Lasta Qais(Bukan Cinta Qais)

Lasta Qais(Bukan Cinta Qais)
Safinah,didekati para ustadz


__ADS_3

"Fina,bagaimana jawabanmu kepada ustadzah Rini barusan,"Tanya kia padaku.


"Aku nggak mau kia,"jawabku lesu,dan menelungkup kan wajahku ke bantal yang baru saja ku ambil.


"Kenapa finn,kamu nggak suka sama ustadz Amar?"kini Nita yang bertanya.


"Nggak,ta.."jawabku singkat.


"Aku nggak mau nikah sekarang,ini terlalu cepat bagiku Nita,Kia.."ucapku menambahkan.


Akhir-akhir ini,ada beberapa ustadz yang berusaha mendekatiku.Ada yang mengutarakan maksudnya melalui ustadzah Rini,pembimbing kami di asrama putri.Dan ada juga yang langsung datang ke rumahku saat itu.Dan syukurlah,ibu bersama kakak tunggal ku memberi jawaban yang membuatku tenang.Mereka tau jika aku belum siap untuk menikah sekarang,dan aku ingin menjadi seorang ustadzah,seperti ustadzah Rini.


Tadinya,aku baru saja berjumpa dengan ustadzah Rini yang kedua kalinya.Untuk memberi sebuah jawaban yang berupa alasan bahwa aku tidak ingin menikah sekarang.


Ada seorang ustadz yang hendak mempersunting kan aku,dia tampan,pintar,dan juga kaya kata ustadzah Rini.Namun aku tetap kekeuh pada pendirian ku.Ada sedikit rasa tidak suka saat ku dengar kalimat menekan ustadzah Rini,saat menyebutkan ustadz Amar itu kaya.Seolah,kaya itu adalah nilai tertinggi yang di inginkan oleh setiap perempuan pada lelaki yang akan menjadi suaminya.Mungkin sebagian besar memang begitu,tapi tidak denganku.Kaya itu tidak menjadi sebuah kebanggaan buatku,karena hidupku yang sederhana mengajarkan aku tidak buta pada harta.


"Terus,gimana tanggapan ustadzah Rini?",tanya kia penasaran.

__ADS_1


Ku lihat wajah kia yang sangat menanti jawaban dari ku.Bibirku terangkat membentuk senyuman,rasa takutku berjumpa dengan ustadzah Rini tadi hilang seketika saat melihat wajah kepo kia dan Nita.


"Tanggapannya biasa aja kok,masak ustadzah Rini harus marah sama aku gara-gara aku nggak mau sama ustadz Amar",jawabku sedikit panjang.


"Terus,wajah kamu kok ketakutan gitu Fin?"tanya Nita memegang tanganku yang terasa dingin.


" Ya Allah Finn,kamu sampai keringatan dingin gini!!"jerit Nita.


"Beneran,?,,coba siniii aku pegangin."kia juga ikut heboh dan mengambil tangan kananku di genggaman Nita.


"Hhhaha,,"kia terbahak-bahak setelah memegang tangan dinginku.Sifatku yang pendiam dan malas bicara,tak menggubris tingkah kia yang menertawakan ku.Hanya saja,wajahku sedikit jengkel karenanya.


"Lucu aja taa,segitu takutnya Fina masalah percintaan..hhhahaa"ucap kia dan masih dengan tawanya.


"Kayak orang jatuh cinta aja kamu finn,padahal pacaran aja nggak pernah."ujar kia lagi,setelah berhenti dari tawanya.


"Aku belum pernah di posisi itu aja kia,makanya gini.."ucapku.

__ADS_1


"Kita udah beranjak dewasa Fin,problema yang akan kita lalui belum pada puncaknya.Ini baru permulaan.Kita nggak selamanya muda,dan fikiran kita nggak selamanya bersifat kanak-kanak."jelas Nita yang sangat bermakna.


Baru saja aku ingin meneruskan penjelasan Nita,lagi-lagi kia merusak suasana bijak yang jarang kami temui.


"Masyaallahhh..Nitaku sayanggg,kamu bijak banget sihhhhhhh"


"Sahabatnya siapa sih iniiiii..."sorak kia sambil memeluk Nita dari samping.Kia selalu mampu membuat suasana gaduh,dan ceria sepertinya.


"Kia,kiaaa,,udah deh ahh,ngapain sih main peluk peluk gini,!"Nita merasa pengap karena pelukan kia hampir saja membuatnya tercekik.


"Hheheh,maaf Buu"ucap kia masih dengan candaannya.


***


Imam Syafi'i mengatakan,bahwa sesuatu yang paling jauh itu adalah masa lalu.


Ku resapi semua yang telah kujalani selama di pondok Al hidayah.Terasa begitu cepat berlalu.Hari harinya,yang penuh suka ria bersama sahabatku,sesekali tangis kerinduan kepada orangtua juga menjadi candaan tersendiri bagi kami bertiga.Belum lagi dengan orang-orang yang tidak suka dan iri dengan pencapaianku,ku anggap angin berlalu begitu saja.

__ADS_1


Tidak mudah menjalani kehidupan yang jauh dari orangtua,tapi karena ingin sukses untuk hari akhir,kami siap berjuang hingga waktunya tiba kami kembali ke tempat masing-masing.


__ADS_2