
Serangan yang dilepaskan oleh Jenderal Langit menghancurkan sebagian besar pasukan Penguasa Samudera, Hai Huang. Bahkan samudera yang tak berujung terguncang tanpa kendali, airnya mengalirkan sengatan listrik yang kuat, cukup untuk membuat siapapun yang berada di sekitarnya lumpuh.
Hai Huang menatap dengan penuh amarah, tetapi reaksinya begitu dingin sehingga tidak dapat dengan jelas melihat ekspresinya saat ini.
"Keluarlah, Hai Huang!" teriak Jenderal Langit sambil mengayunkan senjata kelas surga di tangannya, menantang Hai Huang untuk bertarung. "Hai Huang, aku akan mengatakannya sekali lagi, perbatasan Selatan tidak akan pernah hancur meskipun langit itu sendiri dihancurkan! Karena di belakang perbatasan itu ada makhluk yang tidak boleh kau ganggu, sosok yang tak terpengaruh oleh apapun, termasuk hukum dan aturan ketertiban langit!"
Penguasa Samudera tersenyum tenang. "Omong kosongmu akan berakhir sekarang. Kau tidak tahu dengan siapa kau harus berurusan sekarang," jawab Hai Huang.
Air mulai berkumpul di sekelilingnya. Dalam sekejap, dia tumbuh sangat besar, mencerminkan kekuatan samudera yang tak berujung. "Jenderal Langit, tidak peduli seberapa kuat dukungan yang kamu miliki di belakangmu, kami tidak akan menyerah demi mendapatkan kebebasan kami di dunia! Meskipun aku mati hari ini, kami masih memiliki satu-satunya harapan kami, dan dia tidak terikat oleh apa pun di dunia ini, sama seperti dukunganmu!"
"Sombong!"
Jenderal Langit meluncur maju dengan cepat, dia marah karena kalimat Hai Huang sangat sombong dan provokatif. Saat berada dekat dengannya, dia melepaskan serangan pedang surgawi yang memotong udara di depannya. Pedangnya menyambar ke arah Hai Huang, menghasilkan ledakan energi yang memekakkan telinga.
Namun, Hai Huang dengan lincah menghindari serangan itu, "Manipulasi air, perubahan cakram langit!"
Dengan cepat, Hai Huang merespon menggunakan serangan air yang mematikan. Dia menggerakkan tangannya, dan segerombolan besar air laut berkumpul di sekitarnya. Air itu berubah menjadi proyektil tajam yang dilemparkannya ke arah Jenderal Langit!
Serangan air itu meluncur dengan kecepatan tinggi, dan begitu mengenai petir yang dikeluarkan oleh Jenderal Langit, ledakan besar terjadi, menciptakan riak energi yang mengguncang langit dan bumi di sekitarnya.
Para prajurit di bawah merasakan tekanan semakin kuat karena pertarungan antara Jenderal Langit dan Penguasa Samudera begitu kuat dimana menambah tekanan mencekam di sekitar mereka.
Namun, Jenderal Langit tidak terguncang. Dia mengayunkan pedang surgawinya dengan penuh kekuatan, menciptakan gelombang kejut yang melindungi dirinya dari serangan air.
__ADS_1
Bang!
Kemudian, dengan cepat, dia membalas dengan serangan beruntun, melepaskan kilatan-kilatan pedang surgawi yang memotong udara dengan gesekan yang menghasilkan percikan api.
Hai Huang menghalaunya dengan air yang membentuk benteng, meski begitu air yang ia gunakan itu mendidih karena panas yang dihasilkan serangan Jenderal Langit sudah mencapai titik paling ekstrim!
"Kenapa kau berhenti, Hai Huang? Apa kau sudah mulai menyadari perbedaan kekuatan di antara kita?"
"Untuk makhluk serendah kau masih mempunyai mulut untuk bicara, aku tidak berharap banyak, tapi, kau cukup hebat dibandingkan di masa lalu. Sayangnya, berbeda di masa sekarang!"
Hai Huang mengangkat tangannya, dan seolah-olah alam semesta sendiri merespons panggilannya. Samudera yang luas terguncang hebat, dan gemuruh di langit terdengar begitu keras, memanggil para leluhur dari kedalaman lautan.
Petir-petir tak terhitung jumlahnya menyambar dari langit, menciptakan kilatan yang membutakan mata. Suasana di sana terasa mencekik leher, seolah-olah seluruh alam semesta menahan napas dalam antisipasi.
Istana Laut Perak! Itu melayang di atas samudera yang luas, bersinar seperti permata. Ketika mereka menatapnya langsung, mereka merasa seakan-akan mendapatkan pandangan mengerikan tentang masa depan.
Manifestasi tombak muncul di depan Hai Huang, "Tombak Bencana Surgawi, satu-satunya senjata rahasia leluhur yang mampu membunuh Dewa dan menghancurkan aturan."
Dia memutar tombaknya dan menghenuskan ke bawah membuat sinar yang terang melesat turun kebawah membunuh siapapun yang menyentuhnya. Saat kabut tebal menghilang, pemandangan lubang besar di bawah terasa hangat dan baru saja di bentuk oleh kekuatan ilahi.
Jenderal Dewa menatap begitu dalam, dia mengertak dengan kesal sembari menggenggam tangannya.
"Sekarang, mari kita mulai babak keduanya, Jenderal Langit!"
__ADS_1
"Keparat!"
Dia kehilangan ketenangannya karena senjata yang di keluarkan Hai Huang merupakan senjata tertinggi di klan penguasa samudera. Senjata itu tidak hanya mampu membunuh Dewa, memporak-porandakan aturan langit bisa di lakukan dengan satu ayunannya.
Itu membuat keabadian atau aturan yang membuat pasukan dewa mengalami kerugian besar. Meski begitu, bukan berati tidak mempunyai counter dari senjata tersebut, hanya belum di temukan.
Di langit yang mendung, Jenderal Langit dan Penguasa Samudera mengambang di antara awan-awan gelap, ketenangan Jenderal Langit lenyap seketika membuat dirinya kehilangan kendali.
Tanpa kata-kata, Jenderal Langit meluncur maju dengan kecepatan kilat, pedang surgawinya bersinar memotong udara, menciptakan kilatan cahaya yang membelah langit. Penguasa Samudera merespon dengan kecepatan yang sama, memanipulasi air di sekitarnya menggunakan senjatanya.
Bang! Duarr! Duarr!
Mereka bertarung di udara dengan kecepatan yang tak terlukiskan, berputar-putar dalam tarian yang gila, saling melepaskan serangan yang menghancurkan!
Dentuman petir dan gemuruh ombak memenuhi langit, menciptakan lanskap yang luar biasa dan menakutkan.
Jauh di bawah mereka, kedua pasukan saling memandang ke langit dengan ketakutan menyaksikan pemimpin masing-masing bertarung.
Bahkan kedua pasukan yang menonton dengan nafas tertahan. Mereka merasakan tekanan energi yang kuat, bahkan dari jauh. Medan perang bergoncangan, tanah retak, dan gunung-gunung di dalam lautan ataupun di luar lautan terguncang hebat oleh kekuatan mereka.
...
*Bersambung ...
__ADS_1