Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 15


__ADS_3

Rifan berteriak marah matanya nyalang, ini adalah pertama kalinya ia begitu marah pada ibunya, wanita yang melahirkannya namun dengan tega menghancurkan kehidupannya. ibunya bahkan tau bagaimana penderitaan yang di jalani ole Rifan hingga belasan tahun lamanya. Rifan hidup tapi seperti mati disaat ia ingin menebus kesalahannya dan ingin memperbaiki kembali hubungannya bersama Rindi. namun ibunya dengan tega bersandiwara dengan penyakit yang mematikan. yang mana semua orang ingin dijauhkan dari penyakit tersebut. tapi ibu seolah meminta penyakit itu datang padanya, bukan kah apa yang kita ucapkan adalah doa? bagaimana jika Allah mengabulkannya.


Tak ada tumor yang bersarang dalam rahim, Dokter mengatakan bahwa ibu hanya kekurangan darah saja itulah sebabnya kepalanya menjadi sering pusing. tak ada penyakit yang serius, Rifan tentu saja terkejut mendengarnya. kilatan amarah terpancar dalam matanya.


"Ibu bisa jelaskan Rifan, to-tolong dengarkan ibu." rajuknya dengan mata yang berkaca-kaca ia menyentuh pundak Rifan namun Rifan dengan cepat menepis tangannya seolah tak ingin disentuh oleh Ibunya.


"Kau adalah ibuku, tapi kau juga yang mempermainkan kehidupanku sekian lama aku hidup dalam penderitaan. tetapi, itu tak membuatmu iba kau terus memainkan peranmu untuk melemahkanku, kenapa Bu! kenapa kau sejahat itu!"


"Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu, wanita itu dia tak bisa memberimu keturunan jadi...."


"Cukup Bu! Rindi jadi seperti itu karenaku, apa ibu lupa bahwa dia pernah memberimu seorang cucu yang lucu, tapi akibat kebodohanku putraku tiada!" ujar Rifan lantang.


Rifan benar-benar marah, kali ini ia takkan mentolerir kesalahan ibunya yang sudah sangat keterlaluan, demi menariknya untuk menikahi Mirna, sang ibu rela bersandiwara layaknya seorang bintang flim ia begitu menghayati perannya sehingga mampu menghipnotis banyak orang terkhusus putanya sendiri.


"Tapi mas, bagaimana pun ibu benar kau harus punya keturunan untuk menjadi penerus, pewaris tahtamu kelak dan sekarang aku lah istri sahmu dan aku bisa memberimu keturunan." ujar Mirna percaya diri.


"Diam kau! aku bisa mendapatkan anak dari Rindi dengan caraku sendiri. sebaiknya kau angkat kaki dari rumahku dan jangan pernah kembali!" Rifan mengusir Mirna tanpa peduli perasaanya.


Pria itu bisa melakukan apapun, untuk meluluhkan kembali hatinya Rindi dan membawa kembali dalam dekapannya.


Mirna tegugu dalam kesedihannya, hari ini ia kembali kalah dari Rindi, wanita itu kembali memenangkan hatinya Rifan untuk kesekian kalinya dari jaman mereka kuliah hingga kini Mirna terus saja menaruh perasaan pada Rifan. tetapi Rifan lebih memilih Rindi ketimbang dirinya.


"Kau mengusirku mas? tidak, aku tidak mau pergi dari sini, ibu tolong lakukan sesuatu aku tidak ingin pergi dari sini." ujarnya memelas pada ibu mertuanya, cairan dari kelopak matanya terus mengalir kian deras bagaikan arus sungai.


"Aku muak melihatmu di sini, segera pergi dari kediamanku, pengecaraku yang akan mengurus surat perceraian kita." tukas Rifan acuh tak acuh membuat Mirna geram.


"Lihat saja! aku akan membalas penghinaan ini, kau akan menyesal karena telah mengusirku dari sini." Batin Mirna.


Mirna bangkit ia menyusuri setiap lorong dalam rumah, saat ini ia bukan lagi nyonya di rumah ini bahkan pelayan menatapnya sinis seolah ia hanyalah orang asing yang hanya singgah untuk berteduh.


.


.

__ADS_1


Rindi memasukki restoran dengan hati riang, ia bahagia karena berhasil mengaduk emosi Mirna. awal yang bagus!" batinnya sambil tersenyum senang. tanpa dia ketahui Arkan terus saja memerhatikan dirinya, pria itu sedari tadi telah menunggunya lama. bahkan makanannya sudah ludes masuk ke dalam perut tapi Arkan tetap saja tak mau beranjak dari sana.


"Ekheem!" Arkan berdehem."


