Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 37


__ADS_3

Langit malam tampak begitu cerah dihiasi tebaran bintang-bintang kecil seolah mewakili perasaan bahagia Rindi dan juga Arkan. Terkhususnya Rindi sendiri, ia sama sekali tidak menyangka jika Mamanya Arkan yang sebelumnya sangat menentang hubungan putranya kini telah legowo menerima kehadiran dirinya sebagai calon menantu di keluarga mereka.


"Nyonya ... terima kasih banyak karena sudah mau menerima diriku yang tidak sempurna ini. Aku tidak tau bagaimana caranya mengungkapkan perasaan bahagiaku ini, Nyonya telah merestui hubungan kami. Terima kasih banyak Nyonya." Rindi menggenggam jemari Mama Delina mengucapkan rasa terima kasihnya pada calon mertuanya itu.


Mama Delina balas mengusap punggung tangan Rindi. Membelainya dengan kasih sayang, ia memang sangat mengidam-idamkan cucu dari putranya. Tetapi jika wanita pilihan putranya tidak bisa memberinya keturunan, maka ia tak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya dengan lapang dada.


Sebagai orang tua tunggal ia sadar sikapnya selama ini sudah sangat egois memaksakan kehendaknya tanpa melihat kebahagiaan putranya. Bahkan dirinya berniat menjodohkan putranya dengan anak dari teman-temannya. Untung saja Rania cepat balik ke Indonesia dan menyadarkan mamanya atas kesalahannya.


"Aku tidak akan menjawab jika kau memanggilku Nyonya. Mulai sekarang panggil aku Mama," ujar Mama Delina.


Arkan tersenyum menatap mamanya dan juga calon istrinya secara bersamaan. Ia merasakan ketulusan dari keduanya dan inilah momen yang ia tunggu-tunggu melihat mamanya akur dengan calon istrinya.


"Baiklah, Ma-mama ... terima kasih banyak," ujar Rindi terbata dan sedikit gugup.


"Jangan berterima kasih padaku. Kalian harus berterima kasih pada Rania, karena dialah yang sudah menyadarkan Mama membuka jalan pikiran Mama. Berterima kasih lah padanya." Mama Delina beralih menatap Rania dengan senyum mengembang.


Uhuk! Uhuk!


Mendengar namanya disebut Rania yang sedang menyeruput minumannya, tiba-tiba langsung tersedak hingga terbatuk-batuk.


"Kau ini!" Arkan meraih air mineral membuka tutupnya kemudian menyodorkan pada adik kesayangannya itu.


Rindi tersenyum senang menyaksikan adik dan abang yang jarang akur tapi saling menyayangi satu sama lain.


"Betapa bahagianya jika aku punya kakak laki-laki," gumamnya dalam hati.


...*** ...


Jika Rindi dan Arkan yang sedang menikmati kebahagiannya maka berbeda dengan Mirna.


Di belahan bumi yang lain. Disebuah kamar dengan pencahayaan tamaram. Wanita itu sedang larut dalam kenangan masa lalunya. Pandangannya tak lepas dari foto seorang pria yang selama ini mengisi relung hatinya. Setitik air mata merembes di wajahnya.


Hatinya terusik. Ia melempar foto itu asal hingga menimbulkan suara dikesunyian malam. Kemudian memeluk kedua lututnya sambil menenggelamkan wajahnya ke bawah. Sesekali ia menyeka sudut matanya yang tampak berair. Meratapi kesunyiannya.


"Aku pengen balik ke Jakarta. Tapi aku malu menampakkan wajahku, mereka pasti akan mencemoohku dan memandangku rendah. Tapi ... jika terus di sini aku sama sekali tak merasakan kebahagiaan, meski orang-orang di sini memperlakukanku dengan baik dan menghargaiku," ujarnya di sela isakkan tangisnya.


Setiap malam Mirna menghabiskan waktunya untuk menangis hingga ia kelelahan dan tertidur dengan sendirnya hingga pagi menjelang.


