
Sadar dari pingsan kulihat mas Rifan sedang menangis disampingku pria itu sesuguhkan. entah sudah berapa lama aku pingsan namun kini sudah bukan dirumah sakit lagi melainkan didalam mobil.
"Di mana Abizarku!" aku bertanya pada mas Rifan.
"Di mobil ambulance sekarang kita pulang kerumah untuk mengurus jenazahnya.
"Apa jenazah katamu?"
Tangis kupecah kembali tak membayangkan akan terjadi seperti ini Abizarku benar-benar telah pergi. ini semua kerena kesalahan mas Rifan dan juga selingkuhannya lihat saja apa yang bisa kulakukan setelah ini mereka berdua harus enyah dari dunia. jika aku kehilangan putraku maka keluarganya juga akan kehilangan mereka! tak peduli konsekuensinya seperti apa aku siap menanggungnya.
"Sabar Rindi, kita harus ikhlaskan Abizar dia sudah bertemu dengan pemiliknya yang sebenarnya," mas Rifan menenangkanku.
"Sabar katamu, ini semua salahmu! Abizarku meninggal karenamu jika kau berada disampingnya, mendampinginya maka ini semua tidak akan terjadi kau lebih memilih bersama selingkuhanmu ketimbang nyawa putramu!"
"A a-apa katamu?" tanyanya tergagap pria ini perlu tamparan keras agar dia menyadari titik kesalahannya.
"Dengar ya mas aku takkan pernah memaafkan mu! sekalipun kamu memohon sampai menangis darahpun aku tak akan Sudi memaafkan mu!"
"Ini sudah takdir kau tidak bisa menyalahkanku bagaimanapun pada akhirnya kita manusia tetap kembali kepadanya sang pencipta kita harus mengikhlaskannya," pandai sekali dia berucap aku ingin membalasnya namun mobil kami sampai dipelataran rumah.
Para tetangga berkerumun menyambut kedatangan Abizar suara tangis mereka mengalahkan suara ambulance bandera kuning sudah terpasang di sana, aku turun dari mobil semua mata menatap dengan iba, Mirna sepupuku datang memeluk erat, aku seperti telah mati tak ada kata yang keluar dari bibir, tubuhku membeku setelah menyaksikan mereka membawa masuk keranda Abizar.
Kami semua mengantar Abizar ke tempat peristirahatan terakhirnya. para kerabat dan teman-teman berbondong-bondong ikut serta ke pemakaman dan mendoakan Abizar, disana ekor mataku tak sengaja melihat selingkuhannya mas Rifan, gigiku gemeretuk berani-beraninya dia datang menampakkan batang hidungnya didepanku.
Mirna menyenggol pelan lenganku memberi isyarat bahwa perempuan perebut suami orang itu ada disana, aku mengangguk padanya, terus awasi pergerakan dia dan tunggu sampai proses pemakaman selesai," titahku pada Mirna wanita itu mengangguk.
Setelah selesai proses pemakaman, semua orang pun kembali, tinggal aku dan mas Rifan tangannya hendak menyentuh batu nisan namun segera ku tepis dengan kasar. tak ingin tangan kotornya menyentuh putraku meski hanya batu nisan tak akan kubiarkan, pria itu berdecah kesal tapi tak berani manatapku.
"Jangan coba-coba menyentuh putraku kau tak punya hak lagi untuk menyentuhnya, kau sudah menjadi asing di mataku!" ucapku pada mas Rifan sembari memelototinya.
Dia pergi begitu saja meninggalkanku, biarkan saja, karena setelah ini akan ada kejutan yang tak terduga. aku kembali kerumah mencari sosok pria yang telah membersamaiku selama bertahun-tahun, namun tak kutemui kemana pria itu.
"Kau sudah pulang?" suara ibu mertua menyapaku.
"Di mana mas Rifan!" tanyaku dingin.
Kali ini tak ada sopan santun seperti biasanya wanita tua ini aku muak melihatnya dia pandai berekting dan menutupi kebusukan anaknya mendukung perselingkuhan mas Rifan dengan dalih ingin memilikki cucu lagi sebab aku tak bisa hamil.
__ADS_1
"Apa maksudmu? bukannya kalian pergi ke pemakaman?"
"Ya setelah selesai pemakaman dia pergi meninggalkan ku sendirian, aku pikir mas Rifan balik ke rumah nyatanya dia tidak disini, ibu pasti Taukan kemana anak ibu pergi?"
"Tidak, ibu tidak tau kemana Rifan pergi.
"Kalau begitu masuk ke mobil ikut denganku!" titahku dengan suara yang meninggi.
"Ibu tidak mau, kau mau membawa ibu kemana?"
Tanpa menjawab pertanyaannya aku berlalu dari hadapannya mencari benda tajam, sebuah g*lok panjang terletak dipojokan dapur tanpa pikir panjang aku mengambil g*lok tersebut dan mengarahkan padanya, Ibu mertua ketakutan dan hendak berteriak meminta tolong namun dengan cepat tanganku membekap mulutnya, berbisik tepat ditelinganya.
"Ikut ke mobilku maka nyawamu ku ampuni.
wanita tua yang memilikki tahi lalat di bibir itu mengangguk lemah, bisa kulihat badannya bergetar hebat, apa peduliku dia yang memulai maka dia juga yang harus menyaksikan akhir dari penderitaan anaknya, Aku menarik tangannya masuk kedalam mobil tak lupa g*lok dan sebuah gunting kumasukkan kedalam tas kemudian memakai sarung tangan.
