
Kini mereka semua berada di restoran Rindi. Memesan makanan sesuai selera masing-masing. Rania nampak curi-curi pandang ke arah Arman, tetapi sayangnya, Arman hanya mengamati Lisa.
Rindi memanggil Lisa untuk bergabung dengan mereka. Namun ditolak oleh Lisa. Ia merasa malu bergabung dengan keluarga Arkan. Siapalah dirinya hanya seorang manager yang di anggap keluarga oleh bosnya. Jadi ia cukup sadar diri, meski Rindi tak pernah memandang status sosial dirinya.
Setelah melihat Lisa berjalan ke arah toilet. Arman pun ikut berpura-pura ke toilet juga. Ia merasa kesal dengan Lisa yang tidak mau ikut bergabung dengan mereka.
Arman menyenderkan punggungnya pada tembok. Ia menunggu Lisa keluar dari toilet sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya. Sesekali mengembuskan napasnya kasar.
Beberapa detik kemudian orang yang ditunggu pun nongol. Lisa sedikit terkejut mendapati Arman yang berdiri didepan toilet.
"Kau! Sedang apa di sini?" Lisa menatap curiga ke arah Arman.
"Menurutmu? Aku sedang apa di sini?" Malah balik bertanya.
Lisa tak menghiraukannya. Ia bergegas meninggalkan Arman. Baginya berbicara dengan Arman hanya akan membuang waktunya.
"Eh, tunggu!" Arman mencekal lengan Lisa kemudian menghadangi jalannya.
"Ada apa? Kalau mau ke toilet silakan? Aku harus kembali bekerja."
Arman menggeleng tetapi sorot matanya menguliti wanita yang telah mencuri hatinya.
"Katakan siapa pria yang kemarin?" Lisa mengerutkan keningnya bingung tidak mengerti dengan pertanyaan Arman.
"Pria yang mana? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan?"
"Pria yang kemarin mengobrol denganmu. Kamu terlihat begitu akrab bersamanya."
Begitu cemburunya Arman ketika melihat wanita yang ia cintai sedang bersenda gurau dengan pria lain. Hati kecilnya ingin meninju wajah pria yang kemarin bersama Lisa.
"Lalu apa urusanmu?" tanya Lisa yang mulai kesal. Karena Arman terus menghalangi jalannya.
Arman menyugur rambutnya kasar. Sekedar mengatakan cemburu dan aku mencintaimu. Terasa berat baginya. Ia harus gengsi seolah kata cemburu mampu menurunkan harga dirinya sebagai pria sejati. Tetapi jika melihat Lisa bersama pria lain maka dirinya akan marah dengan alasan yang tak jelas.
"Apa kamu gak ada kerjaan! Sehingga menghalangi jalanku seperti ini!" Lisa menatap Arman tajam. Sungguh, ia harus bekerja.
Dengan sekali gerakan Arman mengunci tubuh Lisa dengan kedua tangannya. Menghimpitnya di tembok kemudian ******* bibir tipis merah delima itu dengan rakus. Lisa melotot tak percaya dengan apa yang dilakukan Arman. Ia berusaha melepaskan diri dan memukul punggung Arman secara brutal. Tetapi Arman malah semakin menggila pagutan yang awalnya lembut berubah menjadi kasar.
"Ka-kalian ... apa yang kalian lakukan?" Rania begitu terkejut menyaksikan adegan didepan matanya.
Dirinya yang bermaksud ingin ke toilet harus menyaksikan perbuatan tak senonoh Arman. Yang membuatnya menjadi salah paham terhadap Lisa. Bisa dikatakan dalam pikiran Rania menyimpulkan bahwa Lisa bukan perempuan baik-baik. Ya bisa saja begitu karena Rania tidak tau duduk permasalahannya.
Mendengar suara Rania. Arman dengan cepat melepaskan dirinya. Ia memandang Rania dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"A-aku ... i-itu makanannya sudah siap." Rania gelagapan dan juga gugup.
Sedangkan Lisa masih mengatur napasnya yang ngos-ngosan akibat ulah Arman. Bahkan wajahnya terlihat memerah, ia sangat malu didepan Rania.
"A-aku duluan." Rania memutar badannya. Kembali ke meja restoran.
Setelah kepergian Rania. Lisa langsung mendorong Arman dengan kasar. "Apa yang kau lakukan! Brengsek!" umpatnya kesal.
Arman telah mencuri ciuman pertamanya. Itu membuatnya marah. Lisa bukan wanita yang gampang menyerahkan tubuhnya pada lelaki yang bukan Mahramnya. Ia sangat menjaga marwahnya sebagai perempuan. Dan hari ini pria yang belum lama dikenalnya itu dengan lancangnya mengambil ciuman pertamanya yang seharusnya dilakukan bersama suaminya kelak.
"Maafkan aku ... aku hanya cemburu melihatmu bersama pria lain. Aku tidak tau, tapi ... setiap hari aku memikirkanmu, kau telah mencuri hatiku, jadi anggap saja sekarang kau sedang bertanggung jawab terhadapku," ucap Arman enteng.
Lisa melongo tak percaya mendengar ucapan Arman. Rasanya ia ingin mencabik-cabik wajahnya Arman hingga tak terbentuk rupanya.
"Dengar ... mulai sekarang kau adalah milikku. Hanya milikku, jangan coba-coba dekat dengan pria lain," lanjutnya lagi. Setelah mengatakan itu Arman pergi meninggalkan Lisa.
Lisa terpaku memandang punggung tegap Arman yang melenggang pergi dari hadapannya. Seolah tak terjadi apa-apa pada mereka. Meski itu hanya sebuah ciuman, tetapi ada rasa sesak di dadanya hingga menimbulkan embun asin pada pelupuk matanya. Ia segera menyekanya dengan cepat, jemarinya tergerak menyentuh bibirnya yang masih membekas cairan bening dari mulut pria yang sempat membuat hatinya bergetar.
