
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju butik milik Rindi. Keduanya sama-sama terdiam berkecamuk dengan pikiran masing-masing. Hanya sesekali terdengar helaan napas berat.
Setibanya di sana Rania langsung memberondong mereka dengan pertanyaan konyolnya. Begitu juga Mama Delina.
"Kalian berdua dari mana saja? Kenapa lama sekali! Oh ... atau jangan-jangan Abang dan Kak Rindi berpacaran dulu di mobil. Iya, begitu?" Sudah seperti seorang detektif Rania mengitari kedua pasangan yang baru masuk sambil menaik turunkan alisnya.
Rindi dan Arkan saling memandang Kemudian menggeleng secara bersamaan. Mama Delina turut memandang curiga ke arah mereka. Rindi menjadi gugup.
"Eh ... enggak, kok. Kami kan dari rumah sakit. Cek kesehatan," jawab Rindi. "Iya kan, Mas?" Ia beralih menatap Arkan.
"Hemmm ...." Hanya deheman sebagai jawaban dari Arkan.
Rindi memutar bola mata malas. Kalau sudah begini kecurigaan dari Rania pasti akan berlanjut dan itu membuatnya malu.
Tiba-tiba Arman hadir di pertengahan mereka. Rania yang tadi ingin mengajukan protes langsung berhenti. Ia memandang Arman dengan mulut terbuka.
Pegawai di butik membungkuk hormat ke arah Rindi dan Arman. Kemudian mempersilakan mereka untuk melihat setelan baju pengantin yang sudah di siapkan oleh desainer. Ada beberapa model terbaru yang terlihat sangat moderen. Tetapi karena Arkan tidak menyukai model gaun yang terbuka. Jadi ia meminta gaun yang lain.
Arman kemudian menunjukkan kepada Rindi gaun yang ia rancang dengan tangannya sendiri. Sebenarnya gaun itu ia persiapkan untuk calon istrinya kelak. Tapi karena bosnya yang akan menikah maka dengan senang hati Arman memberikan gaun itu untuk Rindi.
Rindi dan Arkan memandang takjub pada patung manekin yang di pakai'kan gaun dengan konsep hijabers. Terlihat simpel namun elegan dan mewah.
Muslimah wedding dress yang berwarna krem semu cokelat muda. Dres pertama yang dirancang sendiri oleh Arman. Kurang lebih satu tahun ia menghabiskan waktunya untuk merancang sebuah gaun impiannya.
Kenapa merancang gaun sampai butuh waktu selama itu? Ya, karena Arman tidak hanya fokus dengan gaun itu. Tetapi ia juga harus fokus pada perusahaan. Tanggung jawab perusahaan ada padanya. Selama Rifan hidup juga semuanya di bebankan pada Arman.
Rindi kemudian meminta Arman untuk melepaskan gaun dari patungnya. Ia ingin mencobanya sendiri. Arman mengangguk patuh.
Dibantu dengan pegawai di butik dan juga Rania. Rindi mengenakan gaunnya, nampak pas di badannya ia terlihat lebih imut dengan balutan hijab. Warna krem semu cokelat muda ini sangat pas menempel ditubuhnya. Senada dengan setelan tuxedo yang di kenakkan Arkan.
Rindi kemudian keluar menunjukkan penampilannya pada Mama Delina yang sedari tadi terus menggerutu. Tak sabar ingin melihat calon mantunya memakai gaun mewah.
Arkan memandangnya tanpa kedip. Begitu juga dengan Arman yang berdecak kagum. Ia tiba-tiba teringat dengan Lisa. Entah kenapa melihat Rindi ia jadi membayangkan Lisa.
"Ehemm!" Rania membuyarkan konsentrasi abangnya. Seolah terhipnotis dengan calon istrinya. Arkan sama sekali tak mendengar deheman Rania.
Mama Delina menahan senyum melihat putranya yang hampir meneteskan liur.
"Bang!!" Rania menepuk lengan Arkan. membuatnya kaget.
__ADS_1
"Eh! Iya, apa?" tanyanya gelagapan.
"Gimana, gaunnya cocok gak di pakai Kak Rindi?"
"Sangat cantik dan bersinar," puji Arkan.
Rindi menunduk malu. Ia juga tak bisa menahan debaran di hatinya melihat Arkan dengan setelan tuxedonya. Arkan benar-benar tampan.
"Terimakasih banyak Arman. Aku gak nyangka ternyata kamu punya bakat yang luar biasa. Gaun ini sangat indah dan elegan meski simpel tapi berkesan mewah," ungkap Rindi memuji.
Arman hanya tersenyum menampakkan gigi gingsulnya. Rania lagi-lagi terpaku dengan senyuman Arman.
"Heh, apa itu! Dia berterimakasih pada Arman. Tapi tidak berterimakasih padaku yang sudah memujinya cantik!" batin Arkan kesal. Karena ia merasa sejak tadi Rindi cuek padanya.
"Kalian berdua benar-benar cantik dan tampan. Pasangan serasi!" Mama Delina mengacungkan dua jempolnya ke arah anak dan calon mantunya.
"Makasih ya, Mam." Rindi lagi-lagi berterimakasih pada mamanya. Sedangkan Arkan memutar bola matanya malas.
Persiapan pernikahannya sudah 80% soal gedung dan lainnya sudah diatur oleh Mama Delina dan Rania. Tinggal menunggu hari H saja.
Suasana di butik tiba-tiba riuh dengan kedatangan Melisa dan mamanya. Kedua wanita itu berlenggak-lenggok mengitari isi butik.
"Jeng Anggi," sapa Mama Delina pada sahabatnya itu.
