Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 8


__ADS_3

"Pak Arkan!"


...------------------...


"Apa yang terjadi padanya!" tanya Arkan to the poin. Sorot matanya tajam menatap pada petugas sipir.


"Dia--"


"Sebaiknya kita bicara di ruangan saya," potong dokter cepat.


Pria yang masih memakai seragam coklat itupun mengangguk. Kemudian berjalan mengikuti langkah dokter menuju ruangannya. Setibanya di sana Arkan langsung meminta Dokter untuk mengatakan keadaan Rindi.


"Emm ... begini. Benturan keras dibagian kepala pasien mengakibatkan pendarahan pada otak dan mengalami geger otak ringan."


"Apa! Geger otak!"


"Iya geger otak ringan dan kemungkinan pasien mengalami amnesia sementara."


"Hah! Amenesia?" Arkan memegangi dadanya yang tiba-tiba sakit. Ia benar-benar shock mendengar penjelasan dokter tersebut.


"Geger otak ringan artinya tidak terlalu parah. Itu hanya kaget karena benturan yang cukup keras dibagian kepala. Ada yang hanya beberapa hari ingatannya langsung kembali normal. Ya, semua itu tergantung pada psikis dari pasiennya masing-masing. Doakan saja semoga mentalnya juga tidak terganggu," jelas Dokter. Membuat Arkan sedikit legah.


"Jika dia seorang napi. Sebaiknya beri tahu keluarganya hal ini bisa membantu memulihkan ingatannya," sambungnya lagi.


Arkan menggeleng bagaimanapun ia tau bahwa Rindi sangat membenci Rifan. Ia tidak mungkin mengatakan pada Rifan mengenai kondisi Rindi.


"Tidak, dia sebatang kara tidak memilikki keluarga. Jadi tolong lakukan penanganan yang terbaik untuk pemulihannya."


"Jangan khawatir kami akan melakukan yang terbaik," tutur dokter dengan senyum sumringah.


.


.


.


.

__ADS_1


Arkan memasukki ruang rawat Rindi hatinya terenyuh kalah melihat sosok wanita dambaan hatinya yang sedang terbaring lemah. Pandangan matanya kosong tertujuh ke atas langit-langit kamar. Arkan melambaikan tangannya beberapa kali. Namun, tak ada respon dari Rindi. Wanita itu seakan tak menyadari kehadiran Arkan. Manik matanya tersirat luka yang mendalam.


"Hey," sapa Arkan. Dia menepuk pelan pipi Rindi. Meski sadar, dirinya bukan siapa-siapa bagi perempuan itu. Tapi Arkan tak pedulikan itu yang penting dirinya bisa melihat wanita yang dia cintai.


Rindi moneleh. Namun, tetap bungkam ia menerawang dalam pikirannya sendiri. "Sebenarnya apa yang terjadi?" batinnya. Ia mencoba mengingat tapi kepalanya menjadi sakit.


"Kau ingat aku?" tanya Arkan dengan wajah sendu.


"Kau ... kau ... ahh, kepalaku sakit," ringisnya lagi sembari memegang kepalanya.


"Tenanglah, tidak perlu mengingat jika belum bisa. Jangan memaksa. Maafkan aku sudah mengganggumu."


"Tidak, wajahmu seperti tak asing bagiku dan aku seperti pernah melihatmu namun di mana? Maaf aku benar-benar tak ingat."


Arkan tersenyum artinya amnesianya tak separah yang dia kira. Lambat laun Rindi pasti akan pulih dan mengingatnya kembali.


"Tidak usah dipikirkan yang penting sekarang kamu harus istirahat agar cepat sembuh."


Rindi mengangguk patuh dalam hatinya bertanya-tanya. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ada polisi yang menemaninya di rumah sakit? Kenapa tak ada orang yang mengaku sebagai keluarganya." Ah, sekelebat pertanyaan terus menari-nari dalam benaknya.


"Tuhan ... sudahi penderitaannya ijinkan dia untuk bahagia. Sudah terlalu banyak penderitaan yang di alaminya," batin Arkan.


Pria itu kemudian keluar menemui petugas sipir yang berjaga diluar. Ia ingin mendengar langsung apa yang sebenarnya terjadi sampai akhirnya Rindi dibawah ke rumah sakit.


"Pak Arkan ...." sapa petugas sipir kaku.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sampai dia terluka parah seperti itu!"


