Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 24


__ADS_3

Rindi masuk ke dalam ruang di mana Rifan dirawat, Matanya langsung tertuju pada sosok yang terbaring lemah dengan selang-selang yang menancap pada tubuh. hatinya sedikit terguncang, meski dulunya Rindi ingin membalas perlakuan Rifan terhadap dirinya. namun sekarang, niat untuk membalas dendam itu telah ia kubur dalam-dalam. sebab, Rindi tak ingin Abizar kembali bersedih di alam sana, bagaimanapun Rifan tetaplah Ayah dari Abizar.


Di sampingnya Ibu Sukma terduduk dengan mata yang berkaca-kaca, ia membelai wajah putranya jika bisa digantikan maka Ibu Sukma rela menggantikan posisi Rifan, biarlah dia yang menanggung sakit asal putranya bisa sehat kembali.


Kehidupan tetaplah misteri selalu memberi kejutan tak terduga. dan Tuhan maha adil bukan? janji Tuhan tentang karma adalah nyata. lihatlah, ketika Rindi mencoba untuk ikhlas dan berserah diri kepada-Nya. Tetapi Tuhan malah menyiapkan kejutan untuk Ibu Sukma. kini Ibu Sukma merasakan apa yang Rindi rasakan dahulu.


Rindi menyeka sudut matanya yang sedikit basah, ia memang membenci mantan suaminya itu. tetapi ia juga tak ingin hal seperti ini terjadi pada Rifan.


"Nak, lihatlah siapa yang datang menjengukmu? dia sangat cantik, kan? ayo bangun! wanita pujaanmu datang menjengukmu." lirih ibu sukma pelan namun masih terdengar di telinga Rindi."


Rindi tertegun, hatinya bagai tertusuk ribuan belati, bagaimanapun Rindi seorang Ibu dan pernah merasakan diposisi yang seperti ini. tentu, ia memahami perasaan Ibu Sukma.


"Kamu masih marah sama Ibu? tolong, jangan siksa ibu seperti ini, siapa yang akan menemani ibu di masa tua ini. jika kamu nggak ada, ayo bangun! kamu harus mengantar Ibu terlebih dahulu di tempat terakhirnya Ibu."


Rindi tak tahan lagi mendengarnya ia memeluk Ibu Sukma dengan erat, menguatkannya. "Bu, tolong jangan seperti ini, Rindi mohon, Ibu masih ada Rindi yang akan menemani Ibu."


Ibu Sukma menggeleng, ia merasa malu di depan Rindi, mengingat perlakuannya dulu yang tak pernah menghargai Rindi, bahkan ia bersikap tak acuh pada cucunya sendiri.


"Lebih baik Ibu pulang ya, dan beristirahat di rumah, Mas Rifan biar Rindi yang jaga." ujar Rindi yang mengkhawatirkan kondisi Ibu Sukma.


"Tapi Nak, Ibu ingin di sampingnya Rifan menemaninya di saat seperti ini, biarkan Ibu di sini ya, jangan suruh Ibu pulang."


"Tapi, kalau Ibu sakit Mas Rifan pasti lebih sedih lagi, Ibu tau kan? sesayang apa Mas Rifan sama Ibu."


Dari luar Arman menatap kagum pada Rindi. "pantas saja, Bos Rifan sampai nggak bisa move on dari istrinya ini, ternyata orangnya memang baik." gumam Arman dalam hati.


Ibu Sukma menghela nafas panjang, sayang, waktu tak bisa diputar kembali. jika bisa, maka Ibu Sukma akan memperbaiki segala perbuatannya dahulu. kini sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur, Ibu Sukma hanya bisa meratapi nasibnya.


"Ayo Bu, pulang ya, sopir Ibu sudah menunggu di luar." Bujuk Rindi lagi agar Ibu Sukma segera pulang dan beristirahat di rumah."


"Ya sudah, Ibu pulang tapi, kalau ada apa-apa sama Rifan segera kabari Ibu ya." pinta Ibu Sukma memohon pada Rindi.


