
Merasa dirinya dipanggil, Rifan mendongak menatap pria yang berdiri di depannya, setelahnya ia kembali menenggak alkohol yang masih tersisah dalam gelas. tentu saja, Arman selaku asistennya mulai jengah dengan tingkah bosnya. namun, ia bisa apa? sedikit saja membuat kesalahan maka Rifan tak akan segan memarahinya, atau bahkan mengancamnya akan dipotong gajinya, meski hanyalah sebuah ancaman tetap saja, Arman merasa takut kalau gajinya akan dipotong betulan.
"Bos...." Arman kembali bersuara.
"Siapa yang menyuruhmu kesini!" jawab Rifan setengah membentak. Arman menelan Salivanya susah payah." apa aku menyuruhmu, untuk menjemputku!" Rifan kembali bertanya."
"Ti-tidak bos, kau tidak menyuruhku tapi... bagaimanapun, anda harus istirahat malam ini." jawab Arman sedikit menunduk.
Rifan tak peduli perkataan Arman, bukannya beranjak pergi, tetapi ia malah memilih merebahkan diri di atas sofa panjang yang ia dudukki, hingar-bingar musik dalam bar tak bisa membuatnya terpejam. Rifan bangkit kemudian keluar dalam bar menuju mobil. ekor matanya melihat sekretarisnya ada di sana ia memicingkan matanya namun tetap bersikap tak peduli.
Pagi hari Rifan terbangun menyadari tangan lembut yang sedang membelai pipinya, perlahan turun ke dada, kemudian ia membenamkan bibirnya pada dada bidang milik Rifan, mengecupnya hingga ke leher meninggalkan jejak merah di sana.
"Menyingkir lah! apa yang kau lakukan!" bentak Rifan pada wanita itu, wajahnya merah padam menandai pria itu sedang marah.
"Aku ini istrimu, nggak salah kan? jika aku bertingkah seperti ini.
" Pernikahan kita hanyalah di atas kertas dan kau, tak punya hak atas diriku! Mirna Andriana, Rifan menekan kata menyebut nama Mirna.
Ya, wanita itu adalah Mirna, Rifan terpaksa menikahi Mirna Karena permintaan ibunya, ia mengatakan bahwa ia mengidap sakit serius, tumor ganas. Rifan yang tak tega melihat kondisi ibunya yang terus keluar masuk rumah sakit akhirnya menyetujui pernikahannya dengan Mirna.
"Di dalam agama, kita sudah sah suami istri. kau tak bisa mengelaknya lagi! jika kau terus menolakku maka aku akan aduhkan pada ibumu! kau pasti tak mau kan? jika ibu kenapa-kenapa.
"Sampai kapanpun, aku tak akan pernah menyentuhmu! kau tak bisa menggantikan posisi Rindi sampai kapanpun kau takkan pernah bisa, jadi jangan pernah bermimpi menjadi nyonya di hatiku!"
Mirna dengan kesal kemudian bangkit menghentakkan kakinya ke lantai, wanita itu sangat marah namun Rifan acuh tak acuh padanya.
"Rindi ini semua karenamu, lihat saja hari ini aku akan mengunjungimu dipenjara dan memberimu sebuah hadiah yang mengejutkan." batin Mirna.
Mirna kemudian turun ke lantai bawah mencari pelayan, namun ia bertemu dengan Arman yang sedang menunggu suaminya, seperti biasa, setiap pagi Arman akan datang menjemput Rifan untuk berangkat ke kantor.
"Selamat pagi Ibu Mirna." sapa Arman seraya tersenyum ramah." Mirna mendelikkan mata tak suka ke arahnya membuat Arman terheran-heran pada istri bosnya itu.
Setelah beberapa menit menunggu, Rifan akhirnya turun, pria itu sudah rapi dengan pakaian kantornya. Mirna meliriknya sinis jika biasanya seorang suami akan berpamitan pada istrinya ketika hendak berangkat kerja namun berbeda dengan Rifan, pria itu seolah tak menganggap keberadaan istrinya. Mirna sudah seperti mahkluk yang tak kasat mata.
__ADS_1
"Selamat pagi bos?"
"hmmm, apa saja jadwalku hari ini?
"Hari ini bos harus bertemu dengan seseorang di butik induk. ada laporan bahwa seorang perempuan tertarik ingin membeli butik tersebut. meski pegawai kita sudah mengatakan kalau butik tersebut tidak dijual namun wanita itu kekeuh ingin bertemu langsung dengan pemilik butik. papar Arman panjang lebar.
"Siapa wanita itu? kita hanya menjual isinya tidak dengan butiknya.
