
Pagi mulai menyapa. Cahaya matahari perlahan masuk memenuhi sudut-sudut kamar. Perlahan segala kebisingan dan apa yang sedang terjadi di sekeliling tempat tidur mulai bisa dirasakan oleh Rindi. Nampaknya bukan hanya cahaya matahari saja yang membangunkan tidurnya, tapi juga obrolan orang-orang.
Dari balik selimut, Rindi bisa mendengar dengan sangat jelas. Sekilas dia bahkan bisa menebak. Sih pemilik suara adalah Lisa dan juga Arman. Tapi suara lain pada percakapan itu, dia tak bisa menebak. Percakapan mereka pun mendadak terputus saat konsentrasinya mulai terbangun.
Segera ia menyibak selimut dan melangkahkan kakinya mendekati pintu. Ia yakin seratus persen itu suara Arman bersama Lisa. Dengan mata yang masih terasa berat, perlahan ia tempelkan daun telinga ke pintu kamar. Segera membuka mata lebih lebar dan mencari sumber suara tadi. Namun anehnya suara bising obrolan itu perlahan menghilang begitu telinganya menempel di daun pintu. Dengan segera bising obrolan tadi perlahan berganti senyap.
"Ini baru jam enam pagi. Sejak kapan Lisa datang ke restoran sepagi ini?" batinnya.
Rasa penasaran kemudian menuntunnya untuk mencari tahu dari mana sumber suara tadi. Sempat terlintas dalam kepalanya mungkin suara obrolan tadi berasal dari meja pengunjung restoran. Tapi nyatanya tidak, lalu kemana suara ketiga orang tadi.
Karena tidak menemukan siapa-siapa di restoran. Rindi pun kembali ke kamar dengan hati dongkol. Evek begadang Membuat matanya terasa berat ia bahkan melewati waktu subuhnya.
Dia kembali merebahkan badannya di kasur. Tak butuh waktu lama matanya kini kembali terpejam. Sinar mentari menembus gorden berwarna putih menghangatkan wajahnya.
Seorang pria masuk ke dalam kamarnya dengan tersenyum smirk. Mengamati setiap inci wajahnya. Kemudian membelai wajah ayunya yang sedang tertidur lelap.
"Emmhh!" Rindi menggeliat kala sih pemilik jemari nakal itu membelai wajahnya kemudian turun ke bibir mengusapnya dengan lembut.
Hanya sebentar. Ia kembali mengubah posisi tidurnya memunggungi pria nakal yang tak lain adalah Inspektur Arkan.
Arkan pun tak menyerah ia kembali mendekati wajah Rindi kemudian mengusapnya dengan ujung hidungnya.
"Heh! Pria kulkas! Kenapa kau hanya romantis saat ada di alam mimpi seperti ini?" racaunya masih belum sadar, ia mengira sedang bermimpi.
Arkan tersenyum. Kemudian merapatkan tubuhnya ke hidung Rindi. Aroma musk menguar. "Apa di alam mimpi kau juga memakai parfum?" tanyanya konyol dengan mata yang masih terpejam. "Jika kita sudah menikah aku akan menghukummu. Kau sering muncul dalam mimpiku dan menggangu tidurku," gumamnya lagi.
Arkan mengurai senyum. "Sudah cukup tidurnya. Nyonya Arkan Jaelani. Waktunya bangun!" Arkan menarik selimut yang membungkus tubuh Rindi.
"Eh! Apa!" Spontan Rindi bangun dan mendapati Arkan yang sedang duduk di bibir ranjangnya. Matanya membola dengan rambut acak-acakan dan juga suara yang serak khas orang bangun tidur. Ia sedikit malu di depan Arkan. Dengan cepat Rindi memalingkan wajahnya.
Arkan mengulum senyum. Melihat tingkah calon istrinya membuatnya tak sabar ingin segera melakukan ijab Kabul.
"Apa kau senang aku ada di mimpimu? Hmmm ...," goda Arkan.
