
"Tolong ... dengarkan pengakuan saya," ucap Anita.
"Lanjutkan saja. Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Arkan mewakil Rindi.
Perasaan Rindi mulai tak tenang. Ia takut mendengar sesuatu yang membuatnya kembali bersedih. Ia hanya ingin menikah dengan Arkan dan hidup bahagia bersama pria yang dicintainya tanpa harus ada orang ketiga seperti dimasa lalunya.
...----------------------...
"Belasan tahun yang lalu, saya sangat membutuhkan uang untuk melunasi hutang-hutang Ayah saya yang jumlahnya tidak sedikit. Setiap hari para rentenir itu datang silih berganti untuk menagih hutang dan Ayah selalu kabur beliau menjadikan saya sebagai jaminan. Karena saya telah bekerja sebagai perawat padahal saya baru sebulan bekerja di rumah sakit itu. Setiap jam istirahat saya selalu duduk menyendiri di taman rumah sakit hingga tiba Dokter Yasmin--"
"Apa? Dokter Yasmin?" Rindi memotong ucapan Anita. Mendengar nama Dokter Yasmin dirinya langsung teringat pada dokter kandungan yang memandangnya dengan tatapan menyedihkan.
"Iya. Dia adalah dokter kandungan dan saya adalah asistennya," jawab Anita.
Rindi dan Arkan saling bertatapan. Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya Rindi. Tetapi ia tahan biarkan Anita yang menceritakannya sendiri.
"Anda pasti mengenal Dokter Yasmin, 'kan?" tanya Anita.
"Iya. Tentu saja mengenalinya. Apakah ini ada hubungannya dengan gelagat Dokter Yasmin ketika beliau melihatku? Dia terlihat aneh dan juga gugup."
Anita menganggukkan kepala. "Betul sekali. Boleh saya lanjut bercerita? Saya ingin mengaku semua perbuatan saya." Anita memandang Rindi dan juga Arkan berharap mereka tidak memotong pembicaraannya hingga selesai.
Rindi semakin mengeratkan genggamannya di jemari Arkan. Ia bahkan meremasnya seakan takut dengan pengakuan Anita. Ia tidak siap mendengar sesuatu yang buruk apalagi ini menjelang hari pernikahannya.
"Lanjutkan kau ingin bicara apa," desak Arkan.
...***...
Flashback on.
Disela jam istirahat ketika teman sejawatnya pada ngumpul dan makan bersama. Tetapi, tidak dengan Anita. Gadis itu lebih memilih menyendiri. Hanya sebuah roti untuk mengganjal perutnya. Pikirannya terpaku pada para rentenir yang silih berganti datang ke rumahnya. Ia yang baru sebulan bekerja di rumah sakit tentu gajinya tidaklah cukup untuk membayar hutang-hutang ayahnya. Belum lagi untuk biaya hidup mereka sehari-hari.
Pikirannya menerawang jauh. Terbersit untuk mengakhiri hidupnya, tetapi, Anita harus memikirkan masa depan adiknya yang kini juga menjadi tanggungannya. Sedangkan ayahnya setelah ditinggal kematian oleh sang ibu. Pria itu menjadi tidak waras, ia gemar menjudi dan juga meminum, minuman keras.
Hingga pada saatnya. Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Seorang wanita hamil yang mau melahirkan tetapi fisiknya sangatlah lemah ia tidak sanggup melahirkan secara normal dan Caesar adalah jalan satu-satunya. Wanita itu adalah Rindi. Ia ditemani Rifan dan juga Mirna.
Perawat bernama Anita itu menarik perhatian Mirna. Ketika ia sedang duduk di taman Mirna menghampirinya menawarkan kerjasama yang sama-sama menguntungkan bagi keduanya.
"Hay ... boleh aku duduk disebelahmu?" tanya Mirna sembari tersenyum manis ke arah Anita.
Anita membalas senyumannya. "Iya silakan."
Mirna pun duduk dibangku yang sama dengan Anita. Ia menyodorkan makanan pada Anita menyuruhnya untuk makan. Lama, terdiam sejenak membiarkan tangan Mirna mengambang di udara. Anita seperti ragu menerima makanan dari orang yang tidak ia kenal.
"Ambilah. Aku tau kamu belum makan. Jangan khawatir, makanan ini tidak beracun." Mengetahui ada keraguan dimata sang perawat. Mirna pun meyakinkannya agar Wanita itu mau menerima makanan pemberiannya.
