Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 32


__ADS_3

Meri menatap nyalang Ibu Sukma kala melihat ponsel di genggaman Ibu Sukma berdering. tertera nama Arman di layar. Meri tentu mengenali Arman dengan baik. pria yang dulunya hanyalah asisten majikannya kini merangkak menjadi pemimpin perusahaan. Meri tersenyum seringai saat terlintas sebuah ide dibenaknya.


"Apa yang kamu lakukan! berikan ponsel itu padaku!" ujar Ibu Sukma karena Meri merebut ponsel dari tangannya, saat Arman menelepon, Meri dengan cepat menyambar ponsel dari tangan Ibu Sukma kemudian menonaktifkan ponsel tersebut.


Meri tak ingin Ibu Sukma mengadukan perbuatannya pada Arman, bagaimana pun rencana yang telah ia susun dari jauh-jauh hari harus berjalan dengan sempurna.


"Jangan coba-coba mengadukan perbuatanku pada Arman. Atau aku akan membunuhmu!" ancam Meri dengan rahang yang mengeras.


Ibu Sukma terkekeh mendengar ancaman Meri. "kau pikir aku takut di bunuh! kau pikir setelah aku mati maka hartaku akan jatuh ke tanganmu? jangan mimpi! semua surat-surat berharga tidak ada padaku jika kamu berpikir dengan membunuhku maka semua harta akan menjadi milikmu maka kamu salah!" tutur Ibu Sukma dengan senyum mengejek.


"Katakan! di mana surat-surat berharga di rumah ini! sertifikat rumah ini mana serahkan padaku, jika kamu menyerahkan seluruh haratamu padaku dengan baik. maka aku akan merawatmu dengan baik hingga Tuhan memanggilmu nanti." sahut Meri tanpa tahu malu."


"Cih!" Ibu Sukma berdecak kesal menatap Meri dengan rasa benci.


Di luar Susi yang sedang menguping pembicaraan Meri langsung membekap mulutnya tak percaya. ia berusaha mencari cara untuk menyelamatkan Nyonya Sukma, tapi lagi-lagi ancaman Meri tempo hari membuatnya takut. Meri mengancam jika Susi berani ikut campur maka dia nggak akan segan-segan untuk membunuh adik Susi yang saat ini masih duduk di bangku SMU.


Meri mengobrak-abrik seluruh isi lemari Nyonya Sukma. mencari benda berharga di dalam sana Nyonya Sukma hanya bisa menggeleng lemah tak berdaya ia tak bisa berbuat apa-apa saat ini tenaganya kian melemah. tiba-tiba Meri menemukan sebuah kotak beludru berwarna merah dengan mata berbinar-binar ia membuka kotak tersebut dan isinya satu set perhiasan.


"Kembalikan perhiasanku! itu adalah hadiah pertama dari putraku. kamu boleh mengambil yang lainnya tapi jangan yang itu." melas Nyonya Sukma dengan nada yang memohon air matanya tumpah ruah. ia tak pernah membayangkan jika nasipnya akan seperti ini.


Meri tertawa girang. ia kemudian mengambil semua perhiasan Nyonya Sukma dan mengurung wanita tua itu di dalam kamar. rintihan Nyonya Sukma ia abaikan begitu saja.


"Seharusnya bersyukur karena aku tak mengurungmu di gudang yang kotor. kau masih bisa menikmati kamar mewahmu itu." gumam Meri pelan. Namun terdengar di telinganya Susi yang sedang bersembunyi.


Setelah kepergian Meri. Susi mencoba membuka gagang pintu namun di kunci oleh Meri. "Nyonya ... Anda baik-baik saja di dalam?" tanya Susi dari luar dengan rasa khawatir.


"Susi, pergilah! cari Arman di pabrik Abizar Taillor minta dia untuk datang ke sini." perintah Nyonya Sukma dari balik pintu.


"Tapi, Nyonya ... ketua mengancam akan membunuh adikku jika aku berani ikut campur." jawab Susi dengan rasa bersalah.


