
"Nggak menghargai yang bagaimana sih, Mam, tujuan Mama ngenalin dia ke aku untuk apa? kalau sekedar berteman, oke, Arkan terima. tapi, kalau lebih dari teman maaf, Mam, Arkan nggak bisa! Arkan udah punya Rindi, jadi tolong! Mama juga hargai keputusan Arkan.
"Rindi lagi! wanita itu lagi, cukup Arkan!"
"Tanta, udah Tan, nggak apa-apa." potong Melisa cepat. "Melisa nggak mau gara-gara Melisa, hubungan Mas Arkan sama pacarnya jadi rusak."
Melisa tentu saja berbohong di depan Arkan agar pria itu tak membenci dirinya. dalam hatinya ia terus saja merutuk Rindi dan akan mencari tau siapa Rindi sebenarnya dan secantik apa dia hingga Arkan menolak dirinya dan memilih Rindi.
Arkan yang udah jengah kemudian memilih untuk masuk ke dalam kamar meninggalkan Mama Delina dan Melisa.terdengar helaan nafas dari Mama Delina namun Arkan tak mempedulikannya.
"Tan, aku ada ide." seru Melisa kemudian mengedipkan mata ke arah Delina.
"Apa itu!" tanya Mama Delina penasaran."
Melisa kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Mama Delina dan tersenyum seringai. begitu pula tanggapan Mama Delina wanita itu menganggukkan kepala tanda setuju.
Di tempat lain...
Rifan duduk di kursi kebesarannya, di temani oleh asistennya Arman, meski sudah jamnya pulang namun Rifan enggan untuk pulang ke rumah, baginya saat ini tempat ternyamannya adalah kantor.
Cairan merah mengalir dari hidung Rifan. dengan cepat ia menyambar tissue kemudian membersihkan di kamar mandi. Arman terlihat khawatir sebab, ini bukan kali pertama Rifan mengalami mimisan, sudah beberapa kali Arman mencoba membujuk Rifan untuk pergi periksa ke dokter namun di tolak mentah-mentah oleh Rifan.
Rifan keluar dari kamar mandi, wajah pucatnya menandakan bahwa pria itu tak baik-baik saja, meski begitu ia tetap kekeuh tak mau beristirahat bahkan hari beranjak gelap Rifan masih saja betah di kantor.
Suara azan di masjid terdengar melengking di telinga Rifan. pria itu bangkit menuju mushala yang terletak di kantornya, di susuli oleh Arman. ini adalah suatu yang langkah bagi seorang Rifan sang bos besar menginjakkan kaki di mushala, Rifan kemudian mengambil air wudhu setelahnya ia membentangkan sajadah ke arah kiblat, Arman terus saja memperhatikan Bosnya rasa haru dalam hatinya membuatnya meneteskan air mata, selama ia bekerja bersama Rifan ini adalah pertama kalinya ia melihat sang bos mau beribadah.
Setelah menunaikan ibadah sholat Maghrib. Rifan menangis sesuguhkan menyayatkan hati bagi siapa saja yang mendengar. bersimpuh di atas sajadah ia berdoa kepada Tuhannya memohon ampunan atas dosa-dosa yang ia perbuat.
"Ya Allah... Ya Tuhanku... hamba memohon ampun atas dosa-dosa yang sudah hamba perbuat, bukan kah, tak ada kata terlambat untuk setiap hamba yang hendak bertaubat. maka kali ini hamba bersimpuh di hadapan-Mu, memohon ampun atas kesalahan demi kesalahan yang sebelumnya tak pernah hamba mengaku di hadapan-Mu, hari ini hamba mengaku hamba adalah orang yang hina dan juga kotor."
"Ya Allah... Ya Rabbku... hamba berdoa untuk putra hamba Abizar Putra Mahendra, tempatkan dia di sisi-Mu, kelak pertemukan kami di syurga-Mu...."
Bruk...!" belum selesai, tetapi tiba-tiba Rifan tersungkur ke samping tak sadarkan diri darah segar mengalir dari hidungnya.
__ADS_1
"Bos..!" seru Arman panik ia tak tau harus ngapain, di kantor tak ada orang hanya tinggal mereka berdua dan juga sekuriti yang berjaga di bawah sana.
"Bos sadar bos!" Arman terus saja meracau, mengguncang tubuh bosnya agar segera sadar tapi nihil, wajahnya Rifan kian pucat, suhu tubuhnya menjadi dingin. Arman merogoh ponselnya di kantong celana kemudian menghubungi sekuriti.
Arman dibantu oleh sekuriti membawa Rifan ke rumah sakit, setibanya di sana ia langsung di tangani oleh beberapa dokter, Arman tak tinggal diam ia lantas memberi kabar pada nyonya besarnya yaitu ibunya Rifan meski hubungan ibu dan anak sedang tidak akur. tapi bagaimanapun ia adalah seorang Ibu dan berhak tau mengenai kondisi anaknya.
Beberapa menit kemudian Ibunya Rifan tiba dirumah sakit, ia segera menghampiri Arman yang sedang duduk dengan kepala tertunduk.
"Arman!"
"Iya Nyonya, Anda sudah tiba?"
"Di mana Rifan! apa yang terjadi padanya?" tanya Ibu Sukma panik.
