
Di kamar rumah sakit. Rindi memperhatikan suasana di restorannya melalui CCTV yang terhubung di ponsel Arkan. ia terpaksa meminjam ponsel Arkan untuk melihat keadaan di restoran. nampak Lisa yang sedang sibuk mengawasi para koki, tanpa kehadiran Rindi membuatnya sedikit kewalahan.
"Kasian Lisa, sepertinya dia kecapean." gumam Arkan tanpa sadar dan Rindi meliriknya sekilas.
Arkan menahan senyum kala melihat lirikkan dari calon istri. "Ekhem! bagaimana, jika aku jadikan Lisa istri kedua." goda Arkan sengaja memanasi Rindi."
"Lalu, istri pertamanya siapa?" tanya Rindi menaik turunkan alisnya.
"Istri pertama, Janda bohai yang ada di sebelah ku." celetuk Arkan sembari tertawa renyah.
Bug!" tanpa di duga Rindi meninju perut kotak-kotak Arkan. pria itu meringis kemudian tergelak.
Rindi memperhatikan Arkan yang tumben-tumbennya bisa tertawa lepas. dan ini pertama kalinya ia menyaksikan sih kulkas sepuluh pintu bisa tertawa ceriah. biasanya hanya tersenyum datar bak kenebo kering.
Tiba-tiba ponsel Arkan yang masih berada digenggaman Rindi berdering, tertera nama Intel Bondan. Arkan dengan cepat menyambar ponsel kemudian mengangkatnya. Bondan adalah orang yang di suruh Arkan untuk mengintai Mirna.
"Apa! dia kabur!" pekik Arkan dengan suara yang tertahan. kemudian ia mematikan teleponnya dan menyugur rambut secara kasar.
Rindi mengernyitkan dahinya bingung. kemudian menatap Arkan dengan penuh tanya.
"Mirna, kabur." ujar Arkan."
"Kabur? emang kenapa? kok, kabur." tanya Rindi yang memang belum tau dalang dibalik penculikannya juga ada campur tangan Mirna.
Arkan mulai menceritakan tentang persekongkolan antara Mirna dengan Nindia yang berupaya untuk melenyapkan Rindi. Rindi menggeleng tak percaya ternyata Mirna tega berbuat demikian. padahal mereka adalah saudara persepupuan, Rindi meneteskan air mata sedih. sekian banyaknya manusia di bumi tapi kenapa harus Mirna yang memusuhinya?
Mirna yang seharusnya menjadi pendukungnya, tetapi malah memusuhinya. Arkan menyeka bulir-bulir bening yang menghiasi pipi mulus Rindi. ia dapat merasakan kesedihan yang di alami Rindi. dirinya berjanji akan menemukan Mirna dalam waktu dekat.
"Jangan sedih lagi, aku berjanji akan menemukan Mirna dalam waktu dekat ini, dan dia harus membayar atas perbuatannya terhadamu." ujar Arkan dengan serius.
Rindi menggeleng Jika Arkan melakukan itu, maka Mirna pasti akan samakin membencinya, sebaiknya dirinya lah yang mengalah dan meminta maaf secara langsung kepada Mirna dengan meminta maaf tidak akan membuat kita menjadi rendah, bukan. ya, itulah yang di pikiran Rindi saat ini, ia harus menyelesaikan permusuhan mereka dan menyelamatkan ikatan tali persaudaraan di antara dirinya dengan Mirna.
Rindi kemudian menguntarakan niatnya kepada Arkan. Ia akan menemui Mirna setelah ia sembuh. Arkan mengerutkan keningnya ia sedikit tak percaya dengan jalan pikiran Rindi, bagaimana jika Mirna malah mengambil kesempatan ini untuk melukai Rindi. Mirna adalah ular berkepala dua dan Arkan tidak ingin Rindi kembali terkecoh oleh kemunafikan Mirna.
"Aku tidak akan membiarkanmu menemui ular itu." tegas Arkan dan tak ingin di bantah oleh Rindi.
