Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 25


__ADS_3

Dahi dokter Arga mengkerut mendengar jawaban Arkan, kemudian ia menatap Rindi seolah meminta jawaban. tetapi Rindi malah membuang pandangan ke arah lain, sedangkan Arkan, pria itu melipatkan tangannya ke dada, seraya berdecak kesal.


"Jadi, Anda mau apa ke sini? kalau cuma untuk bikin keributan, sebaiknya anda keluar dari sini! jangan menggangu pasien." ucap dokter Arga tegas."


"Tenang, aku ke sini hanya untuk menemani calon istriku." sanggah Arkan santai."


"Dok... biarkan dia di sini, aku jamin dia nggak bakal bikin keributan." Rindi menengahi, sebab percuma berargumen melawan Arkan, pria itu nggak akan kalah."


Dokter Arga mengangguk, kemudian melangkah keluar meningglkan dua pasang sejoli yang sedang dimabuk asmara, ehh tidak deh... hanya Arkan yang bucin, sedangkan Rindi biasa aja.


Dokter Arga menarik lengan Arman untuk mengikuti langkahnya, Arman yang kesal tentu saja berontak.


"Ihh, apaan sih, main tarik-tari aja! sakit tau!" ringis Arman kesal."


Setelah di rasa cukup jauh dari ruangan, Dokter Arga pun melepaskan cekalan tangannya, ia melotot Arman dengan tajam dahi Arman mengkerut bingung.


"Kamu jangan fokus kerja aja, dong? perhatikan bosmu di dalam sana, bagaimana kalau mereka berdua mau niat jahat sama Tuan Rifan."


"Udah tenang aja, aku percaya kok, sama wanita itu." sahut Arman meyakinkan Dokter Arga."


"Oke, kalau kamu yakin aku bisa pergi dengan tenang. tapi pastikan kamu untuk selalu pantau mereka berdua."


Arman memutar bola mata malas. ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sambil sesekali melirik ke dalam.


Dua orang di dalam sana bagaikan orang asing, sama-sama tak mau membuka suara, Arkan menyender pada dinding sambil menatap ke arah Rindi, sedangkan Rindi duduk di sofa menatap ke arah Rifan dengan mata yang berkaca-kaca.


Tak tahan dengan sikap Rindi yang tak acuh padanya, Arkan memilih memainkan ponselnya ia mendudukkan bokongnya di sofa yang berbeda dengan Rindi. Tetapi, tiba-tiba ingatannya tertuju pada CCTV yang sudah ia pasang di restoran, Arkan membuka aplikasi yang terhubung dengan CCTV. awalnya biasa saja tak ada yang mencurigakan, Arkan kemudian memutar pada lorong di dekat toilet ia sengaja pasang kamera tersembunyinya di mana-mana agar segera menemukan penerornya.


Dahinya berkerut melihat seorang pramusaji yang berjalan ke lorong tersebut dengan mengendap-endap sambil celingukan ke kiri dan ke kanan. pramusaji itu mengeluarkan ponselnya dari kantong celana kemudian menempelkan ke telinga. Arkan memasang pendengarannya agar terdengar jelas..


Buku-buku jarinya memerah mendengar percakapan pramusaji dengan lawannya di telepon. sayangnya, Arkan tak bisa mendengar suara dibalik telepon tapi ia bisa mendengar pramusajinya menyebut nama Mirna.


Arkan dapat menyimpulkan, dalang dibalik semua ini adalah Mirna dan pramusaji itu hanyalah pion.


"Sial! apa yang mereka rencanakan." gumam Arkan pelan, giginya gemeretuk menahan amarah.


Rindi menoleh ke arah Arkan, menyadari wajah Arkan yang berubah memerah, wajah Rindi tiba-tiba ketakutan ia takut Arkan marah padanya.


"Ke-kenapa wajahmu merah?" tanya Rindi dengan suara yang terbata bata."


