
"Kita mau kemana?" tanya Rindi setelah duduk di mobil.
"Kesuatu tempat Sayang," jawab Arkan sambil terus fokus menyetir.
Rindi hanya mengangguk saja dan tak lagi bertanya. Meski dalam hatinya begitu ingin tahu kemana pria ini akan membawanya. Dan jika ini hanya kencan biasa kenapa pakaian mereka seformal ini. Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya dan mengusik kedamaian hatinya, tetapi ia memilih untuk bungkam tanpa bertanya lebih lanjut.
Setelah beberapa menit berkendara. Arkan akhirnya menepikan mobilnya kemudian turun lebih dulu. Setelahnya ia membukakan pintu mobil untuk Rindi. Dengan canggung Rindi keluar dari dalam mobil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia sedikit terkejut menyadari tempat yang di maksud oleh Arkan.
"Hotel Angkasa Biru?" Rindi mengerutkan keningnya menuntut penjelasan Arkan.
"Iya sayang. Ayo kita masuk." Arkan menyodorkan lengannya agar Rindi bisa menggandengnya dan masuk ke dalam.
"Tunggu! Jelaskan dulu, kenapa kamu membawaku kesini?" Rindi masih berusaha keras untuk mengetahuinya.
Arkan menghela napasnya kemudian membuangnya secara kasar ke udara. "Nanti di dalam kamu juga tahu kenapa aku membawamu kesini."
Rindi tak bertanya lagi. Ia menyeret kakinya mengikuti langkah kaki Arkan yang sudah lebih dulu berjalan mendahuluinya. Rindi mensejajarkan langkah mereka kemudian menggandeng lengan Arkan dengan erat.
Berdua masuk ke dalam lift dan berhenti di lantai empat. Mereka langsung menuju ke restoran yang sebelumnya sudah di reservasi terlebih dahulu oleh Arkan.
Rindi sedikit melongo melihat penampakan restoran di hotel ini yang menurutnya sangat mewah dan elegan. Konsep fine dining dengan vibes yang super eksklusif. Bikin kesan elegannya terasa bangat.
Urusan menu, paket buffet dinner untuk non pengunjung restoran ini udah nggak perlu diragukan lagi. Mereka punya hidangan lengkap, dari appetizer sampai dessert. Pilihan main course juga banyak. Penyajian yang estetik makin menambah selera. Segelas wine juga akan menyempurnakan perayaan momen spesial Arkan dan juga Rindi.
"Apa kau suka tempatnya?" tanya Arkan.
I--iya ... tapi ini sangat sepi, apa pengunjungnya cuma kita berdua?" Rindi celingak-celinguk memperhatikan restorannya yang nampak sangat sepi. Hanya ada mereka berdua dan juga para pramusaji.
Arkan tersenyum. "Tentu saja tidak."
Rindi mengernyitkan keningnya. "Rasanya tidak mungkin 'kan? Restoran di hotel berbintang sesepi ini?" Ada banyak pertanyaan yang berkelindan di hatinya. Tetapi lidahnya terasa keluh untuk bertanya pada pria yang telah mengisi relung hatinya. Dihadapkan situasi seperti ini yang mana hanya ada dirinya dan juga Arkan membuatnya sangat gugup.
Arkan menggenggam jemari Rindi kemudian mengelusnya punggung tangan itu dengan lembut. Manik matanya menatap lekat tanpa kedip membuat bulu kuduk Rindi meremang.
Beberapa menit setelah menunggu, dua pramusaji pun datang mengantar pesanan Arkan. Hanya ada satu menu tetapi di tutup rapat. Lagi-lagi Rindi mengerutkan keningnya bingung.
__ADS_1
"Semua menu sudah terhidang banyak di atas meja. Lalu, ini apa lagi?" Rindi menunjuk hidangan terakhir yang di bawah oleh pramusaji.
Arkan hanya tersenyum manis menanggapi pertanyaan Rindi.
"Silahkan Tuan." kedua pramusaji itu meletakkan hidangan di atas meja.
"Terima kasih," ucap Arkan.
Pramusaji itu mengangguk sopan kemudian pergi meninggalkan dua sejoli itu. Suasana hening mewarani mereka berdua. Tetapi tak lama setelahnya Arkan berdiri kemudian membuka hidangan terakhir yang disuguhkan oleh pramusaji. Seketika matanya Rindi melotot, ia mengira hidangan lezat yang tersaji. Namun ternyata dirinya salah, sebuah kotak beludru berwarna hitam.
Arkan meraih kotak tersebut kemudian menghampiri wanita pujaannya. Ia berlutut lalu membuka kotaknya memperlihatkan cincin permata blue sapphire.
"Rindi Atika Putri. Komohon dengarkan suara hatiku. Aku bukanlah orang yang seperti dulu sejak bertemu denganmu. Hari terasa lebih lama. Malam terasa lebih dingin. Dan kamu selalu mendapat tempat istimewa di hatiku. Aku berharap bisa jadi selimut dan jadi bantal di bawah kepalamu. Aku ingin ada di sekitarmu. Menjadi orang yang beruntung yang menciummu sambil mengucapkan selamat tidur. Aku mencintaimu."
Dengan mata yang berkaca-kaca Arkan mengungkapkan isi hatinya. Secercah harapan tumbuh di dalam hatinya berharap Rindi mau menerima dirinya mendampinginya hingga menua bersama.
