
"Finnn,,,kakakmu katanya pulang hari inii..!"seru ibu Diana pada Safinah yang sedang menyapu di halaman belakang.
"Alhamdulillah....akhirnyaaaaa...kapan Buu,?,siang ini?"tanya Safinah antusias.
"Katanya begitu,ibu mau ke warung pak Ahmed dulu yaa,,!"Kata ibu Safinah,sambil berlalu pergi.Tidak butuh waktu lama ke warung pak Ahmed,hanya berjalan kaki sebentar saja,Bu Diana sudah sampai ke sana,untuk membeli sayur.
"Pak Ahmed,beli sayur asemnya lima ribu,tempe lima buah,sama ikan nila sekilo."kata Bu Diana pada pak Ahmed.
"Tumben masak banyak Bu Dian,?"tanya pak ahmed.
"Inii pak Ahmed,anak sulung saya pulang hari ini.Kebetulan mereka suka banget sambel ikan nila sama sayur asem."jawab Bu Diana menampilkan senyum bahagianya.
"Ohh,,pantesan wajah Bu Diana senang gitu.."
"Ini buuu,,semuanya sembilan puluh lima ribu."pah Ahmed menyodorkan belanjaan Bu Diana.
"Makasih pak Ahmed,,mari.."pamit Bu Diana langsung bergegas.
Sedangkan safinah,disana sudah membereskan tempat tidur lama kakaknya.Kamar yang masih terlihat rapi,hanya saja banyak debu karena tidak dihuni oleh siapapun.
"Tuttt,,,,tutt,tuttt"ponsel yang selalu dibawa Safinah sekarang berbunyi di sakunya.
"Siapa ya,,SMS tiga pesan sekaligus."gumam Safinah sambil meletakkan kemoceng yang dipegangnya tadi di atas laci.
"Heummm ustadz zull.."gumam Safinah manggut,namun dengan perasaan berdebar-debar.Safinah pun segera membukanya.
Ustadz Zul,
"Selamat pagi untuk separuh jiwaku disana,,semoga pagi ini senantiasa membawamu ke kedamaian kalbu dengan sebuah rasa yang engkau beri untuk jiwa hampa ini,,selamat pagi wahai mentari di hati,,tanamkanlah nama ini di hati yang bak perisai rindu,menusuk jantung bersemanyam di dada.. Selamat pagi duhai kekasih hati..ZULFI.."
Jantung Safinah berdebar kencang membaca isi pesan dari ustadz Zul.Bibirnya tersenyum lebar menahan gejolak asmara yang membuncah di dada.Semburat merah muncul di kedua pipi putih Safinah.
"Ya Allah,,,"Safinah memegang dadanya yang terus berdegup kencang sembari memejamkan kedua matanya.
"Ihhhh ustadz Zul malu-maluin banget sihhhh....!!"jerit tertahan Safinah,sambil memilin ujung bajunya.Andai ustadz Zul bisa melihat reaksi Safinah saat ini,mungkin beliau akan menertawakan safinah.Dan merasa bahagia karena mampu membuat bibir itu tersenyum malu karenanya.
Kemudian,Safinah kembali membuka pesan yang kedua dari ustadz Zul.
Ustadz Zul,
__ADS_1
"Kasihhhh,,izinkanlah raga ini menuai rindu dengan sebuah kata.Jangan kau abaikan rasa ini dengan belenggu yang membungkam isi hatimu."
"Selamat pagi safinahkuuuuu.."
Ketiga pesan ustadz Zul mampu membuat sekujur tubuh Safinah panas dingin,tak karuan.Jiwanya dibawa melayang dengan bait syair yang ditulis oleh ustadz Zul.
"Ya Allahhh,,,ZULFI,,ustadz Zul,dan Fina..Benarkah ituu,?"gumam Safinah sendiri.
"Tolong jantungku ya Allahhh,,,Kenapa aku tiba-tiba rindu sama ustadz Zul.?"Safinah mulai tak tenang hanya karena gombalan ustadz Zul.
"Tapi,apa itu hanya gombalannya,atauuuu benar-benar dari hati ustadz Zul,untukku."fikir Safinah.
"Huftttt,,,"Safinah membuang nafas dengan kasar,dan mengetik balasan untuk ZULFInya.
Safinah,
"Selamat pagi juga ustadz,,"balas safinah,dan tersenyum membayangkan ustadz Zul membuat singkatan nama mereka berdua dengan ZULFI.
"Tutt,"
Ustadz Zul,
Dada Safinah naik turun saat membaca pesan selanjutnya,kali ini jiwanya benar-benar melayang tinggi ke awan biru bersama burung-burung yang berkicauan di atas sana.Safinah hanya bisa menggigit bibir menahan dadanya yang bergemuruh.
"Ya Allahhh ustadz Zulll,,,,kenapa aku tidak bisa bernafas giniii sihhh..Aku juga mencintaimu ustadzzzz,,"gumam safinah,kali ini safinah mengungkapkan perasaannya untuk ustadz Zul,walau tidak didengar langsung oleh pemilik nama itu.
