Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 44


__ADS_3

Mentari bersinar terang seolah mewakili perasaan bahagia dua pasangan sejoli yang sedang berbahagia. Setelah melewati ujian panjang yang menguras waktu dan air mata, kini tiba waktunya Rindi dan Arkan memasukki babak baru dalam kisah cinta mereka.


Dengan balutan gaun indah nan panjang perpaduan warna hitam dan putih, Rindi terlihat sangat cantik dan anggun. Hari ini mereka melakukan sesi foto pre-wedding usai menggelar lamaran beberapa hari sebelumnya, dan beberapa hari lagi resepsi pernikahan juga akan digelar.


Rindi yang sudah pernah merasakan yang namanya pre-wedding kini tampak santai, berbeda dengan Arkan yang sedari tadi nampak gugup hingga beberapa kali ia menyeka keringatnya.


Siapapun tak pernah menduga, jika Sang Inspektur Arkan Jaelani yang terkenal dingin dan jutek sebentar lagi akan menikahi tersangkanya. Boleh dikata banyak wanita yang sedang patah hati karena gagal mendekati seorang Arkan Jaelani. Orang-orang pun dibuat penasaran, tentang siapakah sosok wanita beruntung yang telah merebut hati pria dingin itu. Seperti apakah wujud seorang janda kaya yang telah berhasil mendapatkan pria yang banyak dieluh-eluhkan para wanita itu.


"Apa kau tahu, pertunanganmu dengan janda kaya kini jadi perbincangan. Bukan, bukan status jandanya yang diperbincangkan, melainkan karena dia mantan nerapidana dan kau adalah seorang polisi. Kalian viral!" ucap Inspektur Jainul.


"Selagi mereka tidak menghina calon istriku, maka aku tidak masalah." Arkan tampak santai menanggapi ucapan sahabatnya.


Dengan setelan tuxedo berwarna hitam, Arkan terlihat sangat sempurna. Jain sedang membantu merapikan penampilannya.


"Kenapa model rambutnya seperti ini? Aku tidak suka." Ia melayangkan protesnya, karena Jain menyisir rambutnya sepeti anak ABG. Itu terlihat sangat lucu.


"Ini untuk menyamarkan usiamu," jawab Jain tanpa rasa berdosa. "Kau terlihat awet muda dengan gaya rambut seperti ini. Kau tidak malu kalau nanti orang berkata perjaka tua baru akan menikah diusia yang sangat matang."


"Apa katamu!" Arkan membulatkan matanya.


"Kau memang sudah tua 'kan? Lihat Rindi meski dia janda, tapi dia terlihat lebih muda dari usianya, dan kau ... Kau lebih cocok menjadi bapaknya!"


"Kau! Dasar brengsek! Aku belum setua itu!" seru Arkan tak terima dengan cibiran sahabatnya itu.


"Baiklah, kau tidak setua itu. Anggap saja kau tidak terlalu tua, Rindi saja yang terlalu muda untukmu!"


Geram, Arkan memukul paha Jain dengan sedikit keras, matanya melotot dengan bibir yang mengerucut ke depan, Jain yang melihatnya jadi geli sendiri.


"Tenanglah, kuperhatikan setelah Rindi menerima pinanganmu, kau menjadi sangat sensitif. Biasanya di kantor kau diam saja walaupun aku menghinamu habis-habisan."


Arkan berdecak kesal mengingat perbuatan tak berakhlak sahabatnya membuatnya merasa seperti orang gila. Bahkan Jain mengajaknya untuk menjadi saksi dipernikahan keduanya bersama wanita lain, sedang istrinya di rumah tak tahu-menahu tentang kelakuan suaminya diluaran sana. Untung saja Arkan bukan tergolong orang yang seperti itu. Ia membatalkan pernikahan Jain kemudian mencancamnya akan menghancurkan karirnya sebagai polisi. Jain yang takut pun menurut karena ia tahu sahabatnya itu tak main-main jika sudah mengancam.


"Nah, sudah siap. Rindi pasti akan semakin tergila-gila dengan pesonamu." Jain menepuk bahu sahabatnya itu.


Arkan menatap pantulan dirinya dalam kaca. Ia geli melihat gaya rambutnya yang seperti anak-anak selebgram jaman sekarang.

__ADS_1


"Aku tidak mau model rambut seperti ini," protesnya kepada Jain.


"Jika tidak seperti itu, maka kau akan terlihat tua," timpal Jain kesal.


Arkan menyerah, ia tak bisa berkata-kata lagi.


Keduanya keluar menunggu Rindi yang masih merias dibantu oleh Lisa dan juga Rania.


"Kenapa mereka lama sekali? Ini hanya foto pre-wed bukan langsung ijab Kabul," celetuk Jain.


"Namanya juga wanita, kita sebagai pria harus sabar menghadapi mereka." Arman yang sedari tadi diam kini ikut menimpali.


Sebenarnya Arman malas untuk ikut serta, tapi karena ada Lisa mau tak mau ia ikut bergabung dengan dua makhluk yang sifatnya berlawanan. Jika Arkan lebih banyak diamnya, maka berbanding terbalik dengan Jainul yang selalu mengoceh dan kadang bikin orang tertawa melihat tingkah konyolnya.