"Mas Arkan membuatku malu. Tolong bangun jangan berlutut seperti ini." Rindi meraih tangan Arkan menuntunnya untuk berdiri.
Arkan menggeleng. "Aku akan berdiri setelah kamu mau menerima diriku dan berhasil memasangkan cincin ini di jari manismu."
"Mas Arkan ... kumohon jangan memperlakukanku se-istimewa ini aku hanyalah seorang janda tanpa rahim bukan lagi wanita sempurna yang di idamkan para lelaki. Mas Arkan berhak mendapatkan yang terbaik, seseorang yang mendukungmu tanpa batas, dia yang bisa memberimu keturunan dan mencintaimu hingga akhir. Sedangkan aku tidak pantas bersanding denganmu."
Arkan berdiri mengembuskan nafasnya kasar. Kemudian meletakkan kembali kotak cincin itu di atas meja. Hal yang paling dia benci adalah ketika mendengar Rindi mengatakan bahwa dirinya tidak pantas bersanding dengan Arkan.
"Kau tau? Aku telah lama menunggu hari ini tiba. Hari di mana aku akan datang menjadi pria sejati untuk melamarmu. Haruskah aku menunggu lagi? Jika memang aku harus menunggu selamanya, itupun akan aku lakukan. Karena aku tak bisa hidup tanpamu ...," ungkap Arkan menatap Rindi lekat.
Rindi memalingkan wajahnya. Di satu sisi ia ingin menerimanya tapi di sisi lain ia takut murka Ibunya Arkan.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Jangan mengatakan lagi jika Mas Arkan berkata sekali lagi maka aku akan menerimanya dan berkata iya," ujar Rindi sambil menunduk meremas kedua jari tangannya. "Ketika aku melihat ke dalam hatiku, di dalam hanyalah ada dirimu. Mas Arkan telah menempatkankan di sisi dasar relung hatiku. Bagaimana aku bisa menyuruhmu lebih lama untuk menunggu?"
Arkan mendongak dengan mata yang berbinar-binar. Diraihnya tengkuk wanitanya kemudian menyatukan kening keduanya. Lama terdiam sesaat hanya Helaan napasnya yang menerpa kulit Rindi sensasi aroma mint dari mulutnya membuat Rindi semakin betah berada di dekatnya seperti ini.
"Mas Arkan ...."
"Hmmm ... jangan katakan apapun biarkan seperti ini." Arkan memotong ucapannya. "Kau tau? Sebelum aku bertemu denganmu, aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya tersenyum tanpa alasan. Sekarang kamu ada di sini, maka tak ada lagi alasan untuk tidak berbahagia."
__ADS_1
Rindi tersenyum sipu dengan pipi yang bersemu merah. Ia mencubit pelan pinggang Arkan. Kemudian mendorongnya menjauh lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Arkan tertawa renyah. Lantas ia meraih kembali kotak cincinnya dan berlutut sekali lagi di hadapan wanitanya.
"Rindi Atika Putri. Will you marry me?"
Lamaran romantis disaksikan para chef dan pramusaji di restoran hotel. Sontak barengan mereka nimbrung dan bersorak.
"Terima! Terima! Terima! Terima!" sorak mereka serempak sambil bertepuk tangan.
"Ayo, Kak Rindi katakan. Yes i do!" Suara cempreng Rania adiknya Arkan memenuhi gendang telinga. Mereka beralih menatap ke sumber suara di sana dari kejauhan terlihat Mama Delina dan Rania sedang berjalan ke arah mereka dengan senyum sumringah.
Rindi terkejut. Ia menelan salivanya susah payah dalam pikirannya akan mendapat makian dari ibunya Arkan.
Mama Delina mendekat kemudian tersenyum sambil membelai pipinya Rindi. "Jangan khawatir aku telah merestui hubungan kalian jangan takut lagi. Maafkan aku sudah menyakitimu sebelumnya."
Rindi beralih menatap Arkan. Seolah meminta perjelasan. Tetapi Arkan hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Ayo dong, Kak. Di terima lamarannya kasihan Bang Arkan dengkulnya pasti sakit dari tadi berlutut terus," Rania mengerucutkan bibirnya tak tega melihat abangnya seperti sedang mengemis.
Sontak semuanya tertawa sambil menatap ke arah Arkan.
Dengan malu-malu Rindi menatap Arkan. "Iya, aku bersedia menjadi pendamping hidupmu, Mas." Kemudian Ia mengulurkan jari tangannya untuk dipasangkan cincin.
"Alhamdulillah!" ucap serempak dari semua yang menyaksikan.
Dengan semangat empat lima Arkan memasangkan cincin di jari manis calon istrinya. Wanita yang dulunya menjadi tahananya kini sebentar lagi akan menjadi istrinya. Setelahnya Arkan memberikan cincin satu lagi untuk di sematkan di jarinya. Adegan sesi tukaran cincin pun berakhir dengan bahagia.
Mereka berempat kini mulai menikmati makanan lezat yang sudah terhidang di atas meja dengan senyum mengembang.
Setelah selesai, tak lupa sesi foto bersama untuk dikenang. Tanpa mereka sadari dari jauh seorang wanita berdiri dengan mengepalkan tangannya menahan amarah.
Wanita cantik itu terus menatap ke arah mereka dengan sorot mata kebencian. kemudian ia pergi meninggalkan hotel membawa sejuta amarah.
Bersambung!!!
__ADS_1
Happy Reading gaeesss๐๐๐