
Ibu Sukma memeluk putranya erat, tangan keriputnya bergerak mengusap wajah sang putra dengan lembut, cairan beningnya menganak sungai, nafasnya juga ikutan tercekat.
Rifan tersenyum tampan dihadapan ibunya, senyum penuh makna, senyum untuk yang terakhir kalinya, Dokter Arga kemudian membisikkan sesuatu ditelinganya Rifan.
"Ikuti perkataaan saya, Tuan." bisik dokter Arga. "Laa ilaha illallah." ucapan Talqin yang di ikuti Oleh Rifan dengan suara yang terbata.
Rifan berulang kali mengucapkan kalimat syahadat. suaranya semakin lama semakin menghilang. di iringi dengan nafas yang panjang berserta urat-urat di tubuhnya yang kian menegang, Rifan menghembuskan nafas terakhirnya.
Rindi membekap mulutnya tak percaya, ia perlahan mundur ke belakang membentur punggungnya pada dinding tembok, Arkan berusaha untuk menenangkan Rindi, tetapi Rindi menggeleng kuat tatapan matanya tak lepas dari wajah pucat Rifan.
Sedangkan Arman, pria itu sesuguhkan disamping jasadnya Rifan. Bosnya yang pemarah kini telah terbujur kaku, tak ada lagi yang akan memarahinya, tak ada lagi yang akan mengancamnya memotong gaji bila ia melakukan kesalahan.
Dan Ibu Sukma, wanita tua itu terkulai lemas tak berdaya, tubuh tuanya kehabisan tenaga, ia bagai diterjang ombak yang begitu dahsyatnya, kenyataan hari ini telah meluluh-lantakkan hatinya, ia merasakan sakit yang teramat sangat bagai di tusuk ribuan anak panah. bahkan untuk meraung, meratapi putranya, wanita itu tak mampu lagi hanya air matanya yang mengalir tanpa henti memandang putranya dengan tatapan nanar.
...***...
Hari kian berganti, tanpa terasa Kini seminggu pun berlalu. semenjak kepergian putranya, Ibu Sukma menjadi sosok yang pendiam, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, bahkan untuk makan saja pelayannya harus berusaha keras membujuknya agar beliau mau makan.
Rindi ditemani Arkan kembali mengunjungi makam Rifan dan juga putranya Abizar yang bersebelahan. nggak lupa kembang dan sebotol air mineral yang ia bawa untuk menabur di atas makam. Rindi mengusap batu Nisan keduanya secara bergantian air matanya kembali menetes dengan deras.
"Mas, aku titip salam untuk Abizar, jika kamu bertemu dengannya sampaikan salam rinduku untuknya. aku meminta maaf atas ketidak tauanku mengenai dirimu, tolong maafkan aku." ujar Rindi dengan deraian air mata.
Arkan mengusap punggung Rindi menenangkannya. "jangan khawatir aku bersamamu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." janji Arkan."
Sepulangnya dari makam Arkan pun kembali untuk bertugas, sedangkan Rindi pergi menemui Ibu Sukma di rumahnya. ia telah berjanji pada Rifan untuk selalu menjaga Ibunya.
Rindi mengetuk pintu kamar Ibu sukma dengan pelan. tak lama setelahnya pintu pun di buka, Ibu Sukma tersenyum kala melihat Rindi. kemudian ia merangkul Rindi dan mengajaknya masuk ke sebuah kamar, Rindi mengikuti langkahnya tanpa bertanya.
"Ada yang ingin aku tunjukkan, padamu." Ibu Sukma membuka pintu lemari dan memperlihatkan kepada Rindi isi lemari tersebut.
Rindi benar-benar shock dengan apa yang ia lihat, semua baju-baju milik Rindi yang dulu tersimpan rapi di dalam lemari dan terlihat masih bagus dan terawat. matanya tertuju pada sebuah kotak perhiasan miliknya yang dulu, ia membukanya dengan tangan yang gemetar, setelah terbuka Rindi melihat perhiasannya masih tersimpan rapi di dalam kotak. Rindi membulatkan matanya terkejut.
__ADS_1
"I-ini... ini semua..." ucap Rindi terbata."
"Ya, ini milikmu, Rifan menjaganya tanpa satu orangpun yang boleh menyentuhnya, bahkan Mirna sekalipun dan kamar ini selalu di kunci rapat."
"Aku tidak percaya ini, hiks... hiks... Mas Rifan..." Rindi menjatuhkan tubuhnya ke lantai menangis tersedu-sedu."
"Kau tau? selama ini Rifan sangat terluka, ia menyesali segala perbuatannya, hari-harinya dihabiskan untuk bekerja sehingga ia mampu mendirikan sebuah pabrik besar di kota ini yang ia beri nama Abizar Taillor. dan juga tersebar butik-butik di segala penjuru kota salah satunya Butik Induk yang ia kembangkan untuk dirimu. meski putraku sukses di dunia bisnis tetapi itu tak membuatnya bahagia, rasa bersalahnya padamu dan juga pada putranya membuatnya menjadi terpuruk, setiap malam waktunya di habiskan di sebuah club malam dan aku ibu yang buruk aku menambahkan kesedihannya dan memaksanya menikahi perempuan yang tidak ia cintai." tutur Ibu Sukma sembari menyeka sudut matanya yang basah."
"Sudah Bu, jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, Mas Rifan akan sedih jika tau Ibu seperti ini bagaimana pun Mas Rifan sangat menyayangi Ibu."
