Lasta Qais(Bukan Cinta Qais)

Lasta Qais(Bukan Cinta Qais)
Safinah,semua tak lagi sama


__ADS_3

"Taa,kitab yang biasa aku pakai mana yaa,?kamu lihat nggak,!?"tanya kia pada Anita sambil celingak celinguk mencari kitabnya di mana.


"Nggak Kii,,,emang kamu taruh dimana semalam,?"ucap nita sibuk merapikan kerudungnya.


"Ituu tuhh,,coba liat yang di bawah tu apaan Kii,,!"ucap safinah sambil menunjuk sebuah kitab yang terlihat sedikit di bawah bantal.


"Astaghfirullahhhhhh...!!"ucap kia buru-buru mengambil kitabnya,karena sebentar lagi jam masuk mengajar sudah dimulai.


Pagi itu,kami bertiga sedikit terlambat karena semalam kami tidur sangat larut.Semalam Nita bercerita tentang Syifa.Dan tentunya kia yang paling menutup kedua telinganya.Kia memang tidak suka dengan Syifa,tapi karena perubahannya kia sudah bisa menerima Syifa dalam persahabatan walupun tak seakrab seperti Nita bersama Syifa.


Hampir setahun gelar ustadzah kami sandangkan.Menjalani aktivitas yang sangat berbeda dengan yang dulu.Jika dulu kami terburu oleh waktu sebagai seorang murid.Sekarang,kami terburu oleh waktu sebagai seorang guru pengajar.Mungkin akan seterusnya seperti ini.Walaupun seringkali didera oleh rasa ketidaksanggupan menjalaninya,namun entah kemana kaki ini harus melangkah jika bukan di tempat terbaik ini yang telah Allah hidayah kan.


***


Setelah mengajar di kelas tadi,aku duduk di taman seorang diri untuk mencari hawa dingin.Ku ambil ponsel dari tas kecil yang selalu ku bawa.Disana,aku mencari kontak wa ustadz Zul.Aku tertawa geli dalam hati,saat melihat tiga tanda tanya yang kusimpan sebagai nama ustadz Zul.Bukannya aku tak romantis,hanya saja agar nomor kontak ustadz Zul bisa berada di deretan paling atas saat aku cari.Bagaimana,?romantis bukan..?..


???


"Ustadzzzzz..."isi pesan yang aku kirim.


Aku selalu merindukan pak ustadz ku,sangattt merindukannya.Kian hari rasa cintaku pada ustadz Zul kian memupuk.Tak ada yang tidak aku ceritakan pada pak ustadz tentang hal apapun yang aku alami.Sedekat itulah kami berdua sekarang.Begitupun ustadz Zul,dengan versinya bisa membuatku tersenyum riang,dan bahkan bisa tertawa lepas walau tanpa bertemu.


Tapi,semenjak ustadz Zul tak lagi mengajar di kelasku.Aku merasa jauh dengan ustadz Zul,padahal hampir tiap hari kami berbagi kabar.Rasa hambar itu kian menjadi.Semoga saja,kami bisa melewati masa-masa yang bosan seperti saat ini.Aku asik chatingan bersama sang ustadz,hingga aku tak sadar bahwa di belakang kia berdiri entah sejak kapan.


"Enak benerrrr chatingan sama pak ustadz.!"suara kia sangat mengagetkanku.Aku hanya menoleh kebelakang melihat kia dengan tubuh sedikit jongkok seperti habis mengintipku.


Aku memasang wajah selidikku dan mengaitkan kedua keningku pada kia,,walaupun kia hanya bisa melihat keningku saja,tapi yang jelas kia sudah hafal mimikku dibalik cadar ini.


"Ehemmm,,,duhai alam yang indah menawan bagaikan awan biru di langit tinggi yang ku tatap..Sudikah kiranya engkau sampaikan rasa inginku tuk bertemu dengan seorang pangeran yang entah dimana dia berada.."ucap kia lebay.Hatiku tergelitik mendengar puisi lebay yang diucapkan kia.


"Ku lihat mentari pagi bersinar cahaya bak suasana hati menghias diri..kemana ku bawa hati yang ingin bertepi bersama dia yang juga seorang diri."balasku tak kalah lebay dengan bait-bait pujangga kami.

__ADS_1


"Masyaallahhh finnnnn...woowwww....puitisnyaaa nggak ada duanyaa ya Allahhh....tolong aku ya Allahhh...aku sungguh tak sanggup dengan syair syahdu dari sahabatku ini..!!"seru kia sambil berjalan melingkari dari belakang dan kini duduk disebelah ku.


"Hhhehe,, masyaallahhh,,,lebaynya nggak ada dua ya Kii...!"ucapku pelan.


"Hhhhee,,finn kamu tau nggak aku tuh kena virus syair kamu,,makanya ginii..dasarrr!!"ucap kia padaku.


