Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 9


__ADS_3

POV Rindi lagi ya man-teman semoga kalian gak bosan sama cerita ini.


...***...


Seperti biasa dihari Minggu akan ada kegiatan bersih-bersih, kami dibagi menjadi beberapa kelompok, yang laki-laki tugasnya bersih-bersih dilapangan. seperti potong-potong rumput, menyapu, membuang sampah dan untuk yang perempuan ditugaskan membersihkan mushala, toilet dan memasak. tugasku adalah memasak, dengan hati riang aku menuju dapur, di sana sudah disiapkan semua bahan-bahan untuk kami masak. tentu tak luput dari mata penjaga yang terus mengawasi pergerakan kami.


"Kita masak apa ini?" tanyaku pada ibu Jeni, dia yang paling tua di antara kami."


"Tongseng ayam aja bagaimana?" cetus yang lainnya."


"Setuju tongseng ayam, Rindi kamu potong ayamnya kecil-kecil ya? dibantu dengan Lili yang mencuci dan kalian berdua kupas bawang-bawangnya, saya akan memotong sayur dan lainnya." titah Bu Jeni ramah, kami mengangguk dan satu persatu mulai mengerjakan tugasnya masing-masing. begitu juga dengan aku dan Lili.


Segera aku mulai mengeksekusi ayamnya dipotong kecil-kecil sesuai perintah Ibu Jeni, Lili mengambil wadah berukuran besar untuk mencuci ayam-ayamnya. senyum terukir di bibir mereka, seolah-olah tak ada beban di sana mereka menikmati kehidupan meski berada di dalam jeruji besi.


"Kau sangat lihai dalam memotong ayam, tangan-tanganmu begitu lincah, kau sepertinya pandai memasak." ujar Lili memecahkan keheningan di antara kami."


"Sebagai ibu rumah tangga bukan kah kita harus pandai memasak?"


"Untuk apa pandai memasak, untuk apa terlihat sempurna di mata laki-laki, toh apapun yang kita lakukan tak pernah dihargai oleh mereka."


Tanganku yang sedang memotong ayam tiba-tiba berhenti, aku mendongak menatap matanya ada luka di dalam sana entah kasus apa dirinya sehingga bisa dipenjara seperti ini. dia masih mudah dan cantik sangat disayangkan jika menghabiskan masa tuanya di sini.


"Begitu kah caramu memb*nuhnya? apa kau memotongnya seperti memotong ayam-ayam ini?" lagi Lili bertanya kali ini terdengar ambigu."


"Apa maksudmu?"


"bukan kah kau seorang pemb*nuh?"


"Dari mana kau tau?" aku mengepalkan tangan menahan amarah, sebisa mungkin aku berusaha untuk melupakan kejadian yang menyakitkan dikala itu, namun wanita ini kembali menggalinya."


"Siapa lagi kalau bukan sih perempuan onar." jawab Lili acuh. ya, aku ingat wanita itu pernah mendengar curhatanku bersama Bu Sarti."

__ADS_1


"Aku tak ingin membahasnya!" balasku penuh ketegasan agar Lili tak lagi bertanya wanita itu pun mengerti dan memilih bungkam.


Selesai dengan ayam-ayam, Bu Jeni kembali menyuruh untuk mengiris bawang-bawang yang sudah dikupas, aku dengan sigap mengerjakan perintah dari Bu Jeni. tanpa kusadari sepasang mata memperhatikanku dalam diam. dia pak Arkan kali ini penampilannya berbeda bukan seragam coklat yang biasa dikenakannya ketika datang membesukku tapi pakaian santai, celana pendek selutut dipadukan kaos bermerek ala-ala kekinian, topi bertengger dikepala menambah kadar maskulin dalam dirinya.


Ah, dia menatap seperti itu membuatku jadi salah tingkah, jantung ini mulai bertingkah tak jelas, berdegup kencang seolah berirama dalam sanubari.


Dia mendekat ke arahku wajah dinginnya membuatku menjadi kikuk. pria ini mentang-mentang seorang polisi jadi dia bertingkah sesuka hatinya.


"Jika sudah selesai temui aku diruang besuk." imbuhnya, tak ada senyum yang terpatri dibibirnya, dia layaknya kulkas 10 pintu benar-benar dingin."


