Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 5


__ADS_3

Keesokkan harinya penjaga memberi tahuku bahwa pria bernama Rifan datang membesuk. langkah ini terasa berat menemuinya, dia datang untuk menjatuhkan talak setelahnya pasti akan menghinaku.


Diruang besuk mata ini langsung tertuju pada sosok yang sedang duduk dengan tangan bersedekap di dada. pria yang selama bertahun-tahun membersamai dalam suka maupun duka, dia yang dulunya dengan bangga mengakuiku sebagai pendamping hidupnya, membangunkan tahta dihatinya untukku.


Tanpa permisi dari pemilik tubuh tangan ini membelai wajahnya perlahan turun ke bibir mengusapnya dengan lembut, aroma lavender menguar menusuk ke dalam hidung. wangi ini yang dulu selalu membuatku betah berlama-lama dalam ceruk leher miliknya, menyusup kedalam bajunya dan bermanja-manja di dada bidang miliknya. mengingat ini kelopak mataku kembali berembun.


Melihatnya seperti ini saja sudah seperti melihat Abizarku. ya, mereka berdua memang mirip layaknya anak kembar, Mas Rifan sangat menyayangi Abizar. namun perlahan berubah ketika adanya perempuan perusak itu, kasih sayangnya bukan lagi untuk kami, mataku memanas aku benci ini. sesaat menarik kembali tanganku lalu menatapnya dengan tajam.


"Kau merindukanku?" dengan percaya dirinya dia bertanya hal konyol seperti ini."


"Cih percaya diri sekali anda!"


"Mulutmu mengatakan tidak tapi expresi tubuhmu mengatakan demikian."


"Enggak usah basa-basi langsung pada intinya kau mau menikah dengan Mirna maka ceraikan aku sekarang juga!"


"Bagaiamana bisa menceraikanmu jika hatiku masih milikmu."


"Pembohong! trik apa lagi yang kau mainkan untuk menipuku."


"Ya kau pasti akan mengataiku pembohong, tapi aku mencintaimu sampai kapanpun tetap mencintaimu."


Cinta? dia bilang mencintaiku pria ini harus kah aku membunuhnya sekali lagi. dengan apa yang sudah dia lakukan masih berani dia mengatakan cinta dihadapanku.


"Tutup mulutmu! pengkhianat sepertimu tidak pantas berbicara soal cinta!"


"Aku khilaf itu semua kulakukan demi menuruti permintaan ibu. perempuan itu terus menggoda membuatku terlena dalam permainan yang kuciptakan sendiri."


"Omong kosong! kau pikir aku percaya Mas? dan sekarang kau akan menikahi Mirna. ceraikan aku sekarang juga!"


"Maaf Rindi, tapi aku belum bisa menceraikanmu." ujarnya sembari meletakan sebuah tas dan berlalu pergi.


Aku hanya bisa menatap kepergiannya dengan kesal sejujurnya aku tak ingin terikat hubungan apapun dengannya. setelah punggungnya menghilang dari pandangan penjaga kembali mengantarku kedalam tahanan. dia sih wanita pembuat onar menatapku dengan sinis entah ada apa dengannya. jika bisa memilih maka aku tidak ingin satu tahanan dengannya.

__ADS_1


"Ternyata masih ada yang berbaik hati pada pembunuh sepertimu." ujarnya sembari menarik tas hitam dari genggamanku."


"Kembalikan! kenapa kau bertindak tidak sopan!" seruhku tak terima."


"Ha-ha-ha aku hanya ingin melihat isihnya apaan!" dia mengobrak-abrikkan seluruh isih tas."


Aku hanya bisa diam dan pasrah melihat tingkahnya. Bu Sarti ingin merebut tasnya namun segera ku tahan biarkan dia berbuat sesuka hatinya. setelah puas dia melempar tas ke dinding begitu saja sebuah amplop tercecer kelantai aku memungutnya lalu membuka.


..."Rindi Atika putri, kau pasti marah pada suamimu ini. aku memohon maaf padamu dengan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. maaf, maaf, maaf. meski seribu maafku tak mampu membuatmu berubah namun aku akan terus berusaha agar kau mau memaafkan suamimu ini. alasan tak pernah datang dipersidangan karena aku tak sanggup melihatmu dipidanakan....


