenang beberapa hari ini Rindi tak datang menemuinya dan juga sama sekali tak mengabarinya. ia menghubungi Arman asisten Rifan yang kini menjadi pemimpin perusahaan untuk sementara.


Arman yang sedang duduk di kursi kebesaran menggantikan posisi bosnya itu, tiba-tiba dahinya mengkerut kala deringan ponsel miliknya memenuhi seluruh ruangan. saat ini ia sedang meeting bersama para kolage bisnisnya. semua mata tertuju pada Arman karena ponselnya terus saja berdering.

__ADS_1


"Maaf." ujar Arman merasa tak enak karena deringan ponselnya menggangu pembahasan penting mereka.


"Sebaiknya, di angkat saja Tuan Arman, nggak usah sungkan."


"Iya, mana tau itu penting." sahut yang lainnya."


Arman menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih. setelahnya dia keluar untuk mengangkat telepon dari Nyonya Sukma.


..."Halo Nyonya."...


..."Iya, halo Arman, kenapa lama sekali angkatnya." gerutu Nyonya Sukma sedikit kesal."...


..."Maaf Nyonya, saya sedang ada meeting penting, nanti saya kabari lagi jika sudah selesai." Jawab Arman apa adanya."...


..."Huh." terdengar helaan nafas dari Nyonya Sukma. ia lupa jika sekarang Arman yang memimpin perusahaannya. tentunya pasti sangatlah sibuk. "Ya sudah nanti, tolong kabari saya jika sudah selesai meeting."...


..."Baik Nyonya, saya tutup dulu teleponya." setelah mematikan teleponnya Arman kembali ke ruangan untuk meeting."...


Ibu Sukma duduk sembari menikmati terpaan angin di samping rumah. anginnya sedikit kencang dan terasa dingin menembus ke lapisan kulitnya. seorang pelayan menghampirinya raut wajahnya terlihat khawatir.


"Nyonya, ayo kita masuk, cuacanya sedang tidak bagus." imbuh sang pelayan yang terlihat khawatir melihat Nyonyanya duduk melamun terkena angin.


Nyonya Sukma menatap pada pelayan kemudian tersenyum. "Tidak apa-apa aku hanya sedang memikirkan seseorang."


"Iya, kamu benar putraku sudah bahagia di sana." Nyonya Sukma menitikan air matanya.


Tiba-tiba kepala pelayan datang menghampiri mereka. ya, Rumah yang dibangun Rifan cukup luas sehingga membutuhkan banyak pelayan untuk membersihkannya.


"Heh, kamu! bagus ya, kerjaan aja belum selesai tapi kamu malah enak-enakan di sini, mau cari muka kamu di depan majikan!" murka sang kepala pelayan suaranya naik beberapa oktaf.


Nyonya Sukma terlihat kaget karena Meri sang kepala pelayan. berani membentak pelayan pribadinya di depan matanya sendiri, Susi hanya bertugas untuk menemani Nyonya Sukma melayani permintaannya, menemaninya di kamar. bukan untuk membersihkan rumah.


"Maaf kak, tapi tugas saya hanya untuk menemani Nyonya dan melayani kebutuhannya." bantah Susi tak terima."


"Berani kamu melawan perkataan saya! dan satu lagi panggil saya ketua! jangan panggil saya kakak, saya bukan kakakmu!" Meri tak kalah sengitnya.


Ya, semenjak Rifan tiada Meri merasa berkuasa di rumah majikannya karena Rifan tak punya siapa-siapa selain Ibunya yang sudah tua renta. Meri ingin menguasai Rumah dan segala harta benda milik Rifan ia bahkan mengaku bahwa Rifan sendiri yang menyerahkan kekuasaan atas Rumah dan lainnya kepadanya. jika ada pelayan yang membantah perkataannya maka dia tak segan-segan mengancam untuk dipecat.


"Apa kau tak punya adab! Berani sekali meninggikan suaramu di hadapanku, siapa yang menyuruhmu untuk memberi perintah kepada Susi." tegas Nyonya Sukma tak kalah sengit.


"Hahaha! wanita tua, putramu sendiri yang menyerahkan kekuasaannya kepadaku sebelum ia meninggal. jadi aku berhak untuk mengatur siapa saja di rumah ini termasuk dirimu! dan lagi pula, apa kau tak ingat hubunganmu dengan putramu tak sebaik yang orang-orang pikirkan." dusta Meri untuk melemahkan Nyonya Sukma.