Petugas sipir mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun. Dia juga menceritakan tentang kelakuan sih perempuan onar yang begitu anarkis. Arkan mendengar kemudian menghela nafasnya panjang.


"Mengurusi satu orang saja kalian nggak becus!" sentak Arkan kesal. Petugas sipir itu pun diam tanpa melawan perkataan Arkan.


Hari-hari berlalu dengan baik. Tanpa satu hari pun yang terlewatkan untuk Arkan tidak menemui Rindi. Pria itu selalu menyempatkan waktunya untuk menjenguk Rindi seusai bertugas. Dokter melepas perban dikepala Rindi, wanita berkulit putih yang ingatannya mulai membaik itu tersenyum simpul karena dirinya terus ditatap oleh manik mata yang sedari tadi terus menatapnya tanpa kedip. Siapa lagi kalau bukan Polisi Arkan. Ah, pria itu membuat dokter geleng-geleng kepala.


Setelah beberapa hari di rumah sakit. Kini waktunya Rindi untuk kembali menjalani hukumannya ditahanan. Dikawalin oleh petugas sipir membuatnya tak nyaman. Tentu, ia tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menurut. Beberapa pasang mata di rumah sakit menatapnya aneh. Bukan tanpa sebab tapi karena dirinya dikawalin itulah yang membuat orang-orang jadi pengen tau tantangnya.


Setibanya ditahanan. Ia dimasukkan kembali dalam ruangan yang sama. Ada Bu Sarti dan juga yang lainnya yang menyambutnya dengan senyum hangat. Tapi tak ditemukan perempuan onar. Rindi pun tak ambil pusing dengannya itu berarti bagus tak ada lagi yang bertingkah bak seorang pemimpin.

__ADS_1


...***...


Waktu terus bergulir dengan cepat. Dari hari ke hari, bulan ke bulan. Bu Sarti pun telah dibebaskan, Rindi, wanita itu lebih banyak diamnya tak ada lagi teman ngobrolnya. Jika biasanya Bu Sarti lah yang selalu mengajaknya ngobrol bercanda bersama. Kini tak ada lagi karena wanita bertubuh ringkih itu sudah menghirup udah segar dan berkumpul kembali bersama keluarganya. Rindi pun tak lagi menampakkan senyumnya bicara hanya seperlunya saja. Namun, ibadahnya tak pernah ditinggal selalu tepat waktu. Ia juga selalu menuruti apa yang diperintahkan oleh petugas sipir.


Rifan bahkan pria itu tak pernah datang lagi untuk menemuinya. Rindi tersenyum kecut. Bukan dirinya ingin mengharapkan sosok itu datang memperhatikannya. Namun, ia hanya ingin Rifan segera menceraikannya karena tak ingin ada ikatan apapun lagi dengan pria itu. Rindi hanya ingin fokus dengan ibadah. Karena 20 tahun bukanlah waktu yang sebentar ia akan menua di sini menunggu takdir kematian menjemputnya.


.


.


.


.


Ditempat lain Arkan yang sedang berseteru dengan wanita tua yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri. Ibunya mendesak agar Arkan segera menikah. Sebab dirinya tak lagi mudah, ia ingin segera menimang cucu.


"Mama nggak mau tau pokoknya kamu harus segera menikah! Jika kamu tak bisa mencari perempuan maka Mama yang akan turun tangan mencarikanmu jodoh."


"Cukup Ma! Please ... jangan ikut campur dalam urusan jodohku."


"Terus mau sampai kapan kamu akan sendiri terus. Hah! Kamu nggak kasihan Mama ini sudah tua pengen nimang cucu."


Arkan menghela napasnya panjang mendengar penuturan Mamanya. Benar adanya jika terus menunggu Rindi maka pasti ia akan menjadi bujang lapuk, tapi hanya Rindi lah perempuan yang dia cintai. Hanya dengan sekali melihat ia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dan ia ingin melindungi perempuan itu dengan segenap jiwanya.


"Beri Arkan waktu sedikit lagi Mam, saat ini Arkan hanya mencintai satu perempuan tapi dia ...."


"Tapi apa?"


"Dia ...." Arkan menunduk terlihat ada bulir bening yang jatuh pada pelupuk matanya.


Dalina ibunya Arkan tersentak kaget. Sebab, yang ia ketahui putranya adalah pria yang jarang menangis meski dalam keadaan sakit sekalipun.


*****


BERSAMBUNG


HAPPY READING

__ADS_1


__ADS_2