
Waktu terus bergulir dengan cepat tak terasa sudah masuk bulan ke enam dalam tahap proses persidangan dan ini adalah sidang yang terakhir. para majelis hakim akan menentukan hukuman untukku. aku menangis dalam diam kehancuran telah dimulai aku bernafas namun raga ini layaknya sudah mati.
"Hapus air matamu dan tenangkan dirimu tak ada gunanya kau menangis." sentakkan pak Arkan membuatku terkejut dialah satu-satunya orang yang peduli terhadapku.
Arkan Mahendra, polisi mudah berwibawa dan memiliki sikap dingin tapi dibalik sikap dinginnya, pak Arkan adalah orang yang peduli terhadap sesama dan tidak memandang bulu.
"Sudah ku katakan jangan pernah menangis." lanjutnya lagi sembari melempar tissue ke arahku.
Aku meraih tissue kemudian beralih menatap matanya secara intens, Pria berwajah dingin memilikki rahang yang mengeras itu kembali menatapku dengan tajam.
"Kau menangisi suami durjanamu itu?" haruskah aku membunuhnya?"
"Apa!"
"Dia masih hidup tak usah kau tangisin."
"Jadi, Mas Rifan masih hidup?"
"Iya suamimu itu masih hidup bersyukurlah, setidaknya kau tak mendapatkan hukuman di tembak mati.
Mendengar perkataan Pak Arkan membuatku terkejut jadi Mas Rifan masih hidup. terakhir yang ku ketahui mereka membawanya ke rumah sakit setelahnya tak pernah tau lagi kabarnya. tapi jika dia masih hidup seharusnya Mas Rifan juga ada dipersidangan ini dan kenapa cuma orang tuanya Rina yang hadir.
Ah kepalaku jadi pusing memikirkannya.
Kini tiba waktunya masuk ke ruang persidangan setelah melewati drama perdebatan akhirnya para Hakim memutuskan hukuman untukku.
Sesuai dengan yang disebutkan dalam pasal 340 KUHP, pelaku pembunuhan berencana diberikan ancaman hukuman terberat, yaitu berupa pidana 20 tahun penjara seumur hidup.
Demikian sidang kami tutup.
Tok ... tok ... tok ... palu pun diketuk. Polisi kembali membargol tanganku membawa kedalam tahanan yang baru meski sudah siap menerima hukuman namun ini sedikit membuatku terguncang.
Hari-hari berlalu aku menjalani keseharian dalam tahanan. Bu Sarti wanita paruhbaya dia tersenyum membelai rambutku lembut perlakuannya terhadapku membuatku rindu pada sosok Ibu Air mata luruh begitu saja tanpa permisi.
"Yang sabar ya, kau pasti bebas dari sini dan kita akan baik-baik saja." dia menenangkan ku mengusap air mata.
"Apa ibu punya keluarga?" aku bertanya pada Bu Sarti.
"Ya aku punya keluarga biasanya dua minggu sekali mereka akan datang menjengukku.
Setidaknya Bu Sarti masih lebih baik dariku. hidup ini terlalu pahit Mas Rifan tidak kah dia datang? jika dia masih hidup seharusnya dia datang menceraikanku. lalu Mirna, kemana anak itu sudah berbulan-bulan Mirna tak pernah mengunjung, hanya pak Arkan orang yang sering muncul membelikan keperluanku pria itu perlakuannya sangat manis.
"Hei kau cepat pijit kakiku!" dia lagi wanita sih pembuat onar di sini mereka memanggilnya dengan sebutan onar kerana wanita ini selalu membuat ulah.
"Tolong jangan mengganggunya." Bu Sarti membelaku.
"Wanita tua jangan ikut campur!"
"Aku tak akan ikut campur jika kau tidak mengganggunya. Biarkan dia istirahat dengan tenang dan jangan memerintah seenaknya kami bukan budakmu di sini!"
__ADS_1
Plak...!
Satu tamparan keras mendarat di wajah Bu Sarti, wanita itu menamparnya dengan keras aku terperangah melihat Bu Sarti terjungkang ke samping segera aku memapah tubuh ringkihnya membantunya berdiri.
"Apa-apaan! kenapa kau menampar Bu Sarti!" sergahku tak terima.
"Itu akibatnya jika berani melawanku."
"Dasar perempuan on--"
"Rindi Atika Putri, ada yang menunggumu diruang besuk." penjaga memanggilku.
Menghentikan perdebatan dengan perempuan onar dan berlalu pergi ke ruang besuk setibanya di sana.
"Mirna!"
"Rindi."