Rindi menoleh kemudian terkejut, setelahnya ia kembali bersikap biasa, cengengesan.


"Kau kelihatan bahagia sekali hari ini." tanya Arkan penasaran.


"Ya, apa kah salah, jika aku terlihat bahagia?"


"Tidak, tidak salah, kau berhak bahagia tapi... Arkan menjeda ucapannya bikin Rindi penasaran.


"Tapi apa?"


"Kau tidak melakukan sesuatu yang konyol kan? tanya Arkan pria itu memicingkan matanya.


Tidak sulit bagi seorang polisi untuk menebak raut wajah seseorang. Rindi mendengus kesal menatap Arkan saat ini ia ingin sekali menelan hidup-hidup pria berbadan atletis yang ada di sebelahnya, dalam hatinya terus saja merutuki Arkan.


Mendengar ucapan Rindi, Arkan menerbitkan senyum smirknya sembari melipat tangan di dada. Rindi seolah lupa dengan kupon makan gratis yang ia tawarkan beberapa hari yang lalu, terhitung sejak hari itu dan ini baru kali keduanya Arkan kembali makan di restoran Rindi.


"Apa kau lupa dengan kupon makan gratis selama 5 kali?" jawab Arkan sembari melabarkan jari-jari tangannya membentuk angka ke lima.


Rindi menepuk jidatnya, kemudian merutuk dirinya sendiri. bagaimana ia bisa lupa dengan kupon makan gratis padahal ia sendiri yang menawarkan.


"Saya lupa pak pol, maafkan saya." ujar Rindi cengengesan, Arkan mengacak rambutnya gemas, semburat merah terbit di pipinya Rindi, wanita itu mendukkan kepalanya malu. Arkan kembali mencapit hidungnya Rindi, ia sengaja ingin melihat wajah bersemu merah milik Rindi bak buah tomat yang siap untuk di jus.


Beberapa pengunjung, menatap ke arah mereka merasa dirinya menjadi tontonan Rindi bertambah malu, ia berlari meninggalkan Arkan, pria itu tertawa geli melihat tingkah Rindi.


"*Dia sungguh me*menggemaskan."


Arkan pulang kerumahnya seperti biasa ia disambut oleh Mamanya, wanita itu berdiri dengan senyum merekah. Arkan meraih tangan Mamanya kemudian menciumnya.


"Ayo masuk, kita sedang kedatangan tamu istimewa." ujar Mamanya Arkan.

__ADS_1


"Siapa?"


"Masuk saja dulu, nanti kau akan tau."


Karena penasaran siapa tamu istimewa itu. Arkan pun masuk ke dalam menuruti permintaan Mama Delina, setibanya di dalam matanya langsung tertuju pada sofa di ruang tamu, seorang gadis cantik menawan dengan pakaian mini yang ia kenakan, rok mini sepaha memperlihatkan kaki mulusnya kombinasi atasan tangtop kemudian luarnya dibaluri lagi menggunakan blazer panjang.


Arkan mengerenyitkan dahinya bingung, siapa perempuan seksi di rumahnya kini dan kata Mamanya tamu istimewa.


"Hay, Arkan." sapa wanita itu sembari tersenyum ramah.


Arkan tak menyahut, pria itu memijitkan pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut, akhir-akhir ini Arkan sering merasa kelelahan entah ada apa dengannya.


"Arkan!" Mama Delina menepuk pundak Arkan.


"Iya mah, kenapa?"


"Di sapa gadis cantik kok malah diam saja, gimana sih." gerutu Mama Delina kesal.


"Maaf mah, kepalaku sedikit pusing. aku ke kamar ya," pintanya acuh tak acuh pada gadis di sebelahnya.


Mama Delina hanya bisa menghela nafas panjang melihat tingkah putranya seperti itu.


"Maafkan Arkan ya, akhir-akhir ini dia memang sering merasakan pusing." ujar Mama Delina tak enak pada tamunya.


"Iya, nggak apa kok Tanta, besok-besok masih ada waktu untuk mengobrol dengan Arkan." tukas wanita seksi itu meyakinkan Mama Delina bahwa dia tidak apa-apa. tetapi dalam hatinya ia sungguh kesal pada Arkan, baru kali ini ia merasa tak dihargai oleh laki-laki.


Sepulangnya wanita itu, Mama Delina pun ikut memijit pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut akibat memikirkan putranya, mau sampai kapan Arkan terus menghindar dari gadis-gadis. sebab usianya tak lagi mudah ia ingin segera menimang cucu tapi Arkan tak mengindahkan sama sekali permintaannya.


.


.


...Happy Reading ...

__ADS_1


__ADS_2