Menyadari raut wajah tak bersahabat dari temannya. Membuat Mama Delina kikuk. Ia sedikit merasa bersalah terhadap Melisa.
"Iya, Jeng Lina ... gimana kabarmu? Tentunya baik dong, ya? Apalagi dapat menantu kaya-raya, pastinya akan selalu terjamin. Iya, 'kan Jeng?" Bagai sindiran halus ibunya Melisa menanggapi sapaan sahabatnya itu.
Mama Delina tersenyum manis kemudian menggeleng. "Aku bahkan tidak tau jika Nak Rindi juga memilikki butik ini, yang aku tau hanyalah restorannya."
"Masa sih, Jeng! Tapi nih ya, Jeng! Percuma punya banyak harta kalau gak bisa kasih keturunan apa gunanya dijadikan istri."
Arkan yang baru keluar dari ruang ganti seketika menggeram marah. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memerah. begitu juga dengan Rindi yang nampak shock sembari memegang dadanya menahan sesak yang teramat sangat.
Jika membahas keturunan Rindi menjadi sangat sensitif. Arkan mendekatinya, kemudian merangkulnya dengan erat seolah menunjukkan pada Melisa dan Ibunya bahwa Rindi sangat pantas menjadi istrinya.
Seburuk apapun omongan orang namun takkan goyah niat Arkan untuk menikah dengan Rindi.
"Jeng Anggi! Sebelumnya aku memang berpikiran seperti itu. Bahwa memiliki keturunan itu penting, tetapi putriku Rania menyadarkanku. 'Dia bertanya padaku. "Apakah kita menikah hanya untuk mendapatkan anak?" Tanpa sadar aku menggeleng padanya.
__ADS_1
"Lalu, putriku berucap kembali. Jika menikah hanya untuk mendapatkan anak kenapa tidak menyewa perempuan saja? Mam, seorang wanita bukanlah mesin pencetak anak. Bukan pula pembantu untuk suami serta Mertua. Menikah bukan meluluh tentang anak. Tetapi tentang komitmen yang kita buat bersama untuk menuju masa depan yang sakinah. Dan soal anak itu adalah anugerah dari Tuhan. Di kasih Alhamdulillah gak di kasih ya, gak apa-apa. toh pada akhirnya anak juga akan memilih pasangan hidupnya dan tinggalkan kita bersama pasangan kita." ucap Mama Delina panjang lebar menjabarkan kembali omongan putrinya yang telah membuka mata hatinya.
Melisa yang mendengarnya tersenyum sinis. Menatap Rania dengan tatapan mencemooh begitu pula dengan ibunya. Keduanya bagaikan menelan bara api yang teramat sangat panas, bahkan mampu membakar seluruh jiwa dan raganya.
"Tapi, Jeng Lina, bukan berarti kamu mencampakkan putriku 'kan? Sedari awal kamu yang memohon padanya untuk mendekati putramu sehingga timbul perasaan cinta di hatinya. Setelah itu kamu menyuruhnya untuk melupakan putramu dan meminang perempuan lain untuk dijadikan menantumu. Tanpa sadar kamu telah mematahkan hati putriku!" ujar Ibunya Melisa berapi-api. "Dan persahabatan kita cukup sampai di sini! Aku tidak akan pernah melupakan ini! Ingat itu!" lanjutnya lagi.
Setelah puas mengomeli ia kemudian mengajak putrinya keluar dari butik sambil menghentakkan kakinya kebawah.
Mama Delina hanya bisa pasrah. Ia beralih menatap Rindi. Mengelus pipi calon menantunya dengan lembut sembari berkata. "Jangan dengarkan mereka."
Rindi menganggukkan kepalanya. Kemudian tersenyum manis.
Sedangkan Arkan. Pria itu menahan amarah rasanya ia ingin merobek mulut ibunya Melisa yang sudah merusak momen kebahagiaan mereka.
"Sudah! Sudah! Lupakan Nenek rombeng yang tadi. Sekarang waktunya kita makan aku sudah lapar," ucap Rania sambil memegang perutnya yang terus berbunyi sedari tadi.
"Ayo! Kalau begitu kita langsung ke restoran aja," sahut Rindi antusias.
"Emm ... kali ini kita makannya di tempat lain aja, ya? Gak usah di restoranmu." Mama Delina memberi usul.
Rindi mengernyitkan dahinya. "Loh, kenapa? Mama gak suka, ya. Menu di restoranku," tanya Rindi.
"Bukan gitu, Nak. Mama cuma gak mau di anggap memanfaatkan kamu," jawab Mama Delina jujur.
Rindi tersenyum. "Mama ngomong apa, sih! Aku sama sekali gak merasa di manfaatkan atau direpotkan Justru aku tuh senang karena sekarang aku punya keluarga yang lengkap," ungkap Rindi dengan senyum mengembang.
Seketika Arkan menarik Rindi ke dalam pelukannya. Memeluknya erat seraya berbisik. "I love you, sayang ... aku udah gak sabar nikah sama kamu. Dan merasakan indahnya malam pertama."
Rindi melototkan matanya menahan malu. Tak habis pikir di depan banyak orang. Arkan membisikkan sesuatu yang memalukan.
"Ihh! Kalau mau pelukkan liat tempat, dong. Jangan di depan aku yang lagi jomblo!" protes Rania yang iri.
Sontak semuanya tertawa termasuk Arman yang pikirannya dipenuhi dengan Lisa, Lisa, dan Lisa. Bahkan ia tak bisa tidur hanya membayangkan Lisa.
Bersambung!!
Happy Reading Gaeesss!
😇😇😇
__ADS_1