Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 34


__ADS_3

Arman menatap nanar pada Nyonya Sukma yang tengah menggigil dengan perasaan bersalah begitu juga dengan Rindi. Sedangkan Meri wanita itu mematung dengan wajah memucat shower di tangannya terjatuh begitu saja dengan air yang masih mengalir.


Meri tak menyangka bahwa perbuatannya bakal ketahuan seperti ini. ia menggeram marah dalam hatinya mengutuk Susi dan ingin memberikan Susi pelajaran.


"Ibu!" Rindi berlari ke arah Nyonya Sukma dengan wajah panik ia meraih kepala Nyonya Sukma kemudian membenamkan dalam dadanya.


Wanita tua itu menangis dalam pelukan Rindi, menangis ketidak berdayaan, tangisan pilunya menyayatkan hati bagi mereka yang mendengarnya. tubuh rentahnya menggigil kedinginan hingga bibirnya terlihat membiru.


"Maafkan Rindi, Bu ... sudah lalai menjaga Ibu." lirihnya pelan di telinga Nyonya Sukma.


Tak bisa membendung api amarahnya lagi, Arman dengan rahang yang mengeras, matanya memerah pria itu menyeret Meri keluar dari kamar Mandi dan menghempaskan tubuhnya ke lantai kamar Nyonya Sukma. wajah garangnya menatap Meri dengan tajam, belum puas Arman kembali menarik Meri dan menamparnya hingga terjungkal ke samping.


"Ibu!" teriak Miranda nampak shock ia berusaha membantu Ibunya tetapi Arman malah memelintir tangannya ke belakang.


"Sudah! sudah! bukan waktunya untuk menyiksanya, kita harus cepat membawa ibu ke rumah sakit." seruh Rindi karena Nyonya Sukma terlihat semakin melemah.


Arman seketika tersadar tubuh Miranda ia hempaskan begitu saja dan menubruk tubuh Meri.


"Ahhr!" pekik kedua wanita iblis itu secara bersamaan.


"Sebelumnya aku tidak pernah melakukan kekerasan terhadap perempuan. tetapi perempuan lucknut seperti kalian memang pantas mendapatkan ini. iblis yang yang berkamuflase sebagai manusia cih!" geram Arman dengan sorot mata tajam.


Arkan kemudian menghubungi timnya dan meminta mereka untuk datang ke alamat Nyonya Sukma. Arman dan asistennya saling pandang mereka tak menyangka jika Arkan seorang polisi begitu juga dengan Meri dan Miranda kedua wanita itu tampak shock.


"Tidak! tidak! tolong jangan bawa saya ke kantor polisi, Tuan. saya minta maaf, saya khilaf hikss, hikss." Raung Meri di bawah kakinya Arman tetapi malah ditendang keras oleh Arman.


"Pelayan yang tidak tahu diri sepertimu memang pantas di hukum!" sahut Rindi geram sembari menunjuk wajah Meri.


Meri hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya dengan derain air mata karena takut masuk penjara.


Nyonya Sukma di larikan ke rumah sakit terdekat karena tubuhnya terlalu lemah dan butuh penanganan cepat. Arman dan juga Rindi terus saja mondar-mandir keduanya sama-sama merasa bersalah karena sudah lalai menjaga Nyonya Sukma.


Sedangkan Arkan pria itu bersama asistennya Arman berhasil mengamankan Meri dan juga putrinya. Meri menangis meraung-raung minta di lepaskan ia tidak mau masuk penjara begitu juga dengan Miranda.


"Seret mereka!" perintah Arkan pada anak buahnya meski saat ini ia sedang tak memakai seragam kepolisian. tetapi bukan berarti ia tak bisa meringkus penjahat dalam keadaan tak bertugas, kan?


Polisi akhirnya membargol tangan Ibu dan anak yang meresahkan itu dan menyeret mereka ke dalam mobil tanpa ampun.


Di rumah sakit Nyonya Sukma kondisinya kian melemah meski Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi belum ada reaksi baik dari tubuhnya.