"Memangnya kenapa?"


"Ikuti saja perintahku, aku menunggu di depan." pintanya lagi, aku menghela nafas kasar mendengar permintaannya yang bernada perintah."


Selesai dengan masak-memasak kami mulai mengisi makanan dalam piring-piring untuk di bagikan pada para tahanan. mereka menyambut dengan antusias. terharu, tentu? itu yang ku rasakan meski kami semua bergelar penjahat namun mereka memperlakukan kami layaknya manusia. hanya beberapa pemuda yang terus dikurung, mereka dikenal orang yang bandel dan susah di atur dalam tahanan, itu lah sebabnya terus dikurung makan pun di antar.


Beberapa menit setelahnya penjaga sipir kembali memanggilku seseorang menunggu diruang besuk, aku memutar bola mata malas siapa lagi kalau bukan sih kulkas sepuluh pintu.


Setibanya diruang besuk aku melihatnya sedang duduk namun matanya terpejam, apa dia ngantuk? entahlah."


"Uhuk!" pura-pura terbatuk meski tenggorokan dalam keadaan baik-baik saja."


"Kalau nggak bangun aku pergi nih!" ancamku sambil menghentakkan kaki ke bawah."


"Jangan pergi!" cegahnya sembari mencekal kuat tanganku."


Aku merasa ada yang aneh, tiba-tiba hatiku merasakan getaran yang berbeda, teringat Mas Rifan bagaimanapun statusku masih istrinya. apa pantas aku meladeni laki-laki lain seperti ini?"


"Maaf pak apa yang anda inginkan dari seorang napi sepertiku."


"Hatimu!"

__ADS_1


"Hatiku?"


"Iya hatimu, aku ingin memilikki hatimu."


"Kita berbeda pak, kau seorang polisi, dan aku seorang nerapidana."


"Lantas?"


"Jangan membuang waktumu, kau juga tahu berapa lama hukumanku, aku akan menua di sini menunggu takdir kematian."


"Aku tau, meski terdengar bodoh tapi... aku mencintaimu."


Aku terkekeh... bagaimana bisa pria ini mengatakan cinta sedang dia tau aku adalah seorang pemb*nuh, hal yang mustahil bagi seorang polisi mengaku cinta terhadap seorang napi bukan kah itu terdengar bodoh?"


"Pergilah jangan pernah muncul dihadapanku." ucapku penuh penegasan."


"Kau menertawakan kebodohanku! setelah kau mengambil hatiku lalu seenaknya kau mengusirku pergi."


"Ya anda memang bodoh! bagaimana bisa anda mengatakan bahwa anda mencintai saya. sedang anda tau berapa lama hukuman yang harus saya jalani.


"Kau tidak percaya takdir? kita sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk bersama."


"Itu hal yang mustahil pak, sadarlah lelucon macam apa yang anda mainkan."


"Ini bukan lelucon ini kenyataan, percayalah secepatnya kau akan dibebaskan."


"Bagaimana caranya, tolong pergilah dari sini! kumohon jangan pernah temui aku lagi!" kali ini aku benar-benar muak dengannya."


"Baik, jika itu maumu maka aku pergi" ujarnya kemudian berlalu pergi dari hadapanku.


Aku kembali dalam tahanan, persendianku terasa lemas melangkahpun rasanya tak sanggup, Pak Arkan dia pria yang baik seharusnya mendapatkan wanita yang baik juga, bukan seorang pemb*nuh yang mendekam dalam jeruji besi.

__ADS_1


Ku akui pesona Pak Arkan memang luar biasa, aku bahkan kagum dengannya tapi... bukan berarti aku ingin memilikinya. dalam hidupku dalam pikiranku bukan lagi tentang cinta tapi bagaimana aku bisa menjalani masa tuaku di sini, melewati hari-hari dalam tahanan.


Dan lagi pula aku tak ingin menerima cinta dari laki-laki lain, sebab luka yang di toreh oleh Mas Rifan masih menganga di dalam sini, meski berpuluh-puluh tahun luka ini akan tetap bersemayam membekas selamanya dalam kalbu. memaafkannya memang mudah tapi melupakan adalah hal yang sulit.


__ADS_2