
Malam hari suasana dalam jeruji besi tak seperti biasanya malam ini hujan turun dengan deras disertai petir yang begitu gemuruh. angin malam pun terasa dingin hingga menembus ke lapisan kulit yang terdalam.
Malam terasa kian mencekam Bu Sarti wanita itu tidur dengan lelap begitu juga dengan perempuan pembuat onar mereka seakan berada dalam alam mimpi, bahkan suara ngorok seakan bersahutan melawan suara gemuruh dari atas langit.
Mereka terlelap dalam tidurnya dan menyisahkan ku seorang diri, entah kenapa mata ini sulit untuk terpejam aku kembali terbangun, duduk menyender pada dinding ingatanku kembali pada sebuah tas pemberian Mas Rifan yang isihnya entah aku sendiripun belum sempat melihatnya.
Pak Arkan kenapa pria itu bertingkah aneh padahal aku ingin melihat isih tasnya tapi kenapa dia malah membawanya pergi. lihat saja besok jika dia muncul dihadapanku maka akan kutanyakan perihal tas tersebut.
Pria itu tidak bisa seenaknya bertingkah demikian. sebenarnya apa maunya? aku bahkan bukan siapa-siapanya tapi dia seolah punya hak penuh atas diriku.
...*Visual tokoh Rindi Atika Putri*...
Semoga kalian suka ya dengan visual Rindi.
...Oke Next ke ceritanya lagi....
...*****...
POV Arkan : pertama kali melihatnya aku merasakan ada sesuatu yang aneh menjalar dalam tubuhku, entah seperti sebuah magnet aku ingin terus berada didekatnya.
Aku sudah banyak bertemu perempuan namun belum ada satupun yang sepertinya. rambut panjangnya yang tergerai begitu saja bibirnya yang tipis dan sedikit bergaris, matanya yang indah dan menakjubkan ia begitu mempesona bila dipandang.
Aku mulai menggali Informasi tentangnya lebih dalam lagi entah kenapa naluriku berkata bahwa dia bukanlah seorang penjahat dunia yang membuatnya menjadi kejam.
Dia Rindi Atika Putri bersuamikan Rifano Mahendra, memiliki seorang putra bernama Abizar Putra Mahendra. kematian anaknya memicu kemarahannya dan membuatnya bertindak nekat membunuh perempuan yang menyebabkan kematian anaknya.
Hari demi hari aku terus memperhatikannya meski dimatanya aku adalah pria yang dingin dan juga jutek, tapi aku senang bisa berada didekatnya. ketika dia menangis aku benci melihat air matanya aku hanya ingin dia tersenyum, senyum kebahagiaan.
Setelah mendengar dari rekanku bahwa suaminya datang membesuk hatiku langsung meradang, gegas aku pergi menemuinya setibanya di sana benar saja dia sedang menangis. mataku ikut memanas aku terus memperhatikannya dalam diam hingga dia menyadari keberadaanku dan apa itu dia menatapku sinis seperti tak suka.
Aku terus diam dengan sengaja tak ingin membuka percakapan terlebih dahulu. menunggu semenit, dua menit dan...."
"Ada apa?" akhirnya dia bertanya namun sedikit salah tingkah, aku menahan senyum melihatnya gugup seperti itu."
Alih-alih menjawab pertanyaannya aku justru menodongkan pertanyaan balik.
"Apa dia menyakitimu?" tanyaku padanya jika saja iya maka aku akan memberi perhitungan pada buaya sialan itu."
"Siapa yang kau maksud?" ah wanita ini apa dia belum sadar? bahwa aku mengkhawatirkannya.
"Suamimu" jawabku to the poin.
"Sama sekali tidak dia kesini untuk ini." sambil menunjuk pada sebuah tas yang teronggok dilantai.
__ADS_1
Sebisa mungkin aku menahan kekesalan mataku menelisik dalam tas ada beberapa barang yang tercecer dilantai barang-barang ini adalah kebutuhannya apa suaminya berniat ingin menggodanya kembali?"
"kenapa kau menerimanya apa semua pemberianku kurang?" saat ini bom dalam hatiku terasa ingin meledak.
"Aku tidak menerimanya tapi dia meninggalkannya begitu saja." imbuhnya cepat.
Tanpa pikir panjang ku raih tasnya lalu membawanya keluar dia terlihat bingung namun tak ku hiraukannya.
Saking kesalnya sehingga tanpa sadar aku membanting pintu mobil secara kasar. dengan kecepatan tinggi mobilku melesat jauh menuju tempat pembuangan sampah kemudian membuang tas tak berguna.
Setelahnya aku kembali bertugas akhir-akhir ini aku menjadi tidak profesional dalam bekerja. otakku terus memikirkan cara bagaiamana agar bisa membebaskannya dari jerat hukuman. 20 tahun lamanya aku bisa karatan menunggunya, sesuatu dibawah sana sepertinya sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan pemilik sarangnya.
...*Visual tokoh inspektur Arkan Jaelani*...
Nah ini dia nih Readers bagaimana dengan visual Arkan? semoga kalian juga suka ya..
...Kita kembali ke Rindi dulu Next membaca?...
...*****...