Arkan dengan sengaja mendekat, kemudian membenamkan wajahnya dipundak Rindi. Mengendus aroma shampo yang masih melekat di rambut panjang calon istrinya itu.
"Eh! A-apa yang Mas Arkan lakukan?" Rindi nampak gugup.
"Bukankah kamu bertanya? Kenapa pria kulkas ini romantisnya hanya di alam mimpi saja? Sekarang pria kulkasmu ini sedang belajar menjadi pria romantis. Bukankah itu bagus, sayang?" Arkan lagi-lagi menahan senyum.
"Bu-bukan begitu, Mas. Lepaskan! Aku mau mandi." Secepat kilat ia bangkit dan berlari ke kamar mandi.
Arkan menggelengkan kepalanya kemudian tertawa sambil berjalan keluar. "Ya, ampun dia kaku sekali seperti orang yang belum pernah pacaran," batin Arkan.
__ADS_1
Arkan berjalan ke ruang kerja Rindi ia memilih duduk di sana sembari menunggu Rindi bersiap. Tetapi ekor matanya tak sengaja menangkap sosok Arman yang sedang duduk didekat meja kasir. Arkan mengernyitkan dahinya setelah melihat sesosok perempuan yang duduk disebelahnya Arman. Ia terus mengamati gerak-gerik keduanya dari jauh. Tak lama Lisa datang menghampiri membawa nampan berisi minuman.
Karena jarak yang cukup jauh jadi Arkan tak bisa mendengar obrolan mereka. Ia hanya mengamati dengan mata dan tanpa sepengetahuan Arman dan juga Lisa.
Arman membuka laptopnya kemudian menunjukkan sesuatu kepada Lisa sepertinya sebuah video. Mereka bertiga fokus pada rekaman yang berputar dilayar laptop dan tak memperhatikan keadaan di sekitarnya.
"Apa yang mereka nonton?" gumamnya pelan. Rasa penasaran menuntun Arkan untuk menghampiri ketiga manusia itu.
"Ekheem!" dehemnya pelan.
Mendengar deheman Arkan. Arman dengan cepat menutup laptopnya. Wajahnya berubah pias begitu juga dengan Lisa.
"Apa yang sedang kalian nonton? Sepertinya sangat serius?" tanya Arkan. Ia mendaratkan bokongnya dikursi.
"Tidak! Bukan apa-apa," jawab Arman.
"Heemm ... benarkah? Lalu, dia ini Siapa? Aku baru melihatnya." Arkan menunjuk pada perempuan asing yang sedari tadi hanya diam.
"Dia ... dia kakakku," jawab Lisa gugup.
"Apa itu benar?" Arkan menatap pada wanita yang usianya tak beda jauh dengan Rindi. "Tapi kenapa wajahnya tidak mirip denganmu?" tanyanya lagi kepada Lisa.
"Emm, dia Kakak sepupuku bukan kakak kandung," jawab Lisa jujur.
Arkan melipatkan tangannya ke dada tanpa niat menjawab pertanyaan wanita dihadapannya. Baginya tidak penting mengaku siapa dirinya.
Kemudian Arkan menatap Arman dengan tatapan intimidasi. "Kau tidak merencanakan sesuatu yang jahat, kan?" tanya Arkan.
"Aku bukan penjahat!" Arman tak terima dengan tuduhan Arkan.
"Terus apa yang kalian nonton barusan!" Arkan menaik turunkan alisnya.
Arman mengembuskan napasnya kasar. Ia sendiri pun bingung bagaimana menjelaskannya kepada Arkan.
Rindi yang sudah selesai mandi kemudian keluar mencari Arkan. Langkahnya terhenti saat melihat ke arah pintu yang tak jauh dari meja kasir. "Sedang apa mereka?" batinnya.
Ia menghampiri mereka. Sedikit heran melihat Keempat manusia yang sedang duduk bersama terlihat sangat serius. Ia mengalihkan pandangannya kepada perempuan asing yang tengah duduk dengan wajah yang menunduk.
"Sayang ... kau sudah selesai?" tanya Arkan setelah melihat Rindi.
