Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 38


__ADS_3

Rezeki, jodoh dan maut semua hanya Allah yang tahu. Wallahu'alam. Kita manusia hanya bisa berencana tapi Allah-lah yang berkehendak. Sama halnya dengan Rindi siapa yang sangka jika ia akan berjodoh dengan seorang polisi yang pernah mengintrogasinya ketika ia menjadi seorang tersangka di belasan tahun yang lalu.


Tentu, semua atas ijin Allah. Ia pasrahkan takdirnya pada sang pencipta Karena dialah sang maha membolak-balikkan hati dan perasaan manusia. Seperti Mama Delina yang tadinya menentang keras hubungan keduanya, kini Allah permudahkan dengan melembutkan hatinya sehingga wanita tua itu dengan suka rela memberi restu pada anaknya untuk meminang wanita yang ia cintai.


Binar bahagia terpancar di wajah Rindi dan Arkan. Terutama Arkan sendiri perjuangannya selama bertahun-tahun tak sia-sia. Kini kesabarannya telah membuahkan hasil. Selangkah lagi ia dan Rindi akan menjadi raja dan ratu dalam sehari yang berdiri di atas pelaminan.


Ya, Akhirnya Arkan bisa bernapas lega dan bebas dari cibiran teman seletingnya yang kadang suka jahil memberinya julukan perjaka tua atau bujang lapuk. panggilan yang disematkan polis Jainul terhadap Arkan tentu membuat Arkan kesal.


Bagaimana tidak kesal. Tanpa seharipun yang terlewatkan untuk Polis Jainul tidak menggangu Arkan. Ia selalu mencari cara untuk membungkam mulut Arkan.


"Selamat Bro! Akhirnya usahamu mendekati wanita gak sia-sia. Aku berpikir kau akan benar-benar menjadi perjaka tua selamanya," ucap Polis Jainul kepada Arkan.


Mendengar ucapan selamat dari teman seletingnya membuatnya kesal. Arkan mendelik menatap temannya dengan tatapan intimidasi.


"He! Aku bukan tersangka jangan menatapku seperti itu," protes Polisi Jainul. Pria yang akrab disapa Inspektur Jain itu memang sedikit menyebalkan.


"Sekali lagi kau mengejekku! Maka aku akan mengadukan perbuatanmu kepada istrimu," ancam Arkan.


"Memangnya apa yang sudah kuperbuat?" Polis Jain mengerutkan dahinya.


Arkan tersenyum. Sepertinya akan menarik jika balik mengerjai temannya itu.


"Apa kau tak ingat dengan perempuan yang bernama Sofia. Haruskah ak...." Belum selesai Arkan berucap namun sih Jain sudah membekap mulutnya terlebih dahulu.


"Ba-baiklah ... aku tidak akan mengejekmu lagi. Dan jangan membahas tentang perempuan gila itu apa lagi di depan istriku." Pria berjakun itu sedikit memelankan suaranya. Ia menekan Arkan agar tidak memberi tahu tentang Sofia.


"Le--paskan! Kau membuatku kesulitan bernapas!" Arkan menjauhi tangan Jain dari mulutnya. "Oh! Jadi dia perempuan gila, ya!"


"Tentu saja perempuan gila. Mana ada perempuan baik-baik yang menawarkan dirinya pada seorang pria," kilahnya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


Arkan berdecak kesal. Ia tak habis pikir dengan temannya itu. Sudah punya istri tapi masih juga jelalatan. Bahkan mau-maunya menerima tawaran seorang gadis yang memintanya untuk dijadikan istri keduanya. Untung saja Arkan cepat datang dan mencegahnya kalau tidak mungkin polis Jain sudah menikah sirih lagi dengan perempuan yang bernama Sofia itu.


Arkan pergi meninggalkan Jain tanpa peduli ocehannya. Karena hari ini ia dan Rindi akan ke rumah sakit untuk melakukan tes kesehatan.


Beberapa menit berkendara akhirnya Arkan tiba di restoran. Nampak Rindi yang tengah terlibat pembicaraan dengan Arman. Mereka terlihat sangat serius bahkan tak menyadari kehadiran Arkan.


"Ehem!" dehemnya untuk menarik perhatian Rindi.


Namun Rindi dan Arman masih belum menyadari. Benar-benar membuatnya dongkol. "Ekheeeemmm!!" Kembali berdehem dengan suara yang nyaring.


"Eeh! Astaghfirullah!" Rindi terkejut sambil memegangi dada.


Arman pun tak kalah terkejut. Sebab Arkan tiba-tiba mengeraskan suaranya mengejutkan mereka.


"Apa yang kau lakukan!" Rindi menatapnya dengan tatapan sebal.


"Tentu saja mengajakmu untuk melakukan persiapan. Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?"


Rindi menepuk jidatnya. Ia lupa dengan pernikahannya yang tinggal menghitung hari.


"Arman ... nanti kita bahas lagi. Sekarang kau pulang lah." Rindi beralih menatap Arman.

__ADS_1


Arman hanya mengangguk. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari seseorang. Tiba-tiba matanya menangkap sosok Lisa yang sedang bercanda dengan pelanggan di restoran. Lisa terlihat akrap sesekali tersenyum dan menepuk lengan pelanggan itu.


Arman mengepalkan tangan. Entah alasan apa, yang jelas ia kesal melihat Lisa tersenyum dengan pria lain.


Rindi menatap jengah ke arah Arman. Kemudian membawa Arkan ke ruang pribadinya.


"Hari ini kita kemana lagi. Aku benar-benar sudah lelah," ucap Rindi seraya menyenderkan punggungnya di bahu Arkan.


Pasalnya menikah dengan seorang polisi tidaklah gampang. Mereka harus keluar masuk di beberapa kantor. Untuk memenuhi syarat-syarat perkawinan.


Salah satunya mengikuti sidang BP4R. Sidang nikah ini dari kepolrian agar mempersiapkan diri untuk menuju ke rumah tangga sakinah mawaddah warrahmah dan memberikan arahan serta petunjuk kepada calon mempelai agar mengerti tugas dan peran Polri jika sudah berumah tangga nantinya.


"Ke rumah sakit, sayang. Cek kesehatan dan juga tes urin," ujar Arkan.


Rindi terbelalak ia tak menyangka menikah dengan polisi banyak bangat persyaratannya.


"Kenapa harus cek urin segala, sih. Udah kayak mau tes kehamilan aja," celetukanya kesal.


Arkan tersenyum kemudian menjawil hidung Rindi dengan gemas.


"Sabar ya, sayang," ujar Arkan. Ia mengulas senyuman tipis.


...***...


Rindi menggamit lengan Arkan keduanya melewati koridor rumah sakit dengan senyum mengembang. Mereka akan melakukan tes kesehatan.


Setelah menunggu lama akhirnya kini nama mereka dipanggil. Dengan sopan perawat meminta mereka masuk ke dalam ruangan.


Seorang dokter duduk di kursi dengan senyum yang menawan. "Dokter Arga!" Rindi dan Arkan sedikit terkejut.


Rindi mengangguk kemudian duduk di ikuti oleh Arkan. Entah kenapa wajah Arkan tiba-tiba masam. Senyum yang tadinya mengembang kini terlihat datar.


Sebelum memeriksa tentu saja Dokter Arga mengajak Rindi mengobrol terlebih dahulu. Sedikit berbasa-basi dengan orang yang dikenal agar tidak canggung. Tidak masalah bukan? Tapi itu justru menjadi masalah buat Arkan. Entah sudah ke berapa kali ia menghembuskan napasnya kasar dan matanya menatap tajam Dokter Arga.


"Aku rasa sudah cukup obrolannya!" Tidak tahan, akhirnya Arkan melayangkan protes.


Rindi membulatkan mata tak percaya dengan tingkah Arkan. Dia benar-benar membuat Rindi tak enak hati pada Dokter Arga.


"Baiklah ... kalau begitu kita mulai dengan cek suhu tubuh terlebih dahulu dan juga tes tekanan darah," ujar Dokter Arga sopan.


Rindi mengangguk saja. Kemudian meminta Arkan untuk lebih dulu diperiksa.


Arkan melewati serangkaian pemeriksaan dengan hati dongkol saat tiba giliran Rindi. Dokter Arga pun memintanya untuk berbaring karena ia harus memeriksa denyut jantung sama halnya seperti Arkan tadi.


"Tidak! Aku ingin Dokternya diganti dengan Dokter perempuan." Arkan menarik Rindi tak ingin calon istrinya disentuh oleh pria lain meski itu dokter sekalipun.


"Apa maksudmu!" Dokter Arga terlihat kesal. Mata hazelnya menatap Arkan dengan tatapan tak percaya. Begitu juga dengan Rindi hanya bisa menepuk jidatnya sendiri.


"Aku ingin Dokternya diganti!" Arkan tetap pada pendiriannya. "Aku tidak mau calon istriku disentuh oleh sembarang pria meski itu Dokter sekalipun," lanjutnya lagi.


Dokter Arga melongo tak percaya sekian dekade ia menjadi dokter. Tetapi belum pernah nemu pasien yang posesif seperti Arkan. Benar-benar menyita waktunya.

__ADS_1


"Mas Arkan terlalu berlebihan. Dokter Arga hanya memeriksa, beliau tidak menggerayangi tubuhku," ujar Rindi mulai kesal.


"Itu benar! Aku ini dokter dan aku melakukan tugasku secara profesional. Tolong kerja samanya Pak Arkan yang terhormat! Ada banyak orang yang sedang mengantri di luar," ucap Dokter Arga menjelaskan.


Arkan menghela napasnya kasar. "Baiklah, kalau begitu lakukan tugasmu secara profesional!" Akhirnya ia mengalah dan membiarkan Rindi ditangani oleh dokter Arga.


Setelah selesai pemeriksaan dengan dokter Arga, kini Rindi pun harus melakukan tes urin. Dan itu akan dilakukan oleh dokter kandungan.


Arkan sedikit lega akhirnya ia bisa membawa Rindi keluar dari ruangan dokter Arga. Dan menemui dokter kandungan.


Berdua langsung disuruh masuk. Setibanya di dalam. Dokter kandungan itu mempersilakan Rindi untuk menampung urinnya terlebih dulu.


Entah kenapa dokter kandungan yang bernama Yasmin itu menjadi gemetaran. Pertama melihat Rindi ia sedikit terkejut dan juga gugup. Raut wajahnya seperti orang yang ketakutan.


"Dok, anda baik-baik saja?" tanya perawat yang menyadari perubahan pada Dokter Yasmin.


"I--iya, sa-saya ... Baik-baik saja," jawabnya gugup dan juga terbata.


Rindi keluar dari kamar mandi dengan membawa urin yang sudah ditampung ke dalam wadah.


"Ini." Ia menyerahkan urinnya pada perawat.


Kemudian Dokter Yasmin menyuruhnya untuk duduk. "Apa Anda tidak mengenal saya?" tanya Dokter Yasmin.


Rindi mengerutkan keningnya kemudian menggeleng. Ia sama sekali tidak mengenal siapa dokter yang kini berhadapan dengannya.


"Syukurlah." Dokter Yasmin menghela napas legah.


"Maksudnya? Apa Dokter mengenal saya?" tanya Rindi mulai penasaran.


"Eh! Tidak, sa-saya hanya salah orang," jawab Dokter Yasmin gelagapan.


"Oh, gitu?" Rindi mengangguk, tetapi ia sedikit heran melihat tatapan Dokter Yasmin yang begitu dalam kepadanya.


Setelah selesai Rindi dan Arkan akhirnya berpamitan pulang dan hasil pemeriksaannya akan di ambil nanti dua hari lagi. Atas permintaan dokter.


Dalam perjalanan Rindi hanya diam. Pertemuannya dengan Dokter Yasmin mengusik hati dan pikirannya. Ia terus mengingat-ingat sosok dokter yang tadi memeriksanya. Tetapi ingatannya seakan buntuh.


"Sayang ...." Arkan meraih jemari Rindi.


Tetapi langsung dilepas oleh Rindi. Pikirannya sedang menerawang jauh terarah pada Dokter Yasmin.


"Hmm ... jadi kau marah karena aku melarangmu disentuh oleh Dokter Arga."


Rindi tak menyahut. Lebih tepatnya tak mendengar karena ia fokus dengan pikirannya sendiri, bayangan Dokter Yasmin terus menari-nari dibenaknya.


Arkan mendelik kesal. Padahal ia ingin mengatakan kalau mereka harus ke butik untuk fitting baju pengantin. Di butik mama Delina dan Rania sudah menunggu sejak tadi.


"Ahh!" Tanpa sadar Rindi mende-sah kesal.


Arkan mengerutkan keningnya bingung.

__ADS_1


Bersambung!!


...Happy Reading gaeesss๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡...


__ADS_2