
Rifan benar-benar di liputi oleh amarah, ia tak habis pikir ibunya masih saja bersikap demikian.
"Mau sampai kapan Ibu membenci Rindi, Bu? dia sudah terlalu menderita karena ulah kita yang serakah dan tidak tau diri!" ujar Rifan dengan suara yang semakin serak.
"Ibu tidak membencinya, ibu hanya takut kejadian belasan tahun yang lalu terulang kembali, bagaimanapun kita harus waspada terhadapnya. bisa saja dia kembali untuk balas dendam.
"Aku tidak peduli jika dia ke sini untuk balas dendam, aku sudah siap untuk itu, tapi ibu tenang aja Rindi tidak akan melakukan itu, dia sudah menemukan pendamping hidupnya yang jauh lebih baik. dan aku? aku akan terus tersiksa dalam kesendirianku.
"Apa yang kamu katakan! jika Rindi sudah menemukan pendamping hidupnya itu berarti bagus. dan kau? jika kau tak cocok dengan Mirna kau bisa mencari wanita yang kau inginkan di luar sana. dia bisa menjadi pendamping hidupmu dan melahirkan anak-anakmu kelak. jangan terus terpuruk dengan masa lalu bagaimana pun kehidupan akan terus berjalan, ingat masa depanmu jauh lebih penting Rindi hanyalah masa lalu, kau harus melupakannya dan melanjutkan hidupmu bersama orang baru.
"Tidak Ibu, aku akan menderita dalam kesendirianku, bagaimana bisa melanjutkan hidupku bersama orang baru sedangkan hatiku hanya untuknya." ujar Rifan sembari menghela nafasnya.
"Dan satu lagi, ku peringatkan untuk yang terakhir kalinya, jangan coba-coba mengusik kehidupan Rindi atau Ibu akan tau akibatnya, dan Mirna jangan sekali-kali Ibu biarkan dia masuk ke sini tanpa sepengetahuanku, jika ibu melakukan itu maka aku tidak akan segan-segan untuk mengusir Ibu dari sini!" ancam Rifan tegas, agar ibunya tak melakukan tindakan bodoh lagi kedepannya.
Di restroran...
Rindi memasukki kamar yang ia tempati wanita itu masih tinggal di restoran miliknya, bukannya tak mampu untuk membeli sebuah rumah. hanya saja ia rasanya sayang jika membeli rumah tapi tak ada penghuninya, ia hanya tinggal seorang diri dan pastinya akan jarang ditempati karena dirinya harus tetap stay memantau restoran.
Keadaan restoran sangat sepi karena sudah larut malam, para pekerja pun sudah pada pulang ke rumah masing-masing. saat hendak membuka pintu kamar namun ia dikejutkan dengan sebuah surat yang terletak di bawah pintu dan Rindi hampir menginjaknya. dahinya berkerut menatap surat yang isinya belum ia ketahui karena rasa penasaran Rindi akhirnya memungut surat tersebut kemudian membacanya.
..."Hi-hi-hi-hi..... wanita sialan! kau pikir kau bisa bernafas legah setelah membunuhku, ingat! kebebasanmu telah ku tunggu sekian lama, aku akan kembali untuk membalaskanmu. sama sepertiku kau juga harus mati! dan merasakan penderitaanku dan jangan coba-coba merebut Rifan dariku dia milikku hanya milikku tidak ada yang bisa memilikinya meski kau sekalipun. kau membunuhku dengan bringas tanpa kasihan rintihan kesakitan ku menggema di telingamu. tapi kau tanpa ampun merajangku bagaikan daging. setelah membaca surat ini kau pasti tercengang bukan? kau pasti menebak-nebak siapa yang mengirimmu surat seperti ini....
...hi-hi hi-hi-hi-hi...
__ADS_1
Rindi menjadi shock setelah membaca suratnya, keringat membasahi pelipisnya, tidak mungkin Rina, kan? yang menulis suratnya lalu siapa? ia meremas suratnya kemudian menyimpannya di dalam laci besok ia akan tunjukan pada Arkan. dan minta Arkan untuk menyelidikinya sebab Rindi yakin ada seseorang dibalik surat tersebut cuma ia belum tau siapa pelakunya yang coba untuk menerornya.
