
Kehidupan ini memang tak selalu mudah untuk dijalani. Tak pernah bisa kita memastikan atau tahu dengan pasti hal-hal yang menanti kita di depan sana. Pun kita tak bisa kembali ke masa lalu meski semua bayangan dan kenangan di masa itu masih teringat jelas di benak kita untuk kembali memeluk diri sendiri, serta mendorong kita untuk menjalani kehidupan kita dengan penuh kesadaran.
Selama bertahun-tahun ini aku berhasil meyakinkan diri bahwa kepedihan kenangan terasa lebih berat dan lama daripada saat-saat bahagia. Karena itu, dengan menggunakan semacam matematika emosional yang kejam, aku memutuskan lebih baik tidak mencari cinta, persahabatan, bahkan pertemanan."
Hidup ini mempunyai irama yang janggal. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk bisa menyadari hal ini. Sekian dekade. Bahkan berabad-abad. Irama yang tidak mudah. Bagaimanapun, irama itu tetap ada. Kecepatannya berubah dan turun-naik. Di dalam struktur ada struktur, dan di dalam pola tersimpan pola. Sungguh mengagumkan."
Dan Ketika kenangan masa lalu yang
menyakitkan dan tindakan membahayakan mengancam kehidupanku yang membuatku menjadi lemah dalam sekejap. bahkan dalam lamunanku sempat terfikir bahwa aku akan menghabiskan separo hidupku di dalam penjara.
Namun tidak, ternyata Tuhan punya rencana lain tepat di hari ini Tuhan kembali memberiku secercah harapan baru, aku digiring untuk kembali merenungkan makna hidup. tepat di hari ini penjaga memberiku surat kebebasan secara hukum aku dibebaskan karena berkelakuan baik. hukumanku dipotong menjadi sepuluh tahun. kini sepuluh tahunpun telah berlalu aku kembali menghirup udara segar, melihat gedung-gedung pencakar langit berkali-kali aku mengucap rasa syukur pada Tuhan yang telah memberiku hadiah yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya.
Akhirnya aku bebas. ya, aku bebas setelah sepuluh tahun mendekam dalam penjara. lihatlah betapa rencana Tuhan memang luar biasa bukan? dia memberiku kesempatan untuk kembali pada dunia luar yang penuh dengan fatamorgana.
Tak ada penyambutan istimewa seperti orang-orang yang mana ketika bebas akan di sambut hangat oleh keluarga, menunggu di depan gerbang. aku benar-benar sendiri, bagaikan seonggok sampah yang terbuang hidup sebatang kara jauh lebih menyakitkan. ah, Abizar.... andai kau masih ada mungkin ibu tidak akan kesepian seperti ini.
Kerinduan yang masih melekat terhadap putraku membawaku untuk segera menemui pusaranya. namun langkah ini terasa bingung aku seperti lupa jalan menuju makam Abizar. tampak semuanya menjadi asing rupanya sepuluh tahun ku tinggalkan membawa banyak perubahan dalam kota. aku seperti orang asing yang baru menginjakkan kaki di kotaku sendiri.
Banyak pembangunan di mana-mana, jalanan penuh dengan kemacetan, suara klakson bersahutan, membuat udara menjadi tidak segar penyebaran pulosi kian menjadi.
...***...
Dengan uang seadanya aku Menaikki Mini bus tujuan ke Restaurant milikku, ya aku memang punya restaurant peninggalan orang tuaku dan itu semua ku percayakan pada Mas Gibran untuk mengelolanya. tentu itu semua tanpa sepengetahuan Mas Rifan karena aku tak ingin dia menguasai hartaku. selama dipenjara Mas Gibran hanya beberapa kali menjengukku karena kesibukannya di restaurant yang makin hari makin ramai pelanggan.
Setibanya di sana senyumku semakin merekah melihat restaurant yang tampak berubah menjadi lebih bagus. desain moderen ala-ala kekinian menciptakan rasa nyaman bagi setiap pelanggan yang datang. dan yang paling membuatku kagum nama restaurant masih tertera namaku tak ada yang di ubah oleh Mas Gibran. pria itu benar-benar menjalankan amanah dengan baik.
"Rindi!" rupanya Mas Gibran telah menyadari kehadiranku pria itu terlihat kaget mungkin tidak menyangka aku bebas."
Aku tersenyum ke arahnya kemudian mengulurkan tangan. Mas Gibran nampak bingung dahinya mengkerut mungkin masih belum percaya dengan kehadiranku yang secara tiba-tiba.