"Di mana rumah selingkuhannya mas Rifan!" tanyaku padanya, aku yakin dia tau.
"I i-ibu tidak tau Rindi siapa yang kamu maksud," jawabnya terbata dan masih berpura-pura tidak tau, ingin rasanya ku cekik lehernya saat ini juga.
"Rina yang ku maksud dan jangan berpura-pura bodoh Bu! aku benci penghianat!" sahutku seraya menatap tajam ke arahnya.
"Gang atletik jalan patimura," imbuhnya cepat,
"Bagus!"
Aku segera menyalakan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi setibanya disana Ibu mertua menunjukkan rumahnya bercat biru langit, mobil kuparkirkan tepat didepan rumahnya sih perempuan perebut suami orang.
"Turun!" titahku padanya.
Mas Rifan keluar dari dalam dan terkejut mendapati mobilku juga ibu mertua yang sudah berdiri dengan pucat pasi.
"Rindi apa-apaan kamu membawa ibu kesini," ujar mas Rifan sembari melotottiku dengan tajam dia pikir aku akan takut, cihhh tidak akan.
"Rupanya kau disini mas! Abizar baru saja di makamkan tapi kau sudah tak tahan untuk menemui selingkuhanmu!"
"Sudahlah, Abizar sudah tenang jangan lagi mempermasalahkan dan soal Rina dia mau menjadi madumu, kau tidak bisa memberiku keturunan. jadi, terimalah kenyataan bila aku menikah lagi dan kelak jika Rina memberiku keturunan maka kau bisa memomongnya jika kau mau," ujarnya panjang lebar tanpa jeda.
__ADS_1
Dengan muka datar aku melipat tangan ke dada mendengar perkataan selanjutnya dari mulut sih pria penghianat yang masih bergelar suami. tapi tak ada lanjutannya dia bergeming.
"Gampang sekali kau berbicara mas, jangan mempermasalahkan tentang Abizar katamu?" hei putraku adalah segalanya bagiku, aku tidak akan tinggal diam!" teriakku lantang tepat di hadapannya.
"Ada apa ini ribut-ribut!"
Suara pria parubaya yang tak lain adalah orang tuanya Rina dia bersama istrinya keluar setelah mendengar keributan diteras rumah miliknya, tak lama setelahnya Rina pun ikut keluar menghampiri kami.
"Bagus! anaknya melakukan perselingkuhan dan masing-masing orang tua mendukung perbuatan haram anaknya, didikan yang buruk!" umpatku.
"Pergi dari rumahku! jika mas Rifan selingkuh dan memilihku itu artinya kau tak pandai menjaga suamimu, lagi pula siapa yang mau denganmu wanita yang tidak bisa memberinya keturunan," ujar Rina membuat emosiku semakin tersulut.
Aku menarik tangannya kuat dan menendang perutnya dengan sekuat tenaga, ia terpental ke belakang dan terjatuh.
"Aaaa sakiiit!" wanita itu memekik sembari memegang perutnya yang terasa sakit akibat tendangan ku.
"Rindi hentikan! mas Rifan menarikku namun cepat ku tendang tangannya hingga ia terhempas jauh.
"Kau sudah membangunkan singa dalam jiwa seorang ibu, sekarang rasakan akibat dari perbuatanmu!" teriakku lantang sembari mengambil g*lok dan juga gunting yang sudah kusiapkan.
Mereka semua teriak ketakutan, beberapa tetangga berkerumun tapi tak ada yang berani melarai, mas Rifan kembali mendekat ke arahku namun g*lokku berhasil menggores lengannya.
"Aaaaa...!"
Teriak semua orang ketakutan karena melihat darah dilengan mas Rifan, ibu mertua membekap mulutnya tak percaya kemudian menarik mas Rifan menjauh dariku, tak puas aku kembali menarik Rina, menjambak rambutnya dan membanting kasar ke tanah kemudian mendudukki perutnya, menggunting seluruh bajunya. wanita itu melakukan perlawanan namun tenaganya tak sebanding denganku.
"Heei...! apa yang kau lakukan! lepaskan anakku, dasar wanita gila!" teriak ibunya Rina histeris melihat anaknya di aniaya, aku tak menggubris sedikitpun teriakkannya. justru itu membuatku semakin menggila.
Beberapa orang mendekat hendak menarikku namun dengan sigap ku arahkan g*lok ke arah mereka. sembari menatap mereka satu persatu dengan tajam nyalinya menjadi ciut mereka mundur kembali beberapa langkah.
Rina mengambil kesempatan ini untuk berlari namun dengan cepat aku segera menendangnya kembali hingga ia terpental, darah segar keluar dari mulutnya secepat kilat ku hunuskan g*lok tepat dilehernya dan menyayat-nyayat perutnya.
"Rinaaaa....!" teriak semua orang yang menyaksikan aksiku. kulihat disana Nirmala ibunya Rina telah pingsan beberapa ibu-ibu menolongnya.
Aku berdiri dengan wajah yang berlumuran darah, berteriak kencang ke arah mereka yang mengatakan aku gila, wanita psikopat dan lainnya.
"Heii kalian dengar wanita ini adalah perempuan pengganggu rumah tangga orang, dia pantas m*ti karenanya aku kehilangan putraku," teriakku lantang sembari menunjuk Rina dengan sorot mata kebencian tak ada penyesalan sedikitpun dihatiku, aku puas telah membunuhnya.
__ADS_1
Terdengar suara sirine polisi kudengar mereka mengatakan kalau pak RT yang memanggil polisi, aku tersenyum menatap langit Abizarku telah mendapatkan keadilan.