"Emm... nggak apa-apa, kok." jawab Arkan, ia tak mungkin cerita pada Rindi sebab di luar ada Arman. "ini hanya urusan pekerjaan doang." sambungnya lagi sedangkan Rindi menghela nafas legah itu artinya Arkan nggak marah padanya."

__ADS_1


Arkan beralih pandang menatap Rifan, ada rasa iba dalam hatinya. tapi, rasa kesalnya juga tak dapat dipungkiri. karena Rindi lebih mementingkan Rifan dibanding dirinya.


"Heh, bajingan! mau sampai kapan kamu berbaring seperti ini. calon istriku bukan penjagamu." ujar Arkan frontal yang di pelototti oleh Rindi.


"Apa yang kamu katakan! dia belum sadar tak sepatutnya kamu bersikap seperti itu." beo Rindi dengan matanya yang melebar."


Namun Arkan tak pedulikan itu, omongan Rindi seperti angin lalu, Arkan bangun kemudian berdiri di dekat Rifan. Rindi yang kaget tiba-tiba menarik Arkan untuk menjauhi Rifan, ia mengira Arkan bakal melakukan sesuatu yang gila pada Rifan.


"Apa yang kamu lakukan! jangan macam-macam ya! atau aku akan teriak." ancam Rindi."


"Kamu pikir aku polisi penjahat!" celetuk Arkan sembari menatap Rindi, gemas."


Rindi menggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian nyengir menunjukkan gigi putihnya di depan Arkan. spontan Arkan menarik Rindi ke dalam pelukannya, mengelus puncuk kepala wanitanya dengan lembut. hidungnya mengendus wangi shampo di rambut panjang milik Rindi yang tergerai indah begitu saja. Rindi tak menolak, ia balas memeluk Arkan dengan erat, senyum smirk terbit di bibir Arkan, pria itu terlihat bahagia, dan ini pertama kalinya Rindi mau dipeluk oleh Arkan.


"Aku berjanji akan membawamu ke pelaminan." bisik Arkan dengan suara yang menggoda."


Semburat merah di pipinya Rindi kian menggemas di mata Arkan, pria yang berprofesi sebagai polisi itu tanpa jaim mencubit pipi wanita yang berdiri di depannya dengan gemas.


Kemudian Arkan melirik ke arah Rifan, dalam hatinya ia bergumam. "Cemburu kan? kamu, liat aku sama mantan istrimu? kapok! emang enak? salahmu sendiri sih, udah buang dia demi seonggok sampah!"


Lah... Arkan! Arkan! gimana mau cemburu? orang Rifan aja belum sadar, duh... gimana sih orang lagi sakit malah di ajak gelud polisi nggak ada Akhlak!"


"Mas Rifan!" panggil Rindi dengan mata yang kembali berkaca-kaca."


Dokter datang tergesa-gesa ke ruang rawat Rifan, begitu juga dengan Arman secepat kilat ia berlari kedalam ruangan untuk melihat kondisi bosnnya. Rifan perlahan membuka kelopak matanya, sayu ia memandang ke seluruh ruangan menatap satu per satu setiap wajah yang berdiri memandangnya dengan iba.


"Bos!" lirih Arman sedih, namun ia legah setidaknya bosnya sudah sadar."


"Dok... gimana keadaan Mas Rifan?" tanya Rindi pada Dokter."


"Saat ini pasien belum bisa merespon dengan baik, dan sebaiknya kalian keluar dulu. silakan tunggu di luar." tutur dokter Arga dengan sopan.


Rindi mengangguk, kemudian keluar dari ruangan. Rifan memandangnya tanpa kedip hingga punggungnya menghilang dari pintu.


Sebelumnya Rifan pernah mengalami hal seperti ini, kehilangan kesadaran selama beberapa hari, tapi setelah sadar Rifan bakal hilang ingatan dan akan pulih secara bertahap. itulah sebabnya Dokter Arga meminta Rindi dan yang lainnya untuk keluar dari ruangan karena dokter Arga ingin memastikan apa kah Rifan kembali hilang ingatan seperti biasanya atau ia sadar sepenuhnya.


