
Lisa menghela nafas panjang demi menstabilkan degup di jantungnya yang kian berdebar, semburat merah di pipinya kian merona sesekali ia melirik kearah Arman. Pria itu membuang pandangan kearah lain kemudian tersenyum. "Wanita ini seperti magnet dan aku seolah terhipnotis oleh wajahnya yang kian menggemaskan itu," batin Arman sambil sesekali melirik ke arah Lisa.
keduanya saling lirikkan tapi tak ada yang mau membuka suara lebih dulu sama-sama canggungnya. Rindi yang mengintip dari belakang terus saja gregetan karena Arman tak kunjung membuka suara untuk menggoda Lisa.
"Dasar Arman! kenapa malah diam saja, aku sudah berbaik hati untuk memberimu waktu bersama Lisa seharusnya kau gunakan waktu itu sebaik mungkin untuk mengungkapkan isi hatimu kepada Lisa, bukan diam saja!" gerutu Rindi di dalam hati karena merasa gemas melihat tingkah Arman yang sok cool.
Arman menggaruk tengkuknya yang tak gatal kemudian menunduk. setelah itu, kembali melirik Lisa dengan lirikkan maut.
"Duh, kenapa pria ini mesyum sekali! Lihatlah caranya menatapku benar-benar tidak sopan!" gerutu Lisa yang hanya berani di dalam hatinya saja.
"Tuan, silakan diminum kopinya keburu dingin," seru Lisa sebab kopi yang ia suguhkan sama sekali belum di sentuh oleh Arman.
"Eh, iya, terima kasih," sahut Arman gelagapan. Sebenarnya Arman tak menyukai kopi tapi karena Lisa yang menyuguhkan maka Arman akan meminumnya hingga tandas.
Lisa tersenyum datar, Arman kemudian meneguk kopinya tetapi rasanya begitu pahit sepertinya Lisa sengaja mengerjainya. Arman membulatkan matanya. "Eh, busyet! Kopi apaan pahit amat!" batin Arman sembari menelan salivanya.
Lisa lagi-lagi tersenyum. "Rasakan! Emang enak minum kopi pahit." Lisa membatin. sekaligus tersenyum jahat.
"Ekhemm! Emmm ... bisakah kau ambilkan aku sedikit gula? Kopi ini rasanya pahit sekali aku tak bisa menelannya," ujar Arman penuh dengan kehati-hatian takut menyinggung Lisa.
Pada dasarnya Arman memang tak suka kopi, mau kopi jenis apapun itu pria itu takkan mau untuk meminumnya sekarang ini demi gengsinya di hadapan Lisa. Arman terpaksa meminumnya.
"Pahitnya kopi itu tak sepahit kehidupanku," jawab Lisa datar. Setelah itu ia bangkit ke dapur mengambil sedikit gula untuk Arman.
Arman mengernyitkan dahinya bingung. "Ada apa dengan kehidupannya," gumamnya. Ada rasa ingin tau mengenai kehidupan pribadi wanita itu tetapi ia tak berani untuk bertanya.
"Ini gulanya. Maaf, jika kopinya terlalau pahit." Lisa menaro gulanya di meja kemudian duduk kembali, ada rasa sesal karena telah mengerjai Arman.
"Terima kasih. Tetapi, bisakah kamu menyeduhkannya untukku?"
Yang di namakan dikasih hati malah minta jantung. Setelah meminta gula Arman kembali meminta Lisa untuk menyeduhkan kopi untuknya. Hemm!
"Baik." Tanpa banyak kata Lisa memasukkan sedikit gula ke dalam kopi kemudian mengaduknya hingga larut.
Rindi terus saja memperhatikan kedua insan yang sama-sama sedang jatuh cinta sesekali ia memutar bola mata malas menurutnya sikap keduanya terlalu datar.
__ADS_1
Arman kembali meneguk kopinya kali ini rasanya lebih baik. "Manis." Satu kata keluar dari mulutnya. "Orangnya yang manis," lanjutnya lagi setelah ia menjeda ucapanya beberapa detik membuat Lisa tersenyum sipu.
"Tuan ...."
"Jangan memanggilku Tuan," potong Arman cepat karena Merasa risih Lisa terus memanggilnya Tuan. "Aku bukan Tuanmu."
Lisa mengangguk sopan kemudian tersenyum. Arman Kembali menatap Lisa tapi, kali ini tatapannya lebih intens pria bergigi gingsul itu hanya ingin memastikan apakah debar di jantungnya karena sebuah penyakit medis ataukah karena ada evek lainnya? Semisalnya evek sedang jatuh cinta gitu, eh!
"A-apa yang Anda lakukan?" tanya Lisa gugup.
Arman tersenyum kemudian ia meletakkan kartu namanya di meja. "Hubungi aku jika kau ada waktu." Setelah mengatakkan itu pria bergigi gingsul itu pergi meninggalkan Lisa yang masih terpaku menatap kartu nama di meja.
Rindi menggeleng heran sebab Arman datang untuk bertemu dengannya tetapi kenapa malah pergi begitu saja. Setelah obrolannya bersama Lisa berakhir seharusnya Arman kembali menemui Rindi untuk membahas masalah perusahaan. Tetapi, pria itu malah nyelonong pergi begitu saja dan lupa dengan tujuan awalnya.