"Iya. Kalian sedang apa?" Rindi menarik kursi duduk didekat Arkan.
Wanita itu mendongak menatap Rindi dengan mata yang berkaca-kaca. Gurat penyesalan terpampang jelas diwajahnya. Sedetik kemudian ia luruh dan bersimpuh di kaki Rindi, menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Rindi sangat terkejut begitu juga dengan Arkan. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya bingung. Sebab, ia tak mengenali wanita yang bersimpuh di kakinya.
"Ma-maafkan saya ... saya bersalah. Hiks ... hiks ... hiks ...," raung wanita itu.
Rindi semakin bingung ia mencoba melepaskan tangan wanita itu dari kakinya. Tetapi pegangannya terlalu erat. "Lepaskan! Aku tidak mengenalmu tolong jangan seperti ini," ujar Rindi sembari menarik kakinya.
Lisa yang tak tega pun mencoba menarik sepupunya untuk duduk kembali di kursi. "Kak. Ayo, tenangkan dulu dirimu setelah itu baru biacara dengan Bu Rindi," ucap Lisa.
Rindi memelototi Lisa. Sudah sering kali ia mengatakan jika jangan memanggilnya Ibu ataupun Bos. Rindi lebih senang dipanggil Kakak oleh Lisa. Karena dia sudah menganggap Lisa seperti adiknya sendiri. Tetapi Lisa masih suka keceplosan dengan memanggilnya Ibu.
"Kak Rindi maksudku," ralat Lisa setelah menyadari dirinya dipelotot oleh sang bos.
Rindi memutar bola matanya malas. Ia kembali menatap perempuan yang masih sesenggukan dengan Isak tangisnya. Setelah diperhatikan lebih teliti lagi ia sepertinya pernah melihat wanita itu. Tapi, di mana ia benar-benar lupa.
Lisa menyodorkan minum pada sepupunya itu agar lebih tenang. Dengan tangan gemetar ia menerima minum dari tangan Lisa dan menenggaknya sedikit. Kemudian beralih menatap Rindi dengan tatapan bersalah.
"Anda tidak ingat saya, Nona?" tanyanya pada Rindi.
Rindi menggeleng. "Saya tidak tau. Tetapi, saya seperti pernah melihat wajah kamu. Namun, saya lupa itu dimana?" jawab Rindi.
Arkan dan Arman hanya menyimak mereka seperti sedang menonton sebuah drama.
"Nama saya Anita ...." Dia menjeda ucapannya, kemudian menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Terus?" tanya Arkan tak sabar rasa penasaran telah menggunung di sanubarinya.
"Saya adalah perawat yang bertugas di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo," ujarnya sambil menyeka sudut matanya yang kembali berair. "Dan juga merupakan Kakak sepupu dari Lisa," lanjutnya lagi membuat Rindi semakin tak mengerti.
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo adalah tempat diamana Rindi melahirkan Abizar. Dan dari situlah sebuah petaka menimpa dirinya hingga ia kehilangan sesuatu yang berharga dalam dirinya.
"Terus apa hubungannya sama saya? Saya tidak merasa kamu melakukan kesalahan kepada saya? Saya bahkan tidak mengenal kamu," ujar Rindi mulai kesal karena ia sungguh penasaran. Tetapi, wanita bernama Anita ini sangat bertele-tele.
Arkan menggenggam jemari Rindi kemudian menganggukkan kepalanya. Menyuruh Rindi untuk tenang dan dengarkan apa yang mau di bicarakan oleh Anita.
"Tolong ... dengarkan pengakuan saya," ucap Anita.
"Lanjutkan saja apa yang ingin kamu katakan?" ucap Arkan mewakil Rindi.
Perasaan Rindi mulai tak tenang. Ia takut mendengar sesuatu yang membuatnya kembali bersedih. Ia hanya ingin menikah dengan Arkan dan hidup bahagia bersama pria yang dicintainya tanpa harus ada orang ketiga seperti dimasa lalunya.
...*****...
BERSAMBUNG
__ADS_1
...Happy Reading! 😇😇😇...