Pagi menjelang aku terbangun mendengar suara berisik seperti biasa sih perempuan pembuat onar meresahkan yang selalu bikin ulah, ah mataku masih mengantuk semalaman aku tak bisa tidur dengan nyenyak. tiba-tiba terdengar suara gemuruh kembali menyapa dari atas langit sepertinya hujan akan turun.
Musim hujan dibulan juli rasanya aku ingin berdiri dibawah genangan air hujan mencurahkan segalah isih hatiku.
"Kau sudah bangun?" suara bu Sarti membuyarkan lamunanku."
"Iya Bu," jawabku sambil tersenyum ke arahnya."
"Nah gitu dong tersenyum, jangan cemberut terus nanti cantiknya hilang loh?" ah Bu Sarti sepertinya dia sedang menggodaku."
"Biasa aja keles!" ujar sih onar ketus."
"Dirimu sebenarnya cantik tapi sayang kamu suka marah-marah jadi hilang cantikmu" ujarku mengejeknya sembari berlari kecil menuju toilet."
"Hey apa katamu!" teriaknya sambil berlari mengejarku."
Buggh!" tendangan kakinya melesat tepat dipunggungku hingga membuatku tersungkur ke depan.
"Aaahh!" jeritku kesakitan."
"Rindi....!" Bu Sarti teriak memanggil namaku."
perempuan onar itu kembali menarik rambutku dan membentur kepalaku ke lantai dengan keras bukannya tidak ingin melawan tetapi aku pasrah biarkan dia membunuhku.
__ADS_1
"Aku ingin mati bunuh aku sekarang juga" ujarku padanya."
Senyum seringai terbit diwajahnya dia layaknya seorang psikopat. aku kemudian menutup mata menunggu hantaman selanjutnya darinya."
Kau yang memintaku membunuhmu kan? baiklah ku kabulkan permintaanmu!"
Bugh....! sekali lagi sebuah pukulan mendarat tepat di wajahku."
Kepalaku langsung berdenyut kencang, cairan merah keluar dari pelipis dan juga hidung secara bersamaan aku mendengar suara para penjaga berteriak menyuruh sih onar untuk berhenti memukulku.
Plak...! penjaga sipil menamparnya dengan keras hingga menimbulkan suara yang nyaring.
beberapa dari mereka mengangkat tubuhku, kesadaranku mulai hilang sedikit demi sedikit tetapi telingaku masih bisa mendengar mereka memanggil berusaha menyadarkanku.
Aku melihat Abizar sedang menangis dia terlihat sangat sedih, aku berusaha menggapainya ingin memeluknya dan berkata bahwa aku merindukannya tetapi Abizar malah menjauhiku.
"Pergilah ibu, Abizar sudah bahagia di sini jangan menangisi Abizar."
Apa ini, putraku mengusirku dia tidak ingin ibunya bersamanya? tidak tahu kah dia bahwa aku sangat merindukannya.
"Ini ibu nak, ibu datang kita akan bersama, aku merentangkan kedua tanganku agar dia memelukku."
"Tidak ibu, pergilah jangan datang ke sini."
"Kau tidak menyayangi Ibu lagi?" aku bertanya padanya."
"Jika ibu seperti ini maka aku tidak bisa masuk ke dalam sana, lihatlah ibu hari-hariku terus terjaga dipintu seperti ini menunggumu mengiklaskanku, lihatlah kedalam sana Bu, para teman-temanku mereka terlihat bahagia, aku ingin seperti mereka."
"Tapi Ibu juga ingin ikut bersamamu, ayo kita masuk kedalam sana, Ibu akan mengawasimu bermain."
"Ibu belum bisa masuk kedalam sana hanya orang terpilih yang bisa masuk. pulanglah Bu Abizar mohon ikhlaskan Abizar biarkan Abizar bahagia di sini." ujarnya disertai isakkan tangis.
Tangannya memegang sebuah lilin kecil, putraku terlihat sangat menyedihkan.
Apakah aku egois? Aku hanya ingin bersama putraku. Tidak ada yang bisa memisahkan kami. Dia adalah segalanya bagiku.
Aku mendengar suara tawa kebahagian dari dalam sana seperti sebuah taman namun, sangat indah. Apakah ini yang dinamakan taman surgawi? Rasa penasaran menuntutku untuk mendongak ke dalam. Terdapat banyak anak-anak yang bermain mereka terlihat sangat bahagia. Tetapi kenapa putraku hanya seorang diri berjaga di luar seperti ini. Dia terlihat gelap dan tidak bercahaya berbeda dengan anak-anak yang ada di dalam sana.
"Nak, kenapa kau tidak masuk ke dalam? Apa mereka jahat padamu?" tanyaku padanya.
"Bukan mereka yang jahat! Tetapi Ibu yang jahat! Ibu yang membuatku untuk terus terjaga dipintu seperti ini. Buka hatimu, Bu. Maafkan Ayah dan Ikhlaskan Abizar," ujarnya yang membuat hatiku memanas. "Ibu sayang Abizar, 'Kan? tolong ... Ikhlaskan Abizar."
Aku membakap mulutku tak percaya. Ia aku jahat! Aku, ibu yang jahat. Aku tidak bisa menyelamatkan putraku. Sekarang putraku menderita juga karenaku yang belum bisa mengikhlaskannya.
Bersambung!!!
__ADS_1
...Happy Reading gaeesss๐๐๐...