"Jangan khawatir, percayalah padaku Arman akan melindungi adikmu."


"Apa Nyonya Yakin? Tuan Arman mau melindungi adikku."


"Tentu? percayalah padaku Arman akan melindungi adikmu."


Susi mengangguk kemudian meminta Nyonya Sukma untuk beristirahat saja di kasur. ia akan mencari cara agar bisa sampai di pabrik. setibanya di halaman rumah saat hendak keluar membuka gerbang Susi dikejutkan dengan kedatangan Miranda yang membawa serta kopernya, Miranda adalah anaknya Meri. Susi dengan cepat bersembunyi di balik pilar.

__ADS_1


Meri menyambut kedatangan putrinya dengan antusias dan senyum bahagia yang terpancar. saat pelayan yang lainnya hendak memprotes lagi-lagi Meri berhasil membungkam mulut mereka dengan berkata. "Tuan Rifan sendiri yang menyerahkan kekuasaan rumah ini padaku. ini adalah imbalan untukku karena aku telah bekerja selama belasan tahun untuknya." pelayan pun tak bisa memprotes lagi.


Ya memang benar, Meri bekerja dengan Rifan saat Rindi masuk penjara. Rifan mau tak mau mempekerjakan asisten rumah tangga untuk mengurus rumah serta memasak. pada masa itu Rifan masih belum berjaya dan rumah yang mereka tempati dulu masih rumah biasa.


Setelah di pastikan Ibu dan anak itu masuk ke dalam. Susi dengan cepat keluar dan meminta supir pribadi Nyonya Sukma untuk mengantarnya ke pabrik menemui Arman. supir itu pun mengangguk kemudian mengeluarkan mobilnya dari garasi.


...***...


Di Kalimantan, Mirna memandang dirinya dari pantulan kaca. ya, hari ini atas bantuan Nazma. Mirna akhirnya bekerja di sebuah perusahaan besar terletak di Balikpapan. dengan senyum mengembang ia memasukki lobi kantor semua mata memandang kagum padanya. rambut sebahu ia gerai begitu saja, batik kantor yang ia kenakkan sangat pas di badannya dipadukan dengan rok panjang berwarna hitam. karena masih baru di perusahaan ia pun menjadi pusat perhatian orang-orang. apa lagi setelah mengetahui Mirna berasal dari kota metropolitan Jakarta, nggak sedikit orang yang ingin berteman dengannya.


Mirna sedikit terharu di kota asing orang-orang begitu menghargainya berbanding terbalik dengan kota asalnya yang mana dirinya selalu dicemooh dan di pandang rendah. bukan tanpa sebab tapi karena kelakuannya sendiri yang bikin orang ingin menjauhinya.


Mirna duduk di ruangannya dengan pongah.


Menjadi sekretaris bukanlah cita-citanya tapi karena ia ingin menyibukkan dirinya dengan kegiatan. mau tak mau ia menerima tawaran Nazma untuk menjadi sekretaris di perusahaan tersebut.


Hari pertama bekerja terasa menyenangkan baginya. ia sedikit lupa dengan masalah yang ia ciptakan bersama Nindia.


Saat hendak keluar dan menunggu Go-Jek pesanannya datang, pupil matanya tak sengaja menangkap sosok Nazma sedang membagikan kotak makanan pada pemulung yang lewat. matanya berkaca-kaca ia teringat sepupunya Rindi yang gemar berbagi. Mirna mengusap wajahnya dengan kasar ia meraup udarah sebanyak mungkin untuk menghilangkan sesak di dadanya. tanpa memperdulikan sahabatnya Nazma. Mirna berlalu dengan Go-Jek menuju apartemennya dengan perasaan tak menentu.


Dalam kamar, Mirna terus merenungkan dirinya bayang-bayang masa kecilnya kembali hadir dalam benaknya. tanpa terasa air matanya mengalir dengan deras ia memandang dirinya sendiri depan kaca. rasa irinya terhadap Rindi membuatnya lupa segalanya. ia lupa kebaikan Ayahnya Rindi yang sudah menyelamatkannya dari kekejian Ayah kandungnya sendiri.


Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke akunnya. ia begitu terkejut melihat nama pengirim pesannya. Dengan tangan bergetar Mirna membuka pesannya.


[Di manapun kamu berada saat ini, semoga kamu dalam keadaan baik-baik saja. aku tak'kan menuntutmu atas perbuatanmu padaku. aku hanya berharap kamu mau memaafkanku.] Rindi."


Mirna menutup mulutnya tak percaya. Rindi meminta maaf kepadanya seharusnya ialah yang meminta maaf kepada sepupunya itu.


.


.


Di tempat lain Susi yang baru tiba di kantor langsung mencari keberadaan Arman. Susi sedikit bingung karena ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya diperusahan majikannya.


Salah satu karyawan pun bertanya pada Susi untuk apa ia datang menemui Arman. Susi pun memberitahu bahwa ia diperintah oleh Nyonya Sukma. mendengar nama itu pegawai itu pun mengangguk kemudian mengantarkan Susi keruangan Arman.


Sekretaris Arman memberitahu bahwa perempuan bernama Susi datang mencarinya. Arman menyipitikan mata ia pernah mendengar nama Susi namun ia tidak begitu akrap dengan pelayan bosnya itu.

__ADS_1


"Suruh dia masuk." titah Arman.


"Baik pak."


Susi pun masuk dan Arman mempersilakannya untuk duduk.


"Ada apa?" tanya Arman tak sabar.


Susi lantas memberitahu tujuannya datang menemui Arman atas perintah Nyonya Sukma. Ia menceritkan seluruh perbuatan Meri pada Arman tanpa ada yang terlewatkan termasuk Meri yang mengancam akan membunuh adiknya.


"Kurang ajar!" geram Arman dengan rahang yang mengeras. Susi yang melihatnya bergidik ketakutan.


Arman pun menanyakan keberadaan Rindi apakah Rindi ada di sana atau tidak? Susi menggeleng dan berkata bahwa Rindi beberapa hari ini tak pernah datang untuk menemui majikannya.


Arman mengangguk. kemudian meminta Susi untuk kembali. Arman tak lupa meminta nomor Susi agar mudah untuk berkomunikasi. lagi-lagi Susi menggeleng ia tak punya ponsel. Arman sedikit terkejut di era ini masih ada orang yang tidak memiliki ponsel. Susi hanya tersenyum getir.


"Kalau begitu pulanglah lebih dulu, aku akan menyusul." titah Arman.


"Baik Tuan, tapi ... Anda akan melindungi adik saya kan? hanya dia satu-satunya yang saya punya." imbuh Susi dengan suara yang bergetar.


"Kamu jangan khawatir, saya sendiri yang akan turun tangan." jawab Arman meyakinkan Susi.


Susi mengangguk dan berterima kasih pada Arman. setelah itu dia pun kembali kerumah majikannya.


Setibanya di rumah Susi mengendap-endap melalui pintu belakang kemudian masuk ke dapur secara diam-diam.


"Susi! dari mana saja kamu, dari tadi ketua mencarimu!" seru teman Susi yang sesama pelayan.


"Ssstt.. jangan berisik! aku di perintah Nyonya besar untuk pergi menemui Tuan Arman." bisik Susi di telinga temannya.


Sedangkan di kamar Rifan, Meri bersama Ibunya tertawa girang. Miranda memperhatikan barang-barang branded milik Rifan ia kemudian tersenyum penuh makna, ketika sebuah ide terlintas di benaknya.


...Happy Reading...


.


Hay semuanya, maaf ya part ini menceritakan peran Nyonya Sukma karena tokohnya sebentar lagi akan di hilangkan.

__ADS_1


mohon bantuannya untuk dukung saya dengan cara like dan komen sesudah membaca.


terima kasih😍😍


__ADS_2