Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 23


__ADS_3

Malam kian larut tetapi Rifan belum juga sadar, Nyonya Sukma bahkan berulang kali pingsan, setelah sadar ia pingsan lagi dan ini udah kali ketiganya wanita parubaya itu kehilangan kesadarannya.


Arman tentu saja kerepotan mengurusnya. ia meminta sopir pribadi Nyonya Sukma untuk menjemput membawanya pulang ke rumah.


Di Restoran...


Rindi yang sedang duduk di ruang kerja miliknya di temani Lisa dan juga Arkan. Lisa membaca surat dari peneror lantas memucat dalam seketika, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling raut ketakutan terpancar jelas di wajahnya, Arkan memicingkan mata menatap Lisa.


Rindi yang menyadari akan perubahan pada Lisa langsung mengernyitkan dahinya bingung.


"Kamu kenapa, Lis? kok kaya ketakutan gitu?" tanya Rindi heran."


"Eh, nggak apa-apa kok, Bu? saya hanya kaget membaca suratnya." jawab Lisa sembari tersenyum kikuk."


"Siapa sebenarnya wanita ini? dia kawan atau lawan? hemm... aku harus mencari tau tentangnya." batin Arkan yang mencurigai Lisa pelakunya.


"Kamu yakin? nggak lihat siapa orang yang menaro surat itu di depan kamarku." tanya Rindi lagi, berharap Lisa mengetahui sesuatu."


"Enggak Bu, Periksa CCTVnya aja langsung." jawab Lisa."


Arkan mulai mengecek CCTV yang tersambung dengan laptopnya Rindi, sesuai pada tanggal di malam Rindi menemukan suratnya. tetapi hasilnya nihil. semuanya sudah di hapus rekaman di malam itu sudah nggak ada. Rindi membulatkan mata tak percaya begitu juga dengan Lisa wanita itu tak kalah terkejutnya.


"Pelakunya benar-benar sudah merencanakan ini dengan sempurna, berarti ia bukan orang luar melainkan orang dalam yaitu pekerjamu sendiri." papar Arkan sembari melirik ke arah Lisa."


"Ma-maafkan aku, tapi, aku benar-benar tidak tahu." ujar Lisa gugup karena Akan meliriknya dengan tajam."


Rindi berusaha untuk tenang, ia tak ingin menuduh siapapun sebelum ada bukti yang valid.


"Jangan khawatir aku di sini bersamamu, aku. akan berusaha mencari siapa penerornya." ujar Arkan dengan lembut sembari menatap Rindi.


Rindi mengangguk tanda mengerti. "Lis... kamu jadi tidur sama aku kan, malam ini?"


"Iya Bu, tapi... apa nggak sebaiknya kita tidur di kos saya aja, Bu? biar lebih aman."


"Kenapa harus di kos kamu? di sini juga aman, kok." sahut Rindi kemudian di angguki oleh Arkan.

__ADS_1


"Sebenarnya saya takut hantu," ujar Lisa sambil menunduk menyembunyikan rasa malunya di depan Arkan. "gimana kalau pereror itu benaran hantu? terus dia mau balas dendam sama Ibu."


Seketika Rindi dan Arkan saling berpandangan dan menahan ketawa, melihat ekspresi Lisa dan ucapannya yang terasa polos, membuat mereka tergelitik ingin tertawa.


Lisa yang malu hanya bisa menyembunyikan wajahnya, "ya lagian hari gini kok masih percaya sama hantu. percaya, sih percaya, tapi pakai logika dong, masa iya, hantu nerornya pakai surat." gumam Arkan dalam hati, takut menyinggung Lisa.


...***...


Mirna duduk dengan angkuh, ditemani segelas anggur, ia menenggak anggurnya sedikit demi sedikit demi mengurangi rasa sakit hatinya tatkala Rifan dengan terus terang menolak dirinya. harga dirinya terasa di injak-injak. rasa bencinya kian menjadi ketika Rifan lebih memilih Rindi dibanding dirinya.


Wajah Mirna memerah menahan amarah, dari kecil Rindi selalu berada di depan satu langkah darinya dan di bangga-banggakan oleh keluarganya, sekeras apapun Mirna berusaha untuk menghancurkan sepupunya itu, akan tetapi pada akhirnya Mirna sendiri yang hancur, rasa iri kepada Rindi membuatnya menjadi sosok yang gelap. di depan Rindi, ia menjelma bak malaikat tapi kemudian menusuk dari belakang.


"Bagaimana, informasi apa yang kau bawa kali ini?" tanya Mirna pada orang suruhannya.


"Kamu akan terkejut mendengarnya." balas orang itu dengan senyum misteriusnya.


Mirna memicingkan mata kemudian balas tersenyum seringai menatap lelaki di depannya, Mirna menuangkan anggur ke dalam gelas kemudian menyodorkan pada lelaki itu.


"Cepat katakan! aku sudah nggak sabar mendengar berita bahagia darimu." desak Mirna dengan alis naik turun.