__ADS_1


Nyonya Sukma memegang dadanya yang tiba-tiba sakit. ia terkejut dengan suara Meri yang lantang dan berani melawannya secara terang-terangan.


"Nyonya! anda baik-baik saja." Susi terlihat khawatir sembari memegang tangan majikannya.


"Sa-saya...."


"Ayo, saya antar Nyonya ke kamar." potong Susi sembari membantu Nyonya Sukma untuk berdiri.


"Biarkan saya yang mengantarnya ke kamar, dan kamu sapu halaman ini sampai bersih!" perintah Meri layaknya bos.


"Saya tidak mau di urus sama kamu! sebaiknya kamu pergi dari rumah saya! saya tidak ingin mempekerjakan orang seperti kamu!" Nyonya Sukma menunjuk wajah Meri dengan jarinya.


"Heh, wanita tua! yang mempekerjakan saya adalah Tuan Rifan dan Anda tidak berhak mungusir saya dari sini." sahut Meri tak kalah."


Nyonya Sukma kehabisan kata-kata begitu juga dengan Susi ia tak mampu melawan Meri, karena Meri selalu saja mengancam akan membunuh Ibu Sukma dan juga dirinya jika Susi berani melawan perkataannya.


"Cepat sapu halamannya! dan kamu ikut saya!" Meri menarik lengan Ibu Sukma dengan kasar.


"Tidak, Ketua! tolong jangan berbuat kasar pada Nyonya." Susi berusaha meraih tangan Nyonya Sukma. tetapi Meri malah menghempaskan tangan Susi ke samping kemudian mendorong wanita mudah itu dengan kasar."


Meri menarik tangan Nyonya Sukma untuk ikut dengannya, menaiki anak tangga dengan susah payah bahkan nafas Nyonya Sukma seperti orang yang sedang lari maraton. beberapa pelayan hanya bisa menatap dengan iba tanpa ada yang berani membantu.


Setibanya di kamar Nyonya Sukma. Meri mendorong wanita tua itu ke atas ranjang kemudian mengunci pintu dari dalam kamar. Nyonya Sukma menggeleng ketakutan melihat wajah sangar Meri.


"Mulai sekarang aku lah yang berhak di rumah ini. dan aku akan membawa putriku untuk tinggal di rumah ini dan menempati kamar utama!" tegas Meri.


Nyonya Sukam geram. "jangan coba-coba memasukki kamar utama, itu kamar putraku! bahkan Mirna saja di larang untuk menginjakkan kaki di kamar itu, dan kau pelayan rendahan! beraninya membawa anakmu ke dalam rumah ini dan menempatkannya di kamar utama. aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"


Meri tertawa keras mendengar penuturan Nyonya Sukma. "Dengan tubuhmu yang tua renta itu kamu akan melawan ku! emang bisa?" Meri mengejek ke arah Nyonya Sukma.


Nyonya Sukma menatap Meri dengan tajam. "tubuhku memang lemah, tapi sekali aku membuka mulut pada pengecara putraku, dipastikan kamu akan mendapatkan hukuman atas perbuatanmu ini!" geram Nyonya Sukma dengan amarah yang membuncah.


.


Di perusahaan. Arman yang baru selesai meeting tiba-tiba Teringat dengan Nyonya Sukma. ia segera menyambar ponselnya untuk menghubungi Nyonya besarnya. berdering masuk, tetapi tiba-tiba dirijek oleh Nyonya Sukma. Arman mencoba menghubungi ulang namun sama tetap di rijek. Arman sedikit heran tadi Nyonya Sukma sendiri yang memintanya untuk menghubunginya ketika sudah selesai meeting. tapi kenapa sekarang malah dirijek. Arman tak menyerah ia mencoba menghubungi sekali lagi namun diluar dugaan nomornya Nyonya Sukma di luar jangkauan.


Arman menyipitikan matanya, ia merasa ada yang aneh. "ada apa ya? kok tumben Nyonya begini." batin Arman."


Arman menghela nafasnya kemudian membuangnya dengan kasar, ia menyenderkan punggungnya pada kursi kebesaran milik bosnya. tanggung jawabnya untuk mengelola perusahaan sangat lah besar. ia merasa memikul beban berat di pundaknya.


.

__ADS_1


.


...Happy Reading!...


__ADS_2