"Ya, soal itu, Bos harus bertemu langsung dengannya. dia berjanji akan datang di jam satu siang nanti.
Rifan mengangguk ia sangat ingin tau, siapa orang yang memaksa ingin membeli butiknya dan bagaimana pun, butik induk tidak akan ia jual, butik yang diberi nama Rumah Rindi itu adalah butik dengan disain sesuai dengan kemauan Rindi. ya, di awal pernikahan mereka selain restoran Rindi juga ingin memilikki butik, hal itu ia ungkapkan pada suaminya Rifan di kala itu, Rifan berjanji akan membangun sebuah butik untuknya namun belum tersampaikan hingga Rindi dipenjara.
Setibanya di kantor Rifan langsung disambut oleh sekretarisnya yang sedari tadi menunggunya untuk menanda tangani beberapa berkas.
Masuk ke dalam ruangannya bertemu OB yang sedang membersihkan ruangannya, Rifan tentu saja marah, di jam segini seharusnya ruangannya sudah bersih tapi kenapa ini baru di bersihkan.
"Apa-apaan ini! kenapa baru di bersihkan hah!"
"Ma-maafkan saya pak, hari ini saya datang terlambat." ujar sang OB ketakutan melihat kemarahan di mata bosnya.
"Soal itu, sa-saya tidak tau pak."
Rifan sontak berteriak memanggil Arman kali ini dirinya benar-benar marah. Arman berlari menuju ruangan bosnya ia melihat OB yang sedang menunduk ketakutan.
"Kau... kenapa baru di bersihkan sekarang, apa kau lupa dengan jadwal kerjamu? sebelum bosmu tiba di ruangan ini sudah dipastikan ruangan ini harus sudah bersih dan rapi. tukas Arman pada klining Service.
"Sekali lagi, saya mohon maaf karena terlambat pagi ini. Tapi tolong jangan pecat saya pak, saya membutuhkan pekerjaan ini." ujarnya mengibah.
"Saya tidak akan memecatmu karena ini adalah pertama kalinya kamu membuat kesalahan, jika terulang hingga ketiga kali maka kamu akan saya pecat!"
"Ba-baik bos, terima kasih banyak sudah berbaik hati memberikan saya kesempatan, saya janji tidak akan terlambat lagi.
"Kenapa kamu bisa terlambat?" tanya Rifan.
__ADS_1
"Saya mengantarkan anak saya kerumah sakit, hari ini jadwal kemoterapinya." jawab OB sedih.
"Apa! kemoterapi?"
"Iya pak, anak saya sakit leukemia kata dokter harus menjalani kemoterapi.
Rifan memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit, ingatannya terlempar kembali pada putranya Abizar, matanya memanas bertahun-tahun ia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian putranya, tanpa terasa air matanya luruh begitu saja dengan cepat Rifan menyekanya tak ingin bawahannya mengetahui keterpurukannya.
"Bos, kau... apa anda baik-baik saja?" Arman terlihat khawatir.
"Iya aku baik-baik saja." Rifan mencoba menutupi kesedihannya. dan kau, pulang lah temani anakmu dirumah sakit hari ini kau dapat ijin dariku, kembali lah bekerja esok hari." ia menunjuk pada OB yang kemudian disambut dengan tersenyum haru tak lupa sang OB berterima kasih pada bosnya dan kemudian pergi meninggalkan ruangan menuju rumah sakit.
...***...
Di butik seorang wanita cantik tengah duduk bersandar pada sofa, penjaga butik menyuguhkan segelas lemon the untuknya wanita itu menerimanya sembari tersenyum ramah, ia duduk menunggu pemilik butik tersebut entah kenapa pertama kali melihat butiknya ia langsung tertarik dan ingin membelinya.
"Sebentar lagi bos kami akan tiba, mohon tunggu sebentar lagi."
"Tidak masalah, waktuku masih banyak. emm... boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ya tentu saja, silahkan kak, anda bebas bertanya pada saya."
"Itu... pemilik butik ini, apa dia perempuan?"
"Bukan kak, bos kami laki-laki dia begitu tampan, anda pasti menyukainya."
"Kau ini bicara apa? aku tidak akan tertarik dengan laki-laki."
"Kenapa begitu, apa kakak sudah menikah?"
"Maaf, tapi aku tidak tertarik dengan percakapan ini, aku hanya ingin tau siapa bosmu?"
"Eheeem." Rifan berdehem ia berdiri tepat dibelakang sofa membuat mata pegawainya terbelalak menyadari gerangan suara bosnya. secara bersamaan wanita disebelahnya juga menoleh ke belakang dan begitu terkejut menyadari sesosok lelaki yang ia benci kini tengah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
...Happy reading gaes!...