"Kamu aja yang gampang terpengaruh,,aku nggak ngajak kamuu kok buat ngikutin aku.."jawabku tak acuh.


"Nyebelin banget jadi orang...!,,nggak boleh gitu dong ustadzah finaaaa.."ucap kia meledek.


"Ssttt,,jangan manggil-manggil ustadzah dongg,,malu ahh Kii!!"ucapku malas.


"Hhhehe.."kekeh kia sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Dari kejauhan,Nita melambaikan tangan kanannya ke arah kami berdua.Mungkin Nita juga ingin menghampiri kami kesini.Seperti biasa mengahabiskan waktu bersama dengan berbagai kekonyolan.Itupun jika hanya kami bertiga.


"Fin,Nita tuhh."ucap kia menunjuk ke arah Nita yang hampir mendekat.


"Waalaikum salam........"jawab ku dengan kia.


"Huftttt...Ini baruu nikmat...Dinginnnn"ucap Nita menikmati hembusan angin.


"Kalian berdua lagi ngapain?."tanya Nita.


"Aku lagi mergoki orang lagi chatingan sama my heart nya."jawab kia menyindir Safinah.


"Ooooohhhh,,,sepertinya aku tauuu siapaaa..!"jawab Nita dengan tatapan menggoda ke arahku.Aku memilih diam agar mereka tidak membicarakan masalahku panjang lebar.


"Pak ustadz mau ngelamar ya,finn??"tanya Nita.


"Nggak ta,,masih gini-gini aja."jawabku tak berselera.

__ADS_1


"Mungkin aja pak ustadz mau kasih kejutan buat kamu."tambah Nita lagi.


"Hei heiii,,,ingat yaaa..ada yang masih jomblo di sinii..pliss dehhh!!"ucap kia bete.


"Hhhehe,,sabarrr..kita kan nggak pernah tau takdir Allah itu gimana,,bisa jadi kamu ninggalin aku duluan Kii...Aduhhh aku nggak sanggup deh kiii,,kalau kamu duluan yang pergiii..!"ucap Nita dengan wajah khawatir.


"Taa,,nggak usah pasang tampang kayak orang susah gitu dehhhh..!kamu sebentar lagi yang sudah jelas-jelas meninggalkan kami duluan.Sakitnya tuh di siniiiii..."ucapku jengkel,yang dibalas anggukan oleh kia.


"Heummm,,aku nyerah dehh kalau bawa-bawa gituan.!"ucap Nita tersenyum kalah.


"Kamu duluan yang mulai,dari tadi kami nggak bahas gituan."timpal kia.


Pembahasan kami tak jauh dari pasangan hidup saat ini.Mungkin sudah saatnya karena kami sudah berumur dua puluh ke atas.Aku tak ambil pusing,karena aku yakin pak ustadzku setia dan tak mungkin meninggalkan aku yang sudah empat tahun merajut hubungan ini.


***


Di rumah Safinah,Shena tak henti-hentinya menanyakan kabar Safinah pada ibundanya.Rasa khawatir seorang kakak pada adiknya tak mampu disembunyikan.


"Buu,kapan Fina dilamar sama ustadz Zul itu?"tanya Shena pada Bu diana.


"Safinah nggak bilang apa-apa tentang ustadz nya."jawab Bu diana tenang.


"Buu,,udah hampir empat tahun Fina menjalin hubungan sama ustadz Zul,tanpa kepastian apa-apa begini,?..Ustadz Zul juga nggak pernah datang ke rumah menemui ibu."tambah Shena lagi dengan sedikit emosi.


"Shena,sabarrr.Ini kan butuh proses nak.Kasihan Safinah bila kamu terus memberondong dia dengan pertanyaan seperti ini terus!."jawab Bu Diana dengan wajah sendu mengingat putri bungsunya yang jauh disana.


"Karena Shena sayang sama dia Buu,,makanya Shena gini."ucap Shena dengan suara mulai melemah.


"Heumm,,doakan saja buat adikmu nak,ibu juga nggak bisa berbuat apa-apa.Safinah juga jarang cerita sama ibu nak.Kamu tau kan adikmu itu gimana?."ucap Bu Diana pelan.


"Itu dia bu masalahnya,ya sudahlah Buu.Shena nggak mau bahas ini lagi."ucap shena kemudian dan meneruskan meyapu halaman belakang rumah ibunya.Shena seringkali merasa kesal pada Safinah,karena hubungannya dengan pak ustadz tidak begitu jelas menurutnya.

__ADS_1


"Sebelll bangettt sama ustadz Zulll...masak sampe sekarang nggak kunjung datang ke rumah..!!nggak gentle banget jadi laki.."gerutu Shena sendiri sambil terus mengayunkan sapu yang dipegangnya menyeret dedaunan yang gugur di sekitar halaman belakang rumah Bu Diana.


__ADS_2