"Bos masih di tangani oleh Dokter nyonya, sebaiknya nyonya berdoa agar bos segera sadar.
"Ta-tapi, bagaimana bisa? Rifan pingsan, apa ia kelelahan?"
"Kamu hubungi dokter pribadinya Rifan, suruh dia ke sini saya yakin Dia mengetahui sesuatu." perintah Ibu Sukma pada Arman, pria itu mengangguk kemudian menghubungi dokter kepercayaan Rifan.
Tak lama setelahnya Dokter pun tiba dengan wajah panik. Ibu Sukma langsung mencecarnya dengan beberapa pertanyaan.
"Dokter... kau pasti mengetahui sesuatu tentangnya, tolong katakan apa yang terjadi pada Rifan."
"Maafkan saya Nyonya, tapi... Tuan Rifan mengatakan untuk tidak memberi tahu siapapun."
"Aku ini Ibunya! bagaimana bisa kalian menyembunyikan ini dariku, katakan apa yang terjadi padanya.
"Baiklah Nyonya, saya nggak ada pilihan lain, selain mengatakan pada nyonya. Sekali lagi saya minta maaf karena menyembunyikan ini dari nyonya, sebenarnya Tuan Rifan memiliki penyakit yang sama dengan putranya beberapa tahun yang lalu yaitu, kangker darah.
"Apa!" kejut Ibu Sukma seraya memegangi dadanya begitu juga dengan Arman pria itu nampak tak percaya, ia selalu berada disamping bosnya tapi tak tahu-menahu tentang penyakit yang di deritanya.
"Selama ini dia sudah sering menjalankan kemoterapinya. dan kondisinya sudah membaik, kenapa sekarang drop lagi apa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya?" tanya sang dokter sembari menatap Arman.
__ADS_1
Arman tak menjawab pria itu sedang melamun dengan pikirannya sendiri. "itu kah sebabnya bos selalu menyerahkan urusan kantor untukku handle sendirian, ternyata dia melakukan kemoterapi secara diam-diam tanpa memberi tahuku dan aku malah berpikir yang enggak-enggak tentangnya."
"Arman!" sang dokter yang kesal akhirnya menepuk punggung Arman."
"Eh iya, Dok... ada apa?" jawab Arman gelagapan."
"Kamu ini gimana sih, di ajak ngobrol malah melamun!" seruh sang dokter kesal."
"Maaf, Dok... saya sedang memikirkan Bos di dalam sana." ujar Arman sembari menyenderkan punggungnya pada dinding."
Nyonya Sukma menghela nafas panjang hampir satu jam, tapi dokter yang menangangi Rifan tak kunjung keluar dari dalam.
"Kenapa kamu tidak menyuruhnya untuk berobat ke luar negri." ujar Ibu Sukma ia beralih menatap sang dokter."
"Tuan Rifan sendiri yang keras kepala Nyonya, saya sudah menyuruhnya untuk berobat ke singapura tapi nggak di dengarnya, sering saya ingatkan untuk selalu menjaga kesehatan dan berhenti mengkonsumsi minuman alkohol, tapi selalu di abaikan." tukas dokter sembari memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut.
Nyonya Sukma membisu, ia teringat dengan tipu daya yang ia lakukan agar Rifan menikahi Mirna dengan mengatakan bahwa ia terkena penyakit mematikan, Rifan bagai kerbau di cucuk hidungnya langsung menuruti permintaannya, tetapi sekarang seolah Tuhan menghukumnya kini putranya berbaring tak berdaya air matanya merembes menganak sungai.
Ia lantas teringat kepada Rindi, apa kah ini yang di namanya karma? wanita parubaya ini menangis tersedu-sedu. tanpa dia sadari, dokter yang menangani Rifan telah keluar dari ruangan dan sedang berbincang dengan dokter pribadinya Rifan.
"Dokter Arga... Anda di sini?" sapa dokter yang menangani Rifan, ia terkejut mendapati Dokter Arga sedang berdiri di luar.
"Iya Dok, gimana keadaan pasien di dalam." tanya dokter Arga khawatir."
"Dokter Arga, saya rasa anda mengerti pada kondisi ini. pada tahap ini, sudah lebih dari dua organ sudah terpengaruh oleh kanker. Kanker darah stadium 4 adalah stadium terakhir dengan rasio risiko tertinggi. Tingkat trombosit darah mulai turun dengan cepat. Sel-sel kanker mulai memengaruhi paru-paru termasuk organ-organ. bahkan saat ini pasien belum sadar meski kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kondisi pasiennya sudah sangat lemah dan masih dalam keadaan kritis."
"Apa! tapi, terakhir kali saya periksa ia masih berada di stadium 2 kenapa cepat sekali meningkat ke stadium 4." ujar dokter Arga tak percaya."
"Mungkin pasien banyak pikiran, Anda juga mengerti soal ini dokter Arga, jadi saya tak perlu menjelaskan lagi bukan?"
Arman tercengang mendengarnya, nyawa bosnya berada di ujung tanduk tanpa terasa peluh membanjiri pelipisnya. sedangkan Ibunya Rifan telah kehilangan kesadaran.
...Happy Reading!!...
__ADS_1