
Halo teman-teman pembacaku semua hayoo Disini siapa yang dukung tindakan Rindi?"
dan jika kalian diposisi Rindi apa yang akan kalian lakukan?"
****
Suara sirine polisi semakin mendekat namun misiku belum selesai sebelum ditangkap oleh polisi aku harus bergerak cepat menghabisi Mas Rifan terlebih dahulu, bagaimanapun caranya pria harus mati ditangan ku. secepat kilat aku berlari ke arahnya dengan tangan yang memegang g*lok hal ini sontak menimbulkan kepanikan dari para warga yang sedari tadi menyaksikan aksiku mereka berlari berhamburan bahkan ada juga yg saling bertabrakan.
Mas Rifan yang menyadari pergerakanku dengan cepat dia berlari menghindar pria itu terlihat pucat pasi banyak darah yang keluar dari lengannya akibat goresan g*lokku. namun itu tak membuatku kasihan, dengan nafas yang memburu aku berhasil mengejarnya.
"Rindi apa yang kamu lakukan!" ujar Mas Rifan dengan suara bergetar setelah aku berada tepat didepannya.
"Memb*nuhmu Mas, kau harus mati bersama selingkuhanmu!"
"Jangan gila aku tak ingin mati,"
"Kau harus ma--!"
"Berhenti! dan angkat tangannya ke atas!" secara bersamaan terdengar suara tembakkan mengarah ke atas langit.
Polisi...
Jleeb...!
Dengan sekali gerakkan kuhunuskan g*lok tepat di jantung milik Mas Rifan, pria yang masih berstatus saumiku itu dia berteriak sembari memegangi dadanya dengan mata melotot ke arahku kemudian jatuh tersungkur kebawah.
"Aaaaa....!"
"Aaaaa....!"
Teriakkan ketakutan dari banyak orang membuatku tersadar setelahnya aku menjatuhkan g*lok dari genggamanku kemudian beralih menatap pada sosok yang sudah terkapar dengan darah yang bersimbah disekujur tubuh.
__ADS_1
"Mas Rifan ....!"
"Angkat tangannya ke atas dan jangan bergerak!" Beberapa pria berseragam coklat menodongku dengan senjata.
Aku mendongak lalu menyerahkan diri pada mereka tanpa terasa air mataku mengalir begitu saja.
Apa aku menangis? Tidak, ini adalah air mata kebahagiaan aku berhasil membalaskan rasa sakitku kini jiwa Abizarku mendapatkan kedamaian.
Bersumpah untuk membunuhnya bukan sekedar bualan belaka apapun konsekuensinya akan kujalani jika harus mendekam dipenjara selama puluhan tahun atau bahkan hukuman mati maka aku siap demi putraku, cacian demi cacian mereka lontarkan. sebutan wanita gila, wanita psikopat disematkan untukku. tak peduli seperti apa pendapat orang-orang terhadapku mereka akan merasakan jika mereka berada diposisiku. tiga bulan berjuang demi kesembuhan putraku bahkan rela diriku menahan lapar tapi dengan gampangnya, perempuan perusak itu datang mematahkan semangat, mengendalikan suamiku hingga putraku direnggut oleh sang kuasa.
Tiba-tiba, sesosok tangan kekar menyeretku masuk kedalam mobil menyadarkanku dari lamunan.
"Masuk!" titahnya padaku, mereka menyeretku ke kantor polisi.
Setibanya di sana dalam ruangan introgasi yang terasa mencekam pria berseragam coklat yang terlihat menakutkan itu memulai melontarkan beberapa pertanyaan yang berbelit-belit namun aku berhasil menjawabnya dengan jujur tanpa takut.
"Apapun alasanmu namun melenyapkan nyawa seseorang itu adalah tindakan kriminal," ujar polisi di depanku.
"Berarti kau siap dihukum mati?"
Aku mengangguk tersenyum demi Abizarku aku kuat sekarang putraku sudah tiada bahkan aku tak bisa mengandung lagi perih rasanya hati.
Karena aku mengakui perbuatanku dan menceritakan seluruh kejadian yang sebenarnya introgasipun selesai dengan cepat, mereka membawaku ke sel, tidur diruang sempit beralaskan kasur tipis tanpa selimut namun ini jauh lebih baik, Abizarku bahkan beralaskan tanah diselimutkan kain putih, mengingatnya aku kembali menitikkan air mata.
Pagi hari aku terbangun penjaga mengantarkan sarapan sebungkus nasi putih dengan lauk ikan teri, aku makan dengan lahap sebab dari kemarin perut ini tak pernah di isi. tak lama setelahnya penjaga datang kembali membukakan pintu sel mengatakan kalau sesorang datang berkunjung dia membawaku keruang besuk. disana kulihat Mirna sedang duduk menunggu bahunya bergetar sepertinya Mirna sedang menangis.
"Kau datang?" tanyaku padanya.
"Rindi, aku tidak menyangka takdir akan membawamu ke tempat ini.
"Tidak masalah yang penting aku puas telah membunuhnya.
__ADS_1
"Dasar bodoh! kenapa kau gegabah membunuhnya, kita bisa membalasnya dengan cara lain.
Aku menggeleng."
"Karenanya Abizarku tiada jika membiarkannya hidup sama halnya menyakiti diriku sendiri.
"Bagaiamana jika kau dihukum mati!"
"Aku sudah siap, kau tau Mirna? aku bahkan tak punya alasan untuk hidup."
"Apa!"
"Hei itu bukan Rindi, Rindi yang ku kenal adalah wanita kuat tidak gampang menyerah dalam keadaan apapun."
"Aku kuat karena putraku sekarang kekuatanku telah pergi meninggalkanku, aku bahkan tak punya ibu, tak punya Ayah kini tak ada lagi alasan untuk hidup."
"Tidak, aku akan mencarikan pengecara terbaik untukmu," ujarnya lagi setelahnya dia pamit pulang.
Entah hukuman seperti apa nantinya yang akan ku terima aku berharap mereka memberiku hukuman mati. hari-hari ku berlalu dengan kepedihan, Mirna pun tak lagi datang untuk menjengukku Mas Rifan entah pria itu masih hidup atau sudah meninggal aku bahkan tak tau bagaiamana keadaannya sekarang.
Terbersit rasa ingin mengakhiri hidup. Tetapi ... aku tidak sanggup menghadapi kemarahan Tuhanku. Bahkan, meski aku mati jiwaku takkan pernah damai rasa sakit ini akan terus bersarang dalam kalbu.
Ketika aku menjadi seorang ibu, aku tidak pernah benar-benar sendirian dalam pikiranku. Seorang ibu selalu harus berpikir dua kali. Sekali untuk dirinya sendiri dan sekali untuk anaknya.
Teruntuk putraku : Cintaku padamu bisa membentang di dunia ini berkali-kali lipat. Bahkan ketika dunia tidak berpihak padamu, cintaku padamu akan tetap terbentang luas.
Sejak kamu lahir ke dunia ini, ibu merasa bahwa kamu seperti matahari yang menyinari seisi bumi.
Jangan lagi bersedih di alam sana. Apalagi meminta 'Dia Ayahmu' untuk datang memelukmu. Kau hanya memiliki Ibu. Ibu akan menjadi Ibu sekaligus Ayah untumu. Di sini Ibu akan selalu mendoakanmu agar kau tenang di sana.
Bersambung!!
__ADS_1
...Happy Reading Gaeesss!...