"Ini umum terjadi pada pasien lansia, karena pada dasarnya pasien lansia memilki imun tubuh yang sangat rendah. bahkan suhu tubuh rendah pada lansia dapat menyebabkan jantung, sistem saraf, serta organ lainnya tidak dapat bekerja dengan baik, bahkan dapat mengakibatkan kematian. doakan saja semoga ada keajaiban untuknya." jelas Dokter berharap Arman dan Rindi dapat mengerti.


Rindi wanita itu menangis tertahan ia larut dalam pikirannya sendiri. "Kenapa harus seperti ini? satu persatu mereka meninggalkanku, tidak! aku harus menguatkan Ibu, dia tidak boleh meninggalkanku." batin Rindi sembari melangkah ke dalam ruangan Nyonya Sukma yang di dalamnya sudah ada Arman.


Nyonya Sukma melihat kedatangan Rindi dengan mata yang berkaca-kaca. ia ingin mengatakan sesuatu tetapi lidahnya tak dapat bergerak hanya bola matanya yang bergerak.

__ADS_1


"Ibu harus kuat Bu, Rindi mohon maafkan Rindi, jangan tinggalkan Rindi sendirian." ucapnya disertai isakkan tangis.


Meski Nyonya Sukma hanyalah mantan mertuanya tetapi Rindi meratapinya layaknya ibu kandungnya.


Di pandangnya wajah keriput yang berbaring lemah di brankar. jarinya bergerak menyeka bulir bening yang merembes di pipi Nyonya Sukma. seketika Nyonya Sukma tersenyum, senyum kebahagiaan. Rindi tak mampu menahannya lagi cairan bening di pelupuk matanya lolos begitu saja tanpa permisi.


Nyonya Sukma memenuhi panggilan Sang ilahi. beliau menghembuskan nafas terakhirnya di kamar rumah sakit. Rindi menggeleng seakan tak percaya ia mundur ke belakang sembari membekap mulutnya. kemudian berlari keluar sekencang mungkin meninggalkan Arman sendirian.


"Nona! apa yang Anda lakukan!" Arman berusaha mengejar Rindi namun langkahnya terhenti setelah menyadari ketidaan Nyonya Sukma.


Rindi tak pedulikan panggilan Arman ia terus berlari bahkan beberapa pasang mata menatapnya aneh.


Di depan makam suaminya ia bersujud memohon ampun. meraung sejadi-jadinya, meluapkan amarahnya. "kenapa setelah aku kembali, kalian malah pergi meninggalkanku? kenapa kalian meninggalkan aku seorang diri? kenapa? katakan kenapa, Mas? aku mengaku bersalah padamu dan kau malah menghukumku dengan cara seperti ini. lihatlah sekarang aku sebatang kara satu persatu dari kalian pergi meninggalkanku.


"Abizar ... ayo jemput ibu, bawa ibu bersamamu, Nak. Ibu takut berada di dunia semuanya kejam dan tak punya hati. kau tau? Tente Mirna juga membenci Ibu dia sangat menginginkan Ibu tiada. dan sekarang Ibu tak punya siapa-siapa lagi. kau, Ayah, Nenek, dan semuanya kalian pergi meninggalkan Ibu." ratapnya dengan isakkan tangis tangannya memegang batu Nisan putranya.


Tiba-tiba Arkan menyodorkan sapu tangan padanya membuatnya terlonjak kaget. "Kau tak sendiri aku ada bersama mu." ujar Arkan menenangkan Rindi.


...***...


Waktu terus bergulir kini sebulan pun telah berlalu, kepergian Ibu Sukma meninggalkan duka yang mendalam padanya. hari-harinya ia habiskan hanya untuk merenungkan nasipnya yang malang.


Meski menjadi ahli waris dari seluruh harta kekayaaan Rifan. Tetapi Rindi tak menggunakan sepeserpun. ia sedekahkan kepada anak-anak yatim dan kaum dhuafa dan pahalanya ditujukan untuk Rifan Dan Nyonya Sukma.


Dengan catatan setiap tahunnya menjadi donatur tetap di salah satu rumah kasih bunda Rumah untuk para pengidap Kangker.