Rindi menggenggam jemari Arkan. "please! kau tau, aku nggak punya siapa-siapa selain Mirna dan aku tidak ingin Ayahku bersedih di alam sana, Mirna adalah anak dari pamanku, tetapi sedari kecil dia selalu dibedakan dari saudara-saudaranya yang lain, Mirna tak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Ayahku yang tak tega melihatnya kemudian merangkul Mirna dan membawanya ke rumah untuk tinggal bersama kami."
...Flash back on...
__ADS_1
Mirna kecil yang malang duduk di pojokkan sembari memeluk lututnya, ketika saudara-saudaranya yang lain memakan makanan enak yang terasa lezat maka Mirna hanya menjadi penonton dan menelan ludahnya sendiri dengan kasar. jika Mirna berani menyentuh tanpa di perintah maka dipastikan ia akan berakhir dengan pukulan dan cacian dari Ibu tirinya.
Ya, Mirna memilikki Ibu tiri yang kejam. Ibu kandungnya Mirna meninggal ketika melahirkan Mirna dan ayahnya Mirna selalu menganggap Mirna anak pembawa sial karena melahirkan Mirna membuat istrinya tiada. tak lama setelah kepergian ibunya Mirna. ayahnya pun menikah lagi dan memilikki anak dari istri barunya. Mirna semakin terasing, ia dijadikan pembantu gratisan oleh Ibu tirinya dan Ayahnya menutup mata membiarkan Mirna hidup dalam penderitaan.
bahkan ayahnya Mirna jauh lebih menyayangi Rindi dibandingkan dirinya, Rindi adalah ponakkan yang paling ia sayangi kepintaran Rindi disekolah membuat seluruh keluarganya bangga.
Mirna kecil menjalankan hari-harinya dengan kepedihan, puncaknya ketika hendak masuk SMP. Ayahnya Mirna menolak keras untuk membiayai sekolahnya Mirna, Mirna pun ngamuk untuk yang ke pertama kalinya ia menentang Ayahnya ia begitu marah pada Ayahnya, tetapi Ayahnya malah memukulinya dengan keras hingga tak sadarkan diri.
Tetangganya lah yang menolong Mirna, membawanya ke rumah sakit. Ayah Rindi yang mendengar berita tersebut, tak tahan lagi ia pergi ke rumah sakit dan membawa Mirna bersamanya, semenjak itulah Mirna tinggal bersama Rindi, di sekolahkan dengan sekolah yang sama hingga kuliahpun di kampus yang sama sampai akhirnya mereka bertemu Rifan. Mirna jatuh cinta pada Rifan tetapi Rifan menjatuhkan hatinya pada Rindi.
...Flash back off...
Arkan mendengar cerita Rindi kemudian menghembuskan nafasnya perlahan, ia memijit pangkal hidungnya berusaha mencari jalan keluar untuk mempermudahkan masalah yang di alami Rindi.
"Baiklah, aku akan membantumu untuk bertemu dengannya. dan kau, tidak boleh pergi sendiri aku akan menemani mu." ujar Arkan sembari menatap manik mata Rindi. "tetapi ada syaratnya, di dunia ini tidak ada yang gratis.
Rindi mengerutkan dahinya dengan penuh tanya atas perkataan Arkan.
"Apa syaratnya?"
"Setelah bertemu dengan Mirna kau harus menikah denganku. bagaimana, kau setuju?" Arkan menaikkan alisnya sebelah.
"Ya.. itu sih, kalau kau bersedia aku juga nggak memaksanya, kok. tapi, jika kau menolak maka aku juga tidak akan membantumu untuk bertemu dengan sepupu ularmu itu." ujar Arkan sembari menahan senyum.
...***...
Mirna menginjakkan kakinya di kota yang baru. yaitu, pulau kalimantan, pulau asing yang sema sekali belum ia kunjungi pulau yang di identik dengan pulau sungai seribu itu menjadi pilihan utama Mirna. untuk bersembunyi dari kejaran Arkan ia berpikir Arkan akan menjobloskannya ke dalam penjara.
