
Keduanya sama-sama terkejut Rifan menelisik pada sosok yang tengah berdiri di hadapannya, bibir tipis yang di polesi sedikit lipstick berwarna nude menambah kadar kecantikannya. Rifan seakan tak percaya bahwa Rindi lah yang berdiri di depannya sangat anggun, penampilannya jauh berbeda dengan Rindi yang dulu.
"Apa aku tak salah lihat? ini benar kau Rindi?" ujar Rifan seolah tak percaya.
Rindi hanya tersenyum sinis luka lama kembali menganga dengan lebar, meski sudah bertahun-tahun namun luka itu masih ada membekas selamanya dalam kalbu.
"Ya ini aku, apa kau terkejut melihatku? sejujurnya aku juga terkejut melihatmu di sini. aku tidak menyangka bahwa kau lah pemilik butik ini, tadinya aku berniat untuk mengirimmu hadiah, kado pernikahanmu bersama Mirna maksudku, tapi... sepertinya kau tak butuh hadiah dariku ya?"
Rifan menggeleng ia tak tau harus bicara apa, lidahnya seperti keluh di satu sisi ia bahagia Rindi telah bebas namun di sisi lain ia khawatir Rindi membencinya.
"Kenapa kau diam saja, ngomong-ngomong selamat atas pernikahanmu dengan Mirna, kalian sangat cocok pasangan yang serasi sama-sama pengkhianat!"
"Jangan salah paham pernikahanku dengan Mirna hanyalah di atas kertas, aku terpaksa menikahinya karena permintaan ibu.
"Permintaan ibu?"
"Ya ibu mengidap penyakit berbahaya tumor ganas, itu yang membuatku tak bisa membantah perkataannya.
Rindi tersenyum miring ia tentu tau seperti apa mantan mertuanya ia tak akan mudah terkecoh dengannya. kalau begitu bawa aku bertemu dengannya aku ingin bertemu dengan mantan mertuaku tersayang." ujar Rindi dengan seulas senyuman yang terpatri di bibirnya dalam hatinya telah merencanakan sesuatu.
"Apa kau serius?" tanya Rifan antusias matanya terlihat berbinar-binar.
"Ya aku serius."
Dari kejauhan Arman bersama penjaga butik terus menatap ke arah bosnya, mereka seolah tak percaya bahwa bosnya kini bisa tersenyum lepas di hadapan seorang perempuan hatinya bertanya-tanya siapa kah perempuan itu yang bisa bikin bosnya tersenyum riang."
"Wah, aku mencium bau-bau kebahagian ini, sepertinya gaji kita akan di naikan." celetuk Arman tanpa sadar yang kemudian di plototi oleh penjaga butik.
...***...
Rifan mengajak Rindi masuk ke dalam rumahnya dan meminta pelayan untuk menyuguhkan minuman kesukaan Rindi. meski ada banyak pertanyaan dalam benaknya seperti bagaimana Rindi bisa bebas dalam penjara, lalu di mana tempat tinggalnya sekarang, dan bukan kah Rindi sebatang kara? namun pertanyaan itu hanya bisa ia pendam dalam hati sebab ia tak ingin Rindi merasa Risih dengannya.
"Di mana ibu?" tanya Rindi pada Rifan bola matanya bergerak menyusuri ruangan megah."
"Ibu ada di kamar, ayo ikut aku."
__ADS_1
Setelah mengetuk pintu kamar beberapa kali pintu akhirnya terbuka, Ibu terlihat sangat pucat ia tentu shock melihat kehadiran Rindi. wanita tua itu memegang dadanya yang tiba-tiba sakit ia kembali mengingat kejadian beberapa tahun silam, sepertinya masih menyisahkan trauma untuknya. ia menggeleng matanya menatap putranya meminta penjelasan.
"Lama tidak bertemu, gimana kabarmu Bu?" sapa Rindi dengan senyum yang merekah namun penuh misteri.
"A-aku ba.... ah, kepalaku pusing." mendadak kepalanya menjadi pusing membuat Rifan panik ia segera memapah tubuh ibunya kemudian membaringkannya di tempat tidur, tanpa curiga Rifan keluar kamar meninggalkan Rindi bersama ibunya ia lantas mengambil air minum.
Ibunya menggeleng seolah meminta Rifan jangan meninggalkannya ia takut Rindi akan mencelakainya.
"Tenanglah Bu, aku tidak akan melukaimu." ujar Rindi sembari tersenyum tetapi tangannya menekan pada persendian kaki mantan mertuanya, membuat wanita itu meringis kesakitan. secara bersamaan Rifan kembali masuk kedalam kamar membawa air minum, Rindi yang kaget langsung mengubah posisi tangannya menjadi pijatan lembut.
Rifan yang melihat itu tentu saja tersenyum senang dirinya pikir Rindi sudah memaafkannya dan juga ibunya.
"Mas, sepertinya kau harus membawa ibu ke rumah sakit bagaimanapun ibu harus mendapatkan penanganan terbaik dari dokter." ujar Rindi sengaja, ekor matanya melirik pada wanita tua yang tengah berbaring ia melotot mendengar penuturan Rindi.
"Ini baru permulaan wanita tua, aku akan memberimu kejutan jantung secara perlahan untukmu." batin Rindi.