.
.
Arman menarik kursi. Duduk disebelahnya Arkan dengan raut wajah bahagia. Tak memperdulikan Rania yang tadi sempat memergoki dirinya.
"A-aku hanya sakit perut," jawabnya berbohong sambil melirik Rania.
Mereka melahap makanannya dengan bersenda gurau. Hanya Rania yang sejak tadi terus diam. Ia tampak tak berselera menyentuh makananya padahal sedari tadi ialah yang terus-menerus mengeluh lapar.
"Kamu kenapa? Kok, kayak gak berselera makannya?" Arkan yang menyadari perubahan pada adiknya itu langsung bertanya.
Kini semua beralih menatap Rania dengan tatapan penuh tanya.
"Kamu sakit?" Mama Delina menyentuh kening Rania memastikan suhu tubuh anaknya itu.
Rania menggeleng. "Nggak, kok. Aku baik-baik saja." Ia tersenyum menatap mamanya.
"Terus kenapa gak mau makan? Bukannya tadi kamu bilang lapar." Kali ini Rindi yang bertanya. "Atau makanannya gak enak?"
"Eh ... enggak, kok. Makananya sangat enak. Hanya saja perutku lagi kembung mungkin telat makan," jawab Rania. Ekor matanya melirik Arman.
Arman hanya diam. Ia tampak santai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Tanpa memperdulikan Rania.
...***...
__ADS_1
Malam semakin larut tetapi Rindi sama sekali tak dapat memejamkan matanya. Bayang-bayang pernikahannya bersama Arkan terus menari dalam pikirannya. Berbagai pertanyaan dan juga prasangka buruk terhadap calon suaminya membuatnya sulit untuk terlelap.
Bagaimanapun pernikahan pertamanya menyisahkan trauma yang mendalam. Ia takut jika pernikahan keduanya ini kembali menggores hatinya.
"Tidak! Aku tidak boleh berpikiran negatif. Bukankah kata mas Gibran. Jika kita menanamkan pikiran baik dalam diri kita. Maka sesuatu yang baik itu akan datang menghampiri kita. Tetapi jika kita menanamkan keburukan maka yang buruk itu pula yang akan datang menghampiri kita," gumamnya mengingat kembali perkataan sahabatnya dikala itu ketika ia masih berada dibalik jeruji besi.
Ya, Gibran memang benar. Saat berumah tangga bukanlah pencapaian tetapi keputusan. Saat mengambil keputusan harus dengan cara yang matang. Karena pasang surut perjalanan selalu hadir membawa cerita suka maupun duka. Ketika ingin menjadikan keluarga yang harmonis dalam berumah tangga, langkah awal dasar yang dimulai adalah cara berpikir positif kedepan dengan penuh niat yang baik. Jika memang ada permasalahan yang membuat hati tak tenang, cobalah untuk berdiskusi dengan pasangan dan mencari jalan keluar, dan selalu jaga komunikasi yang positif. Jadikanlah pikiran positif menjadi rasa akan saling percaya dan memahami.
Ahh mengingat sahabat kecilnya itu membuat Rindi ingin menitikkan air matanya. Bagaimanapun Gibran telah banyak membantu dirinya mengelola restoran hingga seramai sekarang.
Ia mengambil ponselnya kemudian melakukan panggilan video. Rindu pada sahabatnya membuatnya ingin segera menatap wajah teduh itu.
Tak berselang lama panggilannya pun di angkat wajah yang dirindukan kini memenuhi layar hapenya. Bahkan bulu hidung terpampang jelas dalam layar. Membuatnya terkikik sekaligus geli.
"Seharusnya di Indonesia sudah larut malam. Kenapa kamu meneleponku di jam seperti ini?" tanyanya diseberang sana.
"Tidak apa-apa aku hanya merindukan dirimu. Sekaligus ingin menyampaikan sesuatu padamu," jawab Rindi.
"Hmmm ... katakan saja ada apa? Jangan membuatku penasaran."
"Aku akan segera menikah. Dan aku ingin Mas Gibran datang mendampingiku di hari pernikahanku nanti," ujar Rindi memelas. "Mas tau sendiri 'kan? Aku tak punya siapa-siapa lagi selain dirimu. Kuharap Mas Gibran tak menolak untuk mendampingiku, aku sangat berharap kedatangan Mas dan juga Arumi."
"Wow! Jadi kamu sudah menemukan tambatan hatimu. Siapa pria itu yang mampu menghilangkan rasa traumamu di masa lalu."
Mendengar pertanyaan itu membuat Rindi tersenyum sipu mengingat sosok pria yang telah meluluhkan hatinya. "Nanti Mas Gibran juga tau. Pokoknya harus datang bersama Arumi, aku menunggu kalian di Indonesia."
Raut wajah Gibran yang tadinya senang tiba-tiba berubah menjadi masam. "Kenapa kau menginginkan Arumi hadir. Sepenting itukah dia?"
Rindi mengerutkan keningnya meski dalam layar. Tetapi ia dapat melihat dengan jelas raut kecewa pada sahabatnya itu setelah membahas nama Arumi.
"Ada apa Mas? Apa yang terjadi?"
"Tidak apa-apa. Sebaiknya kamu istirahat ini sudah larut malam, nanti setelah di Indonesia aku kembali mengabarimu."
Telepon pun terputus menyisahkan rasa penasaran yang teramat besar pada Rindi.
...*****...
BERSAMBUNG
Happy Reading Gaeesss!!
😇😇😇😇
__ADS_1