
Hati kecil kia sedikit tergores tatkala mendengar pertanyaan dari ustadz Zul.Dia sudah bisa memastikan jika ustadz Zul menyukai Safinah.
"Kia,,ingatt kamu tidak secantik perempuan lain yang pantas mencintai laki-laki tampan.hufttt..."kia berusaha menguatkan dirinya sendiri agar tetap tegar menghadapi ujian cintanya yang selalu tak terbalas.Bahkan dia sering menertawakan dirinya sendiri karena sampai saat ini,tak seorang pun yang mengajaknya untuk berkenalan.Kadang,dibalik lelucon yang sering dilakukannya,tersimpan harapan yang layu sebelum mekar.Begitulah cara kia untuk membuat dirinya bahagia selama ini.Karena bahagia itu harus diciptakan sendiri,tanpa harus menunggu kata dibahagiakan.
Kia mengangkat kepalanya yang sempat ditundukkan sebentar,dan menjawab dengan senyuman.
"Eumm,,yang saya tau belum ustadz.Karena Safinah tidak pernah berhubungan dengan pria manapun."Bagi kia,rasa sakit seperti ini sudah sering dirasakan.Jadi sangat mudah untuk diatasinya.Cukup dengan sebuah senyum keikhlasan menerima takdir,rasa sakit itu hilang dengan sendirinya tanpa harus berlarut-larut dalam rasa yang tak semestinya.
Berbeda dengan kia,yang sedang membuang rasa terhadap ustadz Zul.Ustadz Zul malah terlihat menghembuskan nafas leganya ketika mendengar jawaban kia.
"Alhamdulillah ya Allahhh..engkau memberiku kesempatan ini.."ucap ustadz Zul dalam hati.
"Eumm,jadi Safinah belum pernah dekat dengan lelaki?"tanya ustadz zul memastikan.
"Iya ustadz,,"jawab kia menganggukkan kepalanya.
"Eumm,askiaa..Boleh ustadz minta kontak Safinah?atau medsosnya dia?"
"Eumm,saya lupa kontaknya Safinah ustadz.."ucap kia.
"Kalau begitu,boleh ustadz minta kontak kamu askia,nanti tolong kirimkan kontaknya Safinah untuk ustadz."ucap ustadz Zul berharap.
"Ohh tentu ustadz,,"akhirnya kia memberi nomor teleponnya untuk ustadz Zul.Setelah ustadz Zul mengetikkan nomor kia,ustadz Zul masih menyambungkan pembicaraannya.Seolah panas matahari tidak membuatnya gerah hari ini,karena rasa inginnya segera terwujudkan.
__ADS_1
"Askia,ustadz minta tolong sama kamu.Tolong tanyakan sama Safinah,apa dia mau menerima ustadz sebagai imamnya?,,"tanya ustadz Zul dengan wajah serius dengan sedikit memelas.Kia yang melihatnya sedikit tersenyum karena ekspresi yang ditunjukkan ustadz Zul benar-benar seperti orang memelas membutuhkan sesuatu.
"Ustadz Zul sedang jatuh cinta rupanya.."tawa kia dalam hati.
"Ehemmm,,"kia sedikit berdehem karena tenggorakannya terasa kering.
"Kami sempat berbincang dulu ustadz,kata Safinah,,dia tidak ingin menikah dulu..Karena dia ingin menjadi pengajar dulu,menjadi ustadzah,ustadz."ucap kia menjelaskan.
Ustadz Zul menganggukkan kepalanya pertanda paham.
"Ustadz juga sama askia,ustadz tidak menikah sekarang juga..ustadz akan menunggu sampai Safinah siap nantinya.Jadi,tolong tanyakan yaa,sama Safinah.Ustadz serius ingin mengenal Safinah lebih jauh."ucap ustadz Zul meyakinkan kia.
Kia tersanjung mendengar keseriusan dari ustadz Zul.Kia berandai,jika ada pria yang menyukai dirinya,mengajaknya berkenalan serius,,itu akan menjadi sebuah kebahagiaan terbesar bagi kia yang belum merasakan dicintai oleh seorang pria.
Tak terasa hampir setengah jam lebih obrolan ustadz Zul dengan kia.Keringat sudah membanjiri leher kia yang tertutupi dengan kerudungnya.Punggungnya kini terasa gatal karena sudah tidak tahan dengan keadaan gerah yang teramat sangat.
Ustadz Zul bukannya tidak peka melihat kia yang sudah dari tadi merasa tidak nyaman.Hanya saja,ustadz Zul ingin menuntaskan pembincangannnya dengan kia agar tak lagi tertunda esok harinya.
"Askia,,,terimakasih banyak sudah membantu ustadz..Ustadz juga minta maaf karena sudah membuat kamu lama disini."ucap ustadz Zul ramah.
"Sama-sama ustadz,tidak apa-apa..Saya pasti akan membantu ustadz untuk menuju kebaikan.Apalagi Safinah sahabat saya ustadz,wanita Sholehah kami ustadz,,jadii,bila nanti ustadz mendapatkan hati Safinah,,saya harap ustadz jangan melukainya."kata kia tulus.
"Insyaallah askia,karena bukan cinta bila itu menyakiti."jawab ustadz Zul singkat penuh makna.Kia yang mendengarnya lega,karena Safinah akan jatuh pada tangan yang tepat menurutnya.
__ADS_1
"kalau begitu,,saya izin pamit ustadz."ucap kia berpamitan.
"Iyaa silahkan,,maaf dan terimakasih sekali lagi askia."ucap ustadz Zul lagi.
Kia hanya tersenyum lebar,dan menganggukkan kepalanya kepada ustadz Zul.
Kia kemudian membalikkan badannya melangkah kembali ke kamar ternyaman bersama para sahabatnya.Di perjalanannya,kia masih tidak habis fikir dengan ustadz Zul.Ternyata,alasan ustadz Zul memintanya untuk mengantarkan tugas mereka ke ruang guru,adalah untuk menanyakan tentang Safinah.
"Ternyata memang benar dugaan ku selama ini,ustadz zul itu suka sama Safinah."gumamnya sendiri.
"Kira-kira tanggapan safinah seperti apa ya,nantinya...lucu juga yaa ustadz Zul."kia bergumam sambil tertawa kecil membayangkan ekspresi wajah ustadz Zul tadi.
Dan karena terlalu asyik menertawakan ekspresi sang ustadz,kia tidak melihat bongkahan tanah yang menonjol di depannya.Dannnn.."Bukk..."suara kaki kia tak sengaja menendang bongkahan tanah tersebut.Dan membuatnya sedikit tersungkur kedepan.
"Awwwwhh....aduu duu duuuhh.."ringis kia kesakitan.
"Aduuuhh,,kualat deh ketawain ustadz sendiri."keluhnya sendiri.Kia melihat kesana kemari melihat keadaan sunyi tidak ada yang melihatnya.
"Syukurrrr,nggak ada yang lihat.."gumamnya sambil mengelus dada.Kiapun menegakkan badannya kembali dan meneruskan langkahnya pulang ke kamar.
Dari kejauhan sana,ustadz Zul yang masih berdiri melihat kia kembali,tertawa terbahak-bahak melihat gadis kecil itu tersungkur sendiri.
"Memang jauh beda dengan Safinah yang kalem",,gumam ustadz Zul kemudian tersenyum mengingat Safinah.
__ADS_1