
Jantungku hampir saja berhenti berdetak, wanita yang hampir ku tabrak dia adalah Ibunya Arkan, wanita ini pasti akan mengadukan tentang kejadian tadi pada anaknya. hidup ini benar-benar sial! selalu penuh dengan kejutan tak terduga.
Aku menyeka keringat yang membanjiri pelipis secara tiba-tiba. ingin beranjak pergi, tapi Arkan malah mencekal kuat tanganku, apa yang harus ku lakukan? untuk menghindar, ah semoga saja wanita ini mendadak amnesia dengan begitu dia tidak akan mengenaliku, eh.
"He, kamu ini yang tadi hampir saja menabrakku, kan?" tuh kan? dia langsung menodongku dengan pertanyaan, padahal aku berharap dia amnesia.
"Apa!" Arkan terkejut, dia menoleh ke arah ku meminta penjelasan.
"Aku nggak sengaja, dan aku sudah meminta maaf tadi." ucapku sedikit menunduk.
"Iya tapi, gara-gara ulahmu belanjaanku jadi berserakan di jalanan." sahut ibunya Arkan tak mau kalah.
"Sudah, sudah! nggak usah di perpanjang lagi yang penting Mama nggak apa-apa, kan?" akhirnya, Arkan menengahi perdebatan ini.
"Iya, Mama nggak apa-apa, tapi... apa kamu kenal perempuan ini?" tanyanya pada Arkan sembari menunjukku.
Drama tabrakan selesai, kini masuk sesi perkenalan. semoga, Mas Arkan menerima keputusan ibunya itu yang ku harapkan.
Arkan memperkenalkanku pada Ibunya, wanita yang dipanggil Mama oleh Arkan dia menelisik penampilanku dari atas hingga ke bawah. entah apa maksudnya, sejujurnya aku risih jika di tatap seperti ini.
"Mam, aku sudah menetapkan hatiku padanya, tolong terima Rindi apa adanya aku hanya mencintai Rindi dan hanya dia selamanya, jika Mama tidak meresetuiku maka selamanya aku akan terus seperti ini menua tanpa pasangan." ujar Arkan memohon pada ibunya.
Jujur sebagai perempuan yang sudah pernah menikah, aku tidak lagi merasa takut berhadapan dengan situasi yang seperti ini. meski Ibunya Arkan terlihat judes, tapi aku bisa memahaminya. sebagai seorang ibu, dia pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. apa lagi ini menyangkut masa depan putranya. tentunya bibit, bebet, bobot yang di utamakan.
"Tapi, Arkan... Mama juga ingin memiliki cucu perempuan ini tidak bisa memberimu anak. Mama tidak keberatan dengan latar belakangnya seperti apa, yang penting sekarang dia bisa berubah menjadi lebih baik. ya, nggak apa-apa buat Mama, tapi... yang Mama mau hanyalah keturunan Mama ingin menggendong cucu, siapa lagi yang Mama harapkan kalau bukan dari kamu.
"Mama masih punya Rania, Rania bisa menikah dan punya anak.
__ADS_1
"Rania masih kuliah, jika menunggu Rania. keburu mati Mama, mau kamu? Mama tiada dalam keadaan bersedih tak ke sempaian menggendong cucu.
Harus kah? mereka berdebat hal seperti ini di depanku, tidak kah mereka mikir bagaimana perasaanku saat ini. mereka benar-benar membuatku sedih sebagai perempuan aku juga ingin memilikki anak, tapi mau bagaimana lagi, Tuhan sudah menetapkan takdirku seperti ini jadi harus menerimanya.
"Tapi, Mam....
"Cukup Mas!" aku memotong ucapannya. bagaimanapun Ibumu benar, tolong hargai keputusannya. dia yang melahirkanmu aku nggak mau cuma karena aku kamu jadi ribut sama ibumu. aku mengucapkan terima kasih banyak sebelumnya, Mas Arkan sudah banyak membantuku selama dipenjara, tapi maaf... aku nggak bisa nikah sama kamu. tolong jangan pernah temui aku lagi, permisi." ujarku tegas sembari berlalu dari hadapannya.
Dalam kamar aku menangis sejadi-jadinya, meluapkan kesedihan, Tuhan kenapa takdirku seperti ini? kau menghilangkan sesuatu yang berharga dalam diriku, karenanya aku tak bisa lagi memiliki keturunan, tapi kenapa kau juga mengambil putraku! tidakkah kau pikir bagaimana nasipku yang hanya sebatang kara. lelah menangis membuatku terlelap dengan sendirinya tidur dalam terluka.