Rindi mengangguk tersenyum. "iya, kalau Mas Rifan sadar pasti Rindi langsung kabari Ibu.


Ibu Sukma pun pulang dan menitip Rifan pada Rindi dan juga Arman yang berjaga di luar. meski urusan kantor sudah Arman serahkan pada sekretaris bosnya. namun pria itu tetap tak lepas dari tanggung jawabnya. ia memangku laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya di rumah sakit sesekali melirik ke dalam menatap Bosnya.


Rindi menatap Rifan, raut kesedihan terpancar di wajahnya. meski hatinya bukan lagi untuk Rifan. tetapi sesama manusia bukan kah kita harus saling peduli? apa lagi kita mengenali orang itu, sejahat apapun dia dahulu terhadap kita. tapi jika kondisinya sudah di ambang kematian seperti ini maka maafkan dia dengan hati yang lapang. Allah saja maha pemaaf, kenapa kita sebagai manusia tidak saling memaafkan. "ceramah seorang ustaz waktu ditahanan terus terngiang-ngiang di telinganya."


Tiba-tiba ponselnya bergetar seseorang mengiriminya pesan, Rindi dengan cepat membuka pesan dan membacanya.

__ADS_1


[ Kamu di mana?] TTD Arkan.


Rindi mengernyitkan dahinya, "tumben? dia mengirim pesan, biasanya langsung datang menemuiku."


[ Aku di rumah sakit.] balas Rindi cepat.


[ Hah! sejak kapan, kamu sakit? kok nggak bilang-bilang aku sih, dan kata kariawanmu, kamu pergi bersama seorang wanita tua. apa dia Mamaku? aku khawatir takut Mama nyakitin kamu.] rentetan panjang dari Arkan membuat Rindi tersenyum.


[ Hay, Pak kulkas, sepertinya anda lebih banyak bicara ketika lewat pesan seperti ini ya? ] balas Rindi mengejek. tidak tahu saja dia, Arkan saat ini sangat mengkhawatirkan dirinya.


[ Aku sedang serius, jawab pertanyaanku kamu sedang apa di rumah sakit dan siapa wanita tua itu.]


Rindi menggigit bibir bawahnya haruskah dia jujur? jika dia menemani Rifan di rumah sakit, bagaiamana jika Arkan marah?


[ Kenapa tidak balas, apa kamu sakit? cepat jawab aku!] belum sempat Rindi balas Arkan kembali mengiriminya pesan. Rindi menghela nafas panjang. jika sudah begini mau tak mau ia harus jujur.


[ Emmm... aku jenguk Mas Rifan, dia sedang koma di rumah sakit.]


[ Apa-apaan kamu menjenguknya, dia sakit itu bukan urusanmu lagi, seharusnya kamu mengurus surat perceraianmu dengannya, bukan malah asik menjenguk bajingan itu. tunggu aku di sana dan jangan kemana-mana.]


Rindi menahan kekesalannya, Arkan belum tahu saja mengenai penyakit yang di derita oleh Rifan, itulah sebabnya pria itu marah. Rindi kembali menatap Rifan ia berbisik tepat di telinga Rifan. "Mas Rifan, sadarlah dan katakan sesuatu padaku." lirihnya pelan.


"Jangan coba-coba mencuri pandang, atau Bos Rifan akan mengulitimu." tutur Arman sembari tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya."


Dokter Arga berdecak kesal menatap Arman. setelahnya dia mendekat ke arah Rindi, dan ini pertama kalinya Dokter Arga bertemu langsung dengan Rindi, wanita yang namanya sering disebut-sebut oleh Rifan. ada kecanggungan yang dirasakan oleh dokter Arga.


Rindi terperanjat melihat pria berjas putih yang tiba-tiba muncul dan berdiri di disebelahnya. Dokter Arga tersenyum canggung, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal demi mengurangi rasa gugupnya yang berlebihan. sedang Arman, pria itu cekikikan di luar kamar.


