
Pov Rindi
Aku memantulkan diriku di depan cermin saat ini, tanpaku sadari, semburat merah terbit di pipi kiri dan kanan mengingat perlakuan Arkan.
Apa yang harus ku lakukan, agar pria itu berhenti menaruh harapan, aku tak ingin menjalin kasih dengan siapapun, bayangan masa lalu masih terekam jelas dalam ingatan. penyebab Mas Rifan mengkhianatiku karena kekuranganku yang tak bisa lagi memberinya keturunan, dan Arkan... pria itu pasti akan melakukan hal yang sama, saat ini dia belum tahu tentang Rahimku yang tak bisa lagi untuk berkembang biak dan aku yakin jika Arkan mengetahuinya maka dia pasti meninggalkan ku dan memilih perempuan lain, yang bisa memberinya keturunan.
Sebelum melangkah terlalu jauh, sebaiknya ku beri tahu saja dia, agar dia mundur dan tak lagi mengejarku.
Dan Mas Rifan, pria itu, meski ada banyak perubahan dalam dirinya, tetapi aku belum cukup puas dengannya. bisa saja, saat ini dia hanya berkamuflase menjadi orang baik, kemudian kembali memporak-porandakan hatiku, bagaimana pun aku tak ingin masa lalu itu terulang kembali.
Tau kah, kalian? di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. terkadang, teman bisa menjadi lawan, saudara bisa menjadi musuh, untuk mencapai tujuannya mereka harus menyembunyikan wajah iblis mereka dan berkamuflase sebagai malaikat. jadi, aku putuskan untuk tidak mempercayai siapapun. bukan tanpa sebab, tapi karena di khianati oleh orang terdekat lah yang membuatku seperti ini.
...***...
Pagi hari....
Kicauan burung dipagi hari berhasil membangunkan ku, gegas menarik selimut yang menutupi separuh tubuh dan melemparnya asal. hari ini aku ada janji dengan Mas Rifan, dia memintaku untuk mendatangi butik awalnya cukup terkejut mengetehaui butik itu miliknya. Tapi mengingat Mas Rifan orangnya pekerja keras. jadi rasanya tak heran jika kesuksesan itu datang padanya.
Ah iya, aku hampir lupa dengan pramusaji bernama Rina itu, sepertinya aku harus memberinya sedikit teguran agar dia bersikap lebih sopan kepada pelanggan yang datang, kelakuannya sangat memalukan, bagaimana jika pelanggan merasa tidak nyaman dengan pelayanannya.
"Lisa....."
"Iya Bu, ada yang bisa bantu?"
"di mana Rina?" tanya ku pada Lisa, sebab aku tak melihat beradaannya sejak tadi.
Lisa adalah Manager di restoran, dia sangat cekatan dan juga profesional, tak salah mas Gibran merekomendasikannya untuk jadi manager di restoran ini.
"Oh, Rina, tadi saya menyuruhnya untuk ngantar pesanan di perusahaan depan sana." Lisa menunjuk ke seberang jalan di mana terdapat perusahaan besar. mereka memang kerap memesan makanan di restoran ini.
"Lain kali jangan menyuruhnya, dia bisa memberikan citra buruk pada restoran dan saya tidak mau pelanggan saya merasa tidak nyaman, dengan sikapnya yang centil itu.
"Baik Bu, kedepannya jika dia melakukan kesalahan lagi, maka saya akan bertindak tegas padanya." sahut Lisa lugas.
Aku tersenyum, bagaimanapun aku tidak ingin pelangganku pada kabur hanya karena pramusaji seperti Rina.
.
.
__ADS_1
Tiba di butik dengan perasaan tak menentu, sebelum masuk ke dalam aku ingin memastikan dulu penampilan dengan baik, agar tetap cantik bila dipandang. aku harus membuatnya menyesal karena telah mengkhianatiku demi seekor lalat yang menjijikan.
Tiba-tiba seseorang mencekal tanganku, menarikku ke samping. apa-apaan dia! meski dia menutupi separuh wajahnya dengan masker namun aku dapat mengenalinya.
"Mirna, lepaskan tanganku!" pekikku seraya menatapnya dengan tajam.
"Heh, perempuan sialan! gara-gara kamu, Mas Rifan mengusirku dari rumah. aku akan memberimu perhitungan!"
Aku tersenyum padanya, Mirna dulu yang ku anggap polos ternyata lebih semengerikan di banding pelakor bernama Rina.
"Jadi sekarang, kamu menunjukkan taringmu yang asli di depanku?" tanyaku memastikan.
"Kalau emang iya kenapa? kaget kamu! asal kamu tau ya, aku capek berpura-pura baik di depanmu!" dia menunjuk wajahku namun aku tetap santai dan bersikap tenang.
"Oh yah? seharusnya aku memb*nuhmu beberapa tahun yang lalu bersama pelakor itu." jawabku santai, senyum seringai terbit di bibirku.
"Ma-maksud kamu apa, bicara seperti itu?" dia terlihat gugup, raut wajahnya berubah pias.
