
Setibanya di rumah sakit dokter langsung cepat menangani Rindi, Arkan menunggu di luar dengan gelisah, ia terus saja mondar-mandir tak tenang. beberapa kali Arkan menyugur rambutnya dengan kasar, ia marah pada dirinya sendiri karena telah lalai menjaga wanita pujaannya. diam-diam arkan menyeka sudut matanya yang tampak basah, ia benar-benar takut kehilangan Rindi.
"Wanita itu, aku tidak akan mengampuninya, beraninya dia menyentuh calon istriku. Akan ku pastikan bajingan itu membusuk di dalam penjara." gumam Arkan pelan."
Arkan kemudian mengambil gawainya menghubungi rekannya, yang kemungkinan masih berada di lokasi penyekapan. lama berdering tetapi tak kunjung di angkat, Arkan sedikit frustasi ia ingin memastikan perempuan itu sudah tertangkap atau belum?
"Kenapa tidak di angkat sih!" gerutunya dalam hati."
Arkan menyenderkan punggungnya pada tembok, ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya secara pelan demi mengurangi rasa sesak di dada. darahnya Rindi yang menempel pada seragam coklat yang ia kenakkan tak ia pedulikan, baginya yang penting Rindi bisa selamat.
Dokter berusaha menyelamatkan Rindi, luka pada bagian kepala sedikit menganga namun tidak terlalu dalam. tetapi harus di jahit agar darahnya berhenti mengalir. hampir memakan waktu satu jam untuk menangani lebam-lebam di sekujur tubuhnya akibat sayatan ikat pinggang yang di layangkan oleh Nindia. setelah selesai dokter bergegas keluar menemui Arkan.
Melihat pintu ruangannya di buka, Arkan dengan cepat berdiri menghampiri sang Dokter dan bertanya mengenai kondisi Rindi. Dokter pun menjelaskan. "kondisinya sangat prihatin, luka-luka ditubuh pasien membatasi ruang geraknya, ia tak bisa tidur terlentang, tidur miring adalah solusinya. tapi itu sangat tidak nyaman, di tambah luka pada bagian kepala, tapi untungnya luka itu tidak terlalu dalam jadi hanya dijahit sedikit."
Arkan membulatkan mata mendengar penjelasan Dokter. saking paniknya pada darah di bagian kepala, sehingga ia tak menyadari bahwa masih ada luka pada bagian tubuh yang lain.
"Di bagian tubuh mana saja, yang ada luka-lukanya?" tanya Arkan khawatir."
"Di kepala, pelipis matanya juga sedikit robek, tapi tidak perlu khawatir, luka di pelipisnya sudah kami jahit, selain itu dipunggung, pinggang, serta sudut bibir yang sedikit lecet, mungkin terkena tamparan keras." jelas sang Dokter dengan teliti."
Arkan tentu shock mendengarnya, ia mengepalkan tangannya menahan amarah, buku-buku jarinya terlihat memerah, untuk melampiaskan kemarahannya Arkan meninju pada dinding yang tak berdosa. nafasnya memburu seolah dinding adalah musuhnya. Dokter yang menyaksikan itu, seketika bergidik ketakutan.
"Pak, apa yang Anda lakukan? tangan Anda bisa terluka jika seperti itu." Dokter berusaha meredamkan amarah dalam diri Arkan."
"Aku tau, tapi ini tidak seberapa dibandingkan luka yang di alami wanitaku." sahut Arkan.
"Jangan khawatir, luka-lukanya pasti akan mengering dengan cepat, asal pasien meminum obatnya tepat waktu. untuk kesembuhannya butuh waktu sekitar dua Minggu jadi harap bersabar, saya akan meresepkan beberapa obat untuknya, nanti tolong ditebus obatnya. Jika kebingungan, tanyakan pada perawat yang bertugas.
"Baik Dokter, terima kasih banyak. apa saya boleh masuk?"