__ADS_1
"Ba-baiklah terima kasih," ujar Anita pelan dan sedikit tergagap.
Mirna menghela napasnya. "Kau membutuhkan uang 'kan?"
"Bagaimana kau tau?" tanya Anita heran.
Mirna menyunggingkan senyumannya sangat mudah baginya untuk mengetahui seseorang yang ia butuhkan. Menggali latar belakangnya bukanlah hal yang sulit.
"Soal itu kau tidak perlu tau. Di sini, Aku hanya menawarkan kerja sama yang sama-sama menguntungkan. Kau mendapatkan uang dan aku mendapatkan sesuatu yang aku mau." Mirna menyenderkan punggungnya pada bangku dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
Anita terpaku. Kini, ia mulai mengerti kemana arah pembicaraan Mirna. Wanita cantik yang tiba-tiba datang memberinya makanan. Tetapi, dibalik itu ia memiliki niat tersendiri. Ahh! Anita lupa didunia ini tidak ada yang gratis meski hanya sebungkus nasi.
Ia memandang lurus ke depan. Tatapannya fokus pada kupu-kupu yang berterbangan diatas bunga-bunga kemudian menghinggapi untuk mengisap nektar yang terdapat pada mekaran bunga. Mereka sama-sama mendapatkan keuntungan. Kupu-kupu menghisap nektar untuk memenuhi makanannya. Sedangkan timbal-baliknya adalah bunga mendapat bantuan dari gerakan kupu-kupu untuk penyerbukan.
Apakah tawaran kerja sama yang ditawarkan Mirna juga sama-sama menguntungkan seperti kupu-kupu dan bunga? Ataukah malah sebaliknya dirinya lah yang di manfaatkan oleh wanita itu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Mirna karena Anita tak kunjung membuka suaranya usai ia mengatakan kerja sama yang simbiosis mutualisme.
"Apa yang kau inginkan?" Anita malah bertanya balik.
Mirna terkekeh. "Mudah saja. Aku hanya ingin kau melakukan satu hal untukku jika kau berhasil maka, aku akan melunasi hutang-hutang Ayahmu."
"Langsung pada intinya waktuku tidak banyak aku harus kembali bekerja," sahut Anita.
"Baiklah. Kita langsung pada intinya. Kau mengenal pasien bernama Rindi Atika Putri, 'kan? Wanita yang mau melahirkan," tanya Mirna.
"Aku ingin kamu melakukan sesuatu terhadap wanita itu. Buat rahimnya bermasalah. Atau suntik pakai obat apa saja kek, agar rahimnya rusak. Dan dia tidak dapat memilikki anak lagi," ujar Mirna sembari menggenggam erat jemari Anita.
Anita membelalakkan matanya. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Mirna. Ia baru sebulan bekerja tentu ia tak mau mendapatkan masalah yang besar. Masalah hutang ayahnya sudah cukup membuatnya hampir gila. Wanita itu tak ingin menambah masalah lagi. Tawaran yang ditawarkan Mirna sangat beresiko untuknya jika ketahuan ia bisa dipecat dari rumah sakit. Ahh! Tidak hanya dipecat ia mungkin akan digiring ke dalam penjara.
"Apa yang kau katakan! Aku tidak ingin melakukan hal bodoh seperti itu!" tegas Anita.
Mirna mengembuskan napasnya kasar. "Pikirkanlah lagi baik-baik kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kalinya. Aku tau kau sangat membutuhkan uang maka dari itu aku menawarkan kerja sama ini."
Tak mereka sadari seorang dokter berdiri tak jauh dari mereka dan tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Dia adalah Dokter Yasmin, dokter yang menangani Rindi.
"Aku memang membutuhkan uang tetapi aku tidak mau melakukan hal konyol seperti ini. Aku juga wanita dan dilahirkan dari rahim seorang wanita. Aku tidak ingin merusak rahim wanita manapun. Itu adalah aset penting bagi seorang wanita. Aku tidak ingin melakukan dosa besar itu!" Anita masih kekeuh tak ingin menerima tawaran dari Mirna meski dibayar ratusan juta sekalipun ia tetap tak mau.