Ya, itulah Mirna. Yang begitu ter-obsesi dengan cinta pertamanya hingga ia harus memusuhi saudaranya sendiri. Demi mendapatkan laki-laki yang dia inginkan. Meski laki-laki itu dengan terang-terangan menolak dirinya. Tetapi Mirna tak mau menyerah, ia terus berusaha dengan segala cara untuk menyingkirkan orang-orang yang menurutnya sebagai penghalang. Meski orang itu adalah penolongnya di masa lalunya.


Benar kata orang cinta pertama takkan pernah terlupakan dan akan selalu membekas di hati. Cinta pertama adalah seseorang yang membuatmu merasakan indahnya perasaan unik di hati. Hingga membuat jantungmu berdetak tak menentu. Dan cinta pertama jugalah yang mengajarkanmu apa artinya cemburu dan bagaimana sakitnya ketika kamu patah hati.


Pagi hari mentari mulai menampakkan sinarnya dan Mirna masih berada di bawah gelungan selimut tebal sepertinya enggan untuk bangun. Padahal pagi ini dikantornya akan ada meeting penting.


Tak lama terdengar suara bel dari pintu hingga beberapa kali berbunyi. Mirna menggeliat pelan. Perlahan, ia membuka kelopak matanya, tangannya meraih jam weker di meja nakasnya. Seketika matanya membola melihat jarum jam menuju ke pukul tuju. Bersamaan seseorang di luar kembali memencet tombol bel membuatnya kesal.

__ADS_1


"Siapa sih! Pagi-pagi udah bertamu. Ganggu aja!" gerutunya pelan sembari melangkahkan kakinya menuju pintu.


Dengan raut wajah kesal ia membukakan pintu. Matanya terbelalak menyadari sosok yang berdiri memandangnya dengan alis yang bertaut.


"Pa--pak Bos ... sedang apa di sini?" tanyanya pada pria yang tak lain adalah CEO di perusahaan tempat ia bekerja.


"Tentu saja menjemputmu! Dan kau! Sudah jam segini masih belum bersiap untuk ke kantor! Apa kau lupa? Pagi ini kita akan ada meeting penting." Bos yang berusia 35 tahun itu menelitinya dari atas sampai bawah.


Mirna menyengir sambil menggaruk kepala yang tak gatal. "Maaf, Pak. Saya telat bangun ...," ujarnya tanpa dosa.


Pak bos menggelengkan kepala sambil berdecak kesal.


"Saya kasih waktu sepuluh menit untuk bersiap. Cepat! Gak pakai lama!" titah sang bos. Setelahnya ia melangkahkan kaki menuju mobilnya.


"Apa! Sepuluh menit!" Secepat kilat Mirna berlari menuju kamar mandi.


Waktunya yang mepet membuatnya tak sempat berdandan.


"Tak masalah aku bisa berdandan di mobil," gumamnya sambil memakai pakaian.


Setelah selesai dengan tergesa-gesa ia menghampiri bosnya membawa serta alat make-upnya. Bosnya sedikit heran melihatnya tanpa sisiran dan juga riasan yang biasa melekat di wajahnya.


"Kau akan ke kantor dengan penampilan seperti ini?" tanya bosnya yang bernama Hendra Wijaya.


"Tidak! Pak bos tenang aja. Saya bisa berdandan di mobil, Bapak silakan fokus menyetir," sahutnya sambil memulai memolesi wajahnya.


"Padahal wajah naturalnya terlihat lebih manis," batinnya.


Biasanya Mirna menaikki Go-Jek ke tempat kerjanya. Tetapi pagi ini hanya alasan meeting penting. Bosnya rela menjemputnya.


Mirna sedikit khawatir. Ia takut akan dijadikan bahan gosip oleh rekan-rekannya. Apa kata mereka jika tau seorang bos besar menjemput sekretarisnya di apartemen pribadinya.


Mirna menggigit bibir bawahnya saat mobil hampir tiba di area perusahaan.


"Emm, Pak ... biar Saya turun di sini saja," pintanya sopan.


Pak bos mengerutkan keningnya. "Kenapa? Kok, turun di sini?"


"Saya gak enak, takut nanti ada yang salah paham sama saya," ujar Mirna lirih.


"Ya, biarkan saja. Saya gak masalah, lagi pula saya 'kan duda."