Sedangkan Meri bersama Miranda telah mendekam di balik jeruji besi begitu juga dengan Nindia. mereka mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.


"Kenapa melamun?" suara bariton memenuhi gendang telinganya.


Rindi menoleh ke sumber suara mencari sosok yang bertanya padanya. tetapi tak ada siapa-siapa. "Kau kah itu, Mas?" tanyanya, tetapi nihil hanya aroma khas lavender menguar menusuk Indra penciumannya.


Rindi tersenyum beriringan dengan hembusan angin yang menerpa kulitnya. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering Arkan mengiriminya pesan.


[Sayang, nanti malam pukul tujuh aku jemput, ya. ingat! dandannya biasa aja nggak usah menor.]


Rindi Mengernyitkan dahinya sejak kapan Arkan peduli pada riasannya.


[Emang mau kemana?] balasnya cepat.


[Rahasia sayang.] bukan Arkan namanya kalau nggak bikin Rindi penasaran.


Rindi menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya secara kasar. Tiba-tiba Lisa datang menemuinya sambil membawa paper bag ditangannya. Rindi memicingkan matanya menatap Lisa heran.


"Ini Bu, kiriman dari Pak Arkan." ujar Lisa sembari menyodorkan paper bag di tangannya.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Rindi penasaran.


"Tidak tau." jawab Lisa sembari mengedikkan bahunya.


Kerena penasaran Rindi mengeluarkan isinya sebuah gamis cantik senada dengan hijab berwarna abu-abu. Dengan secarik kertas bertuliskan pesan "Rindi Atika Putri, sudikah malam ini engkau mengenakkan gamis ini dan mendampingiku ke suatu tempat."


Rindi terhenyak membaca pesannya. "apakah si kulkas sepuluh pintu kini sedang berkamuflase menjadi pria romantis?" batinnya sambil tersenyum geli.


Lisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal ia merasakan kini bosnya sedang jatuh cinta.


"Emang Ibu mau, pakai hijab itu?" tanya Lisa sedikit hati-hati karena sehari-hari bosnya memang belum berhijab. dan kini Arkan memintanya mengenakkan hijab.


"Tentu saja, mulai sekarang aku akan belajar berhijab." imbuhnya sembari tersenyum manis.


Lisa mengangguk mendukung niat baik bosnya.


Tiba-tiba saja Arman muncul di tengah-tengah mereka, ya, semenjak perusahaan menjadi milik Rindi. Arman jadi sering menemui Rindi bukan tanpa sebab, tapi karena masalah pekerjaan meski Rindi sepenuhnya mempercayai Arman untuk mengurus perusahaannya. akan tetapi segala sesuatu yang berkaitan dengan pabrik maupun butik Arman selalu berdiskusi dengan Rindi terlebih dahulu sebelum ia mengambil keputusan.


"Arman!" Rindi menepuk punggung Arman karena Arman terus menatap Lisa tanpa kedip.


"Eh, iya, gimana?" jawab Arman gugup.


Lisa menahan senyum ia memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Kok, gimana sih! kan kamu yang mau bahas tentang pekerjaan." sahut Rindi heran.


"Oh, itu, nanti kita bicarakan lagi." imbuhnya sembari menggaruk kepala yang sama sekali tak gatal.


"Sial! kenapa wajahnya imut sekali aku jadi gemas melihatnya." batin Arman sambil terus menatap Lisa. sedang yang di tatap hanya tersenyum malu-malu.


Rindi mengerti kemudian berdehem. "Ekhemm! kalau begitu aku tinggal dulu sebentar ada seseuatu yang mau aku ambil. Lisa, tolong temani Arman sebentar dan bikinkan dia minuman." perintah Rindi sengaja memberi kesempatan untuk Arman.


"Ta-tapi, Bu ..."


"Udah nggak apa-apa sebentar aja, kok." Rindi menaik turunkan alisnya membuat Lisa tak berkutik.


Arman melirik Rindi kemudian mengucapkan terima kasih tetapi hanya gerakan bibir tanpa bersuara.


.


.


...Happy Reading!...


😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2