"Bagaimana kabarmu Mas?"
"Alhamdulillah aku baik. tapi kau, bagaimana bisa bebas bukan kah katamu sepuluh tahun lagi?"
__ADS_1
Aku mendelik tak suka ke arahnya. Mas Gibran adalah anak dari sahabat Almarhum kedua orang tuaku. beberapa tahun yang lalu aku mempercayakan restaurant padanya, karena kesibukanku yang mengurus Abizar membuatku tak fokus pada restaurant.
"Setidaknya biarkan aku masuk terlebih dahulu, kakiku sudah pegal berdiri di luar seperti ini." ujarku yang membuatnya tertawa dan langsung manyuruhku untuk masuk."
"Hahaha maafkan aku, tapi ini bukan mimpi kan? kau benar-benar bebas Rindi, selamat datang di restaurant milikmu." ucapnya antusias dengan mata yang berbinar-binar."
"Sssttt!" aku membekap mulutnya jangan sampai orang-orang tau bahwa aku pemilik restaurant ini, biarkan mereka mengira restaurant ini milikmu."
"Memangnya kenapa jika mereka tau kalau restaurant ini milikmu."
"Apa Mas lupa dengan gelarku seorang pembunuh? bagaiamana jika pelanggan restaurant pada kabur." bissikku tepat di telinganya."
Mas Gibran membelalakkan matanya.
"Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. orang-orang juga udah pada lupa kali?"
Aku menghela nafas panjang Semoga saja begitu. karena kita tidak tau apa yang akan terjadi di depan. Masa depan tetaplah misteri. Kehidupan selalu menyuguhkan kejutan yang tak terduga.
"Istirahatlah di sini, kamar ini sengaja aku renov. untuk beristirahat ketika penat sekarang kamar ini menjadi milikmu." ucapnya yang membuatku tersadar ternyata kami sudah sampai di depan sebuah kamar."
Aku memandang pada kamar yang berukuran lumayan luas. kamar ini dulu adalah ruang kerjaku namun sekarang di ubah menjadi sebuah kamar. Mas Gibran memang hebat mengembangkan restaurant ini dengan baik tanpa dirinya restaurant ini bukanlah apa-apa.
Baru saja akan meram tiba-tiba pintu kamar di ketok dari luar.
Tok tok tok....
Mau tak mau aku kembali bangkit membukakan pintu kamar. rupanya seorang pelayan.
"Ada apa?"
"Maaf Bu, perkenalkan saya Rina pelayan res...."
"Tunggu! apa aku tidak salah dengar? katakan sekali lagi siapa nama mu!"
__ADS_1
Dia menyebut dirinya Rina. nama itu aku benci mendengarnya, nama itu yang membuatku hancur, nama itu nama yang sama dengan perempuan perebut suami orang.
"S-saya Rina Bu pelayan restaurant."
"Keluar! dan jangan pernah menyebut nama itu di hadapanku!"
"T-tapi kenapa Bu, apa salah saya."
"I hate your name! kamu paham!"
"Paham Bu, kalau begitu saya permisi maafkan saya telah membuat Ibu tidak nyaman."
Aku benar-benar tak ingin mendengar nama itu lagi. meski sudah bertahun-tahun lamanya namun luka dalam sini masih menganga dengan lebar.
Gegas aku keluar menemui Mas Gibran. suasana hatiku menjadi sangat kacau akibat nama dari seorang pelayan. Mas Gibran tampak sibuk di meja kasir dengan gesit pria berkumis tipis itu melayani pelanggan yang hendak membayar makanannya.
Aku berdiri diam menunggunya selesai. tetapi tiba-tiba seorang pria menyapaku dia tampak rapi dengan tuksedo yang ia kenakan. mataku melotot dengan tajam menyadari siapa pria yang menyapaku.
Dia adalah....."
"Selamat atas kebebasanmu." ujarnya yang membuatku gelagapan"
"Terima kasih banyak, tapi.... Anda sedang apa di sini?"
"Tentu saja sedang makan, ini kan restaurant siapa saja boleh makan di sini."
"Kalau begitu, silakan menikmati makanannya aku pergi dulu."
"Tunggu! aku ingin bicara denganmu." dia mencekal tanganku."
"Maaf pak, lain kali saja aku harus bekerja." ujarku berbohong seraya menghindar darinya."
Manik matanya masih menatapku tanpa kedip, biarkan saja aku tak ingin ada cinta di kehidupanku entah itu dia atau siapapun yang datang di masa depan.
__ADS_1
Bersambung!!