Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku

Ku Bunuh Pelakor Bersama Suamiku
Episode 27


__ADS_3

Di sebuah gudang tua yang terletak dipinggir kota, Rindi terduduk dengan kedua tangan dan kaki yang di ikat dan juga mulut yang di bekap menggunakan kain, ia hanya bisa pasrah mau melawan pun ia tak berdaya.


Seorang wanita masuk ke dalam gudang, ia mengenakkan masker guna menutupi sebagian wajahnya. empat orang bodyguard yang ia bayar untuk berjaga di luar masing-masing memegang senjata, waspada jika Arkan datang menyelamatkan Rindi.


Wanita itu mendekati Rindi dengan pongah kemudian ia lepaskan kain penutup mulut, membiarkan Rindi berbicara dengannya.


"Siapa kamu! tolong lepaskan aku." pinta Rindi bernada memohon."


Ia benar-benar tidak mengenali, siapa wanita yang ada di depannya yang sudah berani menculiknya.


Dibalik masker wanita itu tersenyum misterius kemudian mencengkeram kuat pipi Rindi, kuku tajamnya berhasil melukai pipi mulus milik Rindi, kemudian ia mendorongnya ke belakang membuat Rindi meringis kesakitan ia merasa perih pada pipinya.


"Tolong, katakan siapa dirimu dan apa motifmu menculikku?" tanya Rindi dengan suara yang kian melemah."


"Kamu mau tau, siapa aku?" wanita itu melepaskan maskernya dan juga kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.


Rindi begitu terkejut setelah mengetahui sosok perempuan yang ada di depannya ini. ya, dia adalah Rina pramusaji di restorannya sendiri, giginya gemeretuk menahan amarah,


sorot matanya memancarkan api kebencian terhadap Rina.


"Bisa-bisanya aku terkecoh dengan wanita ular, sepertimu!" ujar Rindi sedikit menekan cara bicaranya."


"Sssttt...." Rina meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri, menyuruh Rindi untuk diam kemudian ia tersenyum puas.


"Bosku yang terhormat, jangan banyak bicara! ini bukan di restoranmu sehingga kau bebas untuk bertindak! kau berada di wilayah kekuasaanku. sebelum aku menyeretmu dan dan merajang kulit mulusmu itu sebaiknya kau diam!"


"Sebenarnya, siapa kau! dan apa tujuanmu menyekapku di sini!"


Plak...! tamparan keras mendarat di pipinya Rindi. "aku menyuruhmu diam! maka turuti perintahku!"


Rindi meringis sakit, ingin sekali rasanya ia menjambak rambut wanita yang telah menamparnya, tetapi sayangnya, tangan dan kakinya di ikat kuat jika tidak, sudah di pastikan Rina habis ditangannya.


.


.

__ADS_1


Arkan yang sedang mengintrogasi seorang bandar nark*ba di dalam ruangan terutup, benar-benar tidak mengetahui tentang penculikkan Rindi. saat ini ia mengira Rindi berada di kediaman Ibu Sukma karena sebelumnya Rindi mengatakan dia akan ke rumah mantan mertuanya itu.


Karena kematian Rifan, Arkan dan Rindi jadi lupa dengan penerornya mereka benar-benar lalai membiarkan peneror berkeliaran dengan bebas di dalam restoran. ya, peneror itu adalah Rina, Arkan sudah mengetahui itu melalui CCTV ia ingin memberi tahu Rindi mengenai hal itu. namun Rindi selalu menyuruhnya untuk tidak membahasnya, karena ia masih dalam keadaan berduka.


Meski begitu, tetapi Arkan tak tinggal diam, tanpa sepengetahuan Rindi ia memasang alat pelacak pada mobil Lamborghini yang dikendarai Rindi. GPS Tracking mobil alat pelacak kendaraan, hal itu ia lakukan agar ia selalu tau kemana saja wanita itu pergi.