"Iya. kau benar, tapi ngomong-ngomong aku masih belum tau namamu," kata Jain sambil bergeser dan duduk disebelah Arman.


Sedangkan Arkan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya.


"Arman." Sambil menerima uluran tangan Jain yang ingin menjadi sahabatnya.


Sedangkan di dalam kamar, Lisa sedang membantu membalutkan hijab pashmina di kepala sang bos. Dan juga Rania yang membantu merias wajah untuk calon kakak iparnya.


Mereka benar-benar mengubah Rindi seperti seorang putri di negeri dongeng, padahal ini hanya foto pre-wed, tetapi penampilannya sangat maksimal dan luar biasa cantik.


Rindi melihat pantulan dirinya dalam cermin. Sesaat ia terkesima dengan aurah kecantikan diwajahnya, benar-benar bikin pangling. "Apa ini aku?" tanyanya sambil merabah wajahnya.


"Bukan, tapi ini Cinderella," timpal Rania bercanda.


"Kau ini!" Rindi terkekeh, kemudian mencubit gemas dagu calon iparnya.


Rania balas tertawa, lalu melangkahkan kakinya membuka pintu kamar. "Ayo, kita keluar," serunya sambil melangkah keluar.


Setibanya di luar Rania sedikit terkejut mendapati Arman yang sedang duduk santai bersama Jain. Memorinya berputar kembali pada momen ciuman panas Arman dan Lisa di depan toilet. Menyadari Arman menatap ke arahnya Rania buru-buru membuang mukanya ke arah lain.


"Eh, kalian sudah selesai?" ujar Jain dan Arman hampir barengan.

__ADS_1


Sontak mereka pun tertawa. "Bro, aku rasa kita memang cocok menjadi bestie, kita banyak kesamaan rupanya," ujar Jain sembari menepuk bahu Arman. Sedang Arman hanya terkikik membenarkan ucapan sahabat barunya itu.


Tanpa mereka sadari sedari tadi Arkan dan Rindi ternyata saling berpandangan. Saling terkesima akan pesona masing-masing.


Arkan seolah terhipnotis dengan penampilan Rindi yang memukau. Ia memandang dengan mulut Sedikit terbuka, begitu juga dengan Rindi yang terus menatap kagum ke arahnya.


"Eheem!" Deheman Rania mengagetkan kedua sepasang anak manusia yang masih saling menatap dengan penuh kekaguman. "Saling pandangnya entar aja, deh. Tunggu di depan kamera," sambung Rania lagi.


Arkan hanya tersenyum malu-malu menanggapi ucapan adiknya. Begitu juga dengan Rindi setelah berada di depan Arkan ia menjadi tegang.


Foto pre-wed pun dilakukan diberbagai tempat dengan gaya pose yang berbeda-beda. Meski awalnya kaku. Namun, Rindi dan Arkan berhasil membuat iri kaum jomblo seperti Rania dan juga para pembaca. Eh!


Dan yang paling parah! Adegan dipose terakhir Arkan malah kebablasan melakukan sesuatu yang memalukan. Kalian tau apa yang Arkan laukukan? Saking tak tahannya, dan tanpa malu Arkan meraup bibir merah delima calon istrinya yang sedari tadi terus membuatnya tergoda. Ia mengisapnya dengan lembut, Rindi yang awalnya protes pada akhirnya berubah menjadi menikmati dari setiap sentuhan Arkan.


"Ahhh!" teriak Rania dan Lisa kompak sembari menutup matanya masing-masing.


Jain bergerak cepat menutup kedua matanya Arman dengan tangannya. "Apa yang kau lakukan?" protes Arman.


"Tidak boleh melihat! Jangan menodai mata sucimu untuk menyaksikan perbuatan tak senonoh mereka. Aku membantumu untuk menutup matamu agar kau tak mengintip," ucap Jain konyol. "Kau jangan khawatir, aku juga memejamkan mataku kuat-kuat," sambungnya lagi membuat Arman kesal.


Bukan cuma mereka yang menutup mata, sih Abang fotografinya juga ikutan berpaling ke lain arah. Dan tanpa mereka sadari Arkan telah menggendong Rindi dan kabur dari sesi foto pre-wednya yang tinggal satu kali pose lagi sesuai kemauan Rania, tetapi Arkan sudah tidak mau untuk difoto lagi. Payah Arkan!


Rindi terus memberontak, tetapi Arkan berhasil membawanya masuk ke dalam mobil. Saat menutup pintu mobil barulah mereka pada sadar dan cepat membuka mata, tetapi Arkan telah menghidupkan mesin mobilnya. Kemudian menancap gas dan melaju dengan kecepatan tinggi.


Berbagai umpatan dan sumpah serapah keluar dari mulut Sih Jain. Ia benar-benar kesal dengan tingkah sahabatnya yang gak ada akhlaknya.


"Sahabat gak ada akhlaknya! Gue sumpahin itu mobil bannya bocor ditengah jalan, biar mampus lo!" ocehnya Jain sembari berkacak pinggang.


Begitu juga dengan Rania. "Ihh! Bang Arkan benar-benar ngeselin banget, sih!"


Sedangkan Arman dan Lisa hanya melongo, menatap kepergian mobil yang semakin menjauh.


Untung saja Arman membawa mobilnya, jika tidak. Bisa dipastikan mereka akan naik taksi pulangnya.


*****

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2