Lelaki itu kemudian menyerahkan ponselnya kepada Mirna. di dalam ponsel tersebut terdapat foto-foto Rifan yang sedang terbaring lemah dikamar rumah sakit, ia juga menceritakan tentang penyakit yang di derita Rifan dan usianya yang tidak akan bertahan lama lagi. Mirna begitu terkejut matanya membulat dengan mulut yang terbuka, sesaat kemudian keterkejutannya berubah menjadi tawa yang membahana. dua orang dalam ruangan sunyi itu merayakan penderitaan Rifan mereka tertawa terbahak-bahak seolah-olah telah tertutup hati nuraninya.


"Hahaha....! kau benar! dia memang pantas mati bajingan sepertinya emang harus mati!"


"Kalau begitu, besok siapkan bunga yang indah dan harum kita akan menjenguknya di rumah sakit dan mengucapkan selamat tinggal untuk laki-laki bodoh sepertinya!" ujar Mirna sembari tersenyum bahagia.


Benar saja, keesokannya harinya Mirna datang ke rumah sakit menjenguk Rifan, tak lupa buket bunga ditangan yang sudah ia siapkan khusus untuk suaminya. Arman yang melihat kedatangan Mirna kemudian langsung menghadang agar Mirna tak boleh masuk, Mirna mendelikkan matanya tak suka ke arah Arman.


"Maaf, Bu Mirna, sebaiknya Anda pergi dari sini! karena Bos belum sadar sejak semalam." tutur Arman agar Mirna tak membuat keributan di rumah sakit."


"He, kamu lupa! aku ini Siapa, jadi kamu harus hormat padaku, dan biarkan aku masuk ke dalam lagi pula, kamu nggak punya hak untuk ngusir aku, ingat ya! kamu itu cuma asisten jadi nggak usah belagu!"


"Saya memang hanya asisten, tetapi Bos mempercayakan saya! dan saya nggak mau Bos kecewa terhadap saya!"


"Dasar kurang ajar kamu! berani kamu melawan saya!" Mirna meninggikan suaranya kemudian mengangkat tangannya hendak menampar Arman tetapi dicegah oleh Ibu Sukma."

__ADS_1


"Cukup Mirna!" sergah Ibu sukma dengan suara yang tak kalah nyaring."


Mirna lantas menoleh ke sumber suara yang meneriakinya dan seketika ia terkejut, mendapati mantan mertuanya dan juga Rindi yang berdiri di sebelahnya.


"Wow... terkejut! apa aku nggak salah lihat? mertuaku sayang bersama mantan menantunya, ups! lebih tepatnya mantan nerapidana! hahahaha."


Beberapa jam yang lalu.


......Flash back on......


Rindi dikejutkan dengan kedatangan Ibunya Rifan, tentu saja panik karena Rindi mengira kedatangan Ibu Sukma bakal membuat keributan di restorannya. ternyata dugaannya salah, Ibu Sukma datang untuk meminta maaf secara langsung, wanita tua itu manangis sejadi-jadinya di hadapan Rindi.


"Bu, maaf Bu, tolong ceritakan, ini ada apa, ya?" tanya Rindi bingung."


Ibu Sukma pun mulai menceritakan tentang keadaan Rifan dan meminta maaf atas perbuatannya dulu terhadap Rindi. ia juga meminta Rindi untuk ikut dengannya menjenguk Rifan.


"Apa! Mas Rifan, sakit kangker? ta-tapi dia terlihat baik-baik saja, tidak seperti orang yang sedang sakit.


"Iya, itu karena Rifan menyembunyikan penyakitnya, dia tak ingin ada orang yang tahu mengenai penyakitnya, Ibu mohon Rin... tolong maafkan Rifan dan juga Ibu. Ibu mengaku bersalah sama kamu, kini Tuhan telah menghukum Ibu. hiks... hikss..." Ujar Ibu Sukma dengan deraian air matanya."


"Bu, tenang Bu, jangan menangis. Rindi udah maafin Mas Rifan dan juga Ibu. awalnya niat Rindi keluar dari penjara untuk balas dendam kembali, tapi setelah Rindi pikir-pikir untuk apa balas dendam? bagaimanapun Ibu dan Mas Rifan adalah nenek dan juga ayah dari anak ku, Rindi nggak mau Abizar sedih Bu."


Ibu Sukma mendongak menatap Rindi ada penyesalan di matanya. pada akhirnya penyesalan selalu datang dengan terlambat. itulah yang di alami Ibu Sukma, ia menyesal telah menyia-nyiakan Rindi.


......Flash back off......


"Jangan panggil saya mertua, karena kamu bukan lagi menantu saya!" beo Ibu Sukma dengan suara yang meninggi.


"Hahahaha... wanita tua! lihat putramu didalam sana! sebentar lagi akan mati! dan kamu bakal sendiri, menikmati hari tuamu sebatang kara!"


Ibu Sukma mendekat ke arah Mirna berjalan dengan pongah kemudian. "Plak...! sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Mirna. Rindi yang melihatnya langsung terkejut, begitu juga dengan Arman.


"Kurang ajar kau wanita tua! akan ku bunuh kau!" teriak Mirna tak terima karena ditampar.


Mirna hendak maju untuk menyerang Ibu Sukma tapi ditahan oleh Arman dan dibantu dengan sekuriti, mereka menyeret Mirna keluar.

__ADS_1


"Dasar wanita gila!" umpat orang-orang yang menyaksikan kegilaan Mirna.


...Happy Reading!!!...


__ADS_2