"Oh, iya, tentu silakan! tapi pasien masih belum sadar sepenuhnya, obat biusnya belum sepenuhnya hilang, jadi anda jangan dulu mengajaknya bicara cukup melihatnya saja.
Arkan mengangguk tanda mengerti. Ketika hendak masuk, seorang perawat kemudian menghadang dirinya." Maaf pak, tapi pasiennya mau di pindahkan dulu ke ruang rawat, jadi silakan anda tunggu di ruang rawat saja." imbuh sang perawat ramah."
"Heh, Dokter mengijinkanku untuk Masuk." bantah Arkan tak terima."
Perawat itu kemudian melirik pada Dokter yang kebetulan masih berdiri disampingnya Arkan. Dokter memberi kode dengan mengedipkan mata agar perawat membolehkan Arkan untuk Masuk. perawat yang mengerti langsung bergeser dari posisinya dan membiarkan Arkan lewat.
"Kenapa Dokter membiarkannya masuk?" tanya sang perawat bingung."
"Dia melukai buku jarinya sendiri, dengan meninju tembok ini." Dokter menyentuh tembok. "jika aku melarangnya masuk mungkin dia akan meninjuku juga." jelas Dokter sembari bergidik ngeri membayangkan wajahnya di tinju oleh Arkan."
Perawat menggelengkan kepala menahan senyum.
__ADS_1
Arkan menatap pada sosok yang tengah berbaring, posisinya yang miring menghadap tembok, menyulitkan Arkan untuk melihat wajahnya. ia mengelus puncuk kepala Rindi dengan lembut dan hati-hati, sudut matanya kembali basah Arkan menunduk bulir-bulir bening menghiasi pipinya.
"Maafkan aku, karena sudah lalai menjagamu. jika dari awal aku langsung bertindak cepat mungkin tidak akan kecolongan seperti ini, aku seolah memberi ruang kepada wanita itu untuk menyakitimu. maaf ya, sayang, semuanya salahku. Tapi aku berjanji akan menghukum bajingan itu dengan hukuman yang setimpal." ujar Arkan menyesali kecerobohannya."
...***...
Di lokasi penyekapan..
.
.
"Cepat berpencar dan geledah seluruh ruangan!" ujar teman seprofesi Arkan."
"Siap komandan!" sahut yang lainnya berbarengan."
Mereka berpencar menggeledah seluruh ruangan tapi belum menemukan Nindia, namun, saat hendak berbalik arah tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering, mereka semua menoleh ke sumber suara.
Nindia dengan cepat mematikan ponselnya. "sial! kenapa dia harus menghubungiku di saat seperti ini!" batin Nindia kesal karena Mirna tiba-tiba meneleponnya. "
Polisi mengokang pistolnya kemudian berjalan menuju sumber suara. Nindia yang melihat itu tentu saja ketakutan seluruh badannya bergetar bahkan wajahnya ikut memucat ia bergerak mundur ke belakang, tapi lagi-lagi kakinya tak sengaja menginjak sebuah botol plastik dan menimbulkan suara. ingin berlari tetapi, itu tak mungkin karena seluruh gudang tua sudah dikepung bahkan bodyguardnya sudah di bargol.
Nindia benar-benar tak menyangka, jika Arkan secepat itu menemukan keberadaan Rindi. padahal ia belum puas menyiksa bosnya itu, terpaksa ia harus melepaskan Rindi dan memilih untuk bersembunyi, melihat jumlah polisi yang tidak sedikit membuatnya menjadi takut. ia menelan salivanya susah payah bagaimana jika polisi menangkapnya? harus kah ia menyeret nama Mirna bagaimana pun ini semua atas saran dari Mirna.
Nindia masih saja belum bergerak ia membekap kuat mulutnya agar tak menimbulkan suara.
"Aku hitung sampai tiga! jika di hitungan ketiga belum juga nyerah, maka ku pastikan peluruku menembus jantungmu!" ancamnya lagi membuat Nindia semakin ketakutan, keringat bercucuran membasahi pelipisnya."
"Satu...!" hitungan pertama Nindia masih belum bergerak."