Safinah,
"Ustadzzzzz,,,maluuu,tau nggakkk..!"balas safinah apa adanya.
"Kring,,kringgg,,,,"bunyi nada panggilan di ponsel Safinah tiba-tiba.
"Kok malah di telfon sihhh...Aduhhhhhhh.."Safinah malah tak karuan melihat nama ustadz Zul tertera di layar ponsel jadulnya.
"Bipp,,"suara tombol saat Safinah mengangkat telponnya.
"Assalamualaikum,,safinahhh."suara ustadz Zul memberi salam.
"Deg..deg..deg.."jantung Safinah berpacu bagai melodi saat mendengar suara ustadz Zul yang entah kenapa sekarang malah menyejukkan hatinya.
__ADS_1
"Eumm,,waa,, waalaikum salam..eumm ustadzzz,,"Jawab Safinah malu-malu.
"Safinah sendirian yaa,?"tanya ustadz zul di ujung sana.
"Eumm,,mmm"
"Safinahhh,,,sini nakkk,,!!"Suara ibu Safinah memanggilnya dari dapur.
"Eumm,,maaf ustadz,ibu manggil saya.Udah dulu ya,, Assalamualaikum.."ucap safinah buru-buru,ini menjadi alasan untuk safinah kabur karena tak sanggup berbicara dengan ustadz zul,dan juga Safinah takut ibunya lama menunggu.
"Iya,, waalaikum salam Safinah."Jawab ustadz Zul sedikit lesu.
"Heummm,,sabarrr,,cinta butuh perjuangan..."ucap ustadz Zul yang sedang bersantai di belakang rumahnya.Ustadz Zul kembali menyalakan rokoknya,untuk sekedar merileks badannya.
"Bagaimana yaa,wajah Safinah saat malu-malu seperti tadi,,yang pastinya cantik,,pipinya memerah.."ustadz Zul berbicara sendiri sambil terkekeh dengan kisah cintanya pada safinah.Mencintai seorang gadis yang polos,lugu,pemalu,,membuat kisah asmaranya kali ini berbeda dengan yang lain.Mungkin dulu,jauh sebelum mengenal Safinah,ustadz Zul pernah ditinggal kawin oleh orang yang dicintainya.Dan setelah sekian lama itu berlalu,kini safinahlah yang bertahta di dalam hatinya.
"Pengen halalin secepatnya ya Allahhh,,,"ucap ustadz Zul dalam hati,agar tidak terdengar sama bundanya.
***
"Kamu ngapain aja Safinah,di kamar kakakmu,?"tanya ibu Diana pada Safinah.
"Beres-beres Bu,,"jawab safinah.
"Iya,,ibu tau kamu lagi beres-beres,tapi kenapa sampe nggak dengar suara ibu,?,,udah beberapa kali ibu teriak-teriak manggil kamu loh.."kata ibu Safinah sambil mencuci ikan nila yang sudah siap di goreng.
"Hhhehe,,eumm itu buuu..debunya banyak banget soalnya,Safinah lagi fokus ajaa..gituuu.."jawaban Safinah,membuat ibunya mengernyit bingung.
"Nihh,,kamu potong sayur ini ya nak,kita masak sayur asem kesukaan kakakmu.Dan tempe ini,kesukaan ponakan nakal kamu."titah Bu Diana pada sang putri.
"Ibuuuuu,,kalau kakak mahhhhh dimasakin khusus kesukaannya..Lah Safinahh,,nggak ada kokk..!"ucap safinah sambil cemberut manja.
"Lhoo lhooo,,kenapa inii.?,,Kamu kan salah sendiri nak,,siapa suruh nggak ngabarin ibu waktu pulang eummmm.??,,coba jawabbb.!"kata ibunya mencari pembenaran.
"Eumm,,iya sihhh,,hehehhh..Bercanda Buu..,"jawab Safinah malu,karena benar apa yang dikatakan ibunya.
"Giliran salah,,bilangnya bercanda,,dasar anak-anak..!"Ledek Bu Diana pada safinah.
"Buuu,,,kok gituu sihh..Safinah udah mau sembilan belas tahun Bu,,udah bukan anak-anak lagi..!"rengek Safinah,tak terima dikatakan anak-anak oleh ibunya sendiri.Bu Diana hanya terkekeh melihat tingkah Safinah.Putri kecilnya dulu,kini sudah menjadi remaja yang mungkin sebentar lagi akan menikah dengan pasangan pilihannya.Rasa sedih berjauhan dengan sang putri,tentu ada.Namun,menjadi orangtua tidak selamanya bisa menganggap anaknya itu masih anak-anak.Karena,ketika beranjak dewasa,seorang anak itu membutuhkan seorang pasangan yang menemani hidupnya,untuk memenuhi kebutuhan lahir batin menuju ridho Allah SWT.Dan Bu Diana ridho bila nanti harus melepaskan Safinah bersama suaminya seperti kakak Safinah,yang telah berkeluarga.
__ADS_1