Berbeda dengan ibunya Rifan justru tersenyum senang, ia pikir Rindi tulus memberi perhatian pada ibunya ia kemudian menyetujui permintaan Rindi dan akan mengatur jadwal untuk membawa ibunya ke rumah sakit.
"Ti-tidak Rifan ibu tidak mau ke rumah sakit, kau tau sendiri kan ibu nggak bisa cium bau obat-obatan di rumah sakit, lebih baik ibu di sini saja." kilahnya dengan mimik muka yang menyedihkan.
"Iya tentu saja, Ibu nggak usah khawatir biar Rifan hubungi asisten Rifan minta dia Carikan dokter terbaik untuk ibu." tukas Rifan kemudian beranjak menghubungi Arman.
Sementara di tempat lain Mirna yang emosi terus saja merutuki dirinya sendiri yang tak pernah datang membesuk Rindi dipenjara, hingga Rindi bebas pun ia tak tahu-menahu. dirinya pikir saat ini Rindi masih dipenjara sehingga ia datang untuk meluapkan amarahnya pada sepupunya itu, namun di luar dugaan kini sepupunya itu telah bebas hal itu membuatnya marah sekaligus takut, Mirna takut jika Rindi kembali kepada Rifan. bagaimana pun ia takkan membiarkan Rifan jatuh ke pelukan Rindi.
Dengan perasaan yang tak menentu Mirna akhirnya memilih pulang tak sabar segera menceritakan pada ibu mertuanya mengenai kebebasan Rindi. setibanya di rumah ia langsung menuju kamar milik ibu mertua samar-samar ia mendengar suara perempuan dahinya mengernyit ingin tau siapa orang di dalam sana. dengan sangat pelan Mirna memutar gagang pintu kemudian mendorongnya hingga terbuka, semua mata menatap padanya. ia begitu shock menyadari perempuan itu adalah Rindi.
"Kau... kenapa bisa ada di sini hah!" bentaknya pada Rindi hal itu tentu membuat Rifan murka.
"Jaga sikapmu!" beo Rifan tak terima karena Mirna berani membentak Rindi dihadapannya.
"Dia yang seharusnya menjaga sikap bukan aku!" Mirna menunjuk Rindi, untuk apa dia datang ke sini sedangkan hubungan kalian sudah berakhir sejak lama.
"Aku yang membawanya kemari untuk bertemu dengan ibu, lalu salahnya di mana!"
"Ah... Rifan hentikan perut ibu sakit." ujar ibu melerai pertengkaran mereka. Rindi tersenyum dalam diam.
__ADS_1
"sedari tadi kau banyak dramanya wanita tua, teruskan ektingmu itu dan aku akan membuka kedokmu di depan anakmu sendiri." batin Rindi kesal.
Rindi tentu saja tak percaya wanita tua itu dari awal mengeluh sakit dada lalu pindah ke kepala kini beralih pada perut, sebentar apa lagi.
"Emmm... sepertinya kehadiran saya tidak berkenan di sini sebaiknya saya pergi." tukas Rindi kemudian beranjak ingin segera pergi.
"Tunggu! kau mau kemana? maksudku, tempat tinggalmu di mana? biar aku antar pulang" tawar Rifan suka rela.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri kau temani saja istrimu." ujar Rindi seolah ia sedang cemburu membuat Mirna semakin marah.
"Heh pulang-pulang saja! nggak usah banyak bicara!" beo Mirna kesal.
Rindi tersenyum puas melihat mukanya Mirna merah bagai kepiting rebus, ia kemudian memberikan nomor teleponnya pada Rifan dengan alasan ingin membeli butik. Rifan dengan senang hati menerimanya, butik itu akan ia serahkan untuk Rindi dengan gratis tanpa harus membeli.
Tak lama setelah kepergian Rindi, dokter yang di carikan Arman pun datang, Rifan lantas menyuruh Mirna membukakan pintu, ia memberitahu ibunya bahwa dokter sudah tiba dan akan memeriksa kondisinya. sang Ibu menjadi gelagapan, begitu juga dengan Mirna.
"Ibu tidak mau Rifan, ibu takut...."
"Kenapa harus takut Bu, Rifan pengen ibu sembuh."
"Mas, kalau Ibu tidak mau sebaiknya jangan dipaksa, biar besok ibu periksa sama aku seperti biasa di dokter spesialis langganan ibu." papar Mirna yang di anggukkan oleh ibunya.
"Dokter sudah di sini Bu, tidak mungkin aku mengusirnya kembali." ujar Rifan sedikit kesal kenapa ibunya seakan takut sekali bila diperiksa.
"Dokter, silahkan periksa ibu saya, saya ingin tau mengenai penyakit ibu saya.
"Baik, tapi sebelumnya saya ingin bertanya ibu ada keluhan apa? dan hasil dari rumah sakit yang ibu periksa boleh saya lihat?"
"Sa-saya...."
"Ibu saya mengidap tumor ganas Dok." Rifan memotong ucapan ibunya yang kian gugup.
Mirna menelan salivanya susah payah raut wajahnya tak kalah panik, Rifan memicingkan mata ia heran dengan tingkah keduanya.
Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan dariku?
__ADS_1
...Happy Reading...