"Ta-tapi Pak ...."


"Gak ada tapi-tapian. Nurut apa kata saya."

__ADS_1


Mirna menghela napas kesal. Seorang Hendra Wijaya emang selalu memaksakan kehendaknya tanpa mikir perasaan lawannya.


Ia hanya bisa berdoa. Semoga gak ada yang melihatnya turun dari mobil sang bos.


_


_


_


_


_


Sementara dikejauhan sana tepatnya di restoran milik Rindi.


Seorang wanita seksi yang terus menatap Rindi dengan tatapan tajam. Dalam diam ia terus memperhatikan gerak-gerik Rindi. Sesekali ia mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Mel, kau baik-baik saja?" Temannya bertanya padanya. Mereka menikmati makanan di restoran itu dengan terpaksa karena misinya yang ingin menghancurkan Rindi.


Ya, wanita itu adalah Melisa. Wanita yang pernah dijodohkan dengan Arkan.


Melisa yang begitu terpesona pada Arkan. Tentu saja tak terima, setelah mengetahui Mama Delina telah merestui hubungan putranya dengan wanita lain bernama Rindi. Membuatnya sangat murka.


Seminggu yang lalu Delina bertemu dengan Melisa. Untuk meminta Melisa berhenti menaro harapan pada Arkan. Karena putranya itu hanya mencintai satu wanita yaitu Rindi.


"Bagaimana bisa, Tan. Aku sangat mencintai Mas Arkan. Kenapa Tante malah membiarkan Mas Arkan menikahi wanita tanpa rahim itu?!" geramnya dikala itu. Setelah Delina menyampaikan isi hatinya untuk menerima Rindi menjadi menantunya.


"Melisa ... dengarlah! Kau tidak bisa menjadi penghalang di antara mereka. Arkan sangat mencintai Rindi. Hanya bersama Rindi. Putraku bisa tertawa lepas. Kau masih mudah dan cantik kau bisa mendapatkan laki-laki yang lebih segalanya dari pada Arkan. Lupakan dia."


"Dari awal Tante yang memintaku untuk mendekati putra kesayangan Tante itu. Setelah aku memilikki perasaan padanya. Lalu Tante memintaku untuk melupakannya begitu saja, apa Tante pikir aku ini barang yang seenaknya Tante perlakukan." Melisa tertawa sumbang tak habis pikir dengan teman ibunya ini.


Mama Delina menghela napasnya. Ia bingung bagaimana mau menjelaskannya. Dari awal memang dirinya telah salah dalam mengambil langkah. Ia tak berpikir panjang asal bisa memisahakan Putranya dengan Rindi yang tak bisa memberinya cucu. Ia sampai rela menjodohakan putranya dengan anak dari temannya.


"Tante benar-benar minta maaf. Ini semua memang salahnya Tante, karena telah menghadirkan kamu di tengah-tengah mereka. Tetapi kamu liat sendiri 'kan? Gimana kerasnya Arkan. Dia bahkan tak melirikmu sedikitpun, lupakan tentang perjodohan ini jangan menyakiti dirimu dengan mencintai pria yang sama sekali tidak mencintaimu."


Kata-kata Mama Delina terus terngiang-ngiang ditelinganya hingga saat ini. Ia tak rela jika diabaikan begitu saja. Ia merasa harga dirinya telah di injak-injak oleh Arkan dan juga ibunya.


"Melisa! Kenapa kau terus melamun? cepat habiskan makananmu setelah ini kita pergi dari sini," ucap mamanya yang di angguki oleh temannya Melisa.


"Aku tidak berselera, Mam. Melihat wanita itu rasanya aku pengen memakinya. Karena dia Tante Delina menyuruhku untuk melupakan Mas Arkan. Aku tak terima ini," jawabnya sambil terus menatap Rindi dengan sorot mata kebencian.


"Sudah tidak usah dipikirkan. Nanti Mama akan bicara dengan Delina. Mama juga gak terima anak Mama yang cantik ini dicampakkan begitu saja." Mamanya mencoba menenangkan putrinya.


Bersambung!!

__ADS_1


...Happy Reading ya gaeesss!!...


...😇😇😇...


__ADS_2