...Jaga dirimu baik-baik yah, aku membawakan barang-barang keperluanmu. percayalah aku tidak akan menikahi Mirna. Itu semua permintaan ibu, tapi kali ini aku tidak akan menurutinya aku menunggumu bebas kita akan bersama....


...*Rifano Mahendra*...


Tanpa terasa air mataku luruh begitu saja membaca surat darinya. tidak, pria itu adalah ular aku tidak akan terkecoh dengan perkataanya, Bu Sarti mengusap punggungku menenangkanku wanita ini aku merasakan ketenangan jika berada didekatnya dia sudah seperti ibu bagiku entah kesalahan apa yang dia perbuat hingga membawanya ke tempat ini. namun yang ku tahu 3 bulan lagi ia akan mendapatkan kebebasan dan bisa menghirup udara segar.


Sedangkan aku 20 tahun bukanlah waktu yang sebentar aku akan menua di sini menunggu takdir kematian menjemput.


Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan aku mengedarkan pandangan keluar namun tidak sengaja ekor mataku menangkap sosok yang tak asing lagi. dia Pak Arkan, pria itu berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukkan dalam kantong celana. dia memandangku dengan pandangan tak biasa entah sejak kapan pak Arkan ada di sana.


"Dasar pria yang aneh." batinku.


Pria dingin dengan muka datar itu terus menatapku tanpa kedip padahal aku ingin dia pergi dari sana sungguh dia menatap seperti itu membuatku salah tingkah.


"Ada apa?" akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.


"Apa dia menyakitimu?" bukanya menjawab pria ini malah balik bertanya."


"Aku tidak mengerti siapa yang kau maksud?"


"Suamimu?"


"Sama sekali tidak dia kesini hanya untuk ini." aku menunjuk pada tas yang masih tergeletak dilantai.

__ADS_1


"Kenapa kau menerimanya. apa barang pemberianku kurang?"


"Aku tidak menerimanya tapi dia meninggalkan tasnya begitu saja."


Tanpa ku duga pak Arkan menyambar tasnya lalu membawanya keluar.


Aku mengerutkan kening tanda bingung ada apa dengannya kenapa dia menjadi ikut campur dalam urusan pribadiku. entah kenapa aku merasa ada yang aneh dan kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini, seakan hendak keluar dari tempatnya.


Pak Arkan pria itu membuatku bingung dengan kepribadiannya kadang manis kadang jutek dan sekarang dia terlihat begitu posesif.


Aku tak mengerti apa yang membuatnya begitu baik kepadaku. Bahkan sebelumnya kami tak saling mengenal. Tetapi dia menunjukkan rasa empatinya yang luar biasa kepadaku. Bukan hanya itu, Pak Akan bahkan membelanjakan kebutuhan pribadiku. Salah satunya pembalut. Ah! Ini membuatku malu.


Wajahku memerah jika mengingatnya. Dia bahkan tau apa yang sangat dibutuhkan oleh seorang perempuan.


Dan anehnya lagi dia sering mondar-mandir dalam lapas. Padahal ruang tugasnya bukan di sini. Ah! Polisi yang satu itu membuatku bingung.


Ehh tunggu! Kenapa aku malah memikirkan Pak Arkan? Dan melupakan kedatangan Mas Rifan kemari.


Isi tas itu. Ah! Aku belum sempat melihatnya. Dan apa katanya tadi?


Dia tidak ingin menceraikanku? Dan mengatakan jika dia mencintaiku. Cinta macam apa yang tega menyakiti pasangannya dengan alasan khilaf.


Jika dilakukannya secara sadar itu namanya bukan khilaf. Tetapi sengaja.


Perbuatan Mas Rifan tidak bisa kumaafkan, meski seribu maaf ia lontarkan tetap takkan bisa menyembuhkan hatiku yang sudah terlampau sakit. Selamanya akan tetap membencinya, bila perlu dia tak usah menampakkan wajahnya dihadapanku.


.


Bersambung!


...Happy Reading gaeesss😇😇...


Ohh yah gaeess mungkin kalian punya ideh untuk visual tokoh Rindi dan juga Arkan polisi tampan. Kalian boleh komen ya...

__ADS_1


.


__ADS_2