Malam hari....
Aku kembali menyusuri jalan kota, dengan kecepatan sedang Lamborghiniku melaju pada jalanan ramai, meski dalam keadaan tidak baik-baik saja. namun, aku harus tetap berhati-hati agar kejadian tadi siang tidak terulang lagi.
pupil mataku membesar tatkala melihat Mirna, wanita itu sedang berdiri bersama seorang pria, tapi itu bukan Mas Rifan. sedang apa dia malam-malam dengan seorang pria bukankah statusnya masih Istrinya Mas Rifan?
Aku menepikan mobilku agak jauh, agar tidak ketahuan olehnya. sembari terus memantau pergerakan mereka, Mirna masuk ke dalam hotel dengan pria asing. kesempatan ini tak ku biarkan berlalu begtu saja senyum misterius terukir di bibirku.
POV AUTTHOR
Rifan, Pria itu kembali mendatangi sebuah bar. kini ia di temani dengan Anton temannya. Rifan menenggak alkohol langsung dari botolnya, hatinya benar-benar kacau karena Rindi tak mendengarkan dulu penjelasannya dan langsung mengambil kesimpulannya sendiri.
Sebenarnya Rifan ingin mengajaknya ke luar negri. dengan begitu ia bisa menyewa rahim perempuan lain untuk melahirkan anaknya bersama Rindi, yang disebut dengan surogasi. meski itu haram tapi Rifan seolah tak peduli ia hanya ingin menebus kesalahannya, soal biaya itu bukan masalah lagi buat Rifan, bahkan keliling dunia pun ia mampu.
Anton menepuk bahunya Rifan seolah menguatkannya tanpa mereka sadari sepasang mata terus memperhatikan mereka dalam diam sembari menikmati suasana dalam bar.
"Sebaiknya kamu nyamperin Rindi, dan utarakan niatmu yang sebenarnya." tukas Anton pelan, mimik mukanya terlihat serius.
__ADS_1
"Dia tidak akan mendengarkanku, jika melihatku mungkin saja dia akan mengusirku."
"Terus mau sampai kapan kamu begini, menyiksa dirimu sendiri dengan alkohol.
"Sudahlah nggak usah dibahas lagi." elak Rifan sembari membuang pandangan ke arah lain.
Di hotel...
Mirna bersama kekasih gelapnya yang sedang memadu kasih, suara de-sahan menggema ke seluruh ruangan. setelah diusir oleh Rifan wanita itu melampiaskan kemarahannya dengan lelaki lain, konon katanya jika melakukan hubungan intim bisa menghilangkan rasa stres. itulah yang dirasakan Mirna ia menyalurkan hasratnya bersama pria yang belum lama dikenalnya. selama menikah dengan Rifan ia tak pernah di sentuh.
"Ah nikmat, sayang... kau enak sekali." erang sih pria yang sedang memasukan anacondanya ke dalam goa milik Milik Mirna. Tak lupa tangannya terus menjalar ke gunung kembar yang menggantung dengan sempurna.
"Ah, terus sayang, ini enak sekali." ujar Mirna, keduanya sama-sama bertukar pelu suara de-sahan terdengar kian menggebu, saling bersahut-sahutan.
Tetapi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, keduanya saling pandang kemudian dengan cepat menghentikan aktivitasnya Mirna dengan cepat memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. belum sempat memakai, tetapi pintu sudah terbuka dengan lebar.
"Aaahh..." jerit kedua pasangan itu secara bersamaan Mirna menyambar selimut untuk menutupi bagaian tubuhnya.
"Kalian apa-apaan ini!" tuding Mirna kesal ia benar-benar marah dengan penggebrakan yang secara tiba-tiba.
Polisi berhasil meringkus mereka atas bantuan Rindi, dan kekasihnya Mirna adalah buronan yang kabur, ia seorang bandar nark*ba. kebencian Mirna kepada Rindi kian menjadi.
"Sudah ku katakan bukan? bahwa aku benci seorang pengkhianat!" ujar Rindi dengan senyum seringainya.
"Kau sudah kelewatan batas Rindi. lihat saja aku akan menghancurkanmu, seperti aku menjebak Suamimu dan gundiknya yang sudah kau bunuh itu!"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
Rindi tentu saja shock mendengarnya. dia tak habis pikir ternyata semuanya terjadi atas kehendak Mirna benar-benar licik.
...Happy Reading...