"Iya, hanya saja rasanya seperti mimpi, Ibu tidak percaya Rifan tega meninggalkan Ibu seorang diri."
"Ibu tidak sendiri ada Rindi yang akan menjaga Ibu, menemani Ibu. Mas Rifan berpesan kepada Rindi untuk selalu menjaga Ibu dan tidak akan meninggalkan Ibu sendiri."
Ibu Sukma berhambur ke pelukan Rindi, ia merasakan kehangatan yang berbeda, hatinya berdesir ia seolah memeluk putrinya sendiri.
"Sekarang Ibu istirahat ya, jangan banyak pikiran, Rindi masih ada urusan yang harus Rindi selesaikan, tapi Rindi janji setelah ini Rindi bakal kembali menemani Ibu." ujar Rindi berpamitan pada Ibu Sukma."
Setibanya di rumah sakit, Rindi langsung melangkah menuju ruangan Dokter Arga, dalam diam seseorang menatapnya dari kejauhan dan sepertinya orang itu terus membuntutinya seperti bayangan.
"Kamu datang? Dengan siapa?" seulas senyum terbit di bibir dokter Arga menyambut kedatangan Rindi."
"Aku sendirian."
"Oh yah? di mana pria itu dia tidak menemani mu?" Dokter Arga berusaha untuk berbasa-basi menanyakan Arkan, agar tidak canggung saja."
"Emmm... nggak, dia sedang sibuk." jawab Rindi sembari tersenyum."
"Syukurlah, aku bisa leluasa berbicara denganmu."
"Apa yang ingin Anda bicarakan dengan, saya?"
__ADS_1
"Sebenarnya ini amanat Tuan Rifan, jadi silakan anda melihatnya sendiri isinya." Dokter Arga memberi sebuah amplop yang sangat tipis. dahi Rindi mengkerut penasaran dengan isinya."
Rindi membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya, selembar surat bertuliskan tangan, Rindi hafal betul tulisan tangan Rifan. ia merabah surat tersebut dengan jemarinya merasakan jejak Rifan disana. kemudian Rindi membacanya dengan teliti..
..."Assalamualaikum... Bidadari surga, kamu membaca surat ini, ketika aku sudah tiada dan berada di alam lain. tolong jangan marah lagi padaku, aku bersalah membuatmu murka, ijinkan aku menebus kesalahanku dengan mengabulkan sumpahmu yang akan membunuh pelakor bersama suamimu. seperti kataku, kau tak perlu mengotori tanganmu untuk membunuhku, kini aku telah terbunuh, terbunuh oleh rasa penyesalan, rasa bersalah yang terus menghantui disetiap langkah yang aku lalui. Kemudian menggerogoti hatiku, perlahan jiwaku terbakar oleh rasa ini....
..."Aku senang kau bebas, aku bahagia melihatmu tersenyum, namun aku cemburu melihatmu bersama pria lain, hatiku terbakar dengan api cemburu, tetapi aku sadar, kau berhak menemukan kebahagiaanmu. ku harap pria itu bisa menerimamu apa adanya dan menjadikanmu ratu dihatinya untuk selamanya. ...
" Jaga dirimu baik-baik ya, aku mencintaimu.
...*Rifano Mahendra*...
Rindi lagi-lagi tercengang membaca suratnya, Rasa sedih kembali menjalar dalam hatinya. Rindi menatap dokter Arga meminta penjelasan dari pria berjas putih itu.
"Dia menulis ketika aku menyuruh kalian semua untuk keluar dari ruang rawat di kala itu" Dokter Arga menjelaskan."
"Ternyata dia sudah mempersiapkan segalanya," dengus Rindi kesal karena Rifan tak mau berterus terang padanya."
Dokter Arga menghela nafas, membuang pandangan ke arah lain. Rindi dapat merasakan kesedihan dalam diri dokter Arga, Rindi ingin bertanya lebih lanjut namun ia sungkan.
"Oh iya, aku hampir lupa nanti akan ada pengacaranya Tuan Rifan yang akan menemuimu. aku sudah memberikan kontakmu padanya. ada yang ingin dia sampaikan padamu mengenai amanat dari Almarhum." jelas dokter Arga membuat dahi Rindi berkerut."
"Apa lagi? kenapa banyak kejuatan yang dia siapkan untukku." sahut Rindi menatap dokter Arga."
"Karena anda orang yang spesial di hati Tuan Rifan,"
Rindi menggeleng tak percaya. Ia kemudian berpamitan pada Dokter Arga dan ingin segera beristirahat, kepalanya sedikit berdenyut memikirkan Rifan. ada banyak rahasia yang belum ia ketahui mengenai Rifan.
Tiba di parkiran Rindi kembali memijit pelipisnya yang kian berdenyut. wanita berambut panjang itu mengoles minyak angin pada pelipisnya agar memberikan sedikit rasa hangat kemudian ia menghirupnya berulang kali sampai terasa enakkan, Saat hendak membuka pintu mobil, seseorang datang membekapnya menggunakan kain yang sudah disemprot obat bius.
Rindi kehilangan kesadaran, orang itu kemudian memapah tubuh Rindi, mendudukkan di kursi penumpang, mobil Rindi berjalan menyusuri jalanan ramai, bukan Rindi pengemudinya tetapi orang yang membekapnya, ia pergi membawa Rindi sekaligus mobilnya.
__ADS_1
...Happy Reading!!...