Diluar ruangan Rindi terus saja mondar-mandir, ia tak sabar ingin menemui Rifan. Arkan menarik Rindi dan mendudukinya di sebuah kursi.


"Ada yang ingin aku bicarakan." bisik Arkan dengan mimik muka serius."


"Apa itu penting?" sahut Rindi menatap Arkan."

__ADS_1


"Ya, itu penting. sebaiknya kita pergi dari sini, kita harus mengurusi masalahmu terlebih dahulu. sebelum mereka menyakitimu, kita harus menghentikan mereka sekarang."


Rindi mengernyitkan dahinya bingung. "apa yang kamu katakan? aku nggak ngerti." sahut Rindi polos."


Arkan kembali menghela nafasnya kemudian menghembuskannya secara kasar, Rindi benar-benar menguji kesabarannya.


"Apa kamu lupa dengan penerornya?" Arkan menaik turunkan alisnya."


Rindi membulatkan matanya mendengar Arkan menyebut peneror. kemudian ia mengangguk dan memberi kode pada Arkan untuk tidak membahasnya sekarang. Arkan pun mengerti pria itu memilih diam dan menyenderkan punggungnya pada kursi.


Setelah menunggu beberapa menit kemudian, Dokter Arga pun muncul dari dalam dan memanggil Rindi untuk masuk atas permintaan Rifan, itu artinya Rifan tak mengalami hilang ingatan.


Rindi mengangguk dan meminta ijin pada Arkan. melihat ekspresi memohon dari Rindi, meski berat Arkan akhirnya mengalah pria itu pun mengangguk membiarkan Rindi bertemu Rifan. sebelum masuk ke ruangan Rifan. Rindi meminta Arman untuk menghubungi Ibu Sukma terlebih dahulu, Arman mengangguk patuh.


Rifan tersenyum memandang Rindi. hatinya berdesir tatkala melihat wanita yang ia cintai, saat ini Rifan ingin sekali memeluk Rindi tapi ia sadar akan posisinya, Rindi telah menggantikan posisinya dengan pria lain yang jauh lebih baik dan Rifan berharap semoga pria itu bisa menerima Rindi apa adanya dan mencintai Rindi dengan segenap jiwanya.


"Mas, gimana keadaanmu?"


"Seperti yang kamu lihat."


Rindi menatap sendu, rasa bencinya terhadap Rifan hilang begitu saja terganti dengan rasa iba.


"Kenapa kamu menyiksa dirimu sendiri dengan alkohol dan menyembunyikan penyakitmu dari semua orang?"


"Aku pantas mendapatkan ini." Rifan tersenyum namun sudut matanya mengeluarkan cairan bening."


Rindi menggeleng kemudian menutupkan wajahnya menggunakan telapak tangannya, wanita itu terisak, dalam pikirannya, seharusnya ia bahagia karena Rifan mendapatkan karma. tetapi tidak, bagaimanapun hatinya tak sejahat itu.


"Jangan menangis, aku telah mengabulkan sumpahmu, kau tak perlu mengotori tanganmu untuk membunuhku, aku akan pergi dengan segala kesakitan ini pergi membawa penyesalan, aku pantas mendapatkan ini." ujar Rifan dengan suara yang tercekat."


Rindi semakin terisak ia menggeleng kuat menolak perkataan Rifan.


"Tolong, jangan bicara seperti itu, Mas!" Rindi mengatupkan kedua telapak tangannya ke dada. "kamu harus tetap hidup."


Rifan tersenyum pilu.


"Aku... aku minta maaf telah menyakitimu, tolong maafkan aku agar aku bisa pergi dengan tenang. dan berjanjilah satu hal padaku, kau akan menjaga ibuku dia tak punya siapa-siapa lagi selain dirimu." Suara Rifan semakin melemah.


Rindi yang takut kemudian berteriak memanggil dokter. seluruh tubuhnya gemetar, Dokter Arga dan kedua perawat berlari masuk ke dalam secara bersamaan Ibu Sukma juga tiba.


Happy Reading!!!

__ADS_1


__ADS_2