"Dua...!" hitungan kedua Nindia mulai gusar."
"Tiga...! hitungan ketiga saat hendak menarik pelatuknya. Tiba-tiba Nindia keluar dari tempat persembunyiannya dan mengangkat tangannya ke atas. polisi yang kesal kemudian melepaskan pelatuknya.
Dorr...! suara tembakkan menggelegar ke seluruh ruangan. Sedangakan di luar gedung para polisi yang mengepung di beberapa area terlihat saling melempar pandangan satu sama lain. begitu juga dengan Bodyguard Nindia mereka terlihat pucat pasi. badan doang yang kekar tapi tak punya nyali.
"Apa yang terjadi di dalam?" tanya salah satu dari mereka yang berjaga di luar."
Yang lainnya menggeleng tak tahu.
.
.
__ADS_1
Di ruangan yang serbah hitam, sehitam hati penghuninya. nampak Mirna yang kesal karena Nindia mengabaikan teleponnya, mulutnya terus saja memaki tanpa henti.
"Dia mematikan ponselnya, benar-benar kurang ajar! aku sudah membantunya seharusnya dia berterima kasih padaku bukan malah mengabaikanku seperti ini." racau Mirna kesal, belum tahu saja dia kalau Rindi sudah di selamatkan oleh Arkan.
"Ah! pokoknya wanita itu harus mati! menyusul suami dan anaknya di neraka! jika Nindia tak berhasil maka aku yang akan turun tangan!" geram Mirna, ia melemparkan seluruh barang-barang yang ada di ruangannya."
Seorang Pelayan berlari ke arahnya tergopoh-gopoh. "Non Mirna, tidak apa-apa? saya mendengar suara barang yang jatuh." tanya sang pelayan polos. ia baru bekerja di apartemennya Mirna sehingga belum tahu karakter majikannya seperti apa."
Mirna menggeleng. "lanjutkan pekerjaanmu, Bi. jangan ganggu saya." ketus Mirna"
"Ba-baik Non, maafkan saya." ujar sang pelayan gugup setelahnya ia kembali melakukan pekerjaannya."
Mirna yang tak sabar kemudian menghubungi orang suruhannya. ia meminta orang itu untuk datang ke lokasi penyekapan Rindi. Mirna ingin tau sebenarnya apa yang terjadi sehingga Nindia mengabaikan teleponnya.
Orang yang disuruh Mirna kemudian pergi ke lokasi bersama kedua temannya. sampai di tengah jalan mereka berpapasan dengan mobil para polisi. polisi yang mencurigai mereka kemudian membunyikan klakson menyuruh mereka untuk menepikan mobilnya.
Mereka pun mengikuti instruksi dari polisi dan menepikan mobilnya di tepi jalan.
"Turun!" titah sang polisi."
bak kerbau di cucuk hidungnya merekapun keluar dari mobil tanpa membantah. suara degup jantung ketiganya seakan bersahutan.
"Mau kemana kalian!"
"Mau membantu teman kami, Pak! kami dapat informasi katanya dia di culik orang dan di bawah ke sini." salah satu dari mereka yang telah membaca situsinya saat ini mulai mencari akal untuk mengelabui para polisi. mereka pintar memutar balikkan keadaan."
"Siapa nama teman kalian?"
"Rindi, Pak!"
Benar-benar penjahat hebat mereka mampu mengelabui polisi. Dengan mengaku sebagai temannya Rindi nyatanya mereka adalah musuh.
"Oh, begitu?" polisinya mengangguk-anggukkan kepala berusaha mencerna perkataan para pemuda di depannya."
"Sedikit masuk akal. di liat dari tampangnya sepertinya mereka benaran sahabatnya wanita itu." gumam pak polisi dalam hati."
"Baik, kalian boleh pulang! teman kalian sudah aman." sahut polisi itu."
Mereka bertiga mengangguk serempak dan berpura-pura berterima kasih karena sudah menyelamatkan Rindi.
.
.
__ADS_1
Happy Reading!