"Kau bisa berbicara seperti itu karena kau tidak merasakan apa yang aku rasakan. Wanita itu adalah penjahat dia merampas segalanya dariku. Dia merebut kasih sayang orang tuaku. Sedari kecil dia selalu ingin menang dariku, tidak hanya itu dia juga merampas calon suamiku. Kau tau? Pria yang ada bersamanya itu merupakan kekasihku entah bagaimana wanita itu bersandiwara sehingga kekasihku berpaling dariku dan menikah dengannya," ujar Mirna berdusta dan menjual sedikit kesedihannya agar Anita mengasihaninya.
Ahh ... wanita itu benar-benar ular dia pandai bersilat lidah. Tetapi Anita sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun dia bergeming dan tetap pada pendiriannya.
"Baiklah, ini kartu namaku hubungi aku jika kau minat. Ingat! Waktumu hanya malam ini pikirkanlah matang-matang agar kau bisa terbebas dari kejaran para rentenir itu." Setelah meletakkan kartu mamanya dipaha Anita. Mirna pun pergi meninggalkan Anita.
Dokter Yasmin dengan cepat berbalik kemudian bersembunyi dibalik tembok. Setelah Mirna melewatinya barulah ia berdiri menghampiri Anita.
__ADS_1
Sedangkan Anita masih menatap bengong kartu nama yang ada dipahanya tanpa menyentuhnya. Hingga suara Dokter Yasmin mengagetkannya.
"Anita!" panggil Dokter Yasmin lirih.
"Ehh ... Dok! Anda di sini?" Dengan cepat Anita memasukkan kartu nama ke kantong bajunya.
"Iya ... apa yang kau lakukan di sini? Sedari tadi aku mencarimu," ujar dokter Yasmin.
"A-aku--"
"Ikut ke ruanganku," potong Dokter Yasmin. Kemudian dia berbalik mendahului Anita.
Tanpa pikir panjang Anita pun mengekorinya. Setibanya di ruangannya, Dokter Yasmin kembali menyuruh Anita untuk duduk. Wanita itu mengangguk.
"Ada apa, Dok? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Anita setelah duduk di kursi.
Dokter Yasmin menggeleng. "Jadi kau sering melamun karena memikirkan hutang-hutang ayahmu?" Wanita berjas putih itu malah bertanya balik.
Anita sedikit terkejut. Kemudian ia menunduk apa yang dia tutupi kini tercium oleh atasannya. "Maafkan saya, Dok. Kerena sering melamun."
"Tidak apa-apa. Tapi, jika pada saat mengurus pasien jangan sekali-kali mengosongkan pikiranmu itu sangat bahaya. Kau bisa membahayakan nyawa pasien," ujar Dokter Yasmin penuh dengan ketegasan.
"Sekali lagi maafkan saya, Dok. Saya janji akan fokus pada pasien."
Dokter Yasmin memandangnya dengan tatapan iba. Rasanya ingin sekali ia membantu gadis yang terduduk lesu di depannya. Tapi, apalah daya ia sendiri banyak tanggungannya. Dan juga sedang dalam pembangunan rumah.
"Aku akan membantumu. Terima saja tawaran wanita itu," sahut Dokter Yasmin yang membuat Anita melebarkan matanya.
"A-apa maksud Dokter?" tanya Anita tak percaya.
"Iya. Jika dia bisa berbuat jahat maka kita juga bisa menguranginya. Tapi ini rahasia kita, aku melakukan ini untuk membantumu agar kau bebas dari lintah darat itu." Dokter Yasmin menatap Anita lekat.
"Ta-tapi Dok--"
"Sudahlah turuti saja apa yang aku perintahkan. Kau adalah anak dari sahabatku. Kita pernah sama-sama susah. Aku membantumu bekerja di sini karena aku berhutang budi pada mendiang Ibumu," sambungnya lagi memotong bantahan Anita.
"Aku tidak mau bagaimana aku bisa tega merenggut rahim wanita itu," jawab Anita.
Dokter Yasmin tertawa sumbang mendengar perkataan Anita. "Kau sama seperti Ibumu. Tetapi, kita tidak akan merenggut rahimnya. Kita cukup mengatakan kebohongan kepada mereka bahwa kandungan wanita itu lemah. Dan ia tak bisa mengandung lagi jika itu terjadi maka nyawa yang akan menjadi taruhannya dan jalan satu-satunya adalah melakukan operasi steril," jelas Dokter Yasmin.
...*****...
BERSAMBUNG
Happy Reading Gaeesss
__ADS_1
😇😇😇