"Ckck! Arman benar-benar kelewatan!" Rindi terus saja mengomel.
...***...
Hari beranjak sore, Rindi kembali ke kamar dengan perasaan tak menentu. Ia kembali menatap gamis pemberian Arkan. Senyum terukir di bibirnya, jika sebelumnya ia berpikir bahwa Tuhan tidaklah adil kepadanya karena terus memberinya ujian yang begitu dahsyatnya ke dalam kehidupannya yang membuatnya ingin menyerah dalam seketika. Tetapi kini pikiran buruk terhadap Tuhan telah ia tepis jauh-jauh. Dan berganti dengan rasa keharuan dan penuh syukur.
Meski begitu Rindi tetaplah khawatir bayang-bayang ibunya Arkan yang belum bisa menerimanya terus hadir dalam benaknya. Banyak hal yang harus ia lakukan termasuk memperjuangkan cintanya dan meminta restu ibunya Arkan.
"Halo ... Assalamu'alaikum." Terdengar suara dibalik telepon.
"Iya, waalaikum'salam."
"Rindi, bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja, kan? Aku sangat khawatir setelah tau kau diculik. Maaf, aku baru sempat menghubungimu sekarang."
Rindi tersenyum senang akhirnya setelah sekian lama Gibran kembali mengabarinya. "Aku baik-baik saja Mas. Bagaimana kabarmu dengan Arumi?"
"Aku juga baik. Arumi dia ... emm, sudah dulu ya, aku sedang sibuk. Nanti diwaktu senggang aku akan kembali menghubungimu jaga dirimu baik-baik. Assalamu'alaikum." Gibran memutuskan teleponnya secara sepihak. Meski heran pada sahabatnya itu. Tetapi, Rindi tak bisa memprotes. "Mungkin saja Mas Gibran benar-benar sibuk," batinnya.
Waktu terus berlalu. Rindi yang tengah sibuk mempersiapkan dirinya untuk berkencan dengan Arkan. Ya, Sebut saja kencan, karena Arkan tak menjelaskan kemana ia akan membawa Rindi. Dibantu dengan Lisa yang merias dirinya. Ia benar-benar cantik. Hijab yang membalut kepalanya menambah kadar kecantikannya.
"Lisa ... emm, menurutmu penampilanku bagaimana? Apa aku cocok menggunakan hijab?" tanya Rindi yang semakin gugup sebab Arkan sebentar lagi akan tiba untuk menjemputnya.
__ADS_1
Bahkan debar di jantungnya kian menggebu seolah sedang berolahraga di dalam sana.
"Sangat cocok! Ibu benar-benar cantik malam ini. Aku yakin seribu yakin! Pak kulkas yang arogan itu pasti akan terpesona oleh kecantikan Ibu bos!" sahut Lisa sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Kau ini!" Rindi menepuk pelan lengan Lisa. Sedangkan Lisa hanya cengengesan.
Tak lama terdengar suara deru mobil di iringi dengan suara klakson. Sontak kedua wanita yang sedang bercanda ria di dalam kamar terlihat saling melempar pandangan. Mereka dapat menebak bahwa itu Arkan.
Lisa menaik-turunkan alisnya menggoda bosnya yang terlihat semakin gugup.
"Menyebalkan!" Rindi menatap Lisa dengan raut wajah kesal.
Sedang yang ditatap hanya tersenyum jahil. Tak lama terdengar pintu diketuk dari luar.
Tok! Tok! Tok!
"Iya sebentar!" sahut Lisa dari dalam sambil berjalan mendekati pintu dan membukanya perlahan.
Nampak Arkan yang sudah berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantong celananya. Seketika mata Lisa membola. "Sungguh dia benar-benar tampan," batinnya.
Arkan menyembulkan kepalanya mendongak ke dalam mencari sosok pujaanya. Matanya langsung bersiborok dengan wanitanya. Keduanya saling memandang dengan perasaan, yang ... ah, entahlah!
Bagai terhipnotis Rindi terus memandang Arkan tanpa kedip. Malam ini Arkan tak kalah tampannya, tuxedo yang ia kenakan senada dengan gamis yang dipakai Rindi. Benar-benar pasangan yang serasi.
Rindi tersadar setelah mendengar deheman Lisa. Buru-buru ia memalingkan wajahnya kearah lain. Saat ini ia sangat gugup tidak hanya gugup tetapi juga minder. Ia merasa dirinya yang seorang janda dan juga mantan nerapidana sangat tidak pantas bersanding dengan seorang inspektur Arkan yang tampan dan rupawan.
"Kenapa diam saja? Ayo kemari." Arkan mengulurkan tangannya agar Rindi menghampirinya.
"I-iya ...." Rindi terperangah kemudian bangkit menerima uluran tangan Arkan.
Arkan tersenyum smirk. "Sungguh, kau sangat cantik malam ini," puji Arkan jujur.
Rindi tersenyum malu-malu. Pipinya terasa menghangat. Sekejap, rasa kurang percaya dirinya yang tadi sempat bersarang dalam benaknya kini tiba-tiba lenyap begitu saja. Tergantikan dengan rasa bahagia yang teramat sangat.
Bersambung!
__ADS_1
Happy Reading ya gaess!🤗🤗🤗
Semoga kalian gak bosan dengan ceritanya.