Aku berhambur memeluk dirinya hampir setahun Mirna tidak menemuiku tak sabar ingin menodongkan sekelebat pertanyaan padanya, pertanyaan yang terus manari-nari dalam pikiranku membuat mataku sulit untuk terpejam.
"Gimana kabarmu kau baik-baik saja?" Mirna bertanya padaku setelah melepas pelukan.
"Iya aku baik-baik saja, kau sendiri bagaimana dan kenapa baru sekarang menemuiku?"
"Maaf Rin, tapi aku terlalu sibuk jadi tidak sempat untuk datang ke sini.
"Baiklah tidak masalah tapi, ada banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu."
"Mas Rifan, apa benar dia masih hidup?"
"M-mas Rifan kenapa kau menanyakannya?" jawab Mirna gugup raut mukanya sedikit berbeda.'
"A-aku tidak tau tentang Mas Rifan!" lanjutnya lagi.
"Bohong! mustahil jika kau tidak tau."
"Apa maksudmu!"
"Seseorang memberi tahuku bahwa Mas Rifan masih hidup."
"Memangnya siapa yang memberi tahumu?"
"Polisi dia memberi tahuku."
"Apa!"
"Iya sekarang tolong jujur Mir...."
"Baiklah jika kau sudah tau. jadi aku tak perlu menyembunyikan apapun darimu."
__ADS_1
"Jadi benar dia masih hidup?"
"Iya Mas Rifan masih hidup. sempat koma tapi, dia berhasil melewati masa kritisnya dirumah sakit selama dua bulan.
"Dan emm Rin, karena kamu sudah tau mengenai Mas Rifan jadi aku ingin memberi tau mu sesuatu."
"Apa masih ada yang kamu tutupin dari aku?"
"Aku dan Mas Rifan kami akan menikah."
"Apa!"
"Iya kau tau kan? dari kita kuliah aku sudah menyukai Mas Rifan tapi dia malah memilihmu."
"Cukup Mirna! kau tau seperti apa pria itu dia bukanlah pria yang baik untukmu."
"Tapi aku mencintainya, sekian lama aku menunggunya."
"Cinta sudah membuatmu buta, statusnya bahkan masih sah suamiku apa kau gila menikah dengannya."
"Aku tidak peduli aku akan tetap menikah dengannya, setuju atau tanpa setuju darimu kami akan tetap menikah!"
Aku menggeleng tak percaya dengan apa yang barusan ku dengar, bahkan Mirna menghianatiku satu persatu dari mereka menghianatiku dunia kenapa begitu kejam!"
"Baiklah menikahlah dengannya. tapi sebelum kalian menikah hendaknya Mas Rifan datang kemari menceraikanku sebab aku tak ingin terikat hubungan apapun dengannya." Ujarku kemudian berlalu dari hadapan Mirna.
Kecewa
Aku mengusap wajah kasar orang yang tadinya ku percaya dia yang memberi semangat kini juga ikut menikam dari belakang. Tuhan masih ada kah didunia ini manusia yang tulus.
Azan Berkumandang aku segera mengambil air wudhu kemudian menunaikan ibadah sholat ashar. diatas sajadah aku brsimpuh memohon ampun pada sang kuasa dia yang memberi ujian padaku bertubi-tubi. menangis berkeluh kesah padanya sungguh aku lelah Tuhan kenapa tidak kau ambil saja nyawaku.
Suara bu Sarti membangunkanku. rupanya lama aku tertidur diatas sajadah kini memasuki waktu Maghrib. mata sembabku menunjukkan bahwa aku tidak baik-baik saja.
"Ayo bangun dan ambil air Wudhu imam sudah datang dan kita akan sholat berjamaah."
"Apa Imam?"
"iya disini ada Imamnya juga, di sini kita di ajarkan untuk berperilaku baik.
Ternyata tidak selamanya dalam tahanan itu buruk, tidak seperti di film-film yang sering ditonton yang mana para napi disiksa. di sini juga diajarkan ilmu-ilmu keterampilan tangan aku mengira hidupku hanya terkurung saja di dalam jeruji besi nyatanya tidak, di sini kita bebas bergerak meski dikelilingi tembok pembatas pembatas yang tinggi.
Ayat suci yang dilantunkan Imam begitu menyayatkan hati. Setiap ayat demi ayat yang keluar dari mulutnya membuatku terharu. Tanpa terasa embun hangat menggenang di pelupuk mata. Namun, sebisa mungkin kutahan hingga sujud terakhirku.
Aku sesuguhkan tanpa bersuara hanya bahu yang bergetar naik dan turun.
Ini sakit! Ini terlalau sakit Tuhan, aku tidak sanggup.
Bersambung!!
__ADS_1
...Happy Reading gaeesss😇😇...
.