Aku mengeluarkan sebilah pisau kecil dari dalam tas, sengaja ku siapkan pisau untuk menjaga diriku dari bahaya. akhir-akhir ini aku merasa seseorang terus mengikuti langkahku.
"Ja-jangan macam-macam! atau aku akan teriak!" ujarnya ketakutan, Mirna menelan salivanya susah payah, keringat sudah membasahi pelipisnya dapat ku lihat seluruh badannya juga ikut bergetar.
"Tadi berani, kok sekarang nyalinya ciut?" ujarku menahan tawa.
"Eh busyet! kayak dikejar hantu." pekikku seraya meledakan tawa terbahak-bahak.
.
"Rindi, Sedang apa di sini? kok nggak masuk?" suara tak asing memenuhi gendang telingaku. Dengan cepat aku menyelipkan pisau ke dalam tas.
"Ini, baru mau masuk." sahutku tanpa melihat wajahnya, wajah itu mengingatkanku pada putraku. Aku harus kuat sekarang, tidak boleh terlihat lemah dihadapannya.
"Ayo masuk," ajak Mas Rifan seraya merangkul pundakku, aku melepaskan tangannya kemudian berjalan mendahuluinya.
"Masuk keruanganku, kita bicara di dalam."
"Langsung saja, aku buru-buru. ucapku tanpa basa-basi.
Mas Rifan menghelakan nafasnya kemudian menghembuskannya secara Pelan.
__ADS_1
"Baik, mengenai Butik ini..."
"Berapa harganya." potongku cepat, bukan sok kaya hanya saja aku malas berkontak mata dengannya.
"Maaf, tapi... ini tidak di jual."
Heh apa maksudnya, dia tetap kekeuh tak ingin menjualnya.
"Butik ini sengaja aku dirikan untuk seseorang" imbuhnya sembari menatap manik mataku lekat
"Kalau emang untuk seseorang, lalu kenapa? disainnya sama persis seperti yang ku inginkan, kau sengaja untuk memanasiku?"
"Karena, ini untukmu!"
Apa maksudnya berkata demikian, dia ingin aku percaya? oh tidak akan.
"Apa maksumu?"
"Apa kamu belum menyadari? nama butik ini adalah Rumah Rindi. maaf jika baru mengabulkan keinginanmu sekarang.
Aku terpaku mendengarnya, aku memang dari awal sama sekali tidak menyadari nama butiknya, aku langsung masuk saja sesuai arahan Mas Gibran.
"Aku serahkan butik ini untukmu, terima lah, ku mohon... aku tau ini tak bisa menebus kesalahanku di masa lalu namun percayalah aku menyesali setiap perbuatanku, kebodohanku menyebabkan putra kita tiada, Rindi... ijinkan aku menebus kesalahanku padamu. kau boleh mengambil semua yang ku milikki bahkan jiwaku sekalipun tolong hukum aku." ujar Mas Rifan, ia berlutut di hadapanku, menangis sejadi-jadinya seluruh pegawai butik menatapnya tercengang, Mas Rifan bahkan tak pedulikan itu.
"Mas, bangunlah ku mohon, jangan seperti ini.
"Tidak, aku nggak mau bangun, sampai kamu mau memaafkanku, aku hidup dalam bayang-bayang dosa. jika b*nuh diri bukan perbuatan dosa mungkin aku sudah melakukannya sejak dulu. Kau tau? aku terlihat kuat namun sebenarnya aku rapuh.
Air mataku menganak sungai, aku tak bisa membendungnya lagi.
"Sebagai istri aku mungkin bisa memaafkanmu, tapi sebagai ibu, hatiku terlalu sakit. memaafkanmu adalah sesuatu yang sulit bagiku, aku bukan malaikat berhati lembut, aku hanya manusia biasa memiliki hati dan perasaan meski bertahun-tahun luka ini akan tetap ada, jiwa seorang ibu yang terluka tak bisa kau sembuhkan dengan mudah, Mas.
"Aku tau, tolong ijinkan aku untuk memperbaiki ini semua, kita mulai dari awal aku janji bakal cari cara agar kita bisa mendapatkan anak...."
"Cukup mas!" aku memotong ucapannya. kau akan memberiku anak dari wanita lain? apa kau pikir aku mau berbagi suami dengan wanita lain hah!" Rasanya aku ingin menampar mulutnya saat ini juga, pria ini entah terbuat dari apa hatinya.
"Bu-bukan begitu maksudku.
"Lalu seperti apa? sebaiknya aku pergi dari sini, lupakan tentang butuk ini aku nggak jadi membelinya bahkan kamu memberiku secara gratis aku tetap nggak mau."
__ADS_1
Aku berlari meninggalkan butik dengan mata sembab, Mas Rifan terus memanggilku dia mengejarku berusaha untuk menjelaskannya, tapi mobilku melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkannya. aku benar-benar nggak nyangka dengan jalan pikirannya. hatiku hancur berkeping-keping, luka yang dulu masih ada jangan menambahnya lagi.
...Happy Reading!...