Sedikit lama waktu yang di gunakan Arkan untuk mengintrogasi seorang bandar nark*ba. pertanyaan berbelit-belit dan menjebak dari Arkan berhasil membuat seorang tersangka kesulitan untuk berbicara. awalnya ia tak mau jujur siapa saja rekan-rekannya, tetapi ketika Arkan menggebrak meja dengan kasar dan memperlihatkan kemarahannya, tersangka itupun takut dan mengakui perbuatannya, ia memberitahu Arkan, saiapa saja rekan-rekannya yang tengah bersembunyi. Arkan menghela nafas legah, ia kemudian menyuruh bawahannya untuk mengurung penjahat itu ke dalam sel.


Tugas selanjutnya yaitu meringkus para pengedar nark*ba dan juga para pemakainya, tapi sebelumnya Arkan harus mendapatkan informasi dari para intelnya yang sedang menyamar di luaran sana.


Terlalu banyak bicara membuat temggorokannya menjadi kering, Arkan menenggak minuman di dalam botol hingga tandas. ia kemudian mengecek ponselnya. ya, siapa tau Rindi menghubunginya tetapi ia tak menemukan pesan dari Rindi, ia sedikit kesal tidakkah wanita itu untuk mengerti dan memberinya semangat disaat ia sedang bertugas seperti ini.


"Huh!" Arkan mendengus kesal ia kemudian mengecek CCTV di restoran Rindi, tetapi tak menemukan keberadaan wanitanya, "mungkin masih di rumah Nyonya Sukma." batin Arkan."


Tetapi, ia juga tak menemukan keberadaan pramusaji bernama Rina. Arkan sedikit keheranan dan bertanya-tanya kemana sih perempuan yang mengaku namanya sebagai Rina itu. Tiba-tiba ia teringat pada alat pelacaknya Arkan kemudian melacak memastikan kalau benar mobil Rindi berada di kediaman Nyonya Sukma. tetapi ia tak menemukannya, lokasi terkini keberadaan mobil Lamborghini terletak jauh dari pemukiman warga, jalan yang jarang di lewati oleh orang-orang. Arkan mengernyitkan dahinya seketika matanya membulat ia dapat menyimpulkan bahwa Rindi telah di culik. ya, bisa jadi begitu.


Arkan dengan cepat menghubungi kontak Rindi, tetapi tidak dapat tersambung. nomornya di luar jangkauan. saat ini dirinya benar-benar takut, jika terjadi sesuatu pada calon istrinya maka Arkan tak segan-segan untuk menghukum mereka semua.


...***...


Rina kemudian menghubungi Mirna setelah beberapa menit berdering telepon pun di angkat dari seberang sana.


..."Kak, aku berhasil membawa wanita ini di lokasi yang sudah Kakak share." Tutur Rina."...


..."Apa! ha-ha-ha... kerja bagus!" Mirna tertawa bahagia dibalik telepon. "balaskan dendam kakakmu! wanita itu harus merasakan sakit seperti yang di rasakan kakakmu!"...


..."Tentu kak, aku akan menyiksanya terlebih dahulu kemudian merajang kulit-kulitnya sama seperti yang dia lakukan terhadap kakakku."...


..."Kau memang adik yang baik, aku yakin kakakmu pasti bangga padamu!" ujar Mirna sedikit memuji."...


..."Aku tidak akan mengampuninya, gara-gara dia ibuku jadi depresi berat, dia harus membayar perbuatannya!" api Amara dalam diri Rina kian berkobar."...


Setelah memutuskan sambungan teleponnya Rina kembali menemui Rindi. tanpa ba, bi, bu lagi Rina menendang perut Rindi membuatnya terjungkal bersamaan dengan kursi yang di pakai untuk mengikatnya.


"Ahhh...!" Rindi mengerang kesakitan, "hentikan Rina! apa yang kau lakukan!"

__ADS_1


Rina tersenyum seringai, menatap wajah Rindi penuh kebencian. ia meraih sabuk di pinggang bodyguardnya kemudian menghantam pada Rindi tanpa ampun, teriakan kesakitan Rindi tak mampu membuatnya iba.


"Setidaknya, katakan apa kesalahanku! baru lah kamu menyiksaku." ucap Rindi, suaranya semakin melemah air matanya tumpah menahan sakit di sekujur tubuh."


"Kau ingin mengetahui siapa aku, hah!" bentak Rina sembari mencengkram kuat rambut Rindi."