.


.


Di tempat lain Mirna terus saja mengamuk tak jelas, ia membanting seluruh barang yang ada di ruangannya. dan juga memaki Rindi sesuka hatinya. anak buahnya Mirna tak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa menunduk tanpa bersuara.


Mirna mengambil ponsel kemudian menghubungi seseorang. berdering tanda masuk tak lama suara wanita menyapa di balik telepon.


..."Ya, halo... Kak Mirna, gimana?"...


^^^"Gimana dengan tugasmu yang ku berikan, sepertinya kau gagal iya, kan!" tanya Mirna dengan suara yang sedikit menekan."^^^

__ADS_1


..."Aku nggak bisa gegabah dulu, kak. wanita itu punya teman seorang polisi dan sepertinya mereka teman mesra." sahut wanita itu dibalik telepon."...


..."Apa! hal seperti ini, nggak kamu ceritakan sama aku! ingat ya, hal sekecil apapun tentangnya kamu wajib lapor sama aku, dan kamu harus menakutinya terlebih dahulu, hingga dia ketakutan dan setelah restoran tutup jalankan rencana yang sudah ku siapkan, kamu mengerti, kan!" tekan Mirna dengan raut wajah kesal....


..."Aku ngerti kak, saat ini aku hanya menunggu waktu yang tepat karena sepertinya polisi itu sudah mencurigaiku."...


..."Baiklah, tapi kamu harus ingat satu hal wanita itu yang sudah membunuh kakakmu dengan sadis, dan kamu harus membalaskan dendam kakakmu. aku siap membantumu." Mirna terus saja meracuni pikiran gadis polos agar membenci Rindi."...


..."Iya, Kak Mirna, kau benar wanita itu harus membayar perbuatannya, dia harus mati ditanganku." ujar wanita polos yang pikirannya sedang di racuni Mirna."...


..."Bagus!" jawab Mirna sembari tersenyum seringai."...


^^^"Ya sudah kak, aku tutup dulu teleponya biar nggak ketahuan." telepon pun di matikan wanita itu kembali bekerja seperti biasanya.^^^


Tidak tahu saja dia, Arkan telah memasang CCTV tersembunyi secara diam-diam dan terhubung langsung ke ponselnya. tentunya, CCTV yang bisa merekam suara bahkan Rindi pun tidak mengetahui, mengenai CCTV itu hanya Arkan lah yang tahu.


Mirna tertawa keras membayangkan sesuatu yang telah ia rencanakan untuk menjebak Rindi.


.


.


Di rumah sakit..


"Dok, gimana keadaaannya? apa Mas Rifan masih ada harapan untuk sembuh?" tanya Rindi penuh harap."


Dokter Arga meraup udara sebanyak mungkin, sebelum menjawab pertanyaan Rindi, ada sesak yang teramat sangat dalam dadanya. mengingat Rifan banyak membantunya, bahkan Rifan lah yang membiayai pendidikannya, dokter Arga tak bisa sampai seperti sekarang kalau bukan karena Rifan.


"Kecil harapannya, saat ini kangkernya sudah memasuki stadium 4. kita hanya bisa berdoa kepada Allah agar memudahkan jalannya."


"Apa!" Rindi memegangi dadanya ia shock mendengar penuturan Dokter Arga. tanpa di duga air matanya luruh begitu saja.


Arkan yang baru tiba di rumah sakit kemudian mendekat ke arah Rindi, pria itu menyoroti Rindi dengan tajam seolah ingin menelan Rindi hidup-hidup.


"Untuk apa kamu peduli pada bajingan ini!" desis Arkan kesal."


Dokter Arga memicingkan matanya menatap Arkan. "He, kamu siapa! jaga bicaramu jangan sembarangan!" ucap dokter Arga tak kalah kesal."


"Calon suaminya dia!" Arkan menunjuk pada Rindi."

__ADS_1


Happy Reading!!!


__ADS_2