Keesokkan harinya seperti biasa kesibukan di resrtoran kian memadat, makin hari pelanggannya makin banyak Lisa pun ikut turun tangan untuk membantu pramusaji. sedangkan Rindi sendiri ia tampak sibuk di meja kasir dan Rina wanita itu dengan sigap mengerjakan tugasnya sesekali ia mencuri pandang ke arah Rindi.
Rindi yang sibuk tak memperhatikannya hingga jam makan siang, Lisa menggantikan posisinya Rindi di meja kasir untuk makan saja mereka harus ganti-gantian.
"Sepertinya kita harus merekrut dua orang lagi." ujar Rindi pada Lisa.
"Iya, Ibu benar restorannya makin hari makin ramai pelanggan dan kita kewalahan untuk melayaninya, yang pesan online maupun makan ditempat sama-sama full." jawab Lisa sang manager dengan mata berbinar.
"Humm... kalau begitu tugasmu mencari karyawan baru, dua orang lagi. pastikan yang di utamakan good etitudde." ujar Rindi sambil memasukan makanan ke dalam mulut.
"Siap Bos!" ujar Lisa antusias."
"Emmm Lis... semalam, sebelum pulang kamu lihat seseorang yang mencurigakan nggak di restoran?" tanya Rindi pada Lisa berharap wanita itu mengetahui sesuatu.
Lisa mengernyitkan dahinya tanda bingung, kemudian ia menggeleng tak mengerti.
"Maksudku semalam di restoran, kamu ada liat orang berjalan ke depan kamarku nggak?" tanya Rindi lagi.
"Nggak sih, Bu. saya fokus di meja kasir jadi kurang meperhatikan orang-orang di sekitar." jawab Lisa apa adannya.
Rindi mengangguk-angguk tanda mengerti. penemuan surat tadi malam mengusik pikirannya. pelakor itu sudah lama tewas tidak mungkin hantu, kan? gumamnya pelan namun masih terdengar di telinganya Lisa.
__ADS_1
"Apa Bu, hantu?" tanya Lisa dengan dahi yang berkerut.
"Eh, bu-bukan, bukan hantu! hanya saja ada yang janggal tadi malam." jawab Rindi kikuk.
"Kan ada CCTV Bu, di restoran ini mas Gibran memasangnya di setiap sudut."
"CCTV? kalau begitu nanti malam kamu temani aku, kita periksa CCTVnya, sekalian kamu temani saya tidur nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa kok Bu, saya malah senang ada teman tidurnya. biasanya di kos saya selalu sendiri kesepian."
Rindi tersenyum mendengar Lisa ia bersyukur masih dipertemukan dengan orang baik. meski Lisa tau Rindi seorang pembunuh namun Lisa tak merasa takut berdekatan dengannya dan menganggapnya seperti saudaranya sendiri. ya terkadang, orang lain rasa saudara dan saudara sendiri menjadi musuh. ia kemudian teringat dengan Mirna sepupunya sendiri tapi memusuhinya hanya karena seorang pria. lagi-lagi Rindi menghela nafasnya pelan pikirannya menerawang jauh ke depan sana bagaimana ia menjalani masa tuanya kelak tanpa pasangan tanpa keluarga.
"Emmm.... Bu, ini minumnya habis makan jangan lupa minum." tawar Rina sembari meletakkan sebotol air mineral.
"Ehh, iya terima kasih, saya hampir lupa belum minum sedari tadi." ujar Rindi tersenyum ke arah Rina.
Rina kemudian ke kamar mandi ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang di seberang sana, setelahnya ia kembali bekerja seperti biasa.
Rindi mengirim pesan pada Arkan, minta pria itu untuk datang ke restorannya, ada yang ingin ia bicarakan dan Arkan berjanji akan menemui Rindi nanti sore seusainya bertugas.
Rindi yang malang terus saja gelisah. ia terus saja memikirkan siapa orang yang berani menerornya dan apa tujuannya. Rindi hanya tidak ingin menambah musuh ia ingin hidup tenang dan damai tanpa ada yang mengusik kehidupannya.
...happy Reading...
__ADS_1
Kira-kira siapa ya dalang di balik surat tersebut dan apa tujuannya? yuk simak kisahnya Rindi, jangan lupa tinggalkan jejak ya seperti like komen agar authornya tetap semangat dalam menulis...