"Baiklah, biar ku perjelaskan pasangkan telingamu baik-baik! pertama namaku bukan lah Rina, aku Nindia Pratama. adik kandung mendiang Rina Pratama. wanita yang kau bunuh belasan tahun yang lalu. kau tau? akibat dari perbuatanmu, ibuku menjadi depresi akut hingga sekarang. melihat pisau saja ibu langsung histeris ketakutan. aku telah menunggumu sejak lama hingga kau dibebaskan dan sekarang waktunya untuk membalaskan dendam kakakku yang telah kau bunuh!" ujar Rina dengan sorot mata kebencian."


Rindi tentu saja terkejut, ia yang tadinya lemah tiba-tiba menjadi kuat seakan mendapatkan energi baru. wanita itu bangkit dari tidurnya kemudian duduk meski tangan dan kakinya dalam keadaan di ikat, tapi setidaknya ia masih punya mulut untuk memaki.


"Aku sengaja mengaku nama sebagai Kak Rina, agar kau selalu mengingatnya, bekerja di restoran milikmu sangat menyenangkan. aku bisa memantau pergerakanmu dan menerormu di setiap waktu. kau telah membunuh kakakku, kau memisahkan ibu dan anak, kakak dan adik. kau sangat jahat!" kau tega memisahkan kami!" sambungnya lagi seolah-olah dialah korbannya."


"Lalu, bagaimana dengan putraku! wanita yang kau sebut kakak itu emang tidak pantas berada di dunia ini. dia mengambil suamiku dan akibat ulahnya putraku tiada, haruskah aku duduk manis, berpangku tangan, menyaksikan kebahagiaannya. Dia berbahagia di atas penderitaanku, dia menertawakan air mataku. dia mengabaikan permohonanku atas suamiku!"


"Diam...! aku tidak menyuruhmu untuk bicara." bentak Rina, sembari melayangkan tendangan tepat di wajah Rindi."


Cairan merah mengalir dari hidungnya. namun Rindi berusaha untuk kuat.


"Anakmu yang penyakitan itu, memang sudah di takdirkan untuk mati. jadi kau tidak bisa menyalahkan kakakku. dan soal suamimu, salahkan dirimu sendiri yang tidak becus mengurus suami, akibatnya suamimu mencari wanita di luar sana untuk menyenangkannya.


Rindi sangat marah mendengarnya, ia menatap Nandini dengan tajam.


"Suamiku tidak datang pada kakakmu, tetapi kakakmu lah yang datang padanya, ibarat kucing di kasih makan ikan, mana mungkin di tolak, ahh... sudahlah! kau tidak akan pernah mengerti sebelum kau mengarungi sendiri bahtera rumah tangga yang sebenarnya. kau akan mengerti ketika kau memilikki anak, seorang Ibu akan melakukan apa saja demi anaknya." sahut Rindi dengan mata yang berkaca-kaca.


Di luar gedung Arkan bersama timnya telah sampai, tidak butuh waktu lama untuk menemukan lokasinya alat pelacak berhasil mengantar mereka menemukan titik lokasi.


Rekan-rekannya Arkan berhasil melumpuhkan bodyguardnya. Mereka menggunakan pistol untuk mengancam, para bodyguard yang takut langsung menyerahkan diri. jumlah polisi yang di bawa Arkan sangatlah banyak sebagian dari mereka mengepung gedungnya. sedangkan Arkan sendiri bersama kedua rekannya berlari masuk ke dalam gudang, setibanya di dalam hanya tersisah Rindi yang sudah terkapar dengan tangan dan kaki yang masih di ikat dengan tali. darah dari kepala dan hidung mengalir deras, sedangkan Nandini atau yang di kenal sebagai Rina telah bersembunyi.


"Rindi..." pekik Arkan dengan gemetar air matanya luruh dengan deras merutuki kebodohannya yang telah lalai menjaga wanitanya."


"Cepat! geledah gudangnya! dan temukan bajingan itu!" teriak Arkan marah."


Arkan melepaskan tali yang di ikat, kemudian menggendong Rindi berlari menuju mobilnya saat ini ia harus menyelamatkan nyawa Rindi terlebih dahulu, soal Rina ia percayakan pada timnya yang lain.


.

__ADS_1


.


Happy Reading!


__ADS_2