Dari kota metropolitan berakhir ke kota Balikpapan. Ya, itulah Mirna sekarang terdampar di kota Balikpapan Kalimantan timur.
Mirna kemudian menghubungi temannya Nazma yang kebetulan tinggal di Balikpapan, ia meminta Nazma untuk mencarinya apartemen. Nazma sedikit heran kenapa Mirna memintanya mencarikan apartemen kalau hanya untuk tinggal sementara kan, sayang uangnya. Nazma berpikir jika Mirna menginjakkan kakinya ke Balikpapan adalah untuk berlibur. ia belum tahu saja tujuan utama Mirna adalah bersembunyi.
"Mirna!" teriak Nazma sembari melambaikan tangannya."
Mirna menoleh ke sumber suara di lihatnya Nazma yang sedang berdiri dan tersenyum ke arahnya. Mirna berlari memeluk sahabatnya erat.
"Hay, apa kabar?" tanya Nazma setelah keduanya melepas pelukan.
"Ya, aku baik... kau sendiri bagaimana?" Mirna balik bertanya.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat, aku juga baik. oh iya, mana suamimu? bukannya, kamu sudah menikah, ya?"
Ya, Nazma memang mengetahui tentang pernikahan Mirna melalui sosial medianya, tapi, ia tak tahu jika pernikahan Mirna tak semulus yang ia bayangkan. Mirna menghela nafas kemudian menunduk, ia tak tahu harus bagaimana menceritakannya. Nazma paham kemudian menepuk pundak Mirna.
"Tidak usah di jawab, jika itu berat bagimu aku tak'kan bertanya lebih lanjut. jika kamu ingin bercerita untuk melepaskan bebanmu datanglah padaku, aku siap mendengarnya." papar Nazma yang mengerti dengan sikap Mirna, ia mulai mengambil kesimpulan bahwa pernikahan Mirna tak baik-baik saja.
Mirna menarik sudur bibirnya ke atas membentuk senyuman. "jika kamu mengetahui yang sebenarnya, apakah kamu masih mau berteman denganku." batin Mirna sedih ia tak berani mengutarakan yang sebenarnya pada sahabatnya itu. Mirna tak ingin Nazma meninggalkannya.
.
.
Di tempat lain Mama Delina terus saja mondar-mandir tak tenang. sebab, beberapa hari ini putranya tak pulang ke rumah alasannya sibuk terus.
Rania yang merupakan adik dari Arkan juga ikutan sebal. ia yang baru pulang dari luar negri dan ingin menghabiskan waktu bersama kakaknya malah di abaikan begitu saja oleh Arkan.
"Lihat saja! kalau Abang pulang kerumah ku pastikan dia tak'kan bisa keluar lagi." omel Rania kesal."
"Abangmu itu benar-benar keras kepala dan susah di kasih tau!" timpal Mama Delina tak mau kalah."
Keduanya bersungut-sungut mengomeli Arkan. sementara yang di omelin malah sibuk bermesraan dengan janda bohai versinya sendiri, seolah dunia hanyalah milik mereka. maklum, sih jomblo karatan yang baru mendapatkan lampu hijau dari bidadarinya membuatnya sedikit bucin.
"Sebenarnya Abang sibuk apa sih, Mam!" tanya Rania pada Mamanya."
"Ya mana, Mama tau! namanya juga polisi ada aja kerjaanya mungkin lagi meringkus penjahat."
"Mama yakin? aku jadi curiga ya, Mam. Jangan-jangan Abang punya kekasih di luar terus menikah diam-diam nggak mau kasih tau kita." Rania mengompori Mamanya."
"Eh, apa maksudmu! nggak mungkin Arkan begitu! menikah diam-diam tanpa sepengetahuan Mama."
"Ya, bisa jadikan, Mam." Rania mengedikkan bahunya seraya meninggalkan Mamanya sendirian di ruang keluarga.
Wajah Mama Delina merah padam. ponsel di tangannya ia remat kuat-kuat kemudian menghubungi Arkan. dan memarahi putranya itu dengan suara yang lantang.
.
.
...Happy Reading!...
__ADS_1