
Mobil Lamborghini yang ku kendarai hampir saja menabrak wanita tua yang hendak menyebrang, untungnya tangan ini dengan cepat membanting setir ke arah kiri.
"Aaaa....!" pekik wanita parubaya itu sambil menutup mata menggunakan telapak tangannya.
Demi mengurangi kepanikan aku menghela nafas panjang, kemudian menghembuskannya secara pelan, setidaknya wanita itu selamat.
"Keluar kamu!" bawa mobil ugal-ugalan di jalan, Untung aja, nggak nabrak orang!"
Duh... Gimanapun, aku harus tanggung jawab akibat emosi berlebihan sampai nggak lihat jalan. wanita itu benar, syukur aku cepat membanting setir ke arah kiri kalau nggak, bakal jadi penghuni jeruji besi lagi.
"Eh, keluar! malah bengong di dalam mobil."
"Iya Bu, ini mau keluar, kok." sahutku seraya membuka pintu mobil, menampakkan diri.
Setelah melihatku, wanita parubaya itu berkacak pinggang, melotot ke arahku.
"Sa-saya benar-benar minta maaf Bu, bawa mobilnya nggak lihat-lihat jalan. tapi Ibu nggak terluka, kan?" tanyaku sedikit khawatir.
"Saya nggak apa-apa, tapi tuh lihat belanjaan saya, jadi berserakan kemana-mana!"
"Maaf kan saya, Kalau begitu biar saya yang bereskan." ucapku sedikit memohon agar dia mau memaafkanku.
"Maaf, Maaf! heran deh sama anak jaman sekarang, bawa mobil nggak lihat-lihat jalan. kamu nggak tau ya anak saya polisi! aku bisa aja panggil anakku ke sini dan nyeret kamu ke kantor polisi.
Aku menghela nafas sembari memijat pelipis yang terasa berdenyut, kepalaku tiba-tiba pusing. mendengar nama polisi saja moodku menjadi buruk.
Di restoran...
Rina, wanita itu datang menyuguhkan ku minuman hangat. setelahnya bukannya kembali bekerja, tapi dia malah berdiri mematung di depanku. aku mengerutkan kening tanda bingung, Rina sepertinya ingin berbicara sesuatu tapi sungkan, entahlah ada apa dengannya? wanita yang namanya mirip dengan pelakor ini memang sedikit menyebalkan.
"Kenapa masih berdiri di sini?" tanyaku penasaran.
"Itu Bu, ada pengemis membawa anaknya 2, dia masih berbicara dengan Bu Lisa..
"Pengemis? tapi tumben ada pengemis yang masuk ke restoran?"
"Nah, itu dia Bu, katanya dia mau makan di sini." ujar Rina sembari menunjuk ke arah pengemis.
Aku mendekati mereka dengan dada bergemuruh, sesak di dada semakin menjadi rasanya seperti di himpit batu besar, tatkala melihat anak pertamanya seusia Abizar sedangkan adiknya masih di dalam gendongan ibunya. pakaian mereka compang-camping dan juga kotor, bau menyengat dari tubuh mereka menusuk ke dalam hidungku.
"Bu, anaknya Ibu ini pengen makan di sini, apa boleh...." Lisa menjeda ucapannya mungkin takut aku marah.
Aku mengangguk, secara bersamaan air mataku luruh begitu saja.
"Maaf Bu, kami ke sini di suruh sama pak polisi. katanya ada makan gratis sampai 3 kali tadinya saya menolak, tapi... anak saya rengek katanya pengen ngerasain makan di restoran mahal." ujar sih Ibu, ia menunduk dengan mata berkaca-kaca.
Pak polisi, katanya, itu berarti Arkan yang menyuruhnya ke sini, aku memberi kode pada Lisa, wanita itu mengerti ia segera berlalu ke dapur, setelah 20 menit menunggu pramusaji akhirnya datang membawa makanan, ada banyak makanan terhidang di atas meja termasuk makanan penutup puding dan juga buah.
__ADS_1
Wanita itu menggeleng, katanya terlalu banyak. ia minta cukup seporsi untuk anaknya saja, namun aku memaksanya untuk ikut memakannya juga tanpa harus sungkan.
Mereka makan dengan lahap seperti orang yang sedang kelaparan. lagi air mataku menganak sungai bagaimana jika dia anakku. Ya Allah... memikirkannya saja rasanya tak sanggup, sungguh malu di hadapan-mu Allah. kami hidup dalam berkecukupan, tetapi di luar sana masih banyak hamba-mu yang lain yang mana, untuk makan saja mereka susah payah mendapatkannya.
Dari jauh, ku lihat Arkan berdiri dengan tangan bersedekap di dada. pria itu terus menatap ke arah kami tanpa kedip, mimik mukanya terlihat serius aku memutuskan kontak mata dengannya kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Pak polisi baik!" seru sih anak yang sepertinya sudah kenyang. ia tersenyum girang ke arah Arkan, Lisa yang melihatnya juga ikut tersenyum.
Arkan akhirnya mendekat ke arah kami.
"Gimana, enak makananya?" ujar Arkan sembari menarik kursi di sampingku kemudian duduk tanpa ku minta.
"Enak Om Polisi, makanannya sangat enak! terima kasih banyak, kami sangat kenyang" jawabnya polos.
Tapi makanannya masih tersisa banyak di atas meja, aku akhirnya meminta Rina untuk membungkus semua biar mereka bisa bawa pulang.
Setelah mengucapkan banyak terima kasih, mereka pun pergi meninggalkan restoran dengan muka berseri-seri.
"Alhamdulillah ya Bu, nanti malam kita bisa makan lagi" celoteh sih anak riang namun terdengar pilu di hatiku. andai punya rumah yang luas aku bisa memboyong mereka tinggal bersamaku tapi sayang aku masih tinggal di restoran.
.
"Ehemm!" Arkan berdehem, kebiasaan dia selalu berdehem.
"Apa tenggorokanmu sakit?"
"Terus kenapa? jika di dekatku kamu selalu berdehem, terbatuk, bersin-bersin lah." ucapku kesal.
"Karena kamu adalah virus!"
"Apa!"
"Virus yang bisa membuatku mati dalam seketika, jika berjauahan denganmu. ujarnya santai.
Aku memelototnya dengan tajam. tumben, sih kulkas sepuluh pintu bicaranya banyak biasanya irit bicara.
"Dengar, aku ke sini dengan Ibuku, tapi dia masih berbelanja jadi tolong buku menunya mana?"
"Humm... kalau begitu tunggu sebentar, biar aku panggilkan pelayan." ujarku seramah mungkin.
Arkan tak menyahut lagi, dia sibuk dengan ponselnya, setelah memastikan pelayan datang dan mencatat menu-menu pesanan Arkan, aku pun memilih kembali ke dapur. beberapa menit kemudian Arkan memanggilku katanya dia ingin mengenalkan ku pada ibunya. eh tunggu! apa maksudnya mengenalkan ku pada ibunya.
"Maaf, tapi... kenapa mau mengenalkan ku pada ibumu?" ku beranikan diri untuk bertanya.
"Karena ibuku ingin sekali bertemu denganmu, aku telah bercerita banyak tentangmu, aku ... Aku mencintaimu, maaf." ujarnya sambil menunduk.
Deg! perasaan macam apa ini? kenapa aku seolah senang mendengarnya, tidak, ini tidak boleh terjadi, jika Arkan mengetahui jika aku tak bisa hamil lagi maka dia pasti kecewa.
__ADS_1
Aku rasa sekarang waktu yang tepat, untuk jujur mengenai Rahimku, aku ingin dia menjauhiku.
"Mas Arkan, ada yang ingin aku bicarakan.
"Hmmm...."
"Sebaiknya kamu cari perempuan lain, perempuan yang baik, tidak mantan nerapi dana sepertiku."
"terus?"
"Aku juga seorang pembunuh!"
"Lalu?"
"Gelar kita berbeda!"
"Oh..."
"Aku juga seorang janda!"
"Itu bagus."
Astaghfirullah! kesabaranku setipis tissue, tapi kenapa pria ini terus menguji kesabaranku. jika benar menikah dengannya bisa-bisa turun imun dan imanku secara bersamaan.
"Apa bibirmu lagi sariawan? sehingga untuk bicara saja, kamu kesulitan." ujarku benar-benar kesal.
"Apa aku keliahatan seperti orang yang tidak sehat?" dia melayangkan protes ke arahku.
"Terus kenapa? bicaramu sangat irit!"
"Karena, aku tidak memandang masa lalu maupun fisikm.
"Aku nggak bisa punya keturunan lagi, Rahimku sudah di angkat." ujarku dengan mata berkaca-kaca, serpihan luka yang ditinggalkan Mas Rifan begitu dalam.
"Aku sudah tau."
"Apa! bagaimana bisa?" sungguh terkejut gimana Arkan bisa tau? tentang rahimku yang tak lagi berfungsi.
"Sudahlah, lupakan! aku tetap mau menerimamu apa adanya.
Aku mendongak, menatap matanya mencari kebohongan di dalam sana, tapi aku tak menemukannya. dia terus memandangku dengan serius membuat dada ini jadi bergetar. salah tingkah aku membuang muka ke arah lain, tapi tak sengaja melihat ibu-ibu di sana dia berjalan ke arahku bersama Arkan.
Ibu itu, sepertinya aku...."
Hai, mam?" sapa Arkan sembari tersenyum